NovelToon NovelToon
The Price Of Fate

The Price Of Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Action / Romansa
Popularitas:579
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Neraka

​"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
​Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.

​Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
​Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.

Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hangatnya rumah

Mobil BMW hitam itu akhirnya berhenti dengan halus di depan sebuah rumah bergaya renaissance Belanda yang anggun. Dinding bata merahnya dihiasi tanaman merambat yang mulai mengering karena musim dingin, dan jendela-jendela kayunya yang besar memancarkan cahaya kuning keemasan dari dalam.

Ayah Seila mematikan mesin, namun ia tidak segera turun. Ia menoleh ke belakang dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Ayah harus meninggalkan kalian berdua di sini. Ada urusan pekerjaan yang mendesak di Den Haag. Ayah baru bisa kembali ke sini mungkin dua atau tiga pekan lagi."

Seila mengucek matanya, menatap bangunan di depan mereka dengan perasaan yang tidak asing. "Tunggu... Ayah, bukankah ini rumah mendiang Ibu?"

"Lebih tepatnya rumah nenekmu, Seila. Beliau sudah menunggumu di dalam," jawab ayahnya sambil tersenyum tipis, mengenang masa lalu. "Selama kalian menempuh pendidikan di sini, kamu akan tinggal bersama Andersen dan Nenek. Biar beliau yang menjaga kalian..."

Sang Ayah kemudian memperhatikan posisi kepala Seila yang masih bersandar di bahu Andersen. Ia terkekeh rendah, suara tawa yang jarang sekali terdengar.

"Ayah percaya kamu sudah besar, Seila... apalagi sekarang kamu ditemani oleh pria yang tampaknya sangat peduli padamu. Setidaknya, Ayah tidak perlu pusing lagi memikirkan siapa calon menantu Ayah nanti jika situasinya sudah sejelas ini."

"Ayaaaahhh...!" Seila mengerang pelan, wajahnya seketika merona merah semerah bata rumah di depan mereka. Ia segera menegakkan tubuhnya, melirik panik ke arah Andersen yang matanya masih terpejam rapat—pemuda itu tampak tertidur pulas akibat efek obat pereda nyeri dan kelelahan hebat.

"Ssttt! Ayah jangan bicara sembarangan!" bisik Seila dengan nada malu yang tertahan. Ia membenahi rambutnya yang berantakan, jantungnya berdegup kencang karena takut Andersen sebenarnya sudah terbangun dan mendengar gurauan ayahnya yang sangat blak-blakan itu.

Ayah Seila hanya tersenyum melihat tingkah putrinya. Ia mengulurkan tangan, mengusap kepala Seila dengan kasih sayang yang tulus. "Jaga dia, Seila.

"Saudara laki-lakimu, Reinhard akan berkunjung kemari jika urusannya di Indonesia sudah selesai. Tapi Ayah harap..." Ia melirik nakal ke arah Seila melalui spion tengah. "Semoga saat dia tiba nanti, kamu tidak sedang dalam posisi mengandung, ya?"

"Ayahhh! Berhenti bicara begitu!" erang Seila untuk kesekian kalinya. Wajahnya kini panas bukan main, ia menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangan karena dirinya tidak menyangka ayahnya akan sepercaya diri ini dan hal itulah yang membuat Seila malu yang luar biasa.

"Yah, Ayah hanya memperingatkan. Kalau Reinhard sampai tahu adiknya 'bermain api', dia pasti akan mengamuk. Berbeda dengan Ayahmu ini yang justru senang kalau punya cucu baru."

"Rei itu terlalu perfeksionis. Hidupnya diatur seperti jadwal militer. Itulah alasan kenapa dia belum menikah sampai sekarang. Sifatnya yang terlalu kaku itu selalu membuat pasangannya menyerah dan berakhir mengadu pada ibumu setiap saat."

Seila mendengus, mencoba meredakan detak jantungnya yang tidak keruan. "Kak Rei memang menyebalkan, tapi Ayah jauh lebih parah kalau sedang menggoda begini. Lagipula, Andersen itu sedang terluka parah, Ayah! Bagaimana mungkin Ayah berpikir sejauh itu?"

Ayah Seila hanya mengangkat bahu, tangannya kembali memegang kemudi dengan santai. "Luka di bahu bisa sembuh dalam hitungan minggu, Seila. Tapi perasaan yang tumbuh di dalam rumah yang sama? Itu biasanya akan cepat mekar.

Sudah sana, bangunkan 'pangeranmu' itu. Nenekmu pasti sudah tidak sabar melihat siapa pria yang berhasil membuat cucunya seperti ini.

Andersen perlahan membuka matanya, mengerjap pelan saat cahaya rembulan menyapa indranya. Ia terbangun tepat saat sisa-sisa tawa dan suasana hangat percakapan keluarga itu mulai memudar.

Saat ia menoleh, ia mendapati Seila sedang menanggapi ucapan ayahnya dengan wajah yang masih memerah. Seolah ingin segera mengakhiri godaan sang ayah yang memalukan, Seila segera membuka pintu mobil dan berlari kecil memutari bagasi. Dengan gerakan cepat namun tetap berhati-hati agar tidak menyenggol bahu kiri Andersen yang terluka, ia membuka pintu di sisi pemuda itu.

"Ayo, cepat keluar!" seru Seila sambil meraih lengan kanan Andersen... satu-satunya sisi yang masih bisa bergerak bebas dan menariknya keluar dari kabin mobil.

Andersen yang masih dalam kondisi setengah sadar dan lemas hanya bisa mengikuti tarikan tangan Seila yang terasa mendesak namun hangat. Ia belum sempat sepenuhnya memproses keadaan sekelilingnya, namun tarikan tangan gadis itu seolah memaksa dunianya untuk terus bergerak maju.

Di balik kemudi, Ayah Seila hanya bisa tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya pelan. Ia memperhatikan bagaimana putrinya yang tampak begitu impulsif.

Ada rasa geli sekaligus haru menyadari bahwa putrinya bisa bersikap seberani itu kepada seorang pria yang sebenarnya baru ia kenal selama setengah tahun terakhir.

Bagi ayahnya, tarikan tangan itu bukan sekadar paksaan, melainkan tanda bahwa Seila telah menemukan tempat baru untuk menaruh rasa pedulinya.

Seila melangkah masuk ke dalam rumah dengan penuh semangat, jemarinya masih melingkar erat di tangan kanan Andersen, seolah takut pemuda itu akan menghilang jika ia lepaskan.

Suasana di dalam rumah itu terasa sangat tenang dan antik. Seila menuntun Andersen melewati koridor sempit hingga sampai di sebuah ruangan terbuka yang merangkap sebagai ruang tamu sekaligus ruang makan.

Andersen memperhatikan sekelilingnya dengan saksama.

Ada sofa tua yang warnanya mulai memudar namun terlihat sangat nyaman, serta meja makan kayu ek besar yang permukaannya sudah halus dimakan usia. Rak buku setinggi langit-langit memenuhi salah satu dinding, sementara aroma kayu manis dan masakan rumahan tercium kuat dari arah dapur.

"Tunggu di sini sebentar ya," bisik Seila sebelum melepaskan pegangannya dan menghampiri seorang wanita tua yang sedang sibuk di depan kompor. Wanita itu adalah nenek Seila.

Seila segera memeluk neneknya dari belakang, menciptakan pemandangan pertemuan cucu dan nenek yang sangat hangat.

Mereka mulai mengobrol dalam bahasa Belanda yang terdengar merdu, sesekali diiringi tawa kecil yang renyah.

Tak butuh waktu lama bagi Seila untuk menyingsingkan lengan bajunya. Ia mulai membantu sang nenek memotong sayuran dan mengaduk masakan, sambil terus bercerita dengan ekspresi wajah yang sangat hidup.

Dari sofa tua itu, Andersen memperhatikan setiap gerak-gerik Seila. Di sini, di bawah cahaya lampu dapur yang temaram, Seila terlihat begitu lembut, keibuan, dan penuh cahaya.

Di dapur yang dipenuhi uap hangat dari panci sup, suara denting pisau yang beradu dengan talenan kayu menjadi satu-satunya irama di sana. Sang Nenek, yang sedang mengaduk kuah kaldu, melirik cucunya dengan tatapan penuh perhatian.

"Seila sayang... hati-hati memotong sayurnya. Jangan sampai tanganmu terluka lagi seperti waktu kecil dulu," ucap wanita tua itu lembut, suaranya terdengar seperti pengingat dari masa lalu yang penuh kasih.

1
BoimZ ButoN
anak SMA main pistol ga ada kronologis nya dlu
Ahmad Fauzan: kecuali, ada backspace yang lumayan dan sangat mempengaruhinya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!