Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!
Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.
Namur, takdir berkata lain.
saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.
" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "
Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Diplomasi Nasi Bungkus
Pagi itu, Gedung Darmawan Tower yang berlapis kaca antipeluru tampak sangat angker. Para karyawan berpakaian jas ribuan dollar berlalu-lalang dengan wajah tegang. Di tengah kemewahan itu, pintu lobi otomatis terbuka, dan masuklah sebuah bencana visual yang berjalan.
Bara melangkah dengan percaya diri. Penampilannya hari ini sangat "niat":
Atasan: Kaos partai warna oranye mencolok dengan tulisan "PILIH SAYA, HIDUP SEJAHTERA" yang sudah luntur di bagian ketiak.
Bawahan: Celana kolor batik motif parang yang saking longgarnya hampir melorot setiap sepuluh langkah.
Alas Kaki: Sandal Swallow warna ungu (yang dia temukan di depan masjid kemarin)
Aksesori: Tas kresek hitam berisi nasi bungkus yang baunya menembus sistem filtrasi udara gedung.
"Sore, Mbak. Saya ada janji sama Pak mawan-mawan ada gak," ucap Bara pada resepsionis cantik yang wajahnya langsung pucat pasi seperti melihat zombi.
Bos nya telah memerintahkan sebelumnya, jangan halangi Bara untuk masuk bagaimana pun kekonyolan yang dia buat.
Sepuluh menit kemudian, Bara sudah duduk di sofa kulit asli di ruangan kantor Darmawan yang luasnya setara lapangan futsal. Di seberangnya, Darmawan duduk dengan wajah kaku, sementara Rico berdiri di pojokan dengan tatapan ingin memakan Bara hidup-hidup.
"Bara... Terimakasih telah menghadiri undangan saya, tapi apa-apaan penampilan kamu ini?" desis Darmawan, matanya merah menahan murka.
"Penampilan itu fana, Om. Yang nyata itu lapar," jawab Bara santai. Dia membuka nasi bungkusnya di atas meja marmer Italia milik Darmawan. Aroma sambal terasi dan jengkol langsung memenuhi ruangan.
"Om mau? Ini jengkolnya pilihan, saya rendam pakai air rawa hutan dulu biar aromanya... legendary," Bara menyodorkan sepotong jengkol dengan tangan kosong.
Darmawan hampir muntah. "To the point saja, Mari bicara soal resep 'Nusantara Glow' itu,"
Darmawan memajukan tubuhnya. "Akui saja bahwa itu adalah pengembangan dari Resepku saat masih bekerja dengan orang tua mu dulu, maka aku akan memberimu jalan keluar yang terhormat, dan akan menyerahkan 20 persen usaha ku ini." Darmawan menggantung kata-katanya di udara menatap mata pemuda yang tampak tak peduli itu kemudian lansung menancapkan ancaman terakhir.
" Jika tidak, saya pastikan kamu tidak bisa keluar dari sini hidup-hidup dan wanita-wanita mu akan selalu dalam bahaya walaupun kau telah banyak merekrut pasukan pelindung"
Inilah rencana busuk yang telah Darmawan rancang. Di bawah meja, sebuah tombol perekam telah aktif, dan kamera-kamera mikroskopis telah siap mengabadikan setiap kata yang keluar dari mulut Bara sebagai barang bukti pencurian aset intelektual, maknanya Darmawan ingin menjebak bara mengakui kalau resep-resep produk yang pernah Bara buat ada ciptaan dari Darmawan.
" Oppp...santai aja dulu om, tunggu sampai saya selesai makan baru kita bicarakan soal itu," Bara mulai mengunyah dengan suara keras (cap-cup-cap).
"Saya dengar Om lagi pusing ya mikirin hutang? Terus Saham 'Darmawan Group' lagi kayak roller coaster yang remnya blong, pasti akibat minuman Mega-Boost itukan, sehingga saham yang om pegang pribadi, harus di jual ke pasar saham untuk nutupin utang."
Bara melanjutkan bicaranya dengan sangat cerdas namun tetap sambil menjilati jari-jarinya yang berminyak.
"Om tahu tidak? Psychological Support Level saham Om itu sudah tertembus. Investor itu kayak kucing, Om. Kalau dikasih ikan busuk—maksud saya produk 'Mega-Boost' yang bikin orang impoten—mereka bakal lari ke majikan lain."
Bara terus membual tentang yang dia ketahui sambil bercanda.
Darmawan terpukau sekaligus bingung. Dia mencoba mendebat, tapi argumen Bara soal makroekonomi sangat masuk akal sehingga Darmawan lupa waktu. Ia merasa sedang berhadapan dengan hantu ayahnya Bara yang sangat pintar, namun dalam wujud yang sudah hancur harga dirinya.
Tanpa Darmawan sadari, sesi pertama bursa saham sedang berlangsung dengan panas.
Sementara Bara sibuk "menyuapi" Darmawan dengan teori ekonomi dan aroma jengkol. Di ruko mereka, Viona dan Alisa sedang melakukan serangan mematikan.
Di bawah sorotan lampu studio yang dingin, Viona berdiri. Ia tampak seperti sebilah pedang yang baru saja diasah—rambutnya yang tertata rapi memantulkan cahaya, sementara matanya mengunci setiap lensa kamera yang tertuju padanya.
Di depannya, puluhan wartawan ekonomi berdesakan, namun suasananya senyap seolah-olah mereka sedang menunggu vonis sejarah.
"Hari ini, Golden Spoon Group tidak sekadar mengumumkan sebuah kerja sama," suara Viona memecah keheningan, tenang namun memiliki resonansi yang menggetarkan ruangan. "Kami sedang mendeklarasikan sebuah era baru. Sebuah penggabungan total dengan Nusantara Glow Farmasi."
Viona terdiam sejenak, membiarkan kalimat itu meresap ke dalam kesadaran publik.
"Kami akan membangun ekosistem kesehatan dan kuliner pertama yang berbasis Alkimia Murni. Target kami sederhana namun absolut: menguasai delapan puluh persen pasar suplemen nasional dalam satu kuartal."
"Kami bukan sedang bersaing dengan pasar; kami sedang menciptakan pasar yang baru."
Dunia digital tidak mengenal belas kasihan. Seketika, di lantai bursa yang berjarak beberapa kilometer dari sana, layar-layar monitor raksasa mulai berkedip liar. Angka-angka hijau untuk Golden Spoon melonjak tajam, menciptakan grafik vertikal yang seolah ingin menembus langit-langit.
Sebaliknya, saham Darmawan Group berubah menjadi lautan merah yang berdarah. Para investor—yang selama ini bertahan di bawah bayang-bayang Darmawan—mulai panik. Mereka melihat "Matahari Lama" yang sedang meredup akibat skandal, dan mereka tidak ingin tenggelam bersamanya.
"Jual! Lepaskan seluruh lot saham Darmawan!" teriak seorang pialang di tengah keriuhan lantai bursa.
Eksekusi itu terjadi dalam hitungan milidetik. Uang bernilai triliunan rupiah berpindah tangan secara digital, mengalir deras menuju entitas baru yang baru saja diproklamirkan Viona.
Di lantai tiga ruko, Alisa duduk di depan barisan layar monitor yang diawasi oleh tim broker elit. Wajahnya yang baby face tampak sangat dingin saat dia melihat grafik saham Darmawan yang terjun bebas.
"Target harga tercapai. Saham Darmawan menyentuh angka terendah dalam 10 tahun," lapor salah satu broker.
"Beli," perintah Alisa pendek. "Beli semuanya. Gunakan seluruh uang Jangan sisakan satu lot pun untuk orang lain."
Ribuan transaksi terjadi dalam hitungan detik. Menggunakan akun-akun samaran 'The Green Ghost', Alisa memanen saham Darmawan yang sedang dibuang oleh investor yang ketakutan.
Kembali ke kantor Darmawan. Jam menunjukkan pukul 12.00 WIB. Sesi pertama bursa saham ditutup.
Darmawan baru saja hendak menanggapi argumen Bara, tapi obrolan itu terputus ketika sekretarisnya masuk dengan wajah sepucat kapas.
"Pak... Bapak harus lihat ini," ucap sekretaris itu gemetar sambil menyerahkan tablet.
Darmawan melihat layar. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Harga sahamnya hancur. Dan yang lebih mengerikan, ada laporan struktur pemegang saham terbaru yang masuk ke sistem bursa.
"60 persen...?" desis Darmawan. "Siapa... siapa 'The Green Ghost' yang membeli 60 persen saham perusahaanku?!"
Bara berdiri, membersihkan sisa nasi bungkusnya dengan tisu meja Darmawan yang mahal, lalu membuang sampahnya tepat di tempat sampah kecil di samping kaki Darmawan.
"Oh, itu saya, Om," jawab Bara santai.
Darmawan mendongak. "Kamu?! Mana mungkin kamu punya uang sebanyak itu?!"
"Uang lelang kemarin cukup buat DP, sisanya dibantu Pak Surya, ayah Rani dan Viona," Bara menyeringai.
"Om Darmawan, selamat. Sekarang Om adalah pemegang saham minoritas di perusahaan Om sendiri."
Rico yang tadi diam saja, langsung teriak. "KAU MENIPU KAMI, GEMBEL! AYAH, USIR DIA!"
"Usir?" Bara tertawa terbahak-bahak, lalu dia duduk di atas meja kerja Darmawan, membuat kacamata hitam patahnya berkilau. "Rico, sayangku... di atas kertas, sekarang saya adalah Pemilik Gedung Ini. Justru saya yang harus tanya: Kalian mau pergi sendiri, atau saya suruh pasukan di bawah buat angkut kalian pakai truk sampah?"
"Kalian ingin menjebakku dalam skema palsu permainan anak-anak, tapi kalian tidak tau kalau saya datang kesini bukan hanya nekat tapi dengan persiapan yang matang"
Darmawan jatuh terduduk di kursinya. Dia merasa bodoh. Selama dua jam dia didebat oleh gembel soal ekonomi hanya agar dia tidak sempat melihat layar monitornya.
"Kamu... kamu merencanakan ini sejak awal..." gumam Darmawan.
"Tentu," Bara berdiri, merapikan kolor batiknya. "Om mencuri perusahaan ayah dan ayah Alisa dengan cara yang kotor. Saya membelinya kembali dengan cara yang... yah, sedikit amis bau jengkol. Tapi secara hukum, saya adalah raja baru di sini."
Bara berjalan menuju pintu, tapi berhenti sejenak.
"Oh ya, Om. Besok ada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Saya mau Om datang, jangan sampai telat."
Bara keluar dari ruangan itu dengan suara sandal Swallow-nya yang plok-plok-plok sangat keras, meninggalkan Darmawan yang hancur dan Rico yang berteriak tanpa suara.
Di lobi, Bara bertemu dengan Alisa yang sudah menunggunya dengan mobil mewah.
"60 persen, Bara," Alisa tersenyum
"Kita berhasil."
"Belum, Al," jawab Bara sambil menatap ke puncak gedung. "Ini baru akuisisi. Besok, kita akan mulai pembersihan total."