NovelToon NovelToon
Benih Yang Tertukar

Benih Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Hamil di luar nikah / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Isabella Harper adalah wanita muda dan mandiri yang tidak pernah kalah dalam perdebatan. Dia merasa hidupnya akhirnya sesuai dengan keinginannya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan rumah baru yang nyaman. Hidupnya sempurna.

Dia memiliki semua yang diinginkannya kecuali satu hal, seorang bayi.

Karena pengalaman pahit di masa lalu, Bella kesulitan mempercayai laki-laki, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain donor sperma.

Lalu apa yang terjadi ketika dia mengetahui bahwa ada kesalahan penempatan, bahwa dia mengandung benih dari pewaris miliarder Rafael Mogensen?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1. Pertemuan di club

Bella berbaring santai di sofa dengan semangkuk popcorn di pangkuannya.

Jumat malam selalu berarti hal yang sama baginya. Ketika teman-temannya memilih keluar rumah, Bella justru bertahan di dalam rumah, menikmati film atau serial romantis tentang cinta sejati yang menurutnya jelas-jelas tidak benar-benar ada.

Hanya karena hidupmu menyedihkan bukan berarti hidup orang lain juga menyedihkan, sebuah suara lembut seolah berbisik di kepalanya.

Setelah hampir sepuluh menit menelusuri berbagai pilihan, Bella akhirnya menjatuhkan pilihan pada Black Summer Series. Itu adalah serial favoritnya sepanjang masa. Tak peduli sudah berapa kali ia menontonnya, ia selalu saja terkejut dengan kejadian-kejadian yang muncul selanjutnya.

Sambil mengunyah popcorn, Bella menyaksikan adegan kejar-kejaran dalam drama itu. Tiba-tiba, ponselnya berdering, mengganggu konsentrasinya.

Nama Ruby, sahabatnya terpampang di layar. Sudah menjadi rutinitas, Ruby selalu menelepon setiap Jumat malam, seolah-olah Bella butuh seseorang untuk mengurus hidupnya. Bella sudah bisa menebak, panggilan itu pasti berisi ajakan ke klub malam konyol atau rencana keluar yang sama sekali tidak menarik baginya.

“Hai, Ruby,” ucap Bella, berusaha terdengar ceria.

“Aku dan Anne mau ke Ocean Club,” kata Ruby antusias. “Anne kenal seseorang yang kenal pemiliknya. Dia dapat beberapa tiket masuk buat kita. Kamu harus ikut. Temui aku di rumahku.”

Dugaan Bella benar, klub malam lagi.

“Aku tidak bisa,” jawab Bella. “Aku sibuk malam ini.” Kebohongan kecil, tapi sudah terlalu sering ia lakukan.

“Sibuk apa?” sela Ruby. “Nonton maraton serial bodoh itu lagi? Kamu bisa melakukan itu kapan saja.”

“Pertama, Black Summer itu tidak bodoh,” Bella membalas. “Kedua, aku benar-benar sibuk malam ini. Ada urusan.” Satu kebohongan lagi.

Ruby menghela napas. “Baiklah. Tapi kamu tidak akan lolos begitu saja Jumat depan.”

“Oke. Bye. Aku sayang kamu,” kata Bella cepat-cepat, lalu menutup telepon sebelum Ruby sempat memberinya ceramah panjang.

Biasanya, Ruby akan terus menelepon sampai Bella setuju untuk ikut, hanya untuk kemudian Bella membatalkannya di menit-menit terakhir. Namun malam ini, Bella hanya ingin kembali ke sofanya, ke popcorn hangat di pangkuannya, dan ke dunia fiksi yang terasa jauh lebih nyaman daripada dunia nyata.

Bella meletakkan ponselnya di atas meja kopi kayu di depan sofa. Ia menyandarkan kepala pada bantal dan kembali memusatkan perhatian pada serial yang sedang diputar.

Baru saja ia merasa cukup nyaman, ponselnya bergetar di atas meja, menandakan sebuah notifikasi masuk.

Bella meraih ponsel itu dan membaca pesan yang muncul di layar.

[Anda diundang ke acara baby shower Emily.]

Begitu bunyi pesan itu.

Bayi… Sebuah kata terngiang pelan di dalam kepalanya.

Sebenarnya, Bella sangat ingin menjadi seorang ibu. Namun hidup seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk itu.

Pikirannya pun melayang pada mantan tunangannya, Leon. Mereka hampir menikah, tiga minggu sebelum hari pernikahan, Bella memergokinya tidur dengan sekretarisnya sendiri. Hanya Tuhan yang tahu sudah berapa lama pria itu mengkhianatinya.

Setelah tiga tahun bersama, Leon masih saja berselingkuh. Bahkan mantan pacarnya yang sebelumnya tak bertahan sebulan pun sudah berkhianat. Bisa dibilang, Bella memang memiliki masalah besar soal kepercayaan.

Ia dan Leon pernah merencanakan pernikahan dan kehidupan berkeluarga. Bella membayangkan memiliki anaknya sendiri, dan membangun rumah tangga yang hangat. Ruby pernah berkata bahwa lebih baik Bella mengetahui perselingkuhan itu sekarang daripada setelah menikah dan memiliki anak berusia dua tahun.

Namun sampai sekarang, Bella masih belum bisa mengingat semua yang terjadi tanpa merasa remuk. Setiap kali kenangan tentang Leon dan momen-momen bahagia mereka muncul, rasa sakit itu kembali menghantamnya.

Sebagian dirinya masih terjebak dalam fantasi tentang kehidupan yang seharusnya ia miliki.

Mungkin Ruby benar. Seharusnya ia ikut keluar bersamanya dan Anne malam ini. Ia perlu mengalihkan pikirannya, menjauh sejenak dari kenangan dan luka yang tak kunjung sembuh.

Bella menekan nomor Ruby dan menempelkan ponsel ke telinganya. Panggilan itu dijawab pada dering pertama.

“Apakah tawaranmu masih berlaku?”

“Tentu saja,” jawab Ruby tanpa ragu. “Temui kami di luar klub. Kami sedang dalam perjalanan ke sana.”

Bella menutup telepon lalu bangkit dari sofa dan langsung menuju kamar mandi. Ia sebenarnya sudah mandi sepulang kerja, tetapi entah mengapa ia merasa perlu melakukannya sekali lagi. Dalam hati, ia bahkan sempat bercanda bahwa mungkin dialah penyebab krisis air belakangan ini.

Ia memutar keran ke air dingin. Aliran air yang membasahi tubuhnya membuatnya merinding, namun sensasi itu justru menenangkan. Setiap kali mandi air dingin, otot-ototnya selalu terasa lebih rileks.

Sekitar lima menit kemudian, Bella mematikan keran, meraih handuk, dan melilitkannya di tubuhnya. Ia melangkah menuju lemari pakaian dan menatap deretan baju dengan ragu.

Ia tidak pernah tahu harus memakai apa saat pergi ke klub malam. Ia ingin tampil seksi tapi tidak murahan, dan menemukan keseimbangan itu selalu sulit. Bella membenci anggapan sebagian orang yang langsung menilai bahwa berpakaian bagus berarti ingin mencari perhatian pria.

Akhirnya ia memilih gaun hitam dengan punggung terbuka, panjangnya sedikit di atas lutut. Rambutnya diikat rapi dalam kuncir kuda rendah, lalu ia merias wajah secukupnya. Sepasang sepatu hak setinggi empat inci melengkapi penampilannya.

Bella menatap pantulan dirinya di cermin dan merasa cukup puas dengan apa yang ia lihat.

Ia mengambil kunci mobil dan sebuah tas kecil, mengunci pintu apartemennya, lalu naik lift menuju lantai bawah ke area parkir penghuni. Setelah masuk ke mobil, ia mengetikkan nama klub malam itu di iPhone untuk mendapatkan petunjuk arah.

Saat tiba di lokasi, Ruby dan Anne sudah menunggunya di area parkir. Bella tak bisa menahan diri untuk memperhatikan deretan mobil sport mewah dan beberapa model terbaru yang berkilau di bawah lampu. Mobilnya sendiri tampak mencolok di antara semuanya, membuat perutnya terasa sedikit gelisah.

Begitu Ruby dan Anne menyadari kehadirannya, mereka berlari menghampirinya seperti sekelompok preman yang bersemangat. Terlambat sudah untuk mundur sekarang.

“Aku tidak percaya kamu benar-benar datang!” seru Anne kegirangan saat Bella turun dari mobil.

“Wow, kamu kelihatan sangat seksi,” kata Ruby dengan suara dibuat-buat berat seperti laki-laki.

Bella hanya menggelengkan kepala menanggapi tingkah sahabatnya itu. Angin malam berdesir menyapu punggungnya yang terbuka, membuatnya kembali merinding.

“Semua sudah siap?” tanyanya.

“Siap dong. Aku sudah dapat tiket VIP buat kita, Sayang!” jawab Ruby sambil melambaikan tiket-tiket di tangannya dengan bangga.

Ruby langsung melangkah menuju petugas keamanan, melewati antrean panjang orang-orang yang sudah menunggu sejak lama. Dengan santai ia menunjukkan tiketnya, dan tanpa banyak tanya, petugas itu membiarkan mereka masuk.

Bella sempat melirik ke arah gadis-gadis yang masih berdiri dalam antrean dan memberi senyum kecil penuh rasa tidak enak hati sebelum akhirnya melangkah masuk.

Begitu memasuki klub, suasana langsung berubah drastis. Ruangan gelap dipenuhi lampu disko yang berkelap-kelip liar, memantulkan cahaya ke segala arah. Klub itu penuh sesak oleh orang-orang mabuk yang menari tanpa arah, dan tubuh-tubuh saling berhimpitan.

Musiknya begitu keras hingga Bella bisa merasakan getarannya menjalar dari lantai ke telapak kakinya. Di atas panggung, beberapa DJ bergantian memainkan musik dengan dentuman berat yang memekakkan telinga.

Di ujung ruangan, sebuah bar panjang dipenuhi pelanggan mabuk yang tertawa, berteriak, dan mengangkat gelas mereka tinggi-tinggi.

Ruby meraih tangan Bella dan menariknya ke arah tangga. Mereka harus berjuang menembus lautan manusia untuk mencapai sisi lain ruangan. Saat akhirnya sampai di depan tangga, tubuh Bella terasa pegal akibat dorongan dan desakan dari segala arah.

Mereka menaiki tangga setelah menunjukkan kartu identitas kepada dua penjaga. Saat itu, Bella merasa seperti ikan yang kehabisan air dan sepenuhnya asing dengan lingkungan ini.

Ia sempat berpikir area VIP akan sedikit lebih tenang, namun dugaannya salah besar.

Di sudut paling jauh, beberapa penari bertopeng dengan pakaian serba hitam menari di depan sekelompok pria tua yang membuat perut Bella terasa mual. Ia yakin sebagian besar dari mereka sudah beristri.

Melalui dinding kaca, Bella bisa melihat gedung-gedung pencakar langit Florida yang menjulang, kontras dengan hiruk-pikuk dunia gelap di dalam klub.

Tak jauh dari tempat mereka berdiri, terdapat area duduk luas dengan deretan sofa merah darah yang seolah mencerminkan suasana di dalam ruangan. Beberapa pria duduk santai dengan gadis-gadis di pangkuan mereka sambil melemparkan lembaran uang tanpa peduli.

Bar VIP terletak tepat di dekat sofa-sofa itu.

Di sisi lain ruangan, beberapa pria tampak serius bermain poker, dikelilingi asap dan gelas minuman mahal.

Bagian tengah VIP dipenuhi orang-orang yang menari, namun tidak sesesak lantai bawah, masih menyisakan ruang untuk bergerak bebas. Musiknya tetap keras, cukup untuk membuat orang bergoyang, tetapi tidak sampai menghalangi percakapan.

Bella menelan ludah. Ia tidak ingin berada di tempat ini. Ia merasa sama sekali tidak cocok dengan siapa pun di ruangan ini seolah ia berasal dari dunia yang berbeda.

“Aku ingin pulang,” bisik Bella di telinga Ruby.

“Ah, ayolah. Kita baru saja sampai. Ayo menari,” jawab Ruby santai.

Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Ruby meraih lengan Bella dan lengan Anne, lalu menarik mereka ke lantai dansa. Dengan enggan, Bella akhirnya menurut membiarkan dirinya terseret mengikuti keinginan sahabatnya itu.

Tak lama kemudian, lagu Please dari Cardi B dan Bruno Mars mulai diputar. Bella menarik napas dalam-dalam. Mungkin ia memang membutuhkan ini untuk mengalihkan pikirannya dari semua hal yang terus mengganggunya. Ia mulai menggoyangkan pinggul, melompat kecil mengikuti irama musik, setinggi yang bisa ia lakukan dengan sepatu hak tingginya.

Ia terlalu larut dalam musik, mungkin sampai sedikit berlebihan. Tiba-tiba, kakinya tersandung. Tubuhnya terhuyung dan tanpa sengaja menabrak dada keras di belakangnya.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!