Shen Kuo Yu, bilioner wanita yang tewas di puncak kejayaannya karena kebocoran jantung, ia terbangun di tubuh Liu Xiao Xiao- gadis malang yang disiksa oleh keluarga angkatnya. Takdir pahit menantinya. Ia dipaksa menggantikan saudari tiri nya untuk menjadi pengantin pengganti dan menikahi Pangeran Keempat yang konon buruk rupa dan berhati kejam.
Shen Kuo Yu akan menaklukan Pangeran itu dan menjadikan nya bidak untuk membalas dendam pada Keluarga Liu yang memperlakukan nya seperti binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 : Kebusukan Jenderal Liu
Xiao Xiao melangkah ke aula depan dengan wajah yang kembali tenang. Ia tidak lagi memikirkan kelelahan fisiknya setelah berlatih pedang. Di pikirannya kini hanya ada satu hal: bagaimana cara meruntuhkan Jenderal Liu dan Permaisuri sekaligus tanpa membuat dirinya ikut terseret ke lubang kematian.
Di aula, seorang pelayan kepercayaan Selir Agung sudah menunggu. Ia membungkuk sangat rendah begitu melihat Xiao Xiao dan Pangeran Zhi Chen masuk.
"Melapor Nyonya, Selir Agung mengirim pesan. Permaisuri sedang bekerja sama dengan Jenderal Liu untuk menyusun daftar barang bukti palsu di perjamuan musim dingin nanti. Mereka ingin menuduh Pangeran melakukan penggelapan dana militer yang selama ini mereka curi sendiri," bisik pelayan itu dengan suara sangat pelan.
Xiao Xiao hanya mengangguk pelan. Ia tidak tampak terkejut.
Sudah tua, gila harta, gila kekuasaan juga. Xiao Xiao menyahut pelan. "Terima kasih. Katakan pada Selir Agung untuk terus mengawasi surat menyurat di antara mereka. Jangan biarkan satu kertas pun lolos tanpa kita ketahui."
Setelah pelayan itu pergi, Zhi Chen menatap Xiao Xiao dengan tajam. "Kau tampak sangat tenang mendengar ayahmu sendiri ingin menjebak suamimu."
Xiao Xiao menoleh, matanya berkilat dingin. "Ayah? Dia bukan siapa-siapa bagiku selain orang yang menjualku ke istana ini. Jika dia ingin bermain dengan api, maka aku akan memastikan dialah yang pertama kali terbakar."
Zhi Chen terdiam sejenak. Ia tahu Xiao Xiao adalah putri angkat, namun ia tidak menyangka kebencian gadis ini kepada keluarga Liu begitu mendalam. Xiao Xiao tidak peduli jika seluruh keluarga Liu dihukum penggal oleh Kaisar, asalkan dirinya dan posisinya di istana aman.
"Lalu apa rencanamu?" tanya Zhi Chen.
"Kita akan membiarkan mereka menyiapkan barang bukti palsu itu," ujar Xiao Xiao sembari menuangkan teh. "Namun, sebelum mereka menunjukkannya di depan Kaisar, kita akan menukar dokumen itu dengan catatan asli korupsi wilayah Barat yang kita miliki. Di saat mereka mengira sedang menyerang kita, mereka justru akan menyerahkan leher mereka sendiri ke pedang Kaisar."
Xiao Xiao meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi denting yang keras. "Jenderal Liu pikir dia bisa mengancamku dengan keselamatan 'keluarga' di perbatasan. Dia lupa bahwa aku bukan lagi boneka kecil yang bisa dia atur."
Zhi Chen berjalan mendekat, menatap wajah Xiao Xiao dari jarak dekat. "Kau benar-benar ingin menghancurkan Jenderal Liu sepenuhnya?"
"Sepenuhnya," jawab Xiao Xiao tanpa ragu. "Permaisuri dan Jenderal Liu adalah dua pilar yang menyangga busuknya istana ini. Jika satu pilar runtuh, yang lain akan ikut jatuh. Aku hanya perlu memastikan bahwa saat bangunan itu roboh, kita tidak berada di dalamnya."
Zhi Chen mengangguk mantap. "Aku akan menyiapkan orang-orangku untuk memantau pergerakan utusan Jenderal Liu. Jika ada surat lagi yang datang untukmu, mereka akan mencegatnya terlebih dahulu."
Xiao Xiao tersenyum tipis. Ia merasa rencananya mulai terbentuk dengan sempurna. Di dunianya yang dulu, ia sering menghancurkan lawan bisnis yang licik dengan cara membiarkan mereka merasa menang terlebih dahulu. Dan kini, ia akan menerapkan hal yang sama di panggung politik istana yang berdarah ini.
Sore harinya, Xiao Xiao memanggil Mao ke kamarnya. Ia memastikan pintu tertutup rapat.
"Mao, dengarkan baik-baik. Di mata orang lain, aku adalah Liu Xiu. Jangan pernah lepaskan kewaspadaanmu. Jika ada yang bertanya soal keluargaku di perbatasan, jawablah sesedikit mungkin," perintah Xiao Xiao.
Mao mengangguk dengan wajah serius. "Baik, Nona. Hamba mengerti. Hamba akan menjaga rahasia ini dengan nyawa hamba."
***
Happy Reading❤️
Mohon Dukungan
● Like
● Komen
● Subscribe
● Ikuti Penulis
Terimakasih ^_^ ❤️