NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Kemalangan

Gadis Pembawa Kemalangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Kerajaan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.

Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ingatan

Lorong di luar kamarnya perlahan tenggelam dalam keheningan.

Tawa dari aula masih terdengar, tetapi kini seperti suara dari balik air. Ada, tetapi tidak menyentuhnya.

Elenna mengunci pintu. Bunyi klik kecil itu terdengar lebih jelas daripada seharusnya, seolah ruangan ini memperbesar hal-hal yang ingin Ia sembunyikan.

Ia bersandar sebentar pada daun pintu, memejamkan mata. Seolah memastikan dunia benar-benar berada di luar, dan dirinya benar-benar sendirian di dalam. Kesunyian tidak lagi terasa asing. ia seperti mantel yang ia kenakan setiap malam, tidak terlalu hangat, tetapi cukup untuk menutupi.

Tangannya bergerak menuju laci paling bawah meja kecil di samping ranjang. Laci itu selalu tertutup rapi. Tidak pernah dibersihkan oleh pelayan. Tidak pernah disentuh siapa pun selain dirinya.

Di dalamnya, botol kecil berwarna gelap terbaring tanpa nama. Tidak ada label, tidak ada cap keluarga, dan tidak ada jejak resmi. Hanya kaca dingin yang menyimpan sesuatu yang lebih dingin lagi.

Ia mendapatkannya jauh dari mansion, di sudut pasar yang bahkan bangsawan jarang tahu keberadaannya. Transaksi yang singkat, tanla pertanyaan, tanpa nasihat. Penjualnya bahkan tidak menatap wajahnya terlalu lama, seolah memang lebih aman begitu.

Awalnya, ia hanya ingin tidur. Setelah ia tidak bisa tidur karena kejadian dulu. Setelah malam yang seperti halaman buku yang hilang. Setelah semua mimpi buruk menghantuinya tanpa istirahat

Ia duduk di tepi ranjang dan memutar botol itu perlahan di antara jemarinya. Gerakannya lembut, hampir seperti seseorang yang sedang menimbang keputusan yang sudah terlalu sering diambil.

“Aku tidak bergantung padamu,” gumamnya pelan.

Kalimat itu terdengar rapuh. Ia tidak yakin pada siapa kalimat itu ditujukan, pada pil di tangannya, atau pada dirinya sendiri.

Sejak malam itu, pikirannya seperti cermin yang retak. Tidak pecah sepenuhnya, tetapi selalu memantulkan sesuatu yang tidak utuh. Ia bisa melihat dirinya, tetapi tidak pernah secara lengkap.

Ia mengingat darah. Ia mengingat dinginnya lantai, dan meminta tolong. Ia mengingat seseorang berdiri di atasnya. Namun, wajah itu selalu hilang, seperti bayangan yang menolak memiliki bentuk. Setiap kali ia mencoba menariknya kembali, kepalanya terasa seperti pintu yang tertutup dari dalam.

Terpotong, di titik yang sama. Seolah ada tangan tak terlihat yang menekan ingatannya kembali ke dasar.

Ia membuka tutup botol.

Satu pil kecil jatuh ke telapak tangannya.

Putih, bulat, polos. Benda sekecil itu seharusnya tidak memiliki kuasa atas apa pun. Namun, di ruangan ini, dalam sunyi seperti ini, ia terasa seperti kunci.

“Aku hanya ingin malam yang sunyi,” bisiknya.

Ia menelannya.

Air terasa pahit meski tidak seharusnya. Atau mungkin lidahnya yang berubah.

Ia duduk diam, menunggu.

Tidak ada efek samping. Tidak ada perubahan mendadak. Hanya detak jantungnya yang perlahan menjadi lebih berat, seperti jam yang berdetak di ruangan kosong.

Lampu minyak di sudut kamar berkedip kecil, bayangan tirai bergerak pelan, padahal jendela tertutup.

Ia menatapnya tanpa terkejut. Beberapa hal tidak perlu ditanggapi agar tetap terkendali. Jika ia tidak mengakuinya, mungkin ia bisa berpura-pura semuanya biasa saja.

Namun, cahaya di dinding mulai membentuk sesuatu yang tidak seharusnya ada. Siluet yang terlalu tegak untuk menjadi furnitur. Terlalu tenang untuk menjadi bayangan biasa.

Ia menelan napas.

“Tidak ada siapa pun,” katanya pelan.

Suara itu terdengar lebih jauh daripada yang ia maksudkan, seolah bukan keluar dari dirinya, melainkan dari ruangan yang menirukannya.

Siluet itu tidak bergerak. Ia juga tidak. Keduanya seperti menunggu siapa yang lebih dulu menyerah. Lalu, seperti embusan angin yang menyentuh belakang telinga, sebuah bisikan muncul.

“Kau melihat terlalu banyak.”

Kalimat itu lembut. Tidak marah. Tidak mengancam.

Justru terlalu tenang.

Ia tidak berteriak.

Ia tidak berdiri.

Ia hanya membeku.

Ingatan itu mencoba naik ke permukaan seperti benda yang terlalu lama tenggelam.

Sakit.

Bau logam yang tipis namun jelas.

Darah.

Cahaya yang menyilaukan.

Dan siluet seseorang.

Ia merasa jika kali ini ia berani, jika kali ini ia tidak memalingkan diri, ia mungkin bisa melihatnya dengan utuh.

Namun, seperti sebelumnya, ingatannya seolah berhenti di titik itu. Seolah kejadian tersebut tidak pernah ada, atau memang hanya khayalan semata.

Kepalanya berdenyut, bukan karena rasa sakit, tetapi karena pikirannya menolak untuk menjelajah lebih jauh. Seperti takut membaca kalimat karena telah tahu kata selanjutnya.

Ia berdiri perlahan dan berjalan menuju cermin kecil di meja rias. Pantulannya menatap balik.

Tenang. Namun, ada jeda. Sepersekian detik yang terlalu panjang untuk disebut kebetulan.

Ia mengangkat tangan, pantulannya mengikuti dengan sedikit terlambat. Di wajahnya, dalam pantulan itu, terlukis garis luka, hitam, yang kontras dengan kulit wajahnya, seperti retakan pada porselen.

Ia mengingat luka itu pernah ada. Ia mengingat dokter keluarga mengatakan itu kecelakaan kecil. Ia mengingat Lilith berdiri di pintu kamar saat itu, mengejek Elenna dengan luka yang akan berbekas.

“Aku baik-baik saja,” bisiknya pelan.

Kalimat itu terdengar seperti seseorang yang sedang mencoba meyakinkan dinding.

Pil itu mulai bekerja lebih dalam. Dunia terasa sedikit lebih jauh, seperti ditarik selapis kain tipis. Suara-suara mengecil. Bayangan kembali patuh.

Namun, bukan berarti semuanya hilang. Beberapa hal tidak pergi. Mereka hanya berdiri sedikit lebih jauh. Ia duduk kembali di ranjang. Tiba-tiba ruangan terasa lebih luas, seperti jarak antara dirinya dan benda-benda di sekitarnya melebar tanpa alasan.

Ia memandang tangannya sendiri.

Tangan itu tampak sama, dingin, pucat.

Namun, Ia teringat bagaimana tangan itu pernah gemetar di atas lantai marmer.

Ia mencoba mengingat suara malam itu.

Apakah ada yang berteriak?

Apakah ada yang memanggil namanya?

Atau hanya dirinya sendiri yang jatuh dalam sunyi?

Ia tidak yakin.

Ingatan itu seperti kabut yang hanya mengizinkan bentuk samar, bukan garis tegas.

Bagaimana jika bukan waktu yang menghapusnya?

Bagaimana jika ada seseorang yang memastikan ia tidak pernah melihat keseluruhan gambar?

Pikiran itu tidak terasa gila.

Justru terasa masuk akal.

Di rumah ini, hal-hal tidak selalu diucapkan. Banyak yang diatur tanpa suara. Banyak yang dihapus tanpa bekas.

Napasnya melambat. Tubuhnya terasa berat, tetapi pikirannya justru semakin ringan, seperti balon yang dilepaskan tanpa arah.

Ia berbaring. Langit-langit kamar tampak sedikit lebih jauh dari biasanya. Lampu minyak mengecil, cahayanya seperti mata yang hampir terpejam.

Dari luar, tawa masih ada. Jamuan masih berlangsung. Dunia tetap memilih terang. Sementara dalam kamar, Ia tenggelam dalam gelap yang lebih pribadi. Di antara sadar dan tidur, suara bisikan itu kembali, tidak sejelas tadi, tetapi cukup untuk terasa.

“Kau tahu.”

Ia ingin menyangkal.

Namun, bagian kecil dalam dirinya tahu kalimat itu tidak sepenuhnya salah.

Ia memang melihat sesuatu malam itu.

Sesuatu yang seharusnya tidak Ia lihat.

Itulah sebabnya wajah itu selalu hilang.

Ia melihat lagi lantai marmer itu.

Dingin.

Kilapnya memantulkan cahaya lampu kristal dari aula atas.

Dalam batas antara mimpi dan kesadaran, ia berbisik, “Aku akan mengingat.”

Kata-kata itu tidak terdengar seperti doa lagi.

Lebih seperti keputusan.

Jika ada yang mencoba memotong hidupnya menjadi potongan-potongan yang aman, ia akan menyatukannya kembali.

Meski harus menyakiti dirinya sendiri untuk melihat ingatan yang utuh, ia tak apa. Karena kebenaran yang menyakitkan lebih baik daripada kebohongan yang manis.

Tawa di aula meredup satu per satu, mansion kembali ke napas malamnya, dan di ranjang sempitnya, Elenna tertidur dengan tangan terlipat di atas dada, seperti seseorang yang menjaga sesuatu yang tak terlihat.

1
Ran
up thorr
Ran
cie elena mulai suka 🤭
Ran
Lilith ini keknya punya gangguan jiwa atau kelainan berpikir ya/Speechless/, stress banget jadi orang
Ran
ayo berlayar kapal elena dan tuan pengawal
Anonymous
semangat thor
VanGenZ: Terima kasih atas dukungannya🙏
total 1 replies
Ran
Lilith play victim jir
Ran
up thorr
Ran
itu mah akal akalan Lilith aja
Ran
sakit banget jadi elena
Ran
Lilith sok gatel lagi sama Kael
Ran
yahh, ayang beb udah mau pergi
Ran
mampus dimarahin ga tuh
Ran
kill aja tuh count
Ran
curiga sama lilith
Ran
buat apa dikasih tau kalau sejak awal udh ditentuin perannya, dasar marquess ga punya hati
Ran
semua gada yang bisa dipercaya kecuali elenna sendiri jir
Ran
Lilith sok baik/Panic//Pooh-pooh/
Ran
lumayan sih. walaupun minim dialog, tetap berkarya thor
Ran: sama-sama thor
total 2 replies
Ran
pengen deh bejek2 Lilith manusia ular itu/Panic/
Ran
kasian banget jadi Elenna/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!