Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 The Price of a Broken Soul
Kegelapan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Belum sempat Leo merayakan kembalinya sang ibu ke mansion, badai besar menghantam keluarga Caelum. Sore itu, Eleanor ditemukan pingsan di ruang kerjanya. Wajahnya sepucat kertas, dan napasnya tersengal seolah setiap oksigen yang masuk adalah duri yang menyiksa.
Di koridor rumah sakit yang steril dan berbau antiseptik, Leo berdiri mematung. Jas mahalnya tampak kusut, dan sorot matanya yang biasanya tajam kini meredup oleh ketakutan yang murni. Dokter keluar dengan wajah berat, sebuah ekspresi yang sangat dibenci oleh Leo.
"Gagal hati stadium akhir, Tuan Leo," ucap dokter itu lirih. "Kondisi Nyonya Eleanor menurun sangat drastis. Satu-satunya jalan adalah transplantasi hati segera. Namun..."
"Namun apa?! Lakukan saja! Aku punya uang untuk membeli seluruh rumah sakit ini!" bentak Leo, suaranya bergema di lorong yang sunyi.
Dokter itu menghela napas panjang. "Mencari donor yang cocok adalah satu hal, Tuan. Tapi prosedur ini sangat berisiko tinggi bagi pendonor. Mengingat kondisi komplikasi Nyonya, pendonor harus memberikan sebagian besar hatinya, dan secara medis... kemungkinan pendonor untuk bertahan hidup dalam jangka panjang sangatlah tipis. Hampir tidak ada orang yang mau memberikan nyawa mereka untuk ini."
Leo terhuyung, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding. Dunia seolah berputar. Ia memiliki segalanya, namun kini ia dihadapkan pada kenyataan bahwa uang miliaran miliknya tidak bisa membeli nyawa ibunya tanpa menumbalkan nyawa orang lain.
Leo melangkah masuk ke ruang ICU. Di sana, Eleanor terbaring dengan berbagai selang yang menopang hidupnya. Wanita yang biasanya kuat dan elegan itu kini tampak begitu kecil di balik selimut putih.
"Ibu..." bisik Leo, menggenggam tangan Eleanor yang dingin.
Mata Eleanor terbuka sedikit, sangat lemah. Kesadarannya timbul tenggelam akibat racun yang mulai menyebar di tubuhnya. Bibirnya yang kering bergerak perlahan, mencoba membisikkan sebuah nama.
"Liora... di mana Liora?" gumam Eleanor lirih. "Bawa dia ke sini, Leo... Aku ingin melihatnya... panggil Liora..."
Hati Leo seolah diremas oleh tangan raksasa. Di saat kritis seperti ini, orang yang dicari ibunya bukanlah dirinya, melainkan gadis yang telah ia usir dengan kejam. Rasa bersalah dan cemburu bercampur menjadi satu, menciptakan sesak yang tak tertahankan di dadanya.
"Aku akan mencarinya, Bu. Aku janji," ucap Leo dengan suara bergetar.
Ia keluar dari ruangan itu dengan langkah goyah. Ia segera menarik kerah baju Jacob yang menunggu di luar. "Cari dia, Jacob! Aku tidak peduli bagaimana caranya! Temukan Liora sekarang juga! Jika dia tidak ada di depan Ibuku dalam dua puluh empat jam, kau akan tahu akibatnya!"
Jacob hanya bisa menatap bosnya dengan iba. "Tuan, Anda tahu sendiri Nyonya Eleanor menyembunyikan alamatnya dengan sangat rapat. Saya butuh waktu."
"KITA TIDAK PUNYA WAKTU!" teriak Leo frustrasi. Ia memukul dinding rumah sakit hingga buku jarinya berdarah, namun ia seolah tidak merasakan sakitnya. Rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan ketakutan kehilangan ibunya satu-satunya orang yang masih mencintainya meskipun ia adalah seorang monster.
Leo jatuh terduduk di kursi tunggu, menangkup wajahnya dengan tangan yang gemetar. Ia membayangkan wajah Liora wajah yang penuh luka akibat perbuatannya. Kini, ibunya sekarat dan hanya menginginkan gadis itu.
Leo menyadari betapa ironisnya takdir ia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menghancurkan Liora, namun sekarang, keberadaan Liora adalah satu-satunya hal yang bisa memberikan kedamaian di saat-saat terakhir ibunya. Dan yang lebih mengerikan, jika Liora tahu kondisi ini, apakah gadis itu akan bersedia datang? Ataukah Liora akan tertawa melihat kehancuran pria yang telah merusak hidupnya?
"Tolong, Liora..." bisik Leo dalam kesendiriannya. "Kembalilah. Bukan untukku, tapi untuk satu-satunya orang yang mencintaimu di rumah ini."
"Bagi Leo, kekayaan adalah tuhan yang gagal; ia memiliki segalanya untuk menguasai dunia, tapi tak punya apa-apa untuk menyelamatkan satu nyawa."
"Nama Liora yang dipanggil Eleanor adalah hukuman paling berat bagi Leo; pengingat bahwa ia telah membuang permata demi mempertahankan kerikil egonya."
"Di lorong rumah sakit ini, Leo Alexander Caelum akhirnya menyadari bahwa tanpa ibunya dan tanpa Liora, ia hanyalah sebuah raga kosong tanpa jiwa."
"Takdir sedang menertawakan Leo; memberikan kuasa untuk menghancurkan, namun tidak memberikan kekuatan untuk memperbaiki."