NovelToon NovelToon
Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: samSara

罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29 - Shizukesa part I

...**...

...死の警告 ...

...-Shi no keikoku-...

...'Peringatan kematian'...

...⛩️🏮⛩️...

..."Bayangan kematian yang tersembunyi di balik keheningan."...

...⛩️🏮⛩️...

Pagi Hari.

Langit Yamaguchi memudar menjadi abu-abu lembut saat Raizen memanggil Kaede ke paviliun pribadi, tempat tak seorang pun berani mendekat tanpa izin.

Di dalam ruangan sederhana beralas tatami dan kayu tua, keduanya duduk berhadapan. Ayah dan anak. Tapi udara di antara mereka dingin seperti permukaan baja.

Kaede belum berkata sepatah pun.

Raizenlah yang memulai, suaranya rendah dan tenang, seperti mata air dalam tanah.

"Kau yang memberitahu pihak luar tentang misi Nakamura."

Kaede tidak menyangkal. Ia hanya menunduk sedikit, menahan napas, menunggu kalimat selanjutnya.

"Aku tahu... entah kau ingin mengukur kekuatan Kuraokami atau hanya ingin melihat Nakamura terluka," lanjut Raizen.

Ia menatap Kaede. "Kau tahu kenapa aku menghentikannya?"

"Karena otou-san* ingin menyelamatkannya?"

"Tidak," jawab Raizen cepat. "Karena aku tahu Kuraokami... roh yang penuh amarah. Ia bisa merusak segel itu. Dan jika itu terjadi, tak ada yang bisa mengendalikannya. Bahkan olehku."

Kaede mengangkat wajahnya sedikit. Ada sesuatu di sorot matanya—bukan pembelaan, tapi rasa tertantang.

Raizen melihat itu, dan untuk pertama kalinya, ia bicara bukan sebagai pemimpin.

Tapi sebagai seorang ayah.

"Kaede. Kau bukan anak yang bodoh. Aku tahu kau menyimpan rasa sakit dan... dendam. Tapi sekadar kau tahu... jika naga itu benar-benar memilih siapa tuannya, maka semua kebencianmu tidak akan berarti."

"Aku tahu dia memilih Noa." tanya Kaede dingin.

Raizen tidak langsung merespon. Ia hanya berkata, "Maka berharap saja, Nakamura masih ada dalam kendali klan."

...⛩️🏮⛩️...

Beberapa Hari Kemudian

Rumor tidak pernah berjalan lurus di dalam klan Yamaguchi—ia melingkar seperti asap dupa, meliuk menyelinap ke telinga-telinga dan bisikan.

Kabar bahwa Noa selamat dari insiden itu menyebar.

Bahwa ia tidak hanya hidup... tapi juga membawa sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Orang-orang mulai berbicara dengan nada hati-hati. Para tetua saling bertukar pandang tanpa kata. Para kepala keluarga kecil mulai menimbang ulang posisi mereka. Bahkan guru-guru spiritual mulai memperdebatkan kemungkinan bahwa segel tua itu bisa runtuh... atau justru menyatu.

Di lorong-lorong kuil, para murid tak lagi menyapa Noa seperti sebelumnya.

Mereka bukan takut padanya.

Mereka takut pada apa yang bersemayam dalam dirinya.

...⛩️🏮⛩️...

Malam itu, di sisi terdalam kuil Yamaguchi, Raizen berdiri di tepi balkon kayu, menatap ke lembah sunyi yang diselimuti kabut dan lampu lentera jauh di bawah sana.

Mantra yang telah ia ucapkan beberapa hari lalu masih bergema samar di udara, membentuk gema spiritual yang hanya bisa didengar oleh roh penjaga.

Segel itu walaupun hampir rusak.

Tapi masih bekerja. Masih aktif.

Tapi itu bukan kemenangan.

Itu hanya keberuntungan.

Raizen tahu saat hari itu tiba,

tak ada kekuatan dunia yang bisa mengimbangi Noa jika menyatu dengan naga itu.

Dan ia juga tahu... hanya selama segel itu masih utuh dan tidak rusak, setidaknya Kuraokami masih ada dalam kendali.

...⛩️🏮⛩️...

Kamar itu sederhana dan sepi. Dupa yang telah padam meninggalkan aroma tipis di udara. Cahaya pagi menyelinap lembut lewat sela fusuma, menyentuh lantai tatami yang dingin.

Noa duduk di atas futon. Tubuhnya masih terasa berat, perban yang membungkus punggungnya sudah tidak setebal kemarin. Sudah dua hari ini, segel itu masih hangat—tidak terasa seperti luka, tapi masih terasa belum usai... belum benar-benar tertidur.

Pintu kamar bergeser pelan.

Kuroda masuk tanpa bicara, membawa dua apel dan pisau kecil. Ia langsung duduk di lantai, seperti sudah biasa berada di tempat itu.

"Kukira kau sudah tidur atau mungkin... pingsan," ujarnya santai dan niat menghibur. "Padahal aku baru pasang taruhan kau tidak bisa bangun lagi, Noa."

Noa menatap langit-langit. "Kalau tahu bakal bangun dengan naga di dalam tubuh, mungkin aku biarkan saja nyawaku menghilang."

Kuroda tersenyum miring sambil mulai mengupas apel. "Kutipan dramatis dari anak paling keras kepala klan ini. Bagus."

Kemudian hening menyeruak. Hanya suara kulit apel tersayat pisau perlahan.

Noa akhirnya bertanya lirih, "Kenapa aku, oji-san?"

Kuroda menatapnya tajam, suaranya tetap ringan.

"Hmm...karena kau makan paling rakus di antara kami?"

Noa melirik malas.

Kuroda mengangkat bahu. "Ah... serius, ya?"

Noa menggenggam selimutnya. "Aku bukan siapa-siapa. Anak dari perempuan yang bahkan tak pernah diakui. Orang bilang Oyabun mabuk dan memperkosa ibuku. Lalu... kenapa aku yang dipilih Kuraokami?"

Kuroda menatapnya penuh arti. "Karena roh itu tak terlalu peduli garis keturunan. Dia hanya peduli wadah."

Ia diam sejenak, lalu melanjutkan pelan namun jelas.

"Istri pertama Oyabun—ibu Akiro—meninggal setelah melahirkan. Pendarahan hebat."

"Istri kedua—ibu Reiji—dibunuh musuh. Tubuhnya tidak ditemukan utuh."

"Istri ketiga—ibu Kaede—bunuh diri setelah tahu Oyabun berselingkuh dengan ibumu. Ironi, bukan? Sudah punya tiga pewaris sah, tapi tak satu pun dipilih naga itu."

Noa menunduk.

"Lalu kau muncul..." Kuroda menggantung kata, matanya menatap jendela kamar.

Ia berhenti bicara.

Pikirannya melayang dua puluh tahun yang lalu, saat perilaku tak pantas itu mencoreng kehormatan klan.

Saat Kuroda baru kembali dari misi klan di luar Tokyo, ditemani Kaito yang masih remaja. Lorong markas utama sunyi, langkah kaki mereka bergema seperti alarm yang menandakan ada yang tidak beres.

Di lorong, ia melihat Jin menenangkan dua anak kecil. Kaede, dua tahun, menangis di pelukannya, dan Akiro, enam tahun, berusaha menenangkan adiknya. Wajah mereka tegang. Kuroda menatap sebentar, rasa aneh merayap di tubuhnya—ada sesuatu yang salah.

Ia menanyakan keberadaan Oyabun pada Jin. Tapi pria itu hanya menatap sebentar lalu mengalihkan pandangan, diam. Kuroda menghela napas, rahangnya mengeras, lalu memeriksa ruang kerja Oyabun. Kosong. Aula pertemuan juga kosong.

Napasnya memberat. Matanya menilai setiap sudut markas. Ia melangkah ke kamar utama.

Sayuri, ibu Kaede, terbaring setengah duduk, botol sake kosong di lantai. Napasnya berat, aroma alkohol memenuhi ruangan. Tatapannya sendu menatap lantai kayu. Barang-barang di atas meja cermin berserakan jatuh ke lantai.

Kuroda mendongak, menatap sekeliling, menilai situasi. Ada hawa panas yang membakar dalam dirinya—amarah dan prihatin bercampur. Pandangannya beralih keluar, dan ia melangkah dengan tegas menuju pintu kamar tamu.

Di depan kamar, Torao berdiri, tubuhnya menutupi pintu.

"Cukup sampai sini, aniki!" tegasnya.

Kuroda menatapnya dingin. Suasana tegang. Dari dalam kamar terdengar suara Raizen.

"Biarkan dia masuk."

Kuroda melangkah pasti. Tatapannya sempat melirik pada Torao.

Di dalam kamar, Raizen duduk santai di ranjang, bertelanjang dada, rokok masih menyala di jemarinya. Rin, wanita penghibur dari Hostess Club Minowa Alley, yang tengah hamil anak Raizen, duduk di sampingnya, tubuh diselimuti kain tipis, wajah pucat ketakutan.

Kuroda menatap Raizen tajam. "Apa yang kau lakukan?! Ini sudah berulang kali mencoreng kehormatan klan!"

Raizen menatap dingin, suaranya berat. "Perhatikan nada bicaramu, Kuroda. Ingat posisimu."

Kuroda menahan amarah. "Tolong hentikan perbuatan hina ini, aniki."

Raizen menghembuskan asap rokok, senyum sinis yang terlukis. "Hina? Jangan dramatis, Kuroda. Aku hanya memastikan warisanku bertahan."

Kuroda suaranya kembali mengguncang ruangan. "Kau bahkan tidak peduli pada keluarga sendiri. Kau hancurkan mereka semua demi ambisi dan ego!"

Raizen menatap dingin. "Kuraokami tidak peduli dari mana anakku berasal. Dan kau... terlalu sibuk soal kehormatan untuk mengerti kekuatan sesungguhnya."

Kuroda mendekat, mata berkilat.

"Jika kau pikir bisa menghancurkan moral kami dan tetap berdiri di belakangmu, maka kau salah besar. Aku akan pastikan kehormatan klan tetap ada—meski harus menghancurkanmu sendiri."

Raizen tertawa pelan, sinis.

"Kau konyol, Kuroda. Aku tidak butuh moralmu. Aku butuh Kuraokami. Dan dia... akan datang. Anak yang tak direncanakan, yang bahkan kau tak tahu kekuatannya. Suatu saat, dia akan menjadi senjata klan."

Kuroda membalas dengan senyuman tipis, "Kau bahkan tidak tahu pasti, anak itu akan terpilih atau tidak."

Kali ini, raut wajah Raizen berubah datar—tidak tersenyum. Tergantikan tatapan dingin yang siap menebas leher Kuroda.

Rin menunduk, tubuhnya gemetar.

Kuroda menatap bayangan dimasa lampau yang rusak. Sayuri mabuk, Kaede menangis, dan calon anak—yang bisa saja menjadi pilihan Kuraokami.

Ketegangan memuncak. Satu langkah salah, kehormatan klan, masa depan warisan, dan nyawa semua orang bisa hancur.

...—つづく—...

...*panggilan umum/kasual ayah. Terlepas jabatan oyabun. Karena saat itu hanya ada mereka berdua....

1
Carzenogenik
Ugh, ngeri juga. Baru lahiran langsung suruh jalan2 😨
Carzenogenik
Aah, kirain bakal di logout paksa. Ternyata cuma suruh ganti akun. Aman amann😌
Carzenogenik
Wei weiii! Baru login in the world, udah mau di logout🙂
Carzenogenik
Hei, kenapa regang banget gini? Jangan bikin deg2an dong😭
Carzenogenik: *tegang

typo ni parah banget🙂
total 1 replies
Carzenogenik
Ohh. Ada yang bantu. Hhh, bagus bagus. Lega diri ini😌
Carzenogenik
...Kenapa?
Carzenogenik
Ini ngeri, beneran. Dia lahiran sendiri? 😧
Dylla
intinya selalu bersyukur dan melihat segala kebaikan walau kecil
Dylla
kok bisa sehat bugar begitu emaknya
Dylla
selalu ada rahasia di setiap tokoh ya
Dylla
berarti dia mata-mata ya? waduh hati-hati noa
Dylla
aku penasaran dia pake logat bahasa jepang apa
Faeyza Al-Farizi
kamu seneng, kok aku justru ketar ketir Noa 😭😭😭
Faeyza Al-Farizi
makanya jangan disakitin 🫵
Faeyza Al-Farizi
aaaah.... sama 😌😌, ini di sini kamu kelihatan baik, nggak cuma kelihatan kan? emang asli baik?
Faeyza Al-Farizi
Kimura sama Hane sama?
Faeyza Al-Farizi
itulah tantangan jadi pedagang, yang di stok bukan cuma barang tapi sabar dan senyuman, kalau enggak pelanggan bakal 😌
Faeyza Al-Farizi
Tetap aja Nak... bocil macam kamu tuh justru banyak di titeni
Faeyza Al-Farizi
Hadeh akang Hane... tolong ya Kak Author perjelas statusnya, biar aku bisa jelass harus dukung atau demo ke si akang Hane ini
Faeyza Al-Farizi
aku harap seenggaknya kamu simpati lah 🥴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!