Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 27_Benteng di Jantung Kota
Anya masuk ke ruangan itu dengan langkah ragu, ia melihat Marco terbaring lemah, kemejanya diganti dengan jubah rumah sakit berwarna abu-abu.
Wajahnya pucat, tapi saat ia melihat Anya masuk, ada binar di matanya yang seolah-olah memberinya nyawa tambahan.
"Kemarilah," bisik Marco, suaranya masih serak karena pengaruh obat bius.
Anya mendekat dan duduk di kursi di samping tempat tidur, ia tidak menunggu perintah Marco tapi ia langsung menggenggam tangan pria itu, sebuah gerakan yang kini terasa alami bagi mereka berdua.
"Kamu sudah melewati masa kritis," ucap Anya pelan.
"Dokter bilang jahitan di perutmu sudah diperbaiki, dan peluru di bahumu tidak mengenai tulang." ucapnya lagi.
Marco tersenyum tipis, sebuah senyum yang tampak letih. "Terima kasih sudah membawaku kembali, Anya. Aku tahu... aku tahu betapa besarnya godaan untuk membiarkanku tenggelam malam itu."
Anya menunduk, menatap jari-jari Marco yang panjang dan kasar. "Aku melakukannya untuk diriku sendiri, Marco. Jika kamu mati, aku akan selamanya terjebak dalam rasa bersalah, aku ingin bebas darimu tapi bukan dengan cara melihatmu jadi mayat."
Marco meremas tangan Anya dengan sisa tenaganya. "kamu tidak akan pernah benar-benar bebas dariku, Anya. Tapi aku berjanji, mulai sekarang, sangkarmu tidak akan terasa seperti penjara. Kita akan menghadapi Antonio, dan setelah itu... dunia ini akan tahu bahwa menyentuhmu adalah kesalahan terbesar yang pernah mereka buat."
Dua hari kemudian, meskipun masih dalam masa pemulihan, Marco memaksa untuk mengadakan pertemuan strategis.
Ia duduk di atas tempat tidurnya yang disandarkan tegak, sementara sebuah meja digital besar diletakkan di depannya.
Bram berdiri di ujung ruangan, sementara Anya duduk di sisi lain tempat tidur, mengamati peta digital Jakarta yang menyala terang.
"Antonio bersembunyi di dermaga peti kemas utara," lapor Bram.
"Dia tahu kita selamat, sekarang dia sangat putus asa, dia mulai menarik semua asetnya dari luar negeri untuk membayar tentara bayaran tambahan, dia tahu jika Tuan Marco pulih sepenuhnya, dia sudah tamat."
Marco menatap peta itu dengan mata yang dingin dan penuh perhitungan.
"Dia pikir dia bisa bersembunyi di antara tumpukan besi itu? Dia lupa bahwa aku yang memiliki sistem logistik di sana."
Marco kemudian menoleh ke arah Anya. "Anya, apa yang kamu lihat di peta ini?"
Anya terkejut karena dilibatkan. Ia menatap titik-titik merah yang merupakan lokasi anak buah Antonio.
"Ada celah di sektor barat dermaga, jika kamu menyerang dari sana, mereka akan terpojok ke arah laut. Tapi itu terlalu terbuka. kamu akan butuh pengalihan."
Bram tampak terkesan dengan pengamatan Anya. "Nona benar. Antonio mengharapkan serangan frontal dari gerbang utama."
Marco tersenyum bangga. "Gadisku sudah mulai belajar berpikir seperti singa. Bagus."
"Aku tidak ingin menjadi singa, Marco," sela Anya dengan nada tegas.
"Aku hanya ingin perang ini selesai, aku tidak ingin ada lagi desa nelayan yang terancam atau orang seperti Maya yang harus mati hanya karena mereka mengenalku."
Marco terdiam, tatapan posesifnya kini bercampur dengan rasa hormat yang mendalam.
Ia menyadari bahwa Anya bukan lagi sekadar objek obsesinya tapi Anya adalah kompas moralnya yang paling tajam.
"Maka kita akan menyelesaikannya malam ini," ucap Marco dingin.
"Bram, siapkan unit elit, gunakan strategi pengalihan di sektor barat seperti yang Anya katakan. Tapi aku ingin serangan utama dilakukan melalui jalur bawah tanah limbah dermaga yang tidak mereka ketahui."
"Tapi Tuan, Anda belum bisa turun ke lapangan," ujar Bram khawatir.
"Aku tidak perlu turun untuk menarik pelatuknya," Marco menunjuk kepalanya.
"Aku akan memimpin dari sini dan Antonio... aku ingin dia dibawa ke sini hidup-hidup. Aku punya hutang rasa takut yang harus dia bayar atas apa yang dia lakukan pada Anya."
Setelah Bram keluar ruangan itu kembali hening, Anya berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke gemerlap lampu Jakarta.
Kota ini tampak begitu indah dari sini, namun ia tahu di bawah sana, di sudut-sudut gelapnya, monster sedang bersiap untuk saling menerkam.
Anya melihat pantulan dirinya di kaca jendela, ia mengenakan kemeja sutra hitam pemberian Marco dan celana panjang yang pas.
Ia terlihat elegan, kuat, namun matanya memancarkan kesedihan yang tak bisa disembunyikan.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Marco dari tempat tidurnya.
"Aku berpikir tentang bagaimana hidup bisa berubah begitu cepat," jawab Anya tanpa menoleh.
"Dulu, masalah terbesarku adalah bagaimana membayar sewa kos bulan depan. Sekarang, masalahku adalah bagaimana cara menghancurkan sebuah organisasi kriminal." serunya masih tak habis pikir.
Anya berbalik, menatap Marco. "Kamu tahu, Marco? Terkadang aku merasa bahwa kamu adalah kutukan sekaligus berkat bagiku. kamu menghancurkan duniaku yang kecil, tapi kamu memberiku kekuatan yang tidak pernah aku tahu aku miliki."
Marco menatapnya dengan intensitas yang seolah bisa menembus jiwa Anya.
"Itu karena kamu adalah ratu, Anya. Hanya saja kamu belum pernah memakai mahkotamu. Di duniaku, tidak ada ruang untuk kelemahan. Aku menculikmu karena aku melihat cahaya itu, tapi sekarang aku melihat bahwa cahaya itu bisa membakar siapa saja yang mencoba memadamkannya."
Marco mengulurkan tangannya, dan Anya berjalan mendekat, membiarkan Marco menariknya ke dalam pelukan yang hangat meskipun ada aroma antiseptik yang menyengat.
Di benteng ini, di tengah persiapan perang, mereka menemukan momen kedamaian yang aneh.
"Setelah Antonio kalah," bisik Marco di rambut Anya.
"Kita akan pergi dari sini. Bukan ke pulau, tapi ke tempat di mana kita bisa memulai sesuatu yang baru, tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu, Anya. Selamanya."
Anya tidak menjawab, ia hanya memejamkan matanya, mendengarkan detak jantung Marco yang stabil.
Ia tahu janji "selamanya" dari seorang pria seperti Marco adalah sebuah janji yang mengikat sekaligus menakutkan.
Namun untuk saat ini, di tengah badai yang akan datang, pelukan itu adalah satu-satunya tempat yang terasa seperti rumah.
Malam semakin larut, dan di layar monitor besar di dinding, Anya melihat titik-titik hijau yaitu pasukan Marco mulai bergerak menuju dermaga utara.
Pusat komando mulai berisik dengan suara radio dan laporan intelejen.
Anya berdiri di samping Marco, menatap layar-layar tersebut, ia merasakan adrenalin yang aneh menjalar di nadinya.
Ia tidak lagi takut, rasa takutnya telah terbakar habis di Muara Sunyi namun kini yang tersisa hanyalah keinginan untuk melihat akhir dari semua ini.
"Antonio sudah masuk ke jebakan," lapor Bram melalui intercom.
Marco menatap layar dengan senyum dingin. "Bagus. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya dikepung oleh bayang-bayang."
Anya menggenggam pinggiran meja digital, a tahu dalam beberapa jam ke depan, darah akan tumpah.
Dan ia juga tahu, setelah malam ini, tidak akan ada jalan kembali bagi mereka berdua. Ia telah memilih sisinya, ia telah memilih monsternya.
Di bawah langit Jakarta yang mendung, sebuah kerajaan akan runtuh, dan sebuah legenda baru akan lahir dari sisa-sisanya.
Dan Anya Clarissa, gadis dari kedai kopi itu, kini berdiri tegak di samping takhta yang berlumuran darah, siap untuk melihat dunia yang baru.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪