Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan tidak terduga
Seseorang berdiri di depan pintu kamarnya, Ayahnya, Kaisar Long. Sosok pria bertubuh tegap dengan jubah naga emas yang memantulkan cahaya sore.
Rambutnya disanggul rapi, dahi tinggi dan sorot mata dalam yang biasanya penuh wibawa. Sosok yang begitu ia rindukan namun terasa begitu jauh.
Sejak kejadian tragis tujuh tahun lalu—kejadian yang membuat ibunya di hukum—hubungan mereka tidak pernah kembali seperti dulu.
Sampai saat ini Ruoling tidak tahu dan tidak berani menanyakan perubahan sikap ayah padanya, ia juga tidak ingin semakin jauh lagi kalau memberanikan dirinya untuk tahu.
Namun hari ini, setelah sekian lama Kaisar ada di sini. Di kediamannya yang baru Ruoling yang semula tidak percaya dengan laporan pelayan tersentak, lalu langkahnya otomatis cepat, hampir berlari kecil menuju ayahnya.
Wajahnya menegang menahan air mata yang hendak menyeruak, tetapi bibirnya tersenyum, senyuman tulus yang hanya ia simpan untuk orang-orang yang sungguh di cintainya.
"Ayah…” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar. “Ayah datang ke sini…”
Kaisar Long menoleh. Tatapannya tenang, namun bukan tatapan hangat seorang ayah yang merindukan anaknya. Itu tatapan seorang kaisar yang sedang memikirkan banyak hal lain.
"Ada yang ingin kukatakan,” jawabnya datar.
Meski begitu, Ruoling tetap berdiri tegak, menjaga sopan santun layaknya anak Kaisar. Ia melangkah lebih dekat, ingin menyentuh lengan ayahnya, ingin memastikan bahwa kedatangan ini bukan mimpi, tapi ia menahan diri. Karena ia tahu, semakin bertambah usianya, semakin kuat pula batas di antara mereka.
“Ayah… apa semuanya baik-baik saja?” tanya Ruoling dengan hati-hati. Ia ingin menanyakan kabar sang ayah, tapi mengurungkannya.
Namun harapan itu cepat padam.
Kaisar menghela napas pendek. “Jangan temui Ruoyi lagi.”
Ruoling membeku, senyumnya hilang seketika. “A… apa maksud ayah?”
Kaisar tidak menjawab langsung, namun caranya memalingkan wajah justru menjelaskan semuanya. “Ruoyi kembali mengurung diri di kamar. Ia menangis ketakutan. Ia tidak mau bertemu siapa pun, tidak mau makan apa pun. Para apoteker mengatakan traumanya kambuh.”
Ruoling menunduk, merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak.
“Dan… semua itu apa hubungannya dengan aku?” suaranya nyaris tak terdengar.
Kaisar menatapnya, bukan marah, bukan benci, tapi kebingungan, kelelahan, dan rasa bersalah yang terdistorsi menjadi keputusan buruk.
“Kau membuatnya teringat kejadian itu,” ucapnya akhirnya. “Melihatmu… membuatnya takut hal itu terjadi lagi.”
Seakan ada batu besar yang menghantam dada Ruoling. Ia mundur satu langkah tanpa sadar.
"Jadi… semua ini salahku?” tanyanya pelan, bibirnya gemetar. "Lucu sekali padahal aku tak pernah menemuinya. Saat itu aku hanya diam dari jauh sementara dia..."
Ruoling terdiam, emosinya hampir membuatnya lupa akan janjinya. Kondisi ayah belum benar-benar pulih karna racun itu membuatnya tidak bisa bekerja atau berpikiran yang berat-berat sepeti dulu lagi.
Kata salah satu perawat yang memantau kesehatan ayah, racun yang di berikan pada sup Kaisar lebih tajam dari pada sup lainnya hingga menimbulkan banyak kerusakan pada orang dalam Kaisar.
"Sementara dia?"
"Aku... tidak terlalu penting. Aku tidak akan pernah menemui Putri Ruoyi lagi."
"Aku tahu kau juga sangat menyayangi, Ruoyi." Kata ayah lagi. "Tapi untuk sementara waktu, lebih baik kau menjauhi Ruoyi saja. Sampai ia membaik.”
Ruoling mengangguk, untuk sementara. Tapi Ruoling tahu “sementara” itu bisa berarti lama atau mungkin selamanya.
Lalu mereka terdiam, Ayah masih ada di tempat yang sama tapi tidak menanyakan apa yang terjadi padanya. Tapi Ruoling tidak sedih, ia juga diam dengan menunggu ayah membuka suara.
Setelah cukup lama berlalu, ayah tidak bicara, tidak menanyakan mengapa ia terlihat letih.
Ayah bahkan tidak bertanya apakah benar ia menyakiti Suyin, karna Ruoling tidak melakukan apa-apa.
Kaisar Long ragu sejenak, seolah ingin menambahkan sesuatu. Tapi ia hanya menghela napas lelah, lalu membuang pandangan ke arah halaman, seolah keberadaan Ruoling terlalu berat untuk ia hadapi.
Ia kemudian berbalik.
“Jaga dirimu,” hanyalah kata terakhir yang keluar sebelum ia melangkah pergi, meninggalkan kediaman itu tanpa menoleh lagi.
Pintu utama menutup perlahan di belakang sang Kaisar. Suaranya terdengar lembut, namun bagi Ruoling, itu adalah suara palu yang mengetuk terakhir kalinya kepercayaan yang sempat ia genggam.
Keheningan panjang menyelimuti kediamannya. Ruoling berdiri terpaku, merasakan seakan semua suara di dunia hilang. Hanya detak jantungnya yang terdengar, tidak stabil, kacau, dan menyakitkan.
Ia mencoba bernapas, tetapi dadanya terasa sesak.
“Ayah…” gumamnya. “Apa kau juga tidak menyayangiku?”
Tubuhnya gemetar, ia melangkah mundur lalu berbalik kembali ke kamarnya. Ia menutup pintu bersamaan dengan air mata turun mengalir tanpa bisa cegah.
Sosok pria yang paling di sayanginnya datang untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia sangat berharap ayah akan bertanya kabarnya, tapi ternyata tidak. Ayah lagi-lagi hanya memintanya untuk menjauhi Ruoyi.
Ruoling menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya meluncur perlahan hingga duduk di lantai dingin. Isakannya terdengar pelan, rapuh, terbungkam oleh dinding-dinding tebal.
Dalam hati kecilnya, ia menjerit: “Mengapa semua orang menyalahkanku? Mengapa tidak ada yang percaya? Mengapa aku sendirian… Mengapa aku yang di salahkan atas apa yang tidak aku perbuat?"
Di luar, wisteria bergoyang tertiup angin. Indah, lembut, namun juga tampak muram. Seolah ikut merasakan beban yang disimpan gadis muda itu selama bertahun-tahun.
Ruoling akhirnya menarik lututnya dan memeluk dirinya sendiri, seperti anak kecil yang mencoba mencari perlindungan dari dunia yang terus menghukumnya.