NovelToon NovelToon
Lumpuh

Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: Vermilion Indiee

Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.

Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 2 - Tuli

Alexa berhenti berlari di depan sebuah toko roti untuk berteduh ketika hujan mulai turun rintik-rintik. Sesaat, dia menyeka air matanya yang telah tercampur dengan air hujan di wajahnya.

Setiap helaan napas terasa begitu berat dan penuh tekanan, menyadari bahwa saat ini dia tidak tahu ke mana harus melangkah. Sejak awal, dia tidak memiliki tempat pulang, tapi kali ini, dia bahkan tidak memiliki tujuan.

Dengan putus asa, Alexa berjongkok sambil memeluk dirinya sendiri, menatap langit dengan pandangan kosong. Dalam diam, dia menahan di beberapa bagian tubuhnya yang terasa sakit, dan itu seolah mulai menggerogoti sisa kewarasannya yang masih ada.

“Hei, kami tidak menerima pengemis.” Seseorang tiba-tiba menyapa Alexa.

Alexa menoleh dan mendapati seorang karyawan toko roti berdiri di sampingnya, memandangnya dengan ekspresi setengah terganggu.

“Tolong pergi dari sini.” Pria itu mengusir dengan ekspresi ketus meski suaranya pelan.

Alexa yang sadar telah membuat masalah segera berdiri dan membungkukkan tubuhnya dengan sopan.

“Maaf, Pak, saya tidak berniat mengganggu. Tapi saya bukan pengemis. Saya hanya mau menumpang berteduh sebentar,” jelas Alexa.

“Kamu pikir menyewa tempat ini tidak bayar, hah?! Pergi cari tempat lain!”

Pria itu menarik dan mendorong tubuh Alexa dengan kuat, membuat Alexa hampir jatuh tersungkur karena tersandung kakinya sendiri. Sesaat dia meringis kesakitan karena pria itu menarik lengannya tepat di mana luka bekas pukulan dari ayahnya berada di sana beberapa hari lalu.

“Pergi!” hardik pria itu.

“Baik. Maaf sudah mengganggu,” ujar Alexa, memilih pergi ketimbang mendapat masalah dengan orang asing.

Dia menutup kepalanya dengan tudung jaket dan berlari kecil entah ke mana. Dia biarkan kakinya melangkah membawanya pergi, tanpa keyakinan asalkan dia mendapatkan tempat untuk berteduh.

Alexa mulai masuk ke gang – gang kecil yang cukup jauh dari keramaian jalan raya. Saat itu terbesit di pikirannya bahwa orang di pemukiman mungkin akan sedikit lebih baik memperlakukannya yang hanya ingin berteduh. Dia tidak meminta makan atau apa pun.

Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah rumah tua yang gelap, seperti rumah yang sudah lama kosong.

Sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya satu sama lain agar terasa hangat, Alexa memandang sekeliling yang benar-benar sepi. Dia yakin telah memasuki pemukiman yang bahkan dia sendiri tidak tahu di mana letaknya.

“Kayaknya aku bisa singgah semalam di sini,” gumamnya pelan sambil duduk di kursi panjang yang dilihatnya.

Alexa menaikkan kakinya agar tubuhnya terasa lebih hangat.

Hujan tak kunjung mereda. Malam semakin larut, dan rasa kantuk mulai menerpa mata Alexa hingga akhirnya dia terlelap. Dia sempat mengganti posisi dengan merebahkan diri di kursi panjang itu, tidur meringkuk demi mempertahankan rasa hangat yang mulai didapatkannya.

Perlahan, Alexa benar - benar terlelap.

_oOo_

Bau a1kohol yang tak asing dan asap rokok menusuk hidung Alexa secara mendadak. Meski tengah tertidur, dia bisa merasakan dengan jelas bau tak menyenangkan itu. Namun matanya menolak terbuka karena kelelahan setelah menghadapi hari yang begitu panjang.

Setelah indra penciumannya, kini indra pendengarannya menangkap suara tawa beberapa pria. Matanya masih enggan terbuka. Lelahnya benar - benar membuat tubuhnya lengah dan tidak waspada.

Hingga akhirnya, matanya sontak terbuka lebar terkejut ketika indra perasanya merasakan sebuah tangan membelai wajahnya. Dia membatu sesaat—pikirannya kembali mengingat - ingat di mana dirinya berada.

Saat itu juga, matanya menangkap sosok pria asing.

“Wah… dia bangun. Matanya bagus banget,” ujar seorang pria yang tengah menyentuh wajah Alexa.

Alexa langsung bangkit dan mendapati lima pria berdiri di hadapannya, masing-masing memegang botol minuman ker4s, asap rokok mengepul di antara mereka.

Sejenak, jantung Alexa seakan berhenti bersamaan dengan seringai kelima pria itu ke arahnya. Lima pasang mata itu sayu—namun jelas menyimpan niat jahat.

“S–siapa kalian?” tanya Alexa gagap. Dia masih berusaha mencerna apa yang membuatnya berada dalam situasi tak aman itu.

“Ah, kami cuma lewat,” jawab salah satu dari mereka, "lalu menemukan harta karun."

“Aku belum pernah lihat kamu. Apa kamu tersesat?” tanya pria yang sama sambil mengusap pundak Alexa, menggelitik.

Alexa segera menarik pundaknya menjauh dengan kasar. Wajahnya mulai pucat saat menyadari bahwa pria – pria asing di hadapannya menatapnya dengan penuh n4fsu jahat.

Sorot mata mereka, sangat menakutkan.

“Tidak. Aku hanya sedang istirahat.” Alexa bangkit berniat pergi. “Permisi.”

Namun tiba – tiba, pria itu meraih pinggangnya dan memeluknya dari belakang. Tubuhnya seketika membeku, jantungnya seolah hampir keluar dari tubuhnya karena rasa takut yang luar biasa. Dia ingin berteriak, namun lidahnya kelu. Untuk melawan pun, sarafnya terasa mati, terlebih ketika rambutnya mulai dimainkan oleh jari pria itu.

“Pinggangmu ramping sekali. Ikutlah dengan kami. Akan kami tunjukkan jalan menuju surga dunia,” bisiknya melantur sembari mengusap - usap pinggang Alexa tanpa sopan santun.

“Benar. Kamu juga bisa minum ini dan melayang bersama kami.” Pria lain memaksakan botol minuman itu ke dalam genggaman Alexa begitu saja.

Tak ada tanggapan. Tatapannya kini beralih ke botol yang di genggaman tangannya yang bergetar hebat. Setiap tulang jemarinya ingin melepas botol itu, tapi tak bisa.

Dengan sengaja pria itu menyemburkan asap rokok tepat di telinganya, membuat Alexa menahan napas, seolah udara di sekitarnya habis tersedot rasa takut.

Lehernya seperti tercekik, dada Alexa terasa sesak. Matanya berkaca-kaca menahan tangis, tubuhnya gemetar hebat.

Satu jari pria itu tanpa sengaja menyapu leher Alexa. Seketika, tubuh Alexa bereaksi. Tanpa bersuara, dia menepis tangan pria itu, memukul lengannya dengan botol minuman keras yang ada di tangannya, lalu mendorongnya hingga tersungkur ke tanah.

“KURANG AJAR!” rutuk pria itu.

Dengan sisa kekuatan dan keberanian, Alexa berlari kabur. Meski beberapa kali hampir tertangkap, akhirnya dia berhasil menjauh dari mereka yang masih mengejarnya sambil mencemooh.

Namun lama-kelamaan, kaki Alexa benar-benar tak sanggup lagi berlari. Satu-satunya yang terlintas di pikirannya hanyalah selokan di dekatnya. Tanpa ragu dia masuk ke dalam selokan.

Alexa menutup hidung dan menggigit lengannya kuat - kuat—menahan napas beberapa detik saat pria-pria itu lewat dan berlalu.

Setelah merasa aman, dia keluar dan berlari kencang sebisa mungkin ke arah lain. Yang dicarinya adalah tempat yang cukup ramai. Dengan penampilannya yang sudah berantakan, langkahnya akhirnya terhenti.

Tanpa sadar, dia sudah berada di stasiun kereta api.

Alexa berdiri di samping rel, menginjak safety line dengan kaki bergetar. Saat itu, tangisnya akhirnya pecah. Suaranya memecah keheningan malam di stasiun yang sepi. Alexa tak lagi sanggup menahan semua luka. Dia bahkan berteriak keras, meluapkan seluruh ketakutannya.

Tiba-tiba, Alexa tak lagi mendengar apa pun—bahkan tangisnya sendiri. Dia mendadak panik. Yang terdengar hanya dengungan kencang yang membuat telinganya terasa sakit.

Seperti orang kehilangan akal, Alexa memandang sekeliling. Tak ada siapa pun, namun dia melihat kereta melaju ke arahnya. Bersamaan dengan itu, tak ada lagi suara yang bisa dia dengar.

Semuanya hilang.

Bahkan akal sehatnya.

Kereta itu semakin mendekat, dan Alexa justru menjatuhkan diri ke rel. [ ]

1
Irnawati Asnawi
😍😍😍
Irnawati Asnawi
setiven yang ngomong aku yang dek dekan, 😍😍😍
Vermilion Indiee: Wkwk... aku juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!