NovelToon NovelToon
Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Handayani Sr.

Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.

Tidak ada yang berani menentangnya.

Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.

Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:

kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.

Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.

Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Pagi itu langit tampak cerah, sinar matahari menembus tirai jendela besar kamar Lucane, menerangi ruangan dengan cahaya keemasan. Suasana di mansion miliknya terasa tenang dan berkelas setiap sudutnya menunjukkan kemewahan dan ketertiban yang sempurna.

Lucane, dengan kemeja putih rapi dan jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya, duduk santai di ruang makan besar. Beberapa maid bergerak cekatan, menyiapkan sarapan lengkap kopi, roti panggang, telur mata sapi, dan buah segar yang tertata rapi di atas piring porselen.

Ia menikmati sarapannya dengan tenang, tanpa banyak bicara. Gerakannya teratur, penuh wibawa, seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan segalanya.

Tak lama kemudian, suara langkah sepatu terdengar dari arah pintu masuk. Liam, asisten sekaligus tangan kanannya, muncul dengan pakaian serba hitam.

“Tuan, mobil sudah siap,” lapornya dengan nada hormat.

Lucane mengangguk pelan, menyeka mulutnya dengan serbet sebelum berdiri. “Ke rumah Nana dulu,” ucapnya datar, suaranya tenang namun penuh makna.

“Baik, Tuan,” jawab Liam singkat.

Beberapa menit kemudian, keduanya melangkah keluar dari mansion megah itu. Deretan pelayan membungkuk memberi salam, sementara mobil hitam mewah sudah menunggu di halaman depan.

Pintu dibuka, Lucane masuk lebih dulu diikuti Liam. Mesin mobil berderu halus, meninggalkan halaman luas dan taman berhiaskan mawar putih yang tampak berkilau di bawah sinar pagi.

* * * *

Ruang keluarga mansion Alexander tampak seperti museum kejayaan langit-langit tinggi, lukisan berbingkai emas, dan lantai marmer yang memantulkan cahaya sore. Namun keheningan yang mengendap di dalamnya terasa lebih berat daripada kemewahan mana pun.

Di kursi kayu mahoni favoritnya, duduk Lexa Alexander, wanita tua yang dulu dikenal sebagai “Singa Perempuan Keluarga Alexander” kini rapuh, namun tatapannya tetap setajam dulu.

Di depannya, berdiri Lucane Alexander, cucu kebanggaannya. Pria tampan itu, dengan setelan hitam yang selalu rapi, memancarkan aura dingin dan tak tersentuh seorang pewaris yang dipahat oleh tuntutan, bukan oleh pilihan.

Lexa menutup selimut tipis di pangkuannya, pandangannya tidak lepas dari cucunya.

“Nana rasa… ini sudah waktunya kamu menemui gadis itu, Luc.”

Suara Lexa lembut, tapi tegas. Ada getaran halus di dalamnya ketakutan yang tidak ia ucapkan.

Lucane melepaskan napas pendek, menahan emosi yang bahkan ia sendiri tak mau akui.

“Na… Lucane sangat sibuk. Ini mungkin belum waktu yang tepat.”

Nada bicaranya datar, namun ujung jarinya yang mengetuk pelan meja menunjukkan kegelisahan yang ia sembunyikan.

Lexa tersenyum miring, senyum yang mengandung lebih banyak luka daripada kebahagiaan.

“Sibuk?”

Ia menggeleng perlahan.

“Kamu selalu sibuk, Nak. Dari dulu sampai sekarang. Kalau kamu menunggu waktu yang tepat… waktu itu tidak akan pernah datang.”

Lucane menoleh, berusaha menyembunyikan kilatan rasa bersalah di balik tatapan dingin khasnya.

Ia membenci pembicaraan ini. Bukan karena ia tak peduli tapi karena dia terlalu peduli.

Lexa lalu bersandar lemah ke kursinya. Dan untuk pertama kali dalam beberapa bulan terakhir, suara ringkihnya pecah.

“Umur Nana… tidak lama lagi, Luc.”

Ia menatap cucunya dengan mata tua yang mulai berkaca sesuatu yang jarang sekali terjadi.

“Lalu kamu ingin menunggu apa? Menemui gadis itu saat Nana sudah tidak ada?”

Kata-kata itu menghantam Lucane lebih kuat daripada tamparan.

Rahangnya mengeras. Matanya bergetar. Suara nafasnya terdengar berat.

Kenangan pun melintas di kepalanya bagaimana Lexa satu-satunya yang berdiri di sisinya saat semua orang memperlakukannya seolah dia hanya mesin pewaris.

Satu-satunya yang memanggilnya Luc.

Satu-satunya yang pernah memeluknya saat ia kehilangan ibu dan ayahnya dalam satu malam penuh tragedi.

Ia menunduk sedikit, seolah mencoba menahan dunia agar tidak runtuh.

“Na…” suaranya serak, tidak seperti biasanya.

“Jangan bicara seperti itu.”

Lexa tersenyum lembut, mengelus tangan cucunya dengan tangan keriput yang dulu kuat.

“Nana tidak minta banyak. Nana hanya ingin melihat kamu punya arah… sebelum waktu Nana habis.”

Lucane terpaku.

Ia bisa menghadapi bisnis, musuh, bahkan dunia kriminal yang ia pimpin diam-diam.

Namun menghadapi kemungkinan kehilangan satu-satunya keluarga yang ia cintai… itu yang membuatnya gentar.

Keheningan jatuh di antara mereka. Berat, penuh perasaan yang tidak terucap.

Dan untuk pertama kali, dingin di mata Lucane mulai mencair.

Ada luka, ada takut, ada rindu akan masa-masa ketika dunia belum menuntutnya menjadi seseorang yang tak boleh menunjukkan kelemahan.

“Baik, Na…”

Ia akhirnya berbisik, hampir tak terdengar.

“Lucane akan menemui gadis itu.”

Lexa menutup matanya sejenak, menghembuskan napas lega.

Untuknya, jawaban itu lebih berharga daripada seluruh kekayaan keluarga Alexander.

* * * *

Berbeda dengan Jema, Pagi itu langit tampak begitu cerah, udara terasa hangat dan penuh semangat baru. kini Jema sudah menjadi gadis biasa tanpa senjata.

Jema melangkah keluar dari apartemennya dengan tampilan yang rapi dan profesional kemeja peach disetrika sempurna, celana panjang hitam, dan rambut yang diikat sederhana namun tetap menawan. Tidak ada yang akan menyangka bahwa di balik wajah cantik dan senyum ramah itu, menyimpan sisi gelap yang begitu mematikan.

Selain pekerjaan rahasianya sebagai pembunuh bayaran elit, Jema juga punya kehidupan “normal” sebagai staf di sebuah perusahaan swasta ternama.

Sesampainya di kantor, Jema segera melangkah masuk melewati lobi yang ramai. Beberapa rekan kerja sudah sibuk di meja masing-masing, sementara aroma kopi segar memenuhi udara. Begitu melihat Jema datang, beberapa dari mereka langsung tersenyum.

“Pagi, Jema!” sapa salah satu rekan dari meja akuntansi.

Dengan gaya khasnya yang random dan penuh energi, Jema melambaikan tangan. “Pagi juga! Kalian kelihatan capek banget, semalam begadang mikirin laporan ya?” candanya sambil tertawa lepas.

Suasana kantor yang semula tenang mendadak terasa lebih hidup karena kehadirannya. Ia dengan santai meletakkan tas di meja, lalu duduk sambil membuka laptop. Tak jarang ia menyelipkan lelucon atau komentar spontan yang membuat teman-temannya tertawa.

Namun di balik tawa itu, tatapannya sesekali kosong dingin dan tajam, seperti seseorang yang memantau sesuatu dari balik bayangan. tentu saja Jema masi terbiasa dengan kewaspadaan.

* * * *

Jam makan siang tiba, suasana kantin kantor terasa riuh oleh obrolan dan tawa para karyawan yang melepas penat setelah setengah hari bekerja. Di salah satu meja pojok yang dekat jendela besar, Jema duduk bersama beberapa temannya Eve, Elli, Anne, dan dua rekan lainnya.

Aroma makanan khas kantin tercium samar, bercampur dengan tawa mereka yang sesekali pecah di antara percakapan ringan.

“Kalian tahu tidak? Minggu depan Vella akan menikah! Dan katanya, dia mengundang kita semua,” ucap Eve dengan nada antusias sambil menyeruput jusnya.

“Serius? Wah, ini pasti seru banget!” sahut Elli sambil menepuk meja kecil di depannya.

“Jema, kali ini kamu wajib datang dan... bawa pasangan, ya,” goda Anne sambil menaikkan alis nakal.

Jema hanya tersenyum polos, menatap sendok di tangannya seolah tak peduli. Dalam hati ia bergumam, “Pasangan? Memikirkannya saja aku tidak pernah …”

“Benar, Jema, di antara kita semua cuma kamu yang masih sendiri,” tambah salah satu rekan lain sambil terkekeh.

“Iya tuh, awas keburu jadi perawan tua!” celetuk Elli yang langsung membuat semua orang tertawa.

Jema ikut tertawa ringan, meski nada suaranya lebih santai dari yang lain. “Aku terlalu sibuk, kalian tahu kan… kalau aku kerja lembur hampir tiap malam,” ujarnya sambil mengangkat bahu pura-pura pasrah.

“Sibuk? Hmm... kayaknya aku harus daftarin kamu ke biro jodoh deh, Jem,” sahut Eve dengan nada menggoda. Ucapannya membuat semua orang tertawa semakin keras.

“Hey! Apa kalian pikir aku ini tidak laku, hah?” protes Jema, mencoba menahan tawa, wajahnya berpura-pura kesal tapi justru membuat teman-temannya semakin terpingkal.

Suasana meja itu pun dipenuhi canda tawa hangat, membuat semua orang lupa sejenak pada stres pekerjaan.

dari kejauhan seorang pria juga asik melihat pemandangan indah itu, jema yang tertawa penuh energi.

* * * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!