"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ultimatum Orang Tua William
Pukul sepuluh malam. Penthouse William di lantai 40 biasanya adalah tempat perlindungan yang sunyi. Namun malam ini, udara di ruangan mewah itu terasa begitu padat, seolah oksigen disedot habis oleh kehadiran dua tamu tak diundang.
Pintu lift pribadi terbuka dengan denting yang menyakitkan telinga.
Edward Bagaskara melangkah keluar, diikuti Nyonya Sofia. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan hangat orang tua kepada anak. Wajah Edward merah padam menahan amarah, sementara Sofia menatap sekeliling dengan tatapan jijik, seolah mencium bau busuk.
William, yang baru saja hendak menuang air mineral di dapur, meletakkan gelasnya pelan-pelan. Ia tahu momen ini akan datang, tapi ia tidak menyangka akan secepat ini.
"Selamat malam, Ayah, Ibu," sapa William datar. "Tumben sekali berkunjung tanpa menelepon."
BRAK!
Edward tidak menjawab. Ia melemparkan sebuah amplop cokelat besar ke atas meja kaca di ruang tengah. Amplop itu meluncur, menabrak vas bunga hingga airnya tumpah.
Foto-foto berhamburan keluar.
William melirik sekilas. Foto-foto itu diambil dengan lensa jarak jauh, buram karena noise cahaya malam, tapi objeknya jelas:
William dan Adinda makan nasi goreng di pinggir jalan.
William tertawa lebar sambil memegang gelas es teh plastik.
Adinda yang menepis tangan William di depan lobi apartemen.
"Jelaskan," suara Edward rendah, bergetar oleh kemurkaan. "Jelaskan kenapa pewaris tunggal Bagaskara Corp makan sampah di pinggir jalan bersama... mantan pelayan keamanannya?"
William menegakkan punggungnya. Ia berjalan mendekati meja, mengambil satu foto.
"Namanya Adinda," koreksi William dingin. "Dan dia bukan pelayan. Dia wanita yang menyelamatkan nyawa saya dua kali. Nyawa yang Ayah klaim sangat berharga itu."
"Dia bodyguard!" bentak Sofia, suaranya melengking. "Dia orang bayaran! Dia kasta rendahan, William! Astaga, Mama pikir kau menolak Celine karena kau punya wanita simpanan kelas atas. Ternyata selera kau serendah ini? Gadis yatim piatu yang bau keringat?"
Tangan William mengepal di samping tubuhnya. Urat-urat di lehernya menonjol. Hinaan terhadap dirinya bisa ia terima, tapi hinaan terhadap Adinda membuat darahnya mendidih.
"Jaga bicara Ibu," desis William. "Adinda lebih terhormat daripada semua teman sosialita Ibu yang bermuka dua."
"CUKUP!" Edward menggelegar. Suaranya memantul di dinding-dinding kaca.
Edward melangkah maju, menatap mata putranya dengan tatapan mengintimidasi yang biasa ia gunakan untuk menghancurkan lawan bisnis.
"Kau pikir ini dongeng, William? Pangeran jatuh cinta pada rakyat jelata lalu hidup bahagia? Bangun!"
Edward menunjuk foto Adinda dengan telunjuk gemetar.
"Darma sudah menyelidiki latar belakangnya. Mahasiswi seni tersebut. Tinggal di apartemen subsidi. Tidak punya orang tua. Tidak punya koneksi."
Edward menyeringai kejam.
"Sangat mudah untuk menghancurkan orang seperti dia, William. Semudah menjentikkan jari."
Jantung William berhenti berdetak sesaat. Ia menatap ayahnya dengan horor. "Apa maksud Ayah?"
"Kau pikir kenapa dia bisa kuliah tenang?" Edward berjalan memutari William seperti hiu mengitari mangsa. "Apa yang terjadi kalau besok pagi pihak kampus 'menemukan' alasan untuk mengeluarkannya dari kampus? Narkoba, mungkin? Atau skandal asusila?"
"Ayah tidak akan berani," tantang William, suaranya mulai goyah.
"Atau mungkin," sela Sofia dengan nada dingin yang menusuk, "kecelakaan kecil? Jakarta kota yang berbahaya, William. Kau tahu itu. Dia pernah menyelamatkanmu dari preman, tapi siapa yang akan menyelamatkan dia kalau preman itu dibayar sepuluh kali lipat untuk mematahkan tangannya? Tangan seniman... sayang sekali kalau patah."
William mundur selangkah. Ia merasa mual. Orang tuanya orang-orang yang ia hormati kini terdengar seperti mafia. Mereka tidak sedang menggertak. Mereka serius. Bagi mereka, Adinda adalah noda yang harus dihapus, hama yang harus dibasmi demi menjaga kemurnian nama Bagaskara.
"Kalian... kalian monster," bisik William.
"Kami orang tua yang melindungi anaknya dari kebodohan!" balas Edward keras. "Kau boleh main-main dengan siapa saja, William. Tiduri model, artis, terserah! Tapi jangan pernah berpikir untuk menjalin hubungan serius dengan sampah jalanan dan membawanya masuk ke keluarga ini!"
Edward mencengkeram kerah kemeja William, menarik wajah putranya mendekat.
"Dengar ultimatumku. Jauhi dia. Putuskan hubungan sekarang juga. Buat dia membencimu, atau buat dia pergi jauh."
Edward melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
"Jika dalam 24 jam kau masih terlihat bersamanya..." Edward merapikan jasnya dengan tenang. "Maka jangan salahkan Ayah jika Adinda Elizabeth tidak akan pernah bisa melukis lagi seumur hidupnya."
Hening.
Hening yang mencekam dan mematikan.
Edward dan Sofia berbalik badan, berjalan menuju lift.
Sebelum pintu lift tertutup, Sofia menoleh dengan wajah tanpa ekspresi. "Ini demi kebaikanmu, Sayang. Suatu hari kau akan berterima kasih pada kami."
Ting.
Pintu lift tertutup.
William ditinggalkan sendirian di tengah kemewahan yang terasa seperti penjara. Lututnya lemas. Ia merosot duduk di lantai, di antara foto-foto Adinda yang berserakan.
Napasnya memburu. Rasa takut yang luar biasa menjalar di tulang punggungnya. Bukan takut pada ayahnya, tapi takut pada apa yang bisa dilakukan ayahnya terhadap Adinda.
William mengambil ponselnya dengan tangan gemetar. Ia melihat layar. Ada satu pesan masuk dari Adinda lima menit yang lalu.
Adinda: Besok aku presentasi tugas akhir patung. Doain ya. Jangan ganggu dulu :p
William membaca pesan itu. Air mata frustrasi menggenang di matanya. Adinda sedang bahagia. Adinda sedang mengejar mimpinya. Dan kehadiran William cintanya justru menjadi ancaman terbesar bagi keselamatan gadis itu.
William menggenggam ponselnya erat-erat sampai buku jarinya memutih.
Dia baru saja mulai berani mencintai. Dia baru saja mulai merasakan hangatnya harapan. Tapi malam ini, realitas menamparnya telak.
Dia tidak bisa bersama Adinda. Bukan karena dia tidak mau, tapi karena cintanya adalah racun yang akan membunuh masa depan gadis itu.
"Maafkan aku, Dinda..." isak William tertahan di ruangan sunyi itu. "Maafkan aku."
Di luar jendela, kilat menyambar langit Jakarta, menandakan badai besar akan segera datang. Badai yang akan memporak-porandakan hati mereka berdua.
lanjut thor
lanjuuut