Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kata Dan luka
Pagi itu, Elara bangun dengan tubuh yang masih terasa lelah. Malam tadi Elara hampir tak tidur nyenyak.
Elara keluar pondok membawa ember, berniat mengambil air di sumur kecil tak jauh dari sana.
Udara pagi Kaelmont dingin. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan.
Di dekat sumur, dua perempuan sedang berbicara pelan. Mereka berhenti sejenak saat melihat Elara datang, lalu kembali berbisik setelahnya.
“Elara itu… katanya dekat sekali dengan Tuan Marquis.”
“Elara yang tinggal di pondok? Yang yatim itu?”
“Iya. Katanya kemarin Tuan Marquis datang sendiri ke sana. Bahkan gaun indah yang gadis itu pakai dipesta pertunangan, kabarnya dari tuan Marquis”
Langkah Elara melambat. Dia berpura-pura sibuk menimba air, tapi telinganya menangkap setiap kata.
“Pantas saja,” lanjut suara yang lain.
“Gadis secantik itu, tapi sendirian. Siapa yang tahu apa yang ia lakukan dibelakang.”
Elara menunduk. Tangannya mencengkeram tali ember.
“Kasihan Lady Seraphina. Sudah bertunangan, masih harus mendengar gosip murahan.”
Kata itu menusuk.
Elara menelan ludah, dadanya terasa sesak. Dia mengangkat ember dengan tangan sedikit gemetar.
Rasanya ingin berkata bahwa itu tidak benar. Ia tidak melakukan apa pun. Namun lidahnya terasa keruh.
Saat Elara berbalik, salah satu dari mereka menatapnya sekilas—lalu memalingkan wajah, seolah Elara jijik dengan Elara.
Elara berjalan pulang tanpa menoleh lagi.
Di dalam pondok, ia meletakkan ember terlalu keras hingga airnya tumpah.
“Aku tidak melakukan apa pun,” bisiknya pada diri sendiri.
Namun meski ia tahu itu, gosip telah lebih dulu berjalan.
Siang menjelang, seorang perempuan tua yang biasa menyapa Elara dengan ramah kini hanya mengangguk singkat. Seorang anak kecil yang biasa berlari menghampirinya ditarik pergi oleh ibunya.
Elara berdiri di depan pondok, menatap sekeliling.
Ia merasa seperti orang asing di tempat yang selama ini ia anggap rumah.
***
Di sisi lain Kaelmont, Eryn baru saja tiba di rumah keluarganya.
Meja makan sudah dipenuhi suara. Namun percakapan mendadak terhenti saat ia duduk.
“Apa kau tahu soal gadis pondok itu?” suara ayahnya terdengar tenang, terlalu tenang.
Eryn mengangkat wajah. “Elara?”
Ayah Eryn mengangguk.
"Namanya ramai dibicarakan. Mereka bilang Marquis sering mendatanginya,” lanjut sang ayah.
“Dan katanya gosipnya sudah sampai ke rumah utama.”
Eryn mengepalkan tangan di bawah meja.
“Aku tidak percaya. Elara tidak melakukan apa pun,” ucapnya tegas.
“Kalian salah jika menilainya seperti itu.”
Ayahnya menatapnya lama. “Bukan kami yang menilai Eryn tapi lihat, para pelayan yang bergosip"
Eryn tak menjawab lagi, pria itu segera berbalik, meninggalkan meja makan dengan langkah cepat. Pikirannya hanya satu. Elara.
Eryn tahu gadis itu tidak sekuat kelihatannya. Dia tahu Elara akan memilih diam—dan diam justru akan menyakitinya.
Dan untuk pertama kalinya, Eryn merasa takut.
Eryn tiba di pondok saat matahari hampir tenggelam.
Langkahnya melambat ketika melihat Elara duduk di depan pondok, menatap tanah di hadapannya. Rambutnya tergerai, wajahnya terlihat lelah.
“Elara,” panggil Eryn pelan.
Elara menoleh. Matanya sempat berbinar, namun cepat meredup.
“Kau datang,” katanya singkat.
Eryn berdiri beberapa langkah darinya. Biasanya ia langsung duduk di samping Elara. Kali ini, ia ragu.
“Apa kau baik-baik saja? Aku dengar…” Eryn berhenti. Ia menarik napas. “Aku dengar gosipnya.”
Elara mengangguk pelan.
“Aku tidak apa-apa” jawabnya. “Aku juga sudah mendengarnya sendiri.”
“Taoi Eryn apa sungguh tidak melakukan melakukan apa pun. Aku tidak pernah meminta Tuan Marquis datang. Aku juga tidak—”
“Aku tahu,” potong Eryn cepat. “Aku percaya padamu.”
Elara menatapnya. Untuk sesaat, matanya berkaca-kaca.
“Tapi mereka tidak,” katanya lirih.
Eryn mengepalkan tangannya. “Aku akan mengatakan pada mereka, kau bukan gadis seperti itu, Elara. Tunggulah.”
Elara tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya.
“Kau tidak perlu melakukan itu Eryn. Aku baik-baik saja."
“Kalau aku diam, aku akan menyesal,” jawab Eryn jujur.
Elara menunduk. “Aku hanya ingin hari-hari kembali seperti dulu.”
Eryn duduk perlahan di sampingnya, menjaga jarak yang sopan.
“Aku Janji akan perbaiki semua nya, Elara. Aku akan melindungimu.”
"Aku tidak akan membiarkan kau terluka seperti ini, aku menyayangimu"
Eryn menatap Elara lama, rasanya ingin mengatakan sesuatu yang selama ini ia simpan. Namun kata-kata itu kembali ia telan.
“Tidak perlu Eryn. Paman Alden akan kembali dua hari lagi,” ucap Elara. “Mungkin setelah itu semuanya akan lebih baik.”
Eryn tak memaksa, jika itu keputusan Elara.
“Aku akan tetap ada,” katanya. “Kalau kau butuh apa pun.”
Elara menoleh dan menatapnya. Kali ini lebih lama.
“Terima kasih, Eryn.”
**
Senja benar-benar menghilang. Lampu kecil di dalam pondok menyala temaram.
Eryn bangkit lebih dulu.
“Aku harus pulang,” katanya pelan.
Elara mengangguk. “Hati-hati di jalan.”
Eryn melangkah beberapa langkah, lalu berhenti. Ia menoleh, seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun akhirnya ia hanya tersenyum tipis.
“Jangan terlalu memikirkan kata orang,” ucapnya.
Elara membalas senyum itu, meski rapuh.
“Aku akan mencoba.”
Eryn pergi. Langkahnya menghilang di antara gelap.
Elara berdiri sendiri di depan pondok. Udara malam kembali terasa dingin. Ia menutup pintu, menyandarkan punggungnya sejenak, lalu menghela napas panjang.