Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 Ingatan Kael
Tiba tiba mata Kael terbuka dan kali ini tatapnya seolah termangu menatap Adelia yang sudah dibawa Oma Diana di dekat tempat tidur Kael.
Jantung Adelia berdebar keras. Tatap mata Kael berbeda. Kael seperti melihat orang asing.
"Kael...." Nafa nekat memanggil membuat Kael menoleh.
Kedua oma Kael menatap Nafa kesal.
Mengganggu saja.
Dengan tenang, Nafa melangkah memasuki kamar Kael. Tidak peduli dengan tatapan ngga suka kedua Oma Kael.
"Kamu cukup di sana," perintah Oma Hastuti geram.
"Oma, aku minta maaf. Aku hanya ingin meminta kejelasan Kael, kenapa membatalkan pernikahan kami," ucapnya berani.
Dasar tukang drama, umpat Adelia kesal. Adelia menahan tatapan muaknya. Ingin dia lemparkan video yang dia yakini tentang pengkhianatan si mantan Kael itu ke mukanya.
Ayra berharap Adelia bisa lebih menahan sabar.
Mata Kael beriak aneh. Tatapnya semakin tajam pada Nafa yang makin berani mendekat.
"Kael tidak jadi menikahimu, pasti itu kesalahan kamu. Kael bahkan juga sudah melupakan kamu,'" dengus Oma Diana dengan nada sinis.
Langkah Nafa terhenti. Kalo Kael melupakannya, berarti Kael juga lupa dengan kesalahan yang dia buat, pikirnya dalam hati.
"Oma, aku tidak melakukan kesalahan apa apa," bantahnya tapi tetap dengan nada lembut sambil menatap santun pada Oma Diana.
Kemudian dia beralih menatap Kael.
"Kael, aku akan menemani kamu sampai sembuh," ucap Nafa nekad.
Kael tidak menjawab. Tapi tatapnya tajam membuat Nafa agak kecut.
Sekarang dia akan bertaruh dengan nasibnya. Kalo Kael melupakan sosoknya, pasti Kael juga sudah melupakan kesalahan fatalnya saat di apartemen. Saatnya mulai mengacaukan pikiran kosong Kael.
Adelia merasa tidak dianggap. Dia merasa Kael belum bisa mengingatnya.
"Aku akan memeriksa keadaan Kael," ucap Luna untuk menentramkan kondisi yang suhunya mulai meningkat naik. Dia dapat melihat wajah kedua omanya Kael yang jadi masam.
"Anda cukup mengingat pelan pelan saja. Anda baru saja sadar setelah operasi yang dilakukan hampir tiga jam. Saraf saraf anda masih belum optimal. Seiring bertambahnya waktu, ingatan anda akan kembali," jelas Luna panjang lebar setelah memeriksa keadaan Kael.
Dia sengaja berkata begitu agar Adelia tidak hilang harapan.
Kael menganggukkan kepalanya sambil menatap Adelia yang masih digandeng Oma Hastuti. Kepalanya berdenyut lagi ketika ada ingatan samar yang berusaha menembus saraf saraf yang ada di dalam otaknya.
"Oma, kita permisi dulu," pamit Luna.
"Ingatan Kael akan segera kembali, kan, Luna?" tanya Oma Hastuti khawatir.
Luna tersenyum.
"Ya, oma. Pelan pelan, Kael akan mengingatnya. Kael juga baru selesai dioperasi."
Oma Hastuti tersenyum lega walaupun tetap ada ganjalan di wajahnya. Oma Diana menatap cucunya khawatir.
"Oma, yang penting Kael sembuh dulu," sambung Adelia lembut.
"Ya, sayang."
"Saya harus kerja, oma. Kita pamit, ya," pamit Adelia.
Dengan berat hati kedua oma itu mengangguk.
Adelia mendekat ke arah Kael yang sedang menatapnya.
"Cepat sembuh, ya. Ini bunganya aku tinggal, biar ngebantu kamu ingat aku," ucap Adelia dengan senyum manis di bibirnya.
Sudut bibir Kael berkedut samar.
Kedua oma Kael tersenyum lebar.
"Oma yakin, Kael ngga akan sulit mengingat kamu, Adelia," balas Oma Hastuti hangat.
"Oma juga yakin begitu," timpal Oma Diana.
Hati Nafa memanas. Ngga dia sangka Adelia akan membalas ucapannya. Tapi melihat reaksi Kael yang datar membuat dia tenang.
"Lebih baik kamu juga pergi," usir Oma Hastuti
Nafa tergagap. Baru saja Adelia dan dua gadis kembar tadi meninggalkan ruangan Kael, ternyata dia juga diminta untuk pergi.
"Tap tapi..... Ijinkan saya di sini, Oma. Saya akan merawat Kael." Nafa tetap tidak mau pergi.
"Tidak perlu. Kael perlu istirahat. Kalo kamu tidak mau pergi, saya akan panggilkan satpam untuk mengusir kamu," tegas Oma Diana menyahut.
Nafa menghembuskan nafas pelan.
"Kael, besok aku akan datang lagi," pamitnya.
Kael hanya menganggukkan kepalanya.
Nafa tersenyum senang. Dia pikir Kael akan melu dahinya lagi seperti waktu itu.
"Sebaiknya kamu istirahat agar cepat sembuh, Kael. Aku pergi." Hati Nafa berbunga bunga karena Kael tidak bisa memgingat kesalahannya. Dia melangkah pergi dengan kepala tegak.
Setelah mereka hanya tinggal bertiga terdengar helaan nafas kedua omanya.
"Kael, kamu harus bsa mengingat alasan kamu memutuskan calon istri ngga jelasmu itu," kecam Oma Diana agak kehilangan kesabaran. Masih geram karena melihat kepercayaan Nafa tadi.
Oma Hastuti merangkul bahunya untuk menyabarkan besannya.
"Sabar....... Kael juga baru sadar. Yang penting fisik Kael sembuh dulu," bujuknya.
Oma Diana menghembuskan nafas pelan, mencoba mengendalikan kemarahan di dalam rongga dadanya.
Kael tidak berkata apa apa. Dia memejamkan matanya karena senua ingatan seolah berebutan mengisi memorinya.
Saat dia membuka matanya lagi, tatapannya tertuju pada buket mawar putih yang ada di dekatnya. Segaris senyum samar tercipta di sana.
Mawarnya diselamatkan rupanya.
*
*
*
"Tunggu!"
Luna, Ayra dan Adelia yang sedang berjalan bersama, menghentikan langkah ketika mendengar seruan dan suara heels yang mendekat dengan cepat
Calon istri yang tidak jadi dinikahi Kael.
Nafa menatap ketiganya dengan seksama, seakan ingin membandingkan kecantikannya dengan ketiga gadis itu.
Dia menarik kesimpulan, keriganya hanya beruntung karena memiliki keluarga yang kaya raya yang bisa mensupport semua keinginan mereka tanpa susah payah. Sedangkan dia sendiri harus bekerja dengan sangat keras dan terpaksa jadi bulan bulanan mereka.
"Aku tidak akan memberikan Kael padamu." Nafa yakin Kael tidak akan mengingat kesalahannya. Nanti dia akan mencari informasi tentang obat yang bisa membuat seseorang kehilangan memori selamanya. Kael harus meminum obat itu.
Adelia tersenyum sinis, begitu juga Ayra dan Luna.
"Kael milikku," tegas Nafa.
"Kamu ngga takut Kael mengingat pengkhianatan kamu?" tanya Adelia tenang.
"Wajar ngga jadi dinikahi. Ada laki laki lain juga di kamar. Ketahuan lagi," ejek Ayra.
"Dipukul sama Kael sampe parah begitu," sambung Luna dengan tatap ngga sukanya.
"Bisa bisanya mengkhianati calon suami menjelang hari pernikahan," decak Ayra melanjutkan ucapan Luna.
"Ka kalian tau dari mana?" Nafa tidak sempat menyembunyikan ekspresi kagetnya.
"Bagaimana, ya, kalo kita kasih tau ke Kael? Dia bisa langsung ingat, nggak?" kompor Ayra dengan tatapan meremehkan.
Wajah Nafa pucat sesaat, tapi otak liciknya cepat bekerja.
"A.... Aku diperkos@.... Bukan keinginanku," sanggahnya membela diri.
"Kamu tinggal di apartemen, lho. Ngga sembarang orang bisa datang ke sana." Adelia ikut berbicara, menyenggol fakta yang akan sulit disangkal Nafa.
"Itu ....." Nafa kehilangan kata. Jantungnya memompa aliran darahnya lebih cepat.
"Kita ngga ada waktu mendengar omongan bo-doh kamu. Silahkan berusaha terus menipu Kael," ejek Ayra yang dilanjuti dengan tawa perlahannya. Adelia dan Luna juga tertawa sebelum melangkah pergi bersama Ayra meninggalkan Nafa yang masih mematung.
Dia tidak sebaik itu rupanya, dengus Nafa dalam hati yang makin panas.
Kyknya Kael ingat Adel deh