"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Putri
Malam itu, hening di kediaman Andersen hanya dipecah oleh suara mesin yang mulai menderu di dalam garasi. Andersen memasukkan kunci ke lubang pengapian, memutarnya dengan gerakan presisi, dan seketika instrumen digital pada dasbor Honda Civic itu menyala dengan rona merah yang agresif.
Ia membiarkan mesin itu bernapas, menunggu suhu oli mencapai titik optimal untuk melumasi setiap gir baja di dalamnya.
Sambil menunggu, Andersen keluar sejenak. Ia menyambar kantong plastik berisi camilan yang sempat ia beli dalam perjalanan pulang sekolah tadi.
Begitu indikator pada dasbor menunjukkan angka yang tepat, Andersen masuk kembali ke kabin. Ia memindahkan tuas transmisi, melepaskan rem tangan, dan perlahan meluncur keluar membelah gerbang rumahnya yang tinggi.
Perjalanan menuju Mall of Indonesia (MOI) membawanya terjebak dalam labirin kemacetan khas Jakarta.
Sebuah fragmen memori yang seharusnya sudah terhapus dari sejarah dunia ini, namun tetap tertanam di otaknya.
Ia teringat malam di jalan tol itu. Saat ia menggenggam kemudi ini dengan tangan bersimbah darah, menjalankan tugas mustahil untuk menyelamatkan Michelle. Ia teringat sensasi dingin saat ia menyetujui kontrak terlarang itu—satu-satunya pilihan yang bisa ia pilih.
Suara itu—suara yang sama yang mengubah realitasnya—kembali berbisik dengan nada yang sulit diartikan antara peringatan dan ramalan.
[ MALAM INI, SEMOGA KAU MEMILIH PILIHAN YANG TERBAIK... ]
Andersen tertegun. Andersen mencoba menarik napas dalam dalam, ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang mulai tidak beraturan.
"Hufft...
Ia menatap ke depan, memacu mobilnya saat celah jalan mulai terbuka.
Ia memutar kemudi, membawa Honda Civic itu meluncur turun ke dalam remang-remang basement Mall Of Indonesia. Suara ban yang berdecit di atas lantai semen yang halus bergema di keheningan area parkir. Setelah mematikan mesin, Andersen terdiam sejenak di balik kemudi.
Tangannya menjangkau kursi belakang, mengambil sebuah jaket varsity yang tersampir di sana. Ia mengenakannya dengan gerakan perlahan, merasakan tekstur kain yang sudah sangat akrab di kulitnya. Nadia yang menyarankannya.
Andersen melangkah keluar, menutup pintu mobil dengan dentuman pelan yang menggema. Sambil berjalan menuju lift, ia merapatkan jaketnya. Ada kerinduan yang menyesakkan, setiap kali ia teringat pada Gadis itu...
Namun, realitas adalah dinding tebal yang tak bisa ditembus; jika mereka bertemu malam ini, Gadis itu hanya akan menyapanya dengan senyum sopan seorang teman sekelas, tanpa ada sisa-sisa perasaan pada matanya.
Udara di lobi lantai atas itu terasa berat oleh aroma parfum mahal dan gengsi yang tidak punya batas.
"Kartu undangan Anda?" tanya salah satu penjaga dengan nada formal.
Andersen meraba saku jaket varsity-nya, lalu terdiam. "Aku tidak menerima kartu fisik apa pun. Seseorang menghubungiku dan memintaku datang ke sini."
"Cih, setiap tahun pasti ada saja yang memakai alasan klise seperti ini. Kamu pikir ini pasar malam?"
"Apa kalian tidak punya alasan yang lebih kreatif sedikit?" sahut penjaga yang lain sambil menyilangkan tangan di depan dada.
Ia menatap Andersen dari ujung kaki hingga ujung kepala, menilai jaketnya. "Apa kamu baru sadar kalau kamu baru saja ditipu? Pulanglah, jangan buat antrean ini semakin panjang."
Andersen tidak mendebat. Ia hanya diam, merasakan penghinaan yang cukup dingin dari seseorang. Ia melangkah mundur, memberikan ruang bagi rombongan remaja bersetelan tuksedo dan gaun malam.
"Ada-ada saja," celetuk salah satu gadis dari rombongan itu sambil tertawa kecil saat melewati Andersen. "Rakyat jelata memang harus tahu diri kalau dilarang masuk ke tempat seperti ini."
Tanpa membalas sepatah kata pun, Andersen berbalik. Ia berjalan menjauh, meninggalkan kerumunan yang angkuh itu dengan langkah yang tetap tenang meski, rasa mengganggu di hatinya masih ada.
Ia mengarahkan kakinya menuju area taman terbuka yang ada di dalam kompleks mall tersebut.
Setelah memesan segelas Ice Blue Tea, Andersen duduk di sebuah bangku kayu. Warna biru minuman itu tampak berwarna redup di bawah cahaya lampu taman.
Ia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, membiarkan pikirannya hanyut dalam kegelapan malam Jakarta yang berpolusi.
"Keputusan terbaik apanya..." gumam Andersen lirih, suaranya nyaris hilang diterpa angin. Ia meneguk minuman dingin itu, membiarkan rasa manis membekukan tenggorokannya.
Ia merasa bodoh karena sempat percaya bahwa takdir benar-benar memberinya "pilihan" malam ini. Mungkin "pilihan terbaik" yang dimaksud suara itu adalah agar ia tetap menjadi penonton di pinggir lapangan.
Tepat saat itu, suara tepuk tangan yang riuh dan sorak-sorai membahana pecah dari arah aula acara yang jauh di sana. Suaranya menggema, memantul di antara dinding mall.
Dari kejauhan, Andersen mendengar suara hantaman beton yang bertemu dengan gerbang besi, disusul hujan lemparan batu yang menghancurkan kaca-kaca etalase.
Andersen mempercepat langkahnya, bergerak menjauhi taman menuju parkiran basement yang remang-remang. Namun, saat ia baru saja mencapai barisan mobil, gerombolan orang bersenjata tajam muncul dari balik pilar beton.
Mata mereka liar, dipenuhi rasa penasaran, mengayunkan parang dan celurit ke arah siapa pun yang tertangkap pandangan—termasuk Andersen.
"Itu satu lagi! Habisi!" teriak salah satu dari mereka sambil memacu lari ke arahnya. Andersen tidak panik. Ia membuka pintu Honda Civic-nya, merogoh kompartemen di bawah jok, dan menarik keluar sebuah pistol hitam pekat.
DAR!
Satu tembakan peringatan dilepaskan ke udara, suaranya terdengar sangat keras, memantul di dinding-dinding semen basement yang sempit hingga memekakkan telinga.
Langkah kaki massa yang tadinya beringas mendadak tersendat. Mereka berhenti tepat beberapa meter di depan moncong senjata Andersen yang kini terarah stabil ke dada pemimpin rombongan. Asap tipis mengepul dari larasnya, memberikan sinyal.
"Jauhi pria ini..." bisik salah satu dari mereka, nyalinya menciut. "Lebih baik kita cari jalan lain daripada tidak bisa pulang dengan nyawa."
Tanpa perlu perintah kedua, gerombolan itu berbalik arah, berlari tunggang langgang menjauhi area parkir tersebut. Andersen tidak mengejar. Ia tetap dalam posisi, hingga bayangan mereka benar-benar hilang dari pandangan.
Dengan tangan yang masih stabil, Andersen membuka bagasi mobilnya. Di sana, di balik tumpukan barang pribadinya, terdapat sebuah kotak taktis. Ia mengambil beberapa magasin cadangan dan amunisi tambahan, memasukkannya ke dalam saku jaket varsity-nya.
Di tengah kepulan asap tipis dari laras pistolnya, sebuah mobil Mitsubishi Xpander yang terparkir hanya beberapa meter di depannya mendadak terbuka.
Dari dalam kabin yang gelap, muncul seorang gadis, sosok yang dikenali Andersen sebagai salah satu dari dua belas murid internasional di sekolahnya. "Hei, bisakah kau membantu ka—"
"Tidak masalah, Fina" potong sebuah suara lembut. Tapi, Nona! Anda tidak boleh keluar dalam situasi seperti ini!" sanggah Fina, suaranya naik karena panik saat melihat pintu penumpang belakang terbuka.