Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 - Nama
Tik… Tak… Tik… Tak…
Jam dinding itu terus berdetak, seolah memastikan bahwa waktu tetap berjalan meskipun dunia tidak sedang runtuh. Karina akhirnya membuka mata sepenuhnya. Langit-langit kamar yang putih menatapnya balik, polos, tanpa retakan, tanpa bayangan yang mencurigakan. Tidak ada suara langkah tergesa di lorong apartemen, tidak ada getaran ponsel di meja samping tempat tidur.
Ia menarik napas pelan.
Hening.
Hening yang anehnya terasa… nyaman.
Karina bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih ponsel, bukan untuk mengecek berita, melainkan hanya memastikan jam. Pukul 05.07. Terlalu pagi, tapi pikirannya sudah terjaga sepenuhnya. Ia menatap layar beberapa detik, lalu meletakkannya kembali tanpa membuka satu aplikasi pun.
Biasanya, pagi-pagi seperti ini diisi dengan antisipasi. Menunggu panggilan. Menunggu kabar buruk. Menunggu satu nama baru yang akan mengubah ritme hari. Tapi pagi itu, tidak ada yang menunggu.
Dan justru itulah yang membuatnya terjaga.
Karina berjalan ke meja kecil di sudut kamar, tempat sebuah buku catatan tipis selalu tergeletak rapi dengan pulpen hitam di atasnya. Sampulnya polos, tanpa tulisan. Ia membukanya, halaman kosong menyambut. Sejenak, Karina hanya menatap halaman itu, seolah sedang memastikan apakah ia benar-benar perlu menuliskan sesuatu.
Akhirnya, ia mulai menulis.
Agenda hari ini.
Tulisan tangannya rapi, konsisten, hampir tanpa tekanan berlebih. Pekerjaan kantor. Rapat evaluasi. Meninjau berkas lama. Tidak ada satu pun kata yang berhubungan dengan keadaan darurat. Tidak ada tanda bintang. Tidak ada catatan tambahan di pinggir halaman.
Ia menutup buku itu lagi.
Pagi itu, Karina mandi lebih cepat dari biasanya. Gerakannya efisien, tidak tergesa, tapi juga tidak melambat untuk menikmati apa pun. Ia mengenakan pakaian kerja yang sama seperti hari-hari sebelumnya—warna netral, potongan sederhana—namun entah mengapa, pantulan dirinya di cermin terlihat berbeda.
Bukan karena bajunya.
Bukan karena wajahnya.
Ada sesuatu yang berubah, tapi Karina tidak bisa—atau tidak mau—memberinya nama.
Ia keluar dari apartemen lebih awal. Udara pagi masih menyimpan sisa dingin malam, jalanan belum terlalu padat. Mobil-mobil melaju teratur, seolah kota sedang bernafas dengan ritme yang normal. Tidak ada garis polisi. Tidak ada kerumunan wartawan. Tidak ada suara sirene yang memecah ketenangan.
Karina mengemudi dengan tenang, radio mobil dibiarkan mati. Ia lebih memilih mendengar suara mesin dan ban yang menyentuh aspal. Sesekali, pikirannya melayang ke hari-hari sebelumnya—bukan pada peristiwa, melainkan pada perasaan. Tegang. Waspada. Lelah yang menumpuk tapi tidak pernah sempat diakui.
Hari ini, semua itu terasa… jauh.
Ia memarkirkan mobil di area kantor. Begitu mesin dimatikan, ia diam sejenak, tangan masih di setir. Biasanya, ada perasaan berat sebelum membuka pintu mobil, seperti bersiap menghadapi sesuatu yang belum terlihat. Tapi hari itu, perasaan itu tidak datang.
Karina membuka pintu dan melangkah turun.
Dan di situlah ia mulai menyadari.
Beberapa pasang mata mengarah padanya. Tidak terang-terangan, tidak terlalu lama, tapi cukup untuk terasa. Seorang staf yang sedang berjalan di seberang area parkir sempat melambat, lalu kembali berjalan seperti biasa. Dua orang di dekat pintu masuk berhenti berbicara saat Karina mendekat, lalu menyapanya dengan senyum yang sedikit terlalu cepat.
“Pagi, Mbak Karina.”
“Pagi.”
Nada suara mereka biasa saja. Terlalu biasa. Namun ada jeda kecil setelah namanya disebut, seolah kata itu membawa bobot tambahan.
Karina membalas senyum singkat dan terus berjalan. Ia tidak menoleh, tidak bertanya. Ia juga tidak merasa tersinggung. Yang ia rasakan hanyalah… kesadaran. Kesadaran bahwa kehadirannya kini dicatat dengan cara yang berbeda.
Di dalam lift, suasana hening. Dua orang pegawai lain berdiri di sudut, sibuk dengan ponsel masing-masing. Salah satu dari mereka melirik Karina lewat pantulan dinding lift, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Karina berpura-pura tidak menyadari.
Lantai demi lantai terlewati.
Pintu lift terbuka.
Koridor kantor tampak sama seperti kemarin. Cahaya lampu putih, deretan meja, suara ketikan komputer yang mulai terdengar. Namun begitu Karina melangkah masuk, ada perubahan kecil dalam ritme ruangan. Percakapan terputus sejenak. Kursi berderit saat seseorang menyesuaikan posisi duduknya. Beberapa kepala terangkat, lalu kembali menunduk.
Karina berjalan menuju mejanya.
Ia duduk, menyalakan komputer, membuka berkas-berkas yang sudah menunggu. Semuanya berjalan normal. Terlalu normal. Seorang rekan kerja menghampiri, menyerahkan dokumen, berbicara tentang hal teknis tanpa menyebut apa pun yang sensitif. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada komentar. Tidak ada bisikan yang berani terdengar dekat-dekat.
Namun Karina bisa merasakannya.
Bukan sebagai ancaman.
Bukan sebagai pujian.
Melainkan sebagai posisi.
Seolah tanpa disepakati, tanpa diumumkan, ruang itu telah menempatkannya sedikit berbeda dari kemarin. Bukan di depan, bukan di atas, tapi… terlihat.
Karina mengetik dengan fokus. Jarinya bergerak cepat, pikirannya jernih. Ia menyelesaikan satu tugas, lalu yang lain. Jam di pojok layar komputer terus bergerak, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, waktu tidak terasa menekan.
Di sela-sela pekerjaannya, Karina berhenti sejenak. Tangannya berhenti di atas keyboard. Ia menatap layar tanpa benar-benar membaca isinya. Ada pertanyaan yang muncul, kecil tapi mengganggu.
Sejak kapan ketenangan terasa seperti hadiah?
Ia menggeleng pelan, seolah mengusir pikiran itu. Karina kembali bekerja. Tidak ada alasan untuk mempersoalkan pagi yang damai. Tidak ada yang salah dengan hari tanpa tragedi.
Namun di kedalaman pikirannya, sebuah kesadaran baru mulai terbentuk.
Keputusan yang ia buat sebelumnya—yang terasa tepat, terukur, dan rasional—ternyata tidak berhenti di sana. Keputusan itu telah bergerak, menyentuh ruang-ruang yang tidak ia rencanakan. Cara orang memandang. Cara orang diam. Cara namanya diucapkan.
Karina tidak merasa bersalah.
Ia juga tidak merasa bangga.
Ia hanya… menerima.
Dan tanpa disadari, penerimaan itulah yang menjadi perubahan pertama.
Jam kembali berdetak.
Tik… Tak… Tik… Tak…
Hari berjalan, dan tidak ada apa pun yang terjadi.
Namun justru di situlah, sesuatu benar-benar dimulai.
Di sela pekerjaannya, ponsel Karina bergetar sekali.
Bukan panggilan.
Satu notifikasi berita.
Ia tidak langsung membukanya. Hanya melirik sekilas layar yang menyala, lalu membalik ponsel itu menghadap meja. Karina bukan tipe orang yang membiarkan distraksi mengganggu ritmenya. Namun beberapa menit kemudian, getaran lain menyusul. Lalu satu lagi.
Ia menarik napas pelan, lalu akhirnya meraih ponsel itu.
Judul berita pertama muncul tanpa perlu dibuka.
“Karina dan Wajah Baru Ketegasan Hukum.”
Karina mengernyit tipis.
Ia membuka artikel itu. Membacanya cepat, nyaris seperti memindai. Isinya tidak sepenuhnya salah. Bahkan sebagian besar faktanya akurat. Nama, kronologi, keputusan. Semua disusun rapi, terlalu rapi. Namun di antara baris-baris itu, ada satu kata yang diulang lebih dari sekali.
Simbol.
Karina disebut sebagai simbol ketegasan.
Simbol keberanian.
Simbol perubahan.
Ia menggulir ke bawah.
Artikel kedua muncul sebagai rekomendasi otomatis.
“Ketika Satu Nama Menjadi Simbol: Publik Butuh Sosok seperti Karina.”
Artikel ketiga lebih berani.
“Karina: Simbol Hukum yang Tak Lagi Ragu.”
Kata itu kembali muncul, lebih tebal, lebih percaya diri.
Simbol.
Karina berhenti menggulir. Jarinya diam di layar. Ia menyadari sesuatu yang mengganggu, bukan dari isi tulisan itu, melainkan dari reaksinya sendiri.
Ia tidak merasa marah.
Tidak merasa ingin meluruskan.
Tidak juga merasa perlu menutup berita itu dengan cepat.
Ia hanya membaca.
Dan membiarkannya ada.
Artikel-artikel itu mulai saling mengutip. Pernyataan Karina dari konferensi pers terakhir diambil, dipotong, lalu disusun ulang. Kalimat yang awalnya bersyarat terdengar mutlak. Nada yang awalnya hati-hati berubah menjadi tegas, hampir dingin.
“Keputusan harus diambil, meskipun tidak semua orang siap menerimanya.”
Kalimat itu pernah ia ucapkan. Dalam konteks yang berbeda. Dalam situasi yang jauh lebih kompleks. Namun di layar ponselnya, kalimat itu berdiri sendiri—tanpa penjelasan, tanpa latar.
Kutipan lama mulai bermunculan.
Bukan hanya dari kasus terbaru.
Salah satu artikel menyertakan pernyataannya bertahun lalu. Kasus anak wali kota. Kasus yang sempat memecah opini internal. Saat itu, Karina masih jauh dari sorotan publik seperti sekarang.
Ia ingat betul kalimat itu.
“Hukum tidak seharusnya menunggu sampai semua pihak merasa nyaman.”
Saat membacanya kembali, Karina bisa mendengar suaranya sendiri di kepala. Nada yang sama. Keyakinan yang sama. Namun kini, kalimat itu terasa… berbeda.
Bukan karena salah.
Melainkan karena ditempatkan sebagai bukti.
Sebagai fondasi narasi.
Sebagai alasan mengapa ia pantas disebut simbol.
Karina meletakkan ponsel di meja, layar menghadap ke atas. Notifikasi lain mulai bermunculan, tapi ia tidak lagi membukanya. Ia kembali menatap layar komputernya, namun fokusnya sudah bergeser.
Ia bertanya dalam hati—bukan dengan panik, bukan dengan defensif.
Sejak kapan keputusan profesional berubah menjadi representasi?
Sejak kapan ia berhenti menjadi individu, dan mulai diperlakukan sebagai lambang?
Yang lebih mengganggu bukanlah bagaimana media membentuk narasi itu.
Melainkan kenyataan bahwa Karina tidak langsung menolaknya.
Tidak ada dorongan untuk mengoreksi.
Tidak ada keinginan untuk berkata, “Ini tidak sepenuhnya benar.”
Ia hanya berpikir:
Mungkin beginilah cara publik memahami sesuatu.
Dan pikiran itu… tidak terasa salah.
Karina kembali bekerja. Jarinya kembali menari di atas keyboard. Ritmenya stabil. Ekspresinya tenang. Dari luar, tidak ada yang berubah.
Namun di dalam, sebuah garis tipis telah terlewati.
Bukan garis antara benar dan salah.
Melainkan antara memimpin keputusan dan menjadi simbol keputusan itu sendiri.
Jam di dinding terus berdetak.
Tik… Tak… Tik… Tak…
Dan untuk pertama kalinya, nama Karina tidak hanya melekat padanya—
tetapi mulai hidup dengan maknanya sendiri.
Jam di dinding masih berdetak ketika Karina berdiri dari kursinya.
Tik… Tak… Tik… Tak…
Ia mematikan layar komputer, meraih map tipis di meja, lalu melangkah keluar ruangan. Lorong kantor terasa lebih lengang dari biasanya. Beberapa pegawai menyapa dengan anggukan kecil, senyum sopan yang tidak terlalu lama. Karina membalasnya singkat, refleks, tanpa benar-benar memperhatikan.
Ia menuju ruang Antono.
Pintu itu terbuka.
Antono sudah ada di dalam.
Duduk tenang, punggung sedikit membungkuk, membaca berkas dengan kacamata bertengger rendah di hidungnya. Tidak ada ekspresi khusus di wajahnya. Tidak ada gestur yang menyiratkan ia sedang menunggu seseorang.
Karina berdiri di ambang pintu sejenak.
Biasanya, Antono akan mengangkat kepala lebih dulu. Menyebut namanya. Atau setidaknya memberi isyarat masuk.
Kali ini tidak.
Karina akhirnya mengetuk pelan.
“Masuk,” kata Antono singkat, tanpa menoleh.
Karina melangkah masuk dan duduk di kursi seberang meja. Ia meletakkan map di depannya, sejajar, rapi. Ia menunggu.
Beberapa detik berlalu.
Antono tetap membaca.
Sunyi menggantung di antara mereka. Bukan sunyi yang canggung, melainkan sunyi yang disengaja. Seolah ada ruang yang sengaja dibiarkan kosong.
“Ada perkembangan?” tanya Antono akhirnya.
Nada suaranya datar. Tidak hangat, tapi juga tidak dingin. Profesional, seperti biasa. Namun Karina merasakan perbedaan itu. Ia tidak tahu pasti di mana letaknya, tapi ia merasakannya.
“Belum,” jawab Karina. “Tidak ada kasus baru. Tapi ada beberapa laporan lanjutan yang perlu ditinjau.”
Antono mengangguk pelan. Ia menutup berkas yang sedang dibacanya, lalu menaruhnya di samping. Namun ia tidak langsung mengambil map Karina.
“Kamu yang tangani,” katanya.
Bukan perintah. Lebih seperti penetapan.
Karina menunggu kelanjutan kalimat itu. Biasanya, Antono akan menambahkan arahan. Sudut pandang. Peringatan kecil. Atau setidaknya pertanyaan lanjutan.
Namun tidak ada.
“Baik, Pak,” kata Karina akhirnya.
Antono kembali membuka berkas lain. Seolah percakapan itu sudah selesai.
Karina masih duduk.
Ia ragu sejenak, lalu berkata, “Ada hal lain yang perlu saya perhatikan?”
Antono berhenti membaca. Ia mengangkat kepala. Tatapannya bertemu dengan Karina—tatapan yang sama yang telah ia kenal selama bertahun-tahun. Tajam, tenang, sulit ditebak.
“Menurutmu?” tanya Antono balik.
Karina terdiam.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, hampir santai. Tapi Karina tahu betul Antono tidak pernah bertanya tanpa alasan.
“Saya rasa… tidak,” jawabnya akhirnya. “Semua masih dalam koridor.”
Antono menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Tidak menghakimi. Tidak menyetujui. Hanya mengamati.
“Kalau begitu, lanjutkan,” katanya pelan.
Itu saja.
Karina berdiri. Mengambil mapnya kembali. Melangkah keluar ruangan dengan perasaan yang tidak bisa ia beri nama.
Di luar, lorong terasa semakin panjang.
Ia berjalan pelan, pikirannya berputar.
Biasanya, Antono akan menantang asumsi Karina. Menguji keyakinannya. Menariknya sedikit ke belakang ketika ia terlalu yakin. Kali ini tidak. Antono justru… mundur.
Karina berhenti di depan jendela besar di ujung lorong. Cahaya siang masuk tanpa ragu. Terlalu terang untuk suasana hatinya.
Ia berpikir: Apakah aku mengecewakannya?
Kemungkinan itu muncul cepat, lalu menetap. Karina mengenal Antono sebagai sosok yang tidak mudah kecewa, tapi juga tidak mudah percaya. Jika ia menjauh, pasti ada sebabnya.
Karina mengingat kembali berita-berita pagi itu. Kata simbol yang berulang. Narasi yang dibiarkan hidup.
Apakah Antono membaca hal yang sama?
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa jarak ini adalah bentuk profesionalisme. Bahwa Antono hanya memberi ruang agar ia tumbuh. Namun pikiran itu tidak sepenuhnya menenangkan.
Yang tidak Karina ketahui—dan mungkin tidak akan ia ketahui dalam waktu dekat—adalah bahwa Antono tidak sedang menarik diri karena kecewa.
Ia sedang berhenti ikut campur.
Bukan karena Karina tidak mampu.
Melainkan karena Antono ingin melihat satu hal dengan jelas:
Apakah Karina masih memilih dengan sadar,
atau mulai berjalan mengikuti peran yang diberikan padanya.
Dari balik pintu ruangannya, Antono kembali membaca berkas. Namun kali ini, pikirannya tidak sepenuhnya pada tulisan di kertas.
Ia mendengar langkah Karina menjauh.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia membiarkannya pergi tanpa arahan.
Tiba-tiba hujan turun tanpa suara keras. Hanya gerimis tipis yang menempel di kaca jendela ruang rapat kecil lantai dua. Ruangan itu jarang dipakai—terlalu sempit, terlalu jauh dari pusat aktivitas. Karina duduk di salah satu kursinya, menunggu.
Antono datang tanpa suara langkah yang tergesa. Ia menutup pintu pelan, mematikan lampu utama, menyisakan cahaya dari jendela yang redup dan abu-abu. Ruangan itu seperti sengaja dipisahkan dari waktu.
“Kita tidak lama,” kata Antono.
Karina mengangguk. “Baik, Pak.”
Tidak ada map. Tidak ada papan. Tidak ada layar. Hanya dua orang dan jarak di antaranya.
Antono berdiri, tidak langsung duduk. Ia menatap ke luar jendela, seolah sedang menghitung sesuatu yang tidak terlihat.
“Kamu baca berita hari ini?” tanyanya.
“Baca,” jawab Karina.
“Komentar?”
“Biasa.”
Antono tersenyum tipis—bukan senyum senang, bukan sinis. Lebih seperti tanda baca.
“Kata simbol muncul berapa kali?”
Karina terdiam sejenak. “Banyak.”
“Dan kamu?”
“Saya bekerja.”
Antono akhirnya duduk. Ia menyandarkan punggung, melipat tangan. “Itu jawaban aman.”
Karina menahan napas. “Jawaban jujur, Pak.”
“Belum tentu,” kata Antono pelan.
Hujan di luar semakin rapat, tapi tetap tidak keras. Seperti ribuan jari mengetuk perlahan, serempak.
Antono menatap Karina. Tatapan yang tidak mencari kesalahan—melainkan pilihan.
“Kalau kamu tidak disebut-sebut media,” katanya santai, hampir seperti obrolan biasa,
“kamu masih mau memimpin kasus ini?”
Karina menjawab tanpa ragu. Terlalu cepat.
“Tentu.”
Kata itu jatuh ringan. Bersih. Seolah sudah lama menunggu untuk diucapkan.
Antono tidak bereaksi. Tidak mengangguk. Tidak membantah. Ia hanya mengamati—dan mencatat dalam diam.
“Kenapa?” tanyanya.
“Karena ini tugas saya,” jawab Karina. “Dan karena saya mampu.”
“Kamu yakin?”
“Yakin.”
Antono menghela napas pendek. Bukan lelah. Lebih seperti menerima sesuatu yang sudah diduganya.
“Kamu tidak bertanya balik,” katanya.
Karina mengernyit. “Apa yang perlu saya tanyakan?”
“Apakah memimpin itu masih tentang korban,” Antono menjawab, “atau tentang posisi.”
Kalimat itu tidak menuduh. Justru itulah yang membuatnya menusuk.
Karina menatap Antono. Untuk pertama kalinya, ia merasa perlu membela sesuatu yang belum tentu diserang.
“Saya tidak mengejar posisi,” katanya. “Saya ingin kasus ini selesai.”
Antono mengangguk pelan. “Itu niat baik.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Tapi niat baik sering dipakai untuk membenarkan langkah yang salah.”
Karina terdiam.
Hening menyusup di sela-sela mereka. Hening yang tidak memaksa, tapi menunggu.
“Kamu ingat tujuh tahun lalu?” tanya Antono tiba-tiba.
Karina mengangguk. Ia ingat. Terlalu jelas.
“Waktu kamu jawab impianmu apa.”
Karina tidak menjawab. Ia tahu kalimat apa yang dimaksud.
“Kereta kencana,” kata Antono, seolah membacakan catatan lama. “Kamu bilang itu simbol kemewahan dan kekuasaan.”
Karina menelan ludah. “Saya juga ingat nasihat Bapak.”
“Bagus,” kata Antono. “Karena sekarang kamu duduk di dalamnya.”
Kalimat itu menggantung. Tidak keras. Tidak dramatis. Tapi cukup untuk membuat Karina menahan napas.
“Dan saya ingin tahu,” lanjut Antono, suaranya tetap datar,
“kamu yang mengendalikan kereta itu… atau kamu menikmati ditarik olehnya.”
Karina membuka mulut. Menutupnya lagi.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak punya jawaban cepat.
Antono berdiri. Percakapan itu jelas sudah selesai baginya. Ia berjalan ke pintu, lalu berhenti.
“Satu hal lagi,” katanya tanpa menoleh.
“Keputusan yang benar tidak selalu terasa nyaman. Tapi keputusan yang terasa nyaman sering kali berbahaya.”
Pintu terbuka. Cahaya lorong masuk sebentar, lalu tertutup kembali.
Karina sendirian.
Ia duduk lama setelah itu. Tidak bergerak. Tidak memikirkan korban. Tidak memikirkan media.
Ia memikirkan jawabannya sendiri.
Tentu.
Kata itu terngiang. Ringkas. Pasti. Dan menakutkan—bukan karena salah,
melainkan karena ia tidak membencinya.
Dan di situlah, tanpa darah, tanpa kasus baru,
sesuatu bergeser pelan…
dan tidak bisa ditarik kembali.
Ruang kerja sudah hampir kosong ketika Karina kembali ke lantai penyidikan.
Lampu-lampu sebagian dimatikan. Meja-meja ditinggalkan dengan tumpukan kertas yang tidak sempat dirapikan. Bau kopi dingin bercampur debu AC menggantung di udara. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul sembilan malam.
Karina berdiri di depan papan kasus.
Papan itu rapi. Terlalu rapi.
Foto-foto TKP tersusun lurus, diberi jarak yang sama. Benang merah ditarik dengan presisi, tidak ada yang kusut. Nama korban ditulis jelas, tanggal dan jam dicatat tanpa satu pun coretan. Semuanya terlihat terkendali.
Ia menatapnya lama.
Biasanya, pada jam-jam seperti ini, Karina akan berdiri lebih dekat. Membaca ulang detail kecil—arah luka, sudut kamera CCTV, celah waktu yang tidak masuk akal. Biasanya pikirannya akan penuh dengan satu pertanyaan sederhana: siapa yang tega melakukan ini?
Malam itu, pertanyaannya berbeda.
Bagaimana ini akan berakhir?
Karina menyadarinya tanpa kejutan besar. Tidak ada rasa bersalah yang menghantam tiba-tiba. Tidak ada penyesalan dramatis. Hanya kesadaran yang muncul pelan, seperti embun di kaca.
Ia tidak lagi memikirkan korban sebagai pusat.
Ia memikirkan hasil.
Ia memikirkan penutupan kasus. Pernyataan pers. Judul berita. Kalimat yang akan dipilih—atau dipelintir.
Ia memikirkan bagaimana semuanya akan terlihat.
Karina menurunkan tangannya, menyentuh benang merah yang menghubungkan satu foto ke foto lain. Benang itu terasa dingin di ujung jarinya.
Sejak kapan? pikirnya.
Ia mencoba mengingat momen pastinya. Tidak ketemu. Perubahan itu terlalu halus. Terjadi di sela-sela pujian, kepercayaan, dan kata simbol yang diulang-ulang.
Karina mundur satu langkah.
Papan itu tidak berubah.
Yang berubah adalah cara ia melihatnya.
Di kaca jendela, pantulan dirinya samar. Seragam rapi. Rambut tertata. Wajah tenang. Wajah seseorang yang terlihat tahu apa yang sedang ia lakukan.
Dan itu yang paling menakutkan.
Karina tidak membenci perasaan itu.
Ia tidak menolaknya.
Ia tidak menyangkalnya.
Ia hanya berdiri di sana, menerima bahwa ada bagian dari dirinya yang mulai menikmati kendali.
Lampu otomatis mati satu per satu.
Ruang itu tenggelam dalam setengah gelap.
Karina tetap berdiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak kasus ini dimulai, ia tidak bertanya apakah ia masih berada di sisi yang benar—melainkan,
apakah ia masih ingin bertanya.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y