Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Riak Kecil di Permukaan Tenang
Musim semi benar-benar menetap di ibu kota.
Bunga-bunga di taman istana bermekaran tanpa peduli bahwa beberapa bulan lalu tempat itu dipenuhi ketegangan dan rahasia. Burung-burung kecil kembali bersarang di atap paviliun, dan suara tawa pelayan terdengar lebih sering daripada bisik-bisik ketakutan.
Song An berdiri di jembatan batu kecil yang melintasi kolam teratai.
Ia menatap bayangannya di air.
“Dulu aku cuma ingin makan cukup dan tidur nyenyak,” gumamnya. “Sekarang kenapa kerjaannya malah mikirin negara…”
“Aku dengar itu,” suara Kaisar Shen muncul dari belakang.
Song An menoleh tanpa terkejut. “Yang Mulia makin sering muncul tanpa suara. Bakat terpendam?”
“Aku kaisar. Seharusnya memang bisa muncul di mana saja,” jawabnya santai.
Song An menyipitkan mata. “Menakutkan juga ya kalau dipikir-pikir.”
Kaisar berdiri di sampingnya, ikut memandangi kolam.
“Rapat lagi?” tanya Song An.
“Iya. Kali ini soal irigasi wilayah utara. Saluran air rusak sejak konflik kemarin.”
Song An mengangguk pelan. “Kalau panen gagal, harga beras naik. Kalau harga naik, rakyat marah. Kalau rakyat marah....”
“Aku pusing,” potong Kaisar cepat.
Song An tersenyum tipis. “Makanya perbaiki sebelum mereka sempat marah.”
Kaisar meliriknya. “Kadang aku lupa kau dulu bukan orang istana.”
“Makanya aku masih waras,” jawabnya enteng.
-----
Menjelang siang, seorang pejabat tua meminta audiensi khusus.
Rambutnya sudah memutih, jubahnya sederhana tapi rapi.
“Apa permintaanmu?” tanya Kaisar.
Pria itu memberi hormat dalam. “Hamba ingin mengundurkan diri dari jabatan.”
Ruangan langsung hening.
Song An yang duduk di samping sedikit menoleh.
“Alasannya?” tanya Kaisar tenang.
“Hamba sudah terlalu lama bekerja dalam sistem lama. Banyak keputusan yang dulu hamba anggap wajar… ternyata menyakiti rakyat kecil.”
Ia menarik napas pelan.“Hamba ingin pulang ke kampung, membuka sekolah kecil. Mengajar anak-anak membaca.”
Song An tersenyum kecil tanpa sadar.
Kaisar menatap pria itu lama, lalu berkata pelan,“Negeri ini butuh orang yang mau berubah. Tapi juga butuh orang yang mau memperbaiki dari dalam.”
Pejabat itu menunduk. “Hamba tidak yakin masih pantas duduk di kursi itu.”
Song An akhirnya angkat suara lembut, “Kalau Anda pergi karena ingin lari dari rasa bersalah, itu tidak menyelesaikan apa pun. Tapi kalau Anda pergi untuk membangun sesuatu yang lebih baik… mungkin itu juga bentuk tanggung jawab.”
Pria itu menatapnya, mata sedikit berkaca-kaca.
Kaisar mengangguk pelan. “Permintaanmu diterima. Tapi istana akan mendukung sekolah itu. Kirim laporan perkembangan setiap musim.”
Pejabat itu berlutut, suaranya bergetar. “Terima kasih, Yang Mulia… Yang Mulia Permaisuri.”
Song An refleks melihat ke belakang, seolah ada orang lain.
Kaisar menahan senyum.
Setelah pria itu pergi, Song An berbisik, “Aku belum resmi…”
“Sudah semua orang tahu,” jawab Kaisar ringan.
Song An menghela napas panjang. “Cepat sekali kabar menyebar kalau soal aku.”
“Karena semua orang penasaran siapa perempuan yang berani menyuruh kaisar memperbaiki saluran air,” katanya santai.
Surat Ketiga dari Luar Istana
Sore itu, burung pembawa pesan kembali datang.
Song An langsung mengenali tulisan Selir Zhang di sampulnya.
Ia membuka cepat sambil duduk di tangga paviliun, Kaisar ikut duduk di sebelahnya tanpa formalitas.
"Kami bertengkar hari ini karena dia salah beli kain. Ternyata hidup biasa juga penuh drama kecil. Tapi aku lebih suka drama seperti ini daripada drama istana…"
Song An tertawa kecil.
Surat dari Selir Li lebih tenang.
"Anak-anak desa mulai datang belajar meracik obat. Aku sering teringat kalian. Jangan terlalu sibuk sampai lupa makan… terutama kau, Song An."
Kaisar meliriknya. “Mereka masih mengatur hidupmu dari jauh.”
“Teman sejati memang begitu,” jawab Song An puas.
Ia melipat surat itu hati-hati.“Aku senang mereka hidup seperti yang mereka pilih.”
Kaisar mengangguk. “Dan aku senang kau memilih tinggal.”
Song An menatapnya sebentar, lalu berdiri cepat.“Kalau terus begini, Yang Mulia bisa jadi sentimental. Itu berbahaya untuk citra kaisar dingin.”
“Aku sudah menyerah soal citra sejak mengenalmu,” jawabnya ringan.
-----
Meski keadaan membaik, laporan kecil mulai berdatangan.
Bukan pengkhianatan besar.
Bukan ancaman perang.
Tapi… gesekan.
Beberapa bangsawan daerah menolak kebijakan baru yang memberi tanah pada rakyat biasa.
Beberapa pejabat lama merasa pengaruh mereka menyusut.
Tidak ada pemberontakan.
Tapi ada ketidakpuasan yang mengendap.
Kaisar membaca laporan itu malam hari.
Song An duduk bersila di lantai, membantu mengurutkan dokumen.
“Perubahan selalu bikin tidak nyaman,” katanya santai.
“Kalau mereka bersatu, bisa jadi masalah,” jawab Kaisar.
Song An berpikir sebentar.
“Undang mereka ke istana.”
Kaisar mengangkat alis. “Untuk apa?”
“Suruh tinggal beberapa hari. Lihat sendiri sekolah yang dibuka, ruang kerja janda prajurit, gudang pangan yang diperbaiki.”
“Kau ingin mereka diyakinkan… bukan ditekan.”
Song An mengangguk. “Orang yang merasa dilibatkan jarang memberontak. Orang yang merasa diabaikan, itu yang bahaya.”
Kaisar tersenyum tipis. “Kadang aku lupa kau dulunya cuma pegawai biasa.”
“Pegawai biasa paling sering lihat bos bikin keputusan aneh,” jawabnya cepat.
------
Malam itu lebih sunyi dari biasanya.
Tidak ada rapat. Tidak ada laporan mendesak.
Hanya angin lembut dan lampu-lampu kota di kejauhan.
Kaisar duduk di tangga paviliun, Song An di sebelahnya.
“Apa kau pernah menyesal tinggal?” tanya Kaisar tiba-tiba.
Song An tidak langsung menjawab.
“Ada hari-hari aku kangen hidup tanpa tanggung jawab besar,” katanya pelan.
“Tapi setiap kali lihat perubahan kecil di luar sana… rasanya semua ini ada artinya.”
Ia menoleh.
“Dan kau?”
Kaisar tersenyum tipis.
“Aku menyesal tidak bertemu versi dirimu yang dulu lebih cepat.”
Song An menyipitkan mata. “Yang dulu mungkin tidak akan tahan tinggal di istana seminggu.”
“Berarti aku beruntung bertemu versi yang ini.”
Mereka terdiam, nyaman.
Tidak perlu janji besar.
Tidak perlu kata-kata manis berlebihan.
Hanya dua orang yang tahu persis beratnya hari-hari yang telah mereka lewati—
dan memilih tetap duduk berdampingan.
Di kejauhan, lonceng malam berbunyi pelan.
Istana tidak lagi terasa seperti tempat yang menahan napas.
Ia hidup.
Dan di tengah perubahan besar yang masih akan datang,
riakan kecil di permukaan itu justru membuat mereka sadar
kedamaian bukan berarti tanpa masalah.
Kedamaian berarti memiliki keberanian untuk menghadapi masalah… bersama.
Bersambung
kalau begini kapan babby launching nya.....