NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:945
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: ISMI DIKURUNG

#

Setelah Dyon pergi, Ismi masih berdiri di ruang tamu—gemetar, nangis dalam diam. Air matanya nggak berhenti ngalir.

"Masuk kamar," perintah Pak Hendra—dingin. "Sekarang."

"Ayah... kumohon..." Ismi nengadah—mata merah, basah. "Kumohon jangan pisahin aku sama Dyon. Dia... dia baik. Dia—"

"AKU BILANG MASUK KAMAR!" Pak Hendra teriak—keras banget, bikin Ismi loncat kaget.

Ibu Sarah pegang lengan Ismi—kasar. "Dengar Ayahmu. Jangan bikin masalah lebih besar."

Ismi diseret—dipaksa jalan ke tangga. Naik ke lantai dua, masuk ke kamarnya—kamar luas, cat pink muda, kasur besar dengan sprei lucu, meja belajar rapi, lemari besar. Kamar yang seharusnya nyaman.

Tapi sekarang... rasanya kayak penjara.

Pintu ditutup.

Klik.

Dikunci dari luar.

"AYAH! IBU!" Ismi ngetok pintu—keras. "KUMOHON! KELUARIN AKU! KUMOHON!"

Nggak ada jawaban.

Cuma bunyi langkah kaki menjauh—turun tangga.

Ismi jatuh bersimpuh di depan pintu—nangis keras. Tangan masih ngetok pintu—lemah, putus asa.

"Dyon... Dyon..." bisiknya di sela tangis. "Maafin aku... maafin aku..."

---

Sementara itu, di bawah...

Pak Hendra duduk di sofa—minum kopi yang disajikan pembantu. Wajahnya masih merah—marah.

"Anak itu harus diawasi ketat," kata Pak Hendra ke istrinya. "Mulai besok, aku ambil hapenya. Sopir antar-jemput ke sekolah. Nggak boleh keluar rumah selain sekolah. Nggak boleh ketemu siapa-siapa."

Ibu Sarah angguk. "Aku setuju. Tapi... bagaimana kalau dia kabur?"

"Kabur?" Pak Hendra senyum sinis. "Dia nggak akan kabur. Dia anak baik-baik. Penurut. Paling... paling nangis beberapa hari, terus lupa sendiri."

"Kalau dia tetep ngeyel?"

"Kita pindahin dia," kata Pak Hendra tegas. "Ke luar kota. Atau... keluar negeri. Ada sekolah bagus di Singapura. Kita kirim dia ke sana. Jauh dari bocah sampah itu."

Ibu Sarah tersenyum—puas. "Ide bagus."

---

Keesokan harinya, Jumat pagi.

Ismi bangun dengan mata bengkak—bekas nangis semalem sampai ketiduran di lantai, nggak sampai ke kasur.

Pintu kamar dibuka—Ibu Sarah masuk. Wajahnya datar.

"Bangun. Mandi. Sekolah," katanya singkat.

"Ibu... kumohon... aku mau ketemu Dyon—"

"Nggak bisa," potong Ibu Sarah. "Dan ini." Dia sodorkan tangan. "Hape kamu."

Ismi langsung pegang hapenya—erat. "Nggak! Ini... ini hape aku—"

Ibu Sarah merebut—kasar. "Mulai sekarang, kamu nggak boleh pegang hape. Kecuali di bawah pengawasan kami."

"IBU!"

"Cepat mandi. Sopir sudah menunggu."

Ibu Sarah keluar. Pintu ditutup lagi—tapi nggak dikunci.

Ismi duduk di kasur—lemas. Tangannya kosong. Hapenya... hilang.

*Gimana... gimana aku bisa hubungi Dyon?*

Dia mandi—cepat. Pakai seragam. Turun ke bawah—Pak Hendra udah nggak ada, mungkin udah berangkat kerja.

Di meja makan, ada sarapan—roti bakar, telur, susu. Tapi Ismi nggak napsu makan. Perutnya mual.

"Makan," perintah Ibu Sarah yang duduk di seberang—sambil baca koran.

"Aku... aku nggak lapar."

"Makan. Atau kamu nggak pergi sekolah."

Ismi terpaksa makan—sedikit. Roti masuk mulut—kayak karton. Susah ditelan.

Selesai sarapan, dia ke mobil—mercy hitam yang biasa dipake sopir keluarga. Pak Bambang—sopir setia keluarga Anisah—buka pintu belakang.

"Selamat pagi, Nona," sapanya sopan.

Ismi cuma angguk kecil. Masuk mobil—duduk di belakang.

Mobil jalan. Ismi ngeliatin jendela—kosong. Pikiran melayang ke Dyon.

*Dia... dia baik-baik aja nggak ya? Kemarin... kemarin Ayah mukul dia. Pasti... pasti sakit.*

Air mata keluar lagi. Dia lap cepat—takut Pak Bambang liat lewat kaca spion.

---

Sampai sekolah. Ismi turun—jalan masuk gerbang dengan kepala nunduk.

"Nona," panggil Pak Bambang. "Saya tunggu di sini sampai pulang sekolah ya. Jangan kemana-mana."

Ismi paham. Dia diawasi.

Masuk kelas. Duduk di bangku—kosong, sepi. Teman-teman pada bisik-bisik—liat dia, terus ketawa kecil.

Mereka tau. Pasti udah pada tau soal foto itu.

Istirahat pertama. Ismi nggak keluar kelas. Diem aja di bangku—ngeliatin jendela.

Terus... dia liat.

Dyon.

Jalan sendirian di koridor—pelan. Pipi kanannya masih bengkak—bekas tamparan kemarin. Bibir masih pecah.

Jantung Ismi langsung berdegup keras.

Dia berdiri—cepat. Mau keluar kelas, mau manggil Dyon—

Tapi...

Tangan seseorang nahan bahunya.

Ismi nengok.

Sinta—cewek yang foto mereka kemarin.

"Mau kemana?" tanya Sinta—senyum sinis. "Mau ketemu pacar lo? Orang tua lo udah tau lho. Jangan bikin masalah lagi."

"Lepas!" Ismi ngelepas tangan Sinta—kasar.

Tapi Sinta nahan lagi—lebih kuat. "Dengerin aku. Lo... lo harusnya bersyukur orang tua lo peduli. Dyon itu... dia nggak cocok buat lo. Dia miskin. Nggak ada masa depan. Lo... lo harusnya sama Edward. Dia kaya. Ganteng. Pintar—"

"AKU NGGAK PEDULI!" Ismi teriak—suaranya keras, bikin anak-anak di kelas pada nengok. "AKU MENCINTAI DYON! BUKAN EDWARD! BUKAN SIAPA-SIAPA! CUMA DYON!"

Sinta terdiam—kaget.

Ismi ngelepas tangan Sinta, lari keluar kelas.

Tapi...

Dyon udah nggak ada.

Koridor kosong.

Ismi jalan cepat—cari Dyon. Ke kantin—nggak ada. Ke perpustakaan—nggak ada. Ke taman belakang—nggak ada.

*Dimana... dimana dia?*

Bel masuk bunyi. Ismi terpaksa balik ke kelas—hati hancur.

---

Pulang sekolah. Pak Bambang udah nunggu. Ismi naik mobil lagi—langsung dibawa pulang. Nggak ada kesempatan buat cari Dyon.

Sampai rumah. Masuk kamar. Pintu dikunci lagi dari luar.

Ismi duduk di kasur—merem. Napas berat.

*Aku harus ketemu Dyon. Aku... aku harus bilang ke dia kalau aku nggak akan ninggalin dia.*

Tapi gimana?

Hape diambil. Dikurung di kamar. Diawasi ketat.

Dia lirik jendela kamar—jendela besar yang ngadep ke taman belakang.

Jendela.

Ide muncul—gila, berbahaya.

Tapi... ini satu-satunya cara.

---

Malam hari. Jam sepuluh.

Rumah udah sepi. Pak Hendra sama Ibu Sarah udah tidur—kamar mereka di lantai tiga, jauh dari kamar Ismi.

Ismi bangun dari kasur—pelan. Jalan ke jendela. Buka—hati-hati, pelan, takut bunyi.

Jendela terbuka. Angin malam masuk—dingin.

Dia lihat ke bawah. Lantai dua. Tinggi... tapi nggak terlalu tinggi. Di bawah ada semak-semak—bisa jadi bantalan kalau jatuh.

*Gila. Ini gila.*

Tapi dia nggak peduli.

Dia ambil sprei dari kasur—ikat jadi tali panjang. Ikat ujungnya ke tiang jendela—kuat-kuat.

Lempar ujung satunya keluar jendela—jatuh ke bawah.

Napas dalam.

*Dyon... aku datang.*

Ismi pegang tali sprei—erat. Kaki keluar jendela—gantung di udara.

Turun—pelan, hati-hati. Tangan gemetar. Jantung berdebar kayak mau copot.

Setengah jalan—tangan hampir lepas. Tapi dia paksa tahan.

Sampai bawah—jatuh ke semak. Sakit—kaki lecet, tangan tergores duri.

Tapi dia nggak peduli.

Berdiri—cepat. Lari ke pagar belakang rumah—pagar besi tinggi. Dia panjat—tangan sama kaki cari pijakan.

Sampai atas—loncat. Jatuh ke tanah luar pagar—keras, dengkul lecet.

Tapi dia bangun lagi.

Lari—ke arah gubuk Dyon. Jaraknya lumayan jauh—tapi dia lari terus. Napas ngos-ngosan. Kaki sakit. Tapi dia nggak berhenti.

---

Sampai di gang sempit menuju gubuk Dyon. Gelap. Sepi.

Ismi jalan pelan—cari gubuk Dyon. Ada beberapa gubuk di sini, tapi dia inget yang mana.

Sampai di depan gubuk Dyon—pintu kayu lapuk, lampu bohlam redup di dalam.

Ismi ngetok pintu—pelan.

Nggak ada jawaban.

Ngetok lagi—lebih keras.

Pintu terbuka.

Dyon berdiri di sana—kaget. Mata bengkak, pipi masih bengkak, shirtless, cuma pakai celana pendek.

"Ismi?!" Dyon nggak percaya. "Kamu... kamu kenapa di sini? Gimana—"

Ismi langsung peluk Dyon—erat, keras. Nangis di dada Dyon—keras, kayak anak kecil.

"Dyon..." tangisnya pecah. "Maafin aku... maafin aku..."

Dyon peluk balik—bingung tapi hangat. "Ismi... kamu... kamu kabur?"

Ismi ngangguk—masih nangis. "Aku... aku nggak peduli kata mereka. Aku... aku pilih kamu. Aku... aku mencintaimu. Cuma kamu."

Dyon nggak bisa ngomong. Dadanya sesak—campuran sedih, bahagia, takut.

"Tapi... tapi orang tua kamu—"

"AKU NGGAK PEDULI!" Ismi teriak sambil nangis. "Aku... aku nggak mau kehilangan kamu! Aku... aku rela kehilangan segalanya... asal... asal kamu tetep di samping aku!"

Dyon memeluk Ismi lebih erat—air matanya jatuh.

*Cinta sejati adalah ketika seseorang rela kehilangan segalanya demi orang yang dicintainya.*

---

**BERSAMBUNG**

**HOOK:** *Tapi kebahagiaan ini nggak akan bertahan lama. Karena badai yang lebih besar... sudah menunggu di depan mata.*

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!