"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Hotel JW Marriott, Medan. Pukul 20.00 WIB.
Malam menyelimuti Kota Medan dengan gerimis tipis yang membasahi aspal Jalan Putri Hijau. Namun, di dalam grand ballroom salah satu hotel termewah itu, suasana justru terasa panas membara. Ratusan wartawan dari berbagai media nasional dan lokal berkumpul, memenuhi ruangan dengan bisik-bisik spekulatif. Di atas panggung, sebuah latar belakang bertuliskan logo emas Skyline Group berdiri megah, diterangi lampu sorot yang menyilaukan.
Alsava Emily Claretta—wanita yang biasanya bergerak di balik layar sebagai penggerak roda perusahaan—kini berdiri di barisan terdepan. Rambut brunette curly-nya yang indah dibiarkan tergerai menyentuh bahu blusnya yang berwarna navy blue potongan tajam. Wajahnya yang mempesona dipoles dengan riasan bold, namun matanya yang tajam tidak bisa menyembunyikan kelelahan yang luar biasa.
Di sisi kiri dan kanannya, Roy dan Winata berdiri seperti dua pilar kokoh yang siap melindunginya dari serangan apa pun.
"Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan media," suara Sava bergema melalui pelantang suara, tenang dan penuh otoritas. "Malam ini, saya di sini untuk meluruskan segala simpang siur yang berkembang mengenai kondisi CEO Skyline Group, Tuan Garvi Darwin."
Lampu kilat kamera meledak serentak, menyambar wajah Sava.
"Tuan Garvi memang mengalami insiden yang cukup parah hingga sempat berada dalam kondisi koma. Namun," Sava menjeda kalimatnya, memberikan tatapan lurus ke arah kamera utama. "Saya dengan bangga menyampaikan bahwa saat ini kondisi beliau sudah sangat membaik dan sedang dalam masa pemulihan intensif."
Seorang wartawan pria dari media gosip terkemuka tiba-tiba berdiri, memotong alur.
"Miss Sava! Atau haruskah saya memanggil Anda Nyonya Darwin?" tanyanya dengan nada provokatif. "Berita tentang pernikahan rahasia Anda sudah menjadi konsumsi publik sejak insiden di pelataran kantor pagi tadi. Namun, yang paling menarik adalah kehadiran seorang wanita bernama Shila yang mengaku mengandung anak Tuan Garvi. Apakah skandal kehamilan ini yang menjadi pemicu keretakan hubungan kalian hingga muncul rumor perceraian?"
Pertanyaan itu seperti bom yang diledakkan di tengah ruangan. Suasana mendadak riuh. Winata mengepalkan tangannya di bawah meja, sementara Roy menatap wartawan itu dengan tatapan membunuh.
Sava tidak bergeming. Ia menarik napas pelan, merasakan dinginnya AC hotel yang menusuk kulitnya yang putih mulus. Di bawah meja, jemarinya saling bertautan, mencoba mencari kekuatan yang tersisa.
"Pertama," suara Sava meninggi satu oktav, mematikan riuh rendah di ruangan itu. "Mengenai hubungan pribadi kami, memang benar saya adalah istri sah dari Garvi Darwin. Selama ini kami memilih untuk menjaga privasi demi profesionalitas di Skyline Group."
Sava kemudian tersenyum tipis—senyum yang penuh dengan sarkasme yang elegan.
"Kedua, mengenai klaim perempuan bernama Shila itu... saya tegaskan di sini, itu adalah kebohongan yang sangat tidak berdasar. Tidak ada kehamilan, tidak ada perselingkuhan, dan yang terpenting," Sava menekan setiap kata, "tidak ada perceraian dalam kamus hubungan kami. Garvi Darwin adalah suami saya, dan kami berdiri lebih kuat dari sebelumnya."
Sementara itu, di kamar VVIP Rumah Sakit Columbia Asia, suasana berbanding terbalik. Hanya ada kesunyian yang mencekam dan suara bip ritmis dari monitor jantung.
Garvi Darwin menyandarkan tubuh atletisnya di bantal rumah sakit. Kepalanya masih diperban, namun matanya yang sebiru laut dalam itu terpaku pada layar televisi besar yang terpasang di dinding. Di sana, ia melihat istrinya—sedang berdiri di depan kawanan serigala yang haus akan skandal.
Hati Garvi mencelos. Ia mengepalkan tangan hingga buku-bukunya memutih saat melihat seorang wartawan terus mendesak Sava dengan pertanyaan-pertanyaan sampah.
"Wanita bodoh..." gumam Garvi parau. Suaranya serak karena emosi. "Kenapa kamu harus berbohong untukku, Ave?"
Rasa bersalah menghujam dadanya lebih menyakitkan daripada luka fisik yang ia derita. Garvi mengingat semuanya sekarang. Ingatannya yang kembali secara mendadak membuatnya sadar betapa bajingannya dia selama ini. Bagaimana dia sering membiarkan Sava pulang ke rumah yang sepi sementara dia bersenang-senang di luar. Bagaimana dia memanipulasi perasaan Sava demi kepuasan egonya sendiri.
Dan sekarang, wanita yang telah dia sakiti berkali-kali itu justru berdiri sebagai perisai terdepan untuk menjaga martabatnya. Sava sedang bertarung sendirian untuk menjaga agar saham Skyline Group tidak anjlok dan agar nama baik Garvi tidak hancur menjadi debu.
"Seharusnya aku yang ada di sana," bisik Garvi. Matanya berkaca-kaca, sesuatu yang hampir mustahil terjadi pada seorang pria sekeras Garvi.
"Seharusnya aku yang memeluk bahumu dan membungkam mulut mereka semua, bukan membiarkanmu menghadapi peluru-peluru itu sendirian."
Di layar, ia melihat Roy mengambil alih pembicaraan.
"Kami tidak hanya datang untuk memberikan klarifikasi lisan," ujar Roy dengan nada dingin. "Segala bukti keterlibatan Victor Lindholm dalam sabotase kecelakaan ini, termasuk bukti-bukti medis yang menyangkal fitnah kehamilan yang beredar, telah kami serahkan ke pihak kepolisian. Malam ini juga, beberapa orang akan dijemput paksa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya."
Garvi mematikan televisi dengan remote di tangannya. Ia tidak sanggup lagi melihat wajah Sava yang tampak begitu rapuh di balik topeng ketegasannya. Ia ingin mencabut semua selang infus ini, berlari ke hotel itu, dan menarik Sava ke dalam pelukannya.
"Garvi..."
Suara lembut itu membuat Garvi menoleh. Shila berdiri di ambang pintu kamar perawatan. Dia tampak berantakan, riasannya luntur, dan matanya merah.
"Garvi... tolong aku. Polisi ada di bawah, mereka mau menangkapku karena laporan Roy. Katakan pada mereka kalau aku tidak salah! Aku melakukan ini karena aku mencintaimu!" Shila merangkak mendekat ke ranjang Garvi, mencoba meraih tangan pria itu.
Garvi menatap Shila dengan pandangan yang begitu dingin, hingga Shila terhenti di tempatnya. Tidak ada lagi sisa-sisa kemurahan hati atau karisma Cassanova di mata Garvi. Yang ada hanyalah kebencian murni.
"Jangan pernah berani menyentuhku dengan tangan kotormu," desis Garvi. Suaranya rendah dan penuh ancaman. "Kamu pikir aku lupa apa yang kamu lakukan bersama Victor? Kamu pikir aku akan membiarkanmu setelah kamu mencoba menghancurkan istriku?"
"Tapi... istrimu itu tidak mencintaimu! Dia ingin bercerai!" teriak Shila histeris.
Garvi tersenyum miring—senyum dewa Yunani yang sedang berubah menjadi iblis.
"Dia ingin cerai karena perbuatanku, bukan karena dia tidak mencintaiku. Dan itu adalah urusanku, bukan urusan jalang sepertimu. Roy!"
Pintu terbuka, namun bukan Roy yang muncul. Dua petugas kepolisian berpakaian sipil masuk dengan wajah tegas.
"Nona Shila, Anda kami tahan atas dugaan pencemaran nama baik, pemalsuan dokumen medis, dan keterlibatan dalam konspirasi sabotase kecelakaan Tuan Garvi Darwin," ujar salah satu polisi sambil memborgol tangan Shila.
Saat Shila diseret keluar sambil berteriak-teriak, Garvi hanya menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya kembali pada Sava.
**
Satu jam kemudian.
Konferensi pers berakhir. Sava melangkah turun dari panggung dengan tubuh yang hampir tumbang. Winata segera merangkul bahunya.
"Kamu hebat, Va. Kamu benar-benar memukau mereka semua," bisik Winata.
Sava tidak menjawab. Ia hanya ingin pulang, atau setidaknya kembali ke rumah sakit untuk memastikan Garvi tidak melakukan hal gila.
***
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰