"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesabaran Yasmin sudah habis
Keesokan harinya...
Lenguhan lolos begitu saja dari mulut Ara kala ia teringat dengan sentuhan dokter Jacob di ruang kerjanya beberapa saat yang lalu. Jari-jari Dokter Jacob yang hangat menyentuh perut Ara saat memeriksa kondisi janin, sentuhan yang seharusnya profesional tapi terasa begitu hangat di kulit Ara. Entah siapa yang memulai, semua itu terjadi begitu saja, bibir mereka saling bertaut, namun begitu singkat mengingat Ara tengah hamil muda. Padahal karena efek kehamilannya, Ara jadi lebih mudah terangsang.
"Terima kasih sayang, berkat kamu papa jadi lebih perhatian sama mama. Bahkan papa datang mengunjungi kita sebelum berangkat kerja." Ara mengusap perutnya yang mulai sedikit membuncit, senyum kecil muncul di bibirnya.
"Tok Tok Tok"
Suara ketukan pintu yang keras membuyarkan lamunan Ara. Wanita itu segera menyeka bibirnya yang basah dengan cepat dan merapihkan rambut serta baju yang sedikit kusut sebelum berjalan ke arah pintu. Dari balik pintu yang baru saja terbuka, dokter Yasmin berdiri dengan wajahnya yang tidak bersahabat, mata Dokter cantik itu menyala oleh amarah yang tidak bisa disembunyikan.
"Halo, Dokter Yasmin. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Ara menyapa dengan senyum ramah, tapi Dokter Yasmin hanya menatapnya dengan pandangan tajam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Apa kalian juga pernah melakukannya di tempat ini?" Yasmin mendorong pintu lebih lebar dan masuk ke dalam kamar Ara tanpa permisi. Tatapannya berotasi seakan mencari jejak yang ditinggalkan sang suami di kamar Ara.
Ara terdiam, Ia tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan Dokter Yasmin.
"Bersiaplah, kau harus pergi dari rumahku sekarang juga!" ucap Yasmin dengan nada dingin seperti es, matanya menatap tajam ke arah Ara.
"Pergi? Tapi pergi kemana dokter? Rumah yang aku sewa masih dalam proses renovasi, tukang mengatakan akan butuh waktu lebih lagi untuk selesai karena cuaca yang kurang mendukung akhir-akhir ini." Dahi Ara mengkerut karena bingung, tangannya secara tidak sadar menggenggam ujung dressnya.
"Kau sudah terlalu lama menumpang di rumahku, Ara. Rumah ini bukan panti sosial. Bukan tempat untuk orang-orang yang tidak punya hubungan apapun dengan keluarga kami. Sampai rumah sewamu selesai, lebih baik kau tinggal di hotel saja." Ucap Yasmin dengan nada yang semakin dingin. Yasmin melangkahkan kaki ke depan sehingga wajahnya hampir bersentuhan dengan wajah Ara yang sudah memucat.
"Tapi, bagaimana dengan Dokter Jacob? Apa dia mengizinkannya? Dia yang menyuruh aku untuk tinggal di sini selama rumah sewaku sedang direnovasi," tanya Ara dengan suara yang sedikit gemetar, Ia merasa enggan keluar dari rumah mewah ini, rumah yang selalu terasa nyaman karena Ia bisa selalu berdekatan dengan Dokter Jacob.
"Rumah ini adalah rumahku, sertifikatnya juga tertulis atas namaku! Aku yang berhak memutuskan siapa saja yang boleh tinggal di rumah ini, tidak ada urusannya dengan Jacob. Dia hanya suamiku, bukan pemilik dari rumah ini!" Yasmin menaikan suaranya sedikit, tangannya menggenggam kedua sisi pinggangnya. Membuat nyali Ara semakin menciut.
"Aku sudah cukup baik menyambutmu dengan tangan terbuka, tapi kesabaranku sudah habis. Kamu harus pergi sekarang juga dari rumahku!"
Mendengar kata-kata Dokter Yasmin, Ara jadi terdiam. Bibirnya bergetar dan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia tahu tidak ada gunanya membantah lagi. Dengan hati yang berat, Ara mengangguk perlahan dan berdiri.
"Baiklah, Dokter. Aku akan mengemas barang-barangku sekarang." Lirih Ara. Ia tidak punya pilihan lain, terlebih Dokter Jacob sudah pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali.
Yasmin hanya mengangguk pendek, lalu berbalik untuk pergi, namun sebelum keluar dari kamar Ara, Yasmin berhenti sejenak tanpa melihat ke arah belakang.
"Jangan berharap Jacob akan membela kamu. Dia akan selalu setuju dengan keputusan apapun yang aku ambil."
Setelah Dokter Yasmin keluar, Ara duduk kembali di ranjang dengan wajah yang penuh dengan keputusasaan. Namun tidak lama kemudian, ekspresi itu berubah menjadi wajah yang penuh dengan ide licik. Ara melihat ke arah anak tangga yang bisa dilihat dari kamar itu, lalu perlahan mulai mengemas barang-barangnya dengan gerakan lambat.
Bersambung.