Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka
Kediaman Lewis.
Ellea, Bryan dan juga Steve, sedang menikmati makan malamnya bersama. Keadaan hening dan hanya terdengar sendok yang saling beradu, hingga akhirnya ketika selesai makan, barulah Ellea angkat bicara.
"Bryan, Mommy mau bicara serius denganmu."
"Apa itu, Mom? Apa tentang perjodohan lagi, atau lainnya?" tanya Bryan acuh, dengan tetap menyendok makanan kedalam mulutnya.
"Bryan, selama beberapa bulan lalu... Keluarga kita terlalu di Belit masalah yang cukup pelik. Dan setelah selesainya kasus yang kau hadapi dengan gadis rendahan dari keluarga Fernand itu, Mommy minta untuk beberapa waktu kedepan kau harus bisa mengendalikan kebiasaanmu yang suka membuat onar itu!" nasihat Ellea pada Bryan.
"Aku membuat onar? Come on mom, aku tidak pernah membuat onar. Aku hanya bersenang-senang, menikmati masa mudaku yang mungkin saja nanti akan terganggu setelah aku menikah atau terikat hubungan politik yang Mom atau Daddy susun buatku," sahut Bryan, disertai dengusan kecil.
"Astaga! Kau masih belum mengerti maksud Mommy, Bryan. Kau masih berlindung dibalik kata bersenang-senang, sementara pada kenyataannya.. Semua yang kau lakukan itu menimbulkan masalah yang besar."
Ellea menatap putranya yang masih terlihat acuh tersebut, seakan tidak berminat dengan apapun yang ia bahas saat ini.
"Mulai sekarang, berhenti dulu dari kebiasaan gilamu itu dan jangan membuat masalah dalam beberapa bulan belakangan ini. Mengerti."
"Memangnya kenapa Mom? Apa ada masalah lagi, buntut dari permasalahan dengan fernand kemarin? Bukankah kasus itu sudah selesai dan tidak ada masalah sama sekali. Bahkan namaku bersih saat itu, lalu kenapa aku harus mengendalikan diri dari kebiasaanku yang memang bersenang-senang?" protes Bryan yang merasa tidak suka, saat hobinya bersenang - senang malah di atur oleh sang ibu.
"Kau bukan orang bodoh yang tidak mengerti maksud mommy Bryan! Saat ini, mommy tengah bersiap dengan kegiatan kampanye Mommy dan juga anggota partai! Mommy tidak mau, kalau sampai apa yang kau lakukan mengganggu rencana Mommy. Apalagi kalau sampai membuat nama Mommy tercoreng! Ingat Bryan, Mommy adalah ketua partai dan juga calon menteri. Jangan sampai, pencalonan Mommy nanti terhambat karena adanya kasus yang kembali kau buat!" tegas Ellea.
"Mommy mu benar Bryan. Selain mommy yang memang sedang berkampanye, Daddy juga sedang berusaha menjalin hubungan baik dengan masyarakat untuk mengambil banyak suara agar partai kita menang, bahkan perusahaan Lewis juga bisa ada dalam kendali Daddy.. Jadi sebisa mungkin untuk beberapa waktu ke depan, terutama sebelum masa pemilihan menteri selesai, kau harus bisa mengendalikan diri dari berbuat onar dan bersenang-senang dengan gadis-gadis seperti Maya waktu itu!"jelas Steve.
"Kita lihat nanti saja Dad, Mom. Semoga aku bisa!" jawab Bryan dengan malas.
"Kau harus bisa Bryan, ini demi kebaikan keluarga kita. Demi kerajaan keluarga Lewis semakin di kenal di seluruh pelosok negeri, agar keluarga Lewis bisa menjadi salah satu keluarga yang paling berpengaruh.
"Itu benar Bryan, karena kalau sampai mommy dan juga Daddy berhasil dalam pertarungan partai kali ini, maka kau sendiri yang akan menikmati hasilnya!" sahut Steve.
"Baiklah Dad, baiklah. Aku mengalah! Tapi ingat, aku hanya berhenti bersenang-senang dengan gadis-gadis pembuat masalah seperti Maya. Tapi, jika dengan para wanita pecinta uang, aku tidak akan berhenti mom. Itu sudah menjadi candu tersendiri untukku, tolong jangan hentikan aku!"tegas Bryan menolak keinginan orangtuanya.
"Terserah kau sajalah, asal kau tidak gegabah dan jika mungkin, kau lakukan hal itu jauh dari kota Jianji. Kau juga harus berhati-hati dan harus selalu ingat satu hal Bryan, apapun yang kau lakukan diluar sana jangan sampai tercium oleh media!" tegas Steven, dan hanya di balas anggukan malas oleh Bryan.
**
Maya masih menjalani therapi agar ia bisa kembali berjalan dengan sempurna, setelah mlihat perubahan yang signifikan pada kaki dan juga pinggulnya pasca kecelakaan.
Kini ia mulai bisa berdiri dengan tegak tanpa penyangga, dan sedikit demi sedikit bisa berjalan walau hanya satu dua langkah.
"Aku sudah mulai bisa mengendalikan kakiku, ayah... sebentar lagi aku pulih," lirih Maya ketika berusaha menggapai dinding disamping jendela, saat ia belajar melangkah dari ranjang.
Napas Maya tersengal ketika akhirnya ia bisa menggapai dinding, dan melihat keadaan kota Nevile dari lantai tiga rumah sakit tersebut. Kota yang cukup ramai, meski tidak seramai kota Jianji yang sudah hampir duapulu empat tahun menjadi temoat ia dibesarkan.
Mata Maya yang sebelumnya terlihat berbinar saat memperhatikan keadaan diluar, tiba-tiba berubah sendu saat mengingat kembali kejadian tragis yang menimpa adik dan juga ayahnya.
"Ayah, sudah beberapa bulan aku pergi. Aku meninggalkan jasad ayah di ruang tamu, tanpa tahu apa yang terjadi disana. ayah... apa saat itu kalian dimakamkan dengan layak, atau justru kalian dibiarkan membusuk begitu saja tanpa ada yang peduli?" lirih Maya, seiring dengan bulir bening yang menetes dipipinya.
"Maya, aku bawa makanan oriental khas dari..." thomas yang masuk dengan membawa dua buah paper bag yang hendak ia perlihatkan pada Maya, seketika menghntikan ucapannya saat melihat Maya berdiri dengan bersedekap dada didepan jendela. "Hei, apa yang kau lakukan disana? kau sudah bisa berjalan dengan baik?"
Thomas meletakkan paperbag tersebut diatas meja, lalu menghampiri Maya yang masih tetap diam meski ia sudah ajak bicara.
Thomas melangkah cepat menghampiri Maya, refleks tangannya terulur untuk menopang tubuh gadis itu yang terlihat sedikit gemetar.
“Jangan memaksakan diri,” ucapnya pelan namun tegas. “Dokter bilang kau belum boleh berdiri terlalu lama tanpa pendamping.”
Maya tersentak, seolah baru sadar ia tidak sendirian. Ia mengusap pipinya dengan cepat, berusaha menghapus sisa air mata yang terlanjur jatuh.
“Aku baik-baik saja,” jawabnya lirih, meski suaranya jelas bergetar. “Aku cuma… ingin melihat keluar sebentar.”
Thomas menatapnya lekat. Ia mengenal tatapan itu—tatapan orang yang terlihat kuat di luar, tapi porak-poranda di dalam. Perlahan, ia membantu Maya kembali duduk di tepi ranjang, memastikan kakinya tertopang dengan baik.
“Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, Maya,” kata Thomas setelah hening beberapa detik. “Perubahan yang kau capai ini luar biasa. Tidak semua orang bisa berdiri lagi secepat ini setelah kecelakaan sepertimu.”
Maya tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak sampai ke matanya.
“Bisa berdiri lagi tidak berarti apa-apa, Thomas,” ujarnya lirih. “Kalau orang-orang yang seharusnya berdiri bersamaku… sudah tidak ada.”
Thomas terdiam. Ia tahu persis luka apa yang sedang Maya bicarakan.
Thomas menarik napas panjang, seolah menimbang kata-kata yang paling tepat agar tidak semakin melukai hati gadis di hadapannya.
“Aku memang tidak tahu… seberapa berat luka yang kau rasakan, Maya,” ucapnya akhirnya, jujur. Suaranya rendah, penuh kehati-hatian. “Aku tidak ada di sana. Aku tidak melihat dengan mataku sendiri apa yang kau alami. Dan aku tidak akan pernah berani bilang kalau aku benar-benar mengerti.”
Maya menunduk. Jarinya saling menjalin satu sama lain dengan kuat, seakan itu satu-satunya hal yang bisa ia pegang agar tidak runtuh sepenuhnya.
“Tapi satu hal yang aku tahu,” lanjut Thomas, sedikit lebih tegas, “menyiksa dirimu sendiri seperti ini… terus menyalahkan diri, menolak untuk bernapas dengan tenang… itu tidak akan mengubah apa pun yang sudah terjadi.”
Maya terkekeh pelan, kekehan yang bahkan nyaris seperti isak yang dipaksa keluar.
“Lalu aku harus apa?” tanyanya lirih. “Aku bahkan tidak tahu… apakah aku pantas bahagia atau tidak. Aku tidak tahu harus merasa lega karena selamat, atau membenci diriku sendiri karena kabur.”
Suara Maya semakin melemah.
“Aku bahkan tidak tahu bagaimana kondisi jasad ayahku saat itu, Thomas,” katanya dengan suara pecah. “Dia… meninggal di ruang tamu. Di rumah kami sendiri. Dan aku meninggalkannya. Aku meninggalkan ayah… bersama jasad adikku… demi menyelamatkan diri.”
Tubuh Maya mulai bergetar hebat. Bahunya naik turun, napasnya tersengal, seolah setiap tarikan udara terasa menyakitkan.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu,” lanjutnya terbata. “Apakah mereka dimakamkan dengan layak… atau… atau dibiarkan begitu saja. Aku tidak tahu apa-apa.”
Getaran di tubuh Maya semakin kuat, dan sebelum ia benar-benar kehilangan kendali, Thomas memberanikan diri melangkah maju. Tanpa banyak kata, ia menarik Maya ke dalam pelukannya.
Maya sempat menegang sesaat, lalu seluruh pertahanannya runtuh. Ia menangis di dada Thomas, tangis yang tertahan berbulan-bulan akhirnya pecah tanpa sisa.
“Ini semua salahku…” isaknya. “Kalau aku tidak lari… kalau aku lebih berani… mungkin—”
“Tidak,” potong Thomas pelan, namun tegas. Tangannya mengusap punggung Maya dengan gerakan lembut dan berulang, sementara tangan lainnya menahan kepala belakang Maya agar tetap bersandar nyaman di dadanya. “Kau tidak salah karena ingin hidup, tanpa harus berakhir dengan keadaan yang hina dan jadi korban pelecehan bergilir.”