NovelToon NovelToon
Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Razif Tanjung

Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!

Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.

Namur, takdir berkata lain.

saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.

" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "

Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Dendam Kecil Terbalaskan

Sehari setelah RUPS yang berdarah , Bara berdiri di lobi utama Darmawan Tower. Gedung 40 lantai itu kini secara resmi berganti nama menjadi "Menara Alkimia Nusantara".

Sesuai perintah Alisa, hari ini adalah hari "Pembersihan Total".

Bara berdiri di atas podium lobi, masih dengan kaos partai oranye-nya, tapi kali ini ia memakai sandal Swallow hitam-emas yang dibelikan Alisa.

Di belakangnya, 70 personel tim khusus kiriman berjaga dengan seragam elit yang baru.

"Perhatian semuanya!" teriak Bara lewat toa pengeras suara. "Nama saya Bara. Saya bos baru kalian. Yang tidak suka, pintu keluar ada di sebelah sana, silakan ambil pesangon dan jangan lupa bawa pot bunga di meja kalian!"

Ribuan karyawan menunduk. Mereka ketakutan melihat Bara yang menurut mereka seperti orang gila yang suka ngejar orang.

Saat sudah jam kerja selesai dan kantor itu sepi pada malam hari yang berbintang.

Bara mengajak Alisa, Viona, dan Rani (sang Polwan) naik ke lantai 35—Sebuah tempat dimana terdapat laboratorium rahasia.

Begitu pintu lift terbuka, bau kimia yang tajam menusuk hidung. Ruangan itu penuh dengan tabung-tabung baja raksasa yang tidak lazim.

"Bara, lihat ini," Alisa menunjuk sebuah mesin ekstraksi besar. "Ini bukan mesin farmasi biasa. Ini mesin untuk mengolah logam berat menjadi cairan."

Bara mendekati salah satu tangki. Ia mengusap residu hijau di bibir tangki, lalu menciumnya. Wajahnya mendadak berubah kaku.

"Ini bukan obat," desis Bara. "Sepertinya Darmawan dan Sindikat itu sedang mencoba membuat 'Serum yang bisa menundukkan orang alias jadi budak'. Mereka mencampur zat adiktif ke dalam produk kesehatan agar masyarakat ketagihan dan perlahan-lahan kehilangan kehendak bebas."

"Itu gila!" seru Rani sambil terus menatap cairan itu dengan tangan di dagu "Itu kejahatan kemanusiaan!"

"Sepertinya Itulah cara mereka berkuasa," jawab Bara. "Bukan dengan senjata, tapi dengan apa yang akan diminum setiap hari."

Bara kemudian masuk ke ruang kerja mantan kantor Darmawan. Ia langsung menuju kursi kebesaran CEO yang bisa memijat otomatis.

"Ahhhh... ini dia, ini baru yang namanya hidup!" Bara duduk dan menekan tombol Power. Bzzzzzzz... "Al! Viona! Coba deh, kursi ini bisa memijat bokong dengan sangat presisi! Jauh lebih enak daripada batu kali di hutan!"

Viona memutar bola matanya. "Bara, kita sedang membahas konspirasi global yang ingin mencuci otak manusia, dan kamu malah sibuk menikmati pijat bokong"

"Hidup harus seimbang, Bos," sahut Bara sambil memejamkan mata. "Lagipula, kursi ini harganya pasti mahal. Sayang kalau gak dimanfaatin dengan baik."

Alisa mendekat, wajahnya serius. "Bara, ada satu masalah. Data riset utama tentang 'Formula Keabadian' milik ayahmu yang dicuri Darmawan... tidak ada di server gedung ini. Organisasi itu pasti sudah membawanya."

Bara berhenti memijat. Ia bangkit dari kursi, wajahnya kembali dingin.

"Untuk sementara kita hanya bisa menunggu" Bara menyeringai. "Aku sudah menanam 'kutu' alkimia di pakaiannya waktu itu, sekarang Setiap langkah Maximilian bisa terdeteksi oleh radar jam tangan alkimiaku."

Bara menunjukkan jam tangan digital murahnya yang sudah ia modifikasi dengan kristal pemancar. Sebuah titik merah berkedip-kedip di peta dunia, bergerak menuju ke suatu daerah yang tanpa tersentuh hukum.

"Titik ini berhenti disana, kemungkinan itu adalah markas mereka" ucap Bara. "Tapi sebelum itu. Viona, umumkan bahwa semua produk yang telah di edarkan Darmawan ditarik dari pasar dan diganti dengan buatan kita."

Malam itu, lampu di Menara Alkimia Nusantara menyala di bawah pimpinan Bara yang konyol namun jenius, perusahaan yang dulunya adalah sarang ular kini berubah menjadi warung komedi (akibat ulah Bara yang konyol). Perang melawan Sindikat Alkimia Hitam baru saja dimulai, dan Bara sudah menyiapkan "sandal peluncur"-nya untuk melompat ke panggung dunia.

Malam berganti pagi sekejap mata di lantai atas Menara Alkimia Nusantara, Bara sedang menatap sebuah peta. Pikirannya melayang pada rencana keberangkatan ke luar negeri tiga hari lagi—sebuah misi rahasia untuk melacak dalang di balik kehancuran keluarganya.

"Tiga hari lagi aku akan pergi mencari jawaban itu," gumam Bara. Namun, perutnya tiba-tiba berbunyi keroncongan, bukan karena lapar belum makan, tapi lapar akan hiburan. "Tapi sebelum aku menghadapi ular-ular internasional, aku butuh 'pemanasan' di tempat semuanya bermula."

Bara memutuskan untuk melakukan ritual pembersihan jiwa. Ia menanggalkan jas mahalnya, lalu membongkar lemari khusus "kostum dinas luar".

Sepuluh menit kemudian, keluarlah sosok yang akan membuat desainer baju manapun menangis darah. Bara mengenakan kaos partai warna kuning yang gambar tokohnya sudah retak-retak, celana pendek kolor motif macan tutul yang talinya diganti kabel casan rusak, dan kacamata hitam yang lensa kirinya hilang satu.

"Sempurna," ucap Bara sambil bercermin. Ia kemudian melirik kakinya. "Sandal Swallow hijau di kiri, merah di kanan. Keseimbangan kosmik telah kembali."

Ia turun lewat lift barang (karena kalau lewat lobi utama, sekuriti pasti akan langsung menelepon RS Jiwa) dia lupa statusnya sebagai seorang CEO kali ya. Ia memacu The Black Chariot—motor gerobaknya yang kini sudah ia pasangi knalpot racing hasil rakitan alkimia yang suaranya seperti naga tersedak biji salak.

Pasar utama masih sama seperti dulu: becek, bau amis, dan penuh dengan teriakan pedagang yang saling menjatuhkan harga. Kehadiran Bara langsung menarik perhatian.

"Woy! Si gembel pencuri balik lagi!" teriak tukang parkir yang mengenali Bara.

Bara tidak peduli. Ia berjalan bak orang gila menghampiri sebuah toko "Roti sedap" milik Juragan Tono. Pria tambun itu masih duduk di kursinya yang kekecilan, dengan wajah yang lebih galak dari biasanya.

Bagi yang lupa tempat ini adalah sebuah titik balik dari kehidupan Bara yang sekarang dan juragan tono adalah pemicunya di Bab 1.

Kebetulan, saat Bara sampai, Tono sedang memaki seorang nenek tua pemulung yang tidak sengaja menyenggol tumpukan roti di etalasenya.

"Pergi kamu! Gembel kotor! Roti saya jadi bau sampah gara-gara kamu" teriak Tono sambil mengangkat sebuah kayu seukuran dua jari "Mau saya gepruk pakai ini lagi, hah?!"

"Waduh, waduh! Tuan Roti masih tidak bisa mengubah hobinya ya?" celetuk Bara dengan tawa melengking khas orang gila.

Tono menoleh, matanya melotot. "Kamu?! Si gembel yang waktu itu?! Mau apa kamu?!" Ucap Tono panik teringat akan kejadian di Bab 1, tapi insting tukang pukulnya aktif kembali.

"Mau maling roti saya lagi kamu? Pergi atau saya hajar kamu pakai kayu ini"

Bara mendekat, kepalanya miring ke kiri, matanya menyipit menatap wajah Tono seolah sedang melihat bakteri mikroskopis.

"Nyolong roti Bapak? Ogah! Roti Bapak itu kalau dilempar ke kolam, ikannya bukannya makan malah meninggoy, saking basinya tuh roti"

"KURANG AJAR!" Tono hendak memukul Bara, tapi tiba-tiba Bara mengangkat tangan kanannya dengan gerakan sangat teatrikal.

"STOP! Jangan mendekat, saya sudah mandi!" teriak Bara. "Pak Tono, saya kasih tahu ya... kulit Bapak itu warnanya sudah mirip kunyit basi. Mata Bapak kuning keruh, dan napas Bapak... ugh, bau amonia dicampur ragi busuk. Bapak merasa sering gatal-gatal di malam hari dan perut kanan atas rasanya kram seperti diremas tangan setan, kan?"

Tono tertegun. Tangannya yang memegang kayu mendadak gemetar. "Bagaimana kamu bisa tau?"

"Rahasia hehehe" Bara tertawa lagi, lalu berbisik dengan nada misterius. "Bapak itu kena Kalsifikasi Kantung Empedu Stadium Akut. Sebentar lagi, batu-batu di dalam empedu Bapak itu bakal menyumbat saluran darah. Dalam hitungan lima menit, Bapak bakal merasa seperti ditusuk tombak dari dalam."

"Halah! Kamu cuma mau nakut-nakutin biar dikasih roti gratis kan?, gak mempan sama saya mah" Tono mencoba tertawa, tapi sedetik kemudian...

"AAAAAKKKKKH!"

Tono terjatuh dari kursinya. Ia memegangi perutnya dengan wajah yang berubah biru. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras. Penonton pasar langsung berkerumun.

"Weh wehhh ..kenapa tuh... kenapa tuh" ucap salah satu bapak-bapak yang lagi pegang hp dengan kamera menyala, konten dulu, bantu bisa dengan doa.

"Tolong... sakit... panggil ambulans!" rintih Tono sambil berguling-guling di lantai pasarnya yang kotor.

Bara malah jongkok di sampingnya sambil asyik mengorek kuping. "Ambulans lama, Pak. Lima menit lagi Bapak akan pingsan, terus bangun-bangun sudah di alam barzah."

"Tolong saya, Kamu kan tahu penyakitnya, pasti ada obatnya!" Tono memohon, tangannya yang kotor mencoba memegang sandal Swallow Bara.

"Ada sih," Bara mengeluarkan sebuah botol plastik kecil berisi cairan berwarna biru neon dari saku kolor macannya. "Ini namanya 'Serum Penghancur Kerak Jiwa'. Satu tetes, batu empedu Bapak hancur jadi debu. Tapi..."

Bara berdiri, menatap kerumunan orang-orang pasar dengan gaya khasnya.

"Saya tidak sudi kasih obat ini ke orang yang hatinya keras, enggan berbagi seperti bapak"

"Tapi kali ini saya bisa buat pengecualian Pak Tono, saya tanya Bapak mau sembuh atau mau jadi kenangan di buku Yasin?!"

"Sembuh! Saya mau sembuh!"

"Kalau begitu, minta maaf sekarang!" bentak Bara. "Minta maaf sama nenek yang Bapak hina tadi! Minta maaf sama semua rakyat kecil di pasar ini yang sering Bapak tindas! Lakukan dengan tulus, atau obat ini saya minum sendiri!"

Tono, dengan sisa tenaganya dan rasa sakit yang tak tertahankan, merangkak ke arah nenek pemulung tadi. "Nek... maafkan saya... saya sombong... saya berdosa..."

Nenek itu mengangguk dengan air mata di pipinya yang merah sepertinya habis dipukuli tono. Tono kemudian berteriak ke arah pedagang lain, "MAAFKAN SAYA SEMUANYA!"

Bara menyipitkan mata. "Satu syarat lagi! Mulai besok, setiap hari Jumat, Bapak harus bagi-bagi roti gratis sebanyak dua keranjang untuk pemulung dan fakir miskin! Dan tiap bulan, 20% keuntungan Bapak harus disedekahkan! Sanggup?!"

"Sanggup! Saya janji!" rintih Tono.

Bara tersenyum puas. Ia membuka botol itu dan meneteskan cairannya ke mulut Tono. "Ingat ya, ramuan ini hanya bekerja kalau Bapak jujur. Kalau Bapak bohong, batu empedunya bakal tumbuh lagi sebesar melon." Ucap bara untuk sekedar menakuti padahal orang yang sudah sembuh dengan ramuannya jarang terkena penyakit yang sama.

Lima detik kemudian...

wajah biru Tono langsung kembali kemerahan. Rasa sakitnya hilang seketika.

Tono bangkit berdiri, ia merasa tubuhnya ringan sekali. "Luar biasa... saya sehat! Saya merasa seperti lahir kembali!"

Tono hendak merogoh dompetnya yang tebal, tapi Bara sudah melenggang pergi meninggalkan Tono dan kerumunan manusia yang berbisik-bisik tetangga itu.

tak lupa sebelum pergi Bara menyerahkan beberapa lembar uang warna merah untuk nenek-nenek yang tadi.

Sekali lagi nama tabib gila menjadi terkenal.

Di tengah jalan, Bara tersenyum. Balas dendam kecil ini memberikan energi tambahan untuknya. Namun, di sudut hatinya, ia sudah mulai waspada.

"Darmawan sudah hancur, tapi bayangan yang menghancurkan keluargaku masih ada," batin Bara. "Misi luar negeri tiga hari lagi... tunggu aku, kalian yang sudah membuat keluargaku menderita. Aku akan datang dengan sandal Swallow-ku!"

Bara tidak tahu, bahwa di sebuah ruangan gelap di luar negeri, seseorang sedang menatap layar radar yang menunjukkan posisi perusahaan Darmawan yang sudah di ambil alih, pria itu tersenyum seperti merencanakan sesuatu.

1
Dian Mardianto
keren mas bara..
Dian Mardianto
real banget
Dian Mardianto
kenapa harus ke hutan Thor.. ga cari kos kosan Deket pasar..jualan obat.. 😄
Razif Tanjung: apalah daya ku yang kekurangan uang ini🤭🤭🤭
total 1 replies
Dian Mardianto
ahli kimia emang beda..😄😄😄😄🤣
Razif Tanjung: Terimakasih udah mampir 🙏🙏
total 1 replies
Dian Mardianto
bagus..
Dian Mardianto
😄😄😄
Dian Mardianto
baca nih.. keajaiban turun di Negera sendiri..
anggita
penampilan yg wouu...😯
Razif Tanjung
kak apakah ada disini yang bisa memberikan saya saran, saya merasa novel ini kurang bagus, adakah dari teman-teman bisa menyebutkan kesalahan saya, atau adakah yang bisa saya perbaiki, saya mohon dengan sangat harap jika teman-teman memberikan saya kritikan Tetang karya saya.🙏🙏🙏🙏
Razif Tanjung: di bagian mana nya kak, apakah ada saran kak🙏🙏🙏
total 2 replies
Aman Wijaya
tambah lagi updatenya Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
gaaas terus
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor lanjut
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Aman Wijaya
mantul Thor semangat semangat semangat
Gege
koleksi mulu ga ada adegan kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu ya sama aja MC nya Kasim..🤣🤭
Razif Tanjung: Tidak... Nanti jdi novel 18+🤣🤣🤣, belum ada kepikiran buat bikin nya, kalau ada ide lain boleh tuh aku tampung saran nya dong kak🤭🤭
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz jooooz gandos lanjut terus Thor semangat semangat semangat
Achmad
semangat Thor
Achmad
gasss
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut
Aman Wijaya
top top markotop bara lanjut terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!