Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 : Papan catur Serah
Ia duduk di dalam kamarnya yang megah dan luas sambil menikmati sarapan pagi seorang diri. Cahaya matahari bersinar lembut menerangi ruangan kamar yang jendela besarnya sengaja ia buka untuk melihat pemandangan langit biru yang menghampar jernih ditemani dengan burung-burung yang berterbangan ke sana kemari.
Serah menatap keluar dengan senyum tipis. Sunyi, namun damai. Hanya ada suara dari pisau dan garpu yang saling bersentuhan ringan. Ia tak perlu melihat kepalsuan yang ditunjukkan oleh Louis hari ini.
Ah, Louis. Seketika suasana hatinya berubah menjadi resah dan penuh teka-teki mengenai pria itu. Satu pertanyaan besar yang menghantui sejak ia mengetahui kebenaran pria itu memiliki hubungan rahasia dengan Helena, salah satu pelayan istana. Sejak kapan Louis memiliki hubungan spesial dengan Helena? Apa keduanya akrab baru-baru ini saja atau jangan-jangan keduanya memang sudah dekat sebelum dirinya masuk istana?
Serah jadi merasa tak tenang dengan semua kemungkinan itu. Dalam hati ia tak rela kalau ternyata hanya untuk dijadikan alat.
Saat pikirannya larut memikirkan Louis, pintu ruangannya tiba-tiba diketuk.
"Masuklah." Dengan suara tegas Serah mengijinkan orang di luar untuk masuk ke ruangan kamarnya.
"Selamat pagi Yang mulia." Beberapa orang pelayan masuk ke dalam sambil mendorong sebuah troli makanan berlapis emas.
"Kami membawakan hidangan penutup."
Troli emas itu didorong masuk dan memperlihatkan kemewahannya dengan beragam kue yang ada beserta minuman yang tampak menyegarkan.
Para pelayan yang masuk langsung memindahkan isi troli tersebut dan meletakkannya ke atas meja dengan tertata.
"Apa kau suka dengan sarapan yang disediakan pagi ini?"
Seorang pria berperawakan tinggi, bertubuh tegap serta aura yang mendominasi melangkah masuk tanpa ragu. Semua orang secara serentak membungkuk memberikan hormat.
"Yang mulia Louis," ucap para pelayan secara bersamaan.
Serah yang sedang menikmati makanannya pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan memberi hormat dengan membungkuk sedikit kepada sang Raja Louis.
"Yang mulia, semua yang anda sediakan sangat istimewa," ucapnya lembut menyanjung kebaikan hati sang Raja.
"Sudahlah, ayo duduk kembali," ujar Louis meminta Serah untuk tidak sungkan kepada dirinya.
"Terimakasih, Yang mulai...." Serah pun kembali duduk di meja makannya.
Louis menggeser tempat duduk di depan Serah dan segera ikut duduk di sana. Seorang pelayan segera menuangkan teh ke dalam cangkir keramik berkualitas tinggi dengan ukuran simbol kerajaan untuk sang Louis.
"Kuharap kedatanganku tidak membuatmu terganggu Putri Serah," ujarnya sambil memegang cangkir teh tersebut.
"Tidak, saya justru merasa terhormat dengan kehadiran anda," balas Serah.
Pria itu menatap Serah yang menyantap sarapannya dengan santai, seakan semua perhatiannya hanya tertuju pada piring makanan di depan matanya. Wanita itu bahkan tidak meliriknya, dan sikap ini tak biasa. Serah biasanya akan mendedikasikan seluruh atensi kepada sang Raja, menatapnya dengan penuh binar kekaguman. Entah kenapa sikapnya berubah pagi ini.
"Apa setelah ini kau bisa menemaniku jalan-jalan di taman?" Louis menatap Serah, seolah sedang ingin menguji kecurigaannya.
"Maaf sekali tapi aku tak bisa pergi, Yang mulia," jawab Serah tanpa ragu menolak sopan.
"Oh? Kenapa?" Louis terkejut, namun ia berusaha untuk mengontrol diri agar tak begitu terlihat.
"Hari ini aku berencana untuk menyelesaikan beberapa buku yang sedang kubaca." Serah melirik ke arah lemari kayu besar yang dipoles dengan begitu artistik tepat berdiri kokoh di belakang sang Raja duduk.
"Ah, aku tidak tahu kalau Putri Serah sekarang memiliki hobi baru," ucap Louis seolah-olah terkejut. Padahal dia tau kalau wanita itu sama sekali tidak hobi membaca dan hanya sedang beralasan saja.
Serah menatap pria itu dengan senyuman dan sikap yang tenang. Ia meletakkan garpu dan pisau makannya dengan teratur di samping meja, di atas sebuah sapu tangan putih yang bersih.
"The art of war, oleh Sun Tzu, lalu Germania oleh Tacitus, apa anda pernah mendengar kedua buku tersebut," ucapnya seakan menjawab tantangan halus Louis yang meragukannya soal hobi membaca.
"Ah, aku pernah mendengar saja tapi tidak benar-benar mengetahuinya," balas Louis sedikit gugup karena ia sama sekali tak menyangka kalau sang putri bisa mengetahui kedua buku tentang perang yang cukup terkenal itu. Ia sendiri bahkan tidak membacanya, hanya mengetahui saja dari orang lain.
"Buku itu sangat bagus, anda bisa mulai membacanya, siapa tau akan berguna untuk masa depan nanti." Serah sedikit menyunggingkan senyum saat melihat reaksi Louis yang terkejut saat mendengar nama dari kedua buku yang dibacanya.
"Aku harus hati-hati, ada yang tidak beres dengannya...," pikir Louis merasa Serah saat ini sedang memberikan perlawanan dingin terhadapnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Putri Serah," ujarnya kemudian memutuskan untuk pergi karena ia tak bisa mendapatkan apapun di sana.
Louis berdiri dari tempat duduknya. Bersamaan dengan itu para pelayan kembali membungkuk hormat. Serah pun menunduk dalam sebagai sikap hormat tanpa berdiri dari kursinya.
"Terimakasih atas kedatangannya, Yang mulia Louis," ucapnya sebagai pengantar kepergian sang Raja yang berjalan keluar kamar.
Serah menatap kepergian Louis dengan sedikit senyum sinis. Dia akan berhenti menjadi pengagum pria itu dan akan lebih fokus untuk meningkatkan kemampuan dirinya sendiri sebagai persiapan. Cepat atau lambat Louis pasti akan bosan terhadap dirinya.
Usai kepergian Louis dan para pelayan meninggalkan ruangannya. Serah menutup pintu kamar, menguncinya rapat. Ia berjalan menatap ke arah jendela yang masih terbuka lebar. Di pandanginya langit biru yang membentang luas di atas sana. Hembusan angin bertiup lembut dan sesaat Serah memejamkan mata menikmati belaian angin yang menerpa wajahnya.
"Regina, aku akan segera pulang...," ucapnya seakan berbisik kepada angin yang disertai dengan tekad.
................
Sementara itu Louis yang berjalan di lorong istana menampakkan aura gelap. Ia benar-benar merasa seperti ditantang oleh Serah sebelumnya. Ia berjalan ke arah ruangan kerjanya dengan kesal. Dua orang pengawal yang bertugas hanya saling memandang dengan perasaan tak enak.
Pria itu memasuki ruangan kerjanya dan langsung melampiaskan amarahnya dengan memukul meja dengan kepalan tangannya kuat-kuat.
"Bisa-bisanya dia meremehkan ku!!" Ujarnya dengan geram. Napasnya memburu. "Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan?" Louis berusaha mengontrol emosinya. Tatapannya kini beralih pada lemari bukunya sendiri.
"Dasar sial!" Dengan gemas Louis membuka lemari kayu tertutup kaca itu dengan kasar hingga menimbulkan hentakan kuat yang terdengar cukup keras.
Ia mengeluarkan beberapa buku dari dalam lemarinya dan mencari-cari sesuatu.
"Tidak ada...," ujarnya setelah memeriksa buku-buku yang ia keluarkan tadi.
Ia kembali mengambil beberapa buku lain dan diletakkan di atas meja. "Tidak ada!!" Ucapnya lagi mulai kesal.
Hingga sudah beberapa buku ia keluarkan dan menggunung di atas meja tapi apa yang dicarinya tidak dapat ditemukan.
"Arghh, sialan!!" Pria itu frustasi dan membuang semua sisa buku-buku dalam lemarinya keluar dan berjatuhan ke lantai.
"PENGAWAAAL!" Ia berteriak lantang memanggil pengawal yang berdiri menjaga di depan pintu ruangannya.
"Siap, Yang mulia!!" Kedua pengawal itu serempak membuka pintu, masuk ke dalam dan memberi hormat kepada Louis.
"Panggil, Tuan William kemari, cepat!!" Ujarnya berteriak sebagai luapan emosinya.
"Baik, Yang mulia!!" Balas keduanya yang langsung bergerak cepat sesuai perintah.
"Serah..., jangan sok pintar di hadapanku...!" Ujar pria itu dengan kilatan tajam pada matanya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib