Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia
"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: PERTARUHAN TERAKHIR
Langkah Samudera terasa sangat berat saat ia memasuki sebuah gedung perkantoran mewah di pusat kota. Ini adalah tempat yang paling ia benci di dunia: kantor ayahnya, Bramantyo. Selama ini, Samudera memilih hidup luntang-lantung daripada harus mengemis pada pria yang telah membuangnya. Namun demi Alsya dan kakaknya, dia harus mengakhiri permainan ini.
Di ruang kerja yang dingin itu, Bramantyo menatap putranya dengan tatapan merendahkan.
"Akhirnya kamu pulang juga, pecundang," ucap Bramantyo tanpa mengalihkan pandangan dari dokumennya.
"Hentikan ancaman Papa pada Arka. Dan jangan pernah berani menghentikan biaya pengobatan Rian," suara Samudera rendah namun penuh penekanan.
Bramantyo tertawa sinis. "Kenapa saya harus menuruti kamu? Kamu tidak punya apa-apa untuk ditawarkan."
"Aku punya bukti penggelapan dana proyek di sekolah lamaku yang melibatkan orang kepercayaan Papa," Samudera meletakkan sebuah flashdisk di meja. "Kalau Papa tidak membiarkan aku dan Arka tenang, file ini akan terkirim secara otomatis ke kolega bisnis Papa dalam dua puluh empat jam. Termasuk ke Papa-nya Alsya."
Bramantyo terdiam, wajahnya mengeras. Dia tidak menyangka putra yang dianggapnya bodoh ini menyimpan kartu as yang begitu berbahaya. "Kamu mengancam ayahmu sendiri demi gadis Anantara itu?"
"Aku melindungi apa yang berharga buatku, sesuatu yang nggak pernah Papa ajarkan."
Sementara itu, di sekolah, Alsya duduk sendirian di taman belakang. Dunianya terasa sepi. Saat itulah, Revaldi datang membawakannya sekotak susu cokelat kesukaannya.
"Loe nggak harus sendirian terus, Sya," ucap Revaldi dengan nada suara yang sangat lembut, sangat berbeda dari biasanya.
Alsya mendongak, matanya yang sembab menatap Revaldi ragu. "Loe mau apa lagi, Val? Mau pamer kemenangan loe karena Samudera ternyata emang bermasalah?"
"Gue nggak mau pamer, Sya. Gue cuma mau minta maaf karena selama ini gue kasar sama loe. Gue cuma cemburu lihat loe lebih milih cowok yang penuh rahasia itu daripada temen masa kecil loe sendiri," Revaldi duduk di samping Alsya. "Loe tahu kan, dari dulu gue yang selalu ada kalau loe dimarahin Papa loe?"
Alsya terdiam. Kata-kata Revaldi mulai merayap masuk ke celah hatinya yang sedang rapuh. Kenangan masa kecil mereka—sebelum Revaldi menjadi ambisius dan kasar—mulai muncul kembali.
"Samudera itu cuma bikin loe nangis, Sya. Sedangkan gue... gue mau bikin loe ketawa lagi. Pulang sekolah nanti, mau ikut gue ke pameran seni? Gue tahu loe lagi butuh inspirasi buat lukisan loe," ajak Revaldi.
Alsya ragu. Dia teringat peringatan Samudera soal Revaldi. Tapi di sisi lain, Samudera telah membohonginya. Di pikirannya yang sedang kacau, Alsya merasa mungkin dia memang harus kembali ke "dunianya" yang dulu agar tidak terluka lagi.
"Oke, Val. Gue ikut," jawab Alsya pelan.
Di sudut koridor, Eliza memperhatikan mereka dengan senyum puas. Rencananya berjalan sempurna. Samudera sedang sibuk dengan masalah keluarganya, dan Alsya kini berada di tangan Revaldi.
Namun, Eliza tidak tahu bahwa di kantor ayahnya, Samudera baru saja memenangkan negosiasi. Samudera keluar dari gedung itu dengan napas lega. Dia bebas. Dia segera memacu motornya menuju sekolah, tidak sabar untuk menceritakan semuanya pada Alsya dan meminta maaf secara jujur.
Tapi begitu sampai di gerbang sekolah, jantung Samudera seolah berhenti berdetak. Dia melihat Alsya masuk ke dalam mobil mewah Revaldi, dan yang paling menyakitkan, Alsya tampak tersenyum tipis saat Revaldi mengacak rambutnya—sebuah gerakan yang dulu selalu Samudera lakukan.
"Sya... jangan..." bisik Samudera, terlambat untuk mengejar karena mobil itu sudah melesat pergi.
Situasi berbalik total! Samudera sudah bebas tapi dia justru kehilangan Alsya di saat yang paling kritis.
Bersambung....