Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Serah Terima
"Aku ingin jaminan bahwa masa depanku terikat padamu, bukan hanya melalui kata-kata," Bianca menatap mata Simon dengan dalam. "Berikan aku lima persen saham di salah satu anak perusahaanmu. Aku ingin belajar mengelola dividennya sendiri. Dengan begitu, ke mana pun aku pergi, aku akan selalu membawa 'potongan' dari dirimu bersamaku. Itu akan membuatku merasa jauh lebih aman untuk menetap di Milan bersamamu."
Simon terdiam sejenak, menimbang permintaan yang cukup berani itu. Namun, melihat tatapan menggoda Bianca yang seolah menjanjikan kenikmatan lebih besar, ia terkekeh.
"Lima persen untuk kesetiaanmu?" Simon menarik dagu Bianca dan mencium bibirnya sekilas. "Baiklah. Aku akan menyuruh pengacaraku menyiapkan dokumen hibah saham atas namamu siang ini. Tapi ingat, itu artinya kau benar-benar tidak boleh lepas dari jangkauanku."
...****************...
Setelah Simon pergi mengurus apa yang diinginkan Bianca, Bianca bersiap ketika sopir Simon akan menjemput satu jam lagi.
"Lora, aku senang dia mengabulkannya. Namun, apakah aku masih bisa menjelajah keliling dunia dengan menikmati gairah lelaki perkasa di luar sana? Dia mengharapkan kesetianku,"
Bianca berdiri di depan cermin besar, merapikan riasan wajahnya. Bayangan Lora perlahan memadat di balik kaca, menatap Bianca dengan tatapan dingin yang sarat akan tipu daya.
"Jangan naif, Bianca," suara Lora bergema pelan namun tajam. "Kesetiaan adalah konsep yang diciptakan pria posesif untuk memenjara wanita. Dia menginginkan kesetiaanmu karena egonya ingin merasa menjadi satu-satunya yang mampu menaklukkanmu."
Lora menyeringai, jemari bayangannya seolah menyentuh pundak Bianca. "Nikmati hartanya, ambil sahamnya, dan biarkan dia percaya padamu. Tapi jangan pernah biarkan hatimu ikut terbelenggu. Dunia ini terlalu luas jika hanya dihabiskan dengan satu pria, tak peduli seberapa perkasa atau kayanya dia."
"Ingat janji yang kusimpan," lanjut Lora, mengingatkan pada instruksi awal tentang kriteria pria-pria yang akan Bianca temui nanti. "Selama kau melakukannya dengan rapi dan jauh dari jangkauan mata-matanya, gairah di luar sana tetap milikmu. Anggap saja Simon adalah pelabuhan utamamu, tempatmu mengisi perbendaharaan, sementara pria-pria lain adalah petualangan singkat yang menyegarkan."
Bianca tersenyum tipis, memahami permainan ganda yang harus ia mainkan. "Jadi, aku tetap bisa 'bermain' di luar, asalkan aku selalu kembali ke pelukannya dengan wajah polos?"
"Tepat. Jadilah pemain yang hebat, bukan bidak,"
"Tapi ingat, Lora. Sepandai apa pun aku bermain peran, aku tetap butuh kektan sihirmu agar Simon punya titik buta terhadap kelakuan liarkuku di luar. Dia punya banyak mata-mata dan koneksi untuk menguntitku tanpa kita sadari, aku butuh jaminanmu" peringat Bianca lebih ke perintah yang mendesak.
Lora tertawa sinis penuh ejekan.
"Kau meragukan kemampuanku? Tenang, aku akan menutup mata dan telinga Simon dengan kabut ilusi. Di matanya, kau akan selalu terlihat sebagai kekasih yang setia dan patuh, bahkan saat kau sedang mendesah di pelukan pria lain. Aku akan mengacaukan setiap laporan dari mata-matanya dan membuat mereka hanya melihat apa yang ingin aku tunjukkan. Selama ada cermin di dekatmu, aku adalah pelindungmu yang tak terlihat. Fokuslah menjerat hartanya; biarkan urusan 'titik buta' itu menjadi bagianku."
...****************...
Pintu kayu mahoni yang berat itu terbuka lebar, memperlihatkan suasana ruang rapat yang tegang namun elegan.
Bianca melangkah masuk dengan dagu terangkat, memancarkan aura dominasi yang tak terbantahkan. Ia mengenakan summer dress rancangan desainer ternama yang membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna—provokatif namun tetap terlihat berkelas di mata para petinggi perusahaan.
Langkah kakinya yang beradu dengan lantai marmer menciptakan irama yang menuntut perhatian. Sekretaris Simon yang berjalan di belakangnya tampak seperti bayangan yang tak berarti di hadapan pesona Bianca.
Di ujung meja panjang, Simon duduk di kursi kebesarannya, dikelilingi oleh beberapa dewan direksi yang tampak kaku dan seorang pengacara yang sibuk merapikan tumpukan dokumen legal. Saat mata mereka bertemu, Simon memberikan senyum tipis—campuran antara kebanggaan dan kepemilikan.
"Ah, Bianca. Tepat waktu," ujar Simon sembari berdiri untuk menyambutnya. "Tuan-tuan, perkenalkan, ini adalah Bianca Wolfe. Mulai hari ini, dia bukan hanya pendampingku, tapi juga pemegang saham baru di perusahaan ini."
Para direksi saling berpandangan, mencoba menyembunyikan keterkejutan mereka di balik wajah profesional yang dingin. Pengacara Simon kemudian menyodorkan selembar dokumen tebal di atas meja.
"Silakan, Nyonya. Jika Anda sudah meninjau poin-poinnya, Anda bisa menandatangani di atas materai ini untuk meresmikan pengalihan lima persen saham tersebut," ucap sang pengacara dengan nada datar, namun matanya tak bisa menipu bahwa ia terkesima oleh penampilan Bianca.
Bianca mengambil pena emas yang tersedia, namun sebelum menggoreskan tinta, ia menoleh ke arah cermin hias besar yang terpasang di dinding ruangan. Di sana, ia melihat pantulan Lora memberikan anggukan kecil yang puas.
"Selesai," ucap Bianca singkat, suaranya tenang.
Simon segera menghampirinya, meletakkan tangannya secara posesif di bahu Bianca dan mencium puncak kepalanya di depan para direksi yang hanya bisa terpaku. "Sekarang kau resmi menjadi bagian dari kekuasaanku, Bianca. Jangan kecewakan aku."
Para dewan direksi segera berdiri dan memberikan anggukan hormat yang dipaksakan, menyadari bahwa wanita di depan mereka bukan sekadar simpanan biasa, melainkan pemilik sah dari sebagian aset yang mereka kelola.
*****
Setelah ruang rapat kosong, Simon membawa Bianca ke ruang kantor pribadinya yang sangat luas dengan pemandangan langsung ke katedral Duomo di Milan. Namun, alih-alih langsung merayu, Bianca memilih untuk memainkan perannya sebagai "pemegang saham" yang cerdas.
"Simon, lima persen ini baru awal," ujar Bianca sambil berjalan mengelilingi meja kerja Simon yang terbuat dari kayu antik. "Jika kau ingin aku tetap di sisimu dan tidak merasa bosan, aku ingin dilibatkan dalam beberapa keputusan besar. Aku tidak ingin hanya duduk manis menerima cek setiap bulan."
Simon mengangkat alis, terkejut sekaligus terkesan dengan ambisi Bianca. "Kau ingin belajar bisnis, atau kau sedang mencoba membangun kerajaanmu sendiri di dalam kerajaanku?"
Bianca berhenti tepat di depan sebuah cermin antik berbingkai emas yang berdiri di sudut ruangan. Ia bisa merasakan kehadiran Lora di sana, memberikan energi yang dingin.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa asetku aman," balas Bianca tenang. "Besok, aku ingin pengacaramu membawakan laporan keuangan tahun lalu. Aku ingin tahu siapa saja musuh bisnismu, Simon. Karena musuhmu, sekarang adalah musuhku juga."
Simon menyeringai, mendekat dan berdiri di belakang Bianca, menatap pantulan mereka berdua di cermin—tanpa menyadari bahwa di balik bayangan itu, Lora sedang membisikkan sesuatu ke telinga Bianca.
"Kau benar-benar wanita yang berbahaya, Bianca. Dan itu membuatku semakin sulit untuk melepaskanmu," bisik Simon.
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?