Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.
Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.
Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.
Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Api unggun di Pasar Agung menyala sampai pagi.
Bukan untuk merayakan kemenangan, tapi untuk menghangatkan tubuh orang-orang yang bekerja tanpa henti. Kayu dipikul bergantian. Kain bekas dijadikan penutup lapak darurat. Tidak ada perintah resmi, tidak ada teriakan komando. Semua bergerak karena tahu harus bergerak.
Xuan berdiri di tepi pasar, memperhatikan seorang pedagang tua membantu anak muda memasang balok kayu.
“Yang Mulia,” sapa Lin Que pelan.
Xuan menoleh. “Jangan panggil aku begitu.”
Lin Que tersenyum kecil. “Sulit dihentikan.”
“Biasakan,” jawab Xuan. “Aku berdiri di sini bukan sebagai raja.”
Lin Que mengangguk. “Tapi rakyat melihatmu begitu.”
Xuan tidak langsung menjawab.
Ia melihat Yun Ma di kejauhan, sedang duduk di lantai batu bersama beberapa wanita pasar. Tidak bicara panjang. Hanya mendengarkan. Sesekali mengangguk. Sesekali menjawab singkat.
“Dia juga,” kata Xuan akhirnya. “Mereka melihat dia.”
Lin Que menatap Yun Ma. “Berbeda.”
“Ya,” jawab Xuan. “Dia tidak memerintah. Dia menguatkan.”
—
Siang hari, lonceng besar Pasar Agung dibunyikan.
Bukan tanda bahaya.
Tapi panggilan berkumpul.
Orang-orang menghentikan pekerjaan mereka, berdiri berkelompok, menoleh ke arah panggung kayu darurat yang dibangun dari sisa-sisa lapak lama.
Xuan naik ke atas panggung.
Tidak memakai jubah kebesaran.
Tidak membawa lambang kekuasaan.
Hanya pakaian sederhana yang masih menyisakan debu Dunia Sunyi.
Yun Ma berdiri di sampingnya.
“Aku tidak akan lama,” kata Xuan. Suaranya tidak keras, tapi jelas. “Kalian lelah. Aku tahu.”
Beberapa orang mengangguk.
“Kita menang,” lanjutnya. “Tapi ini bukan akhir.”
Kerumunan menjadi hening.
“Dewan Bayangan runtuh,” kata Xuan. “Pemimpinnya jatuh. Rantai mereka putus.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi dunia tidak otomatis jadi aman hanya karena musuh kalah.”
Seorang pria berteriak, “Lalu apa gunanya kita bertahan?!”
Xuan menoleh ke arah suara itu. “Supaya sekarang kita bisa memilih.”
“Memilih apa?” tanya wanita lain.
“Bagaimana kita hidup setelah ini,” jawab Xuan.
Ia menatap Yun Ma sejenak, lalu melanjutkan.
“Aku tidak akan menutup Pasar Agung. Tidak akan memusatkan kekuasaan. Tidak akan memaksa kalian tunduk.”
Kerumunan mulai berbisik.
“Aku ingin membangun dewan terbuka,” kata Xuan. “Diisi pedagang, tabib, penjaga, pengelana. Rakyat.”
Beberapa orang terkejut.
“Dan aku,” lanjut Xuan, “hanya akan menjadi penjaga keputusan. Bukan pemiliknya.”
Semua mata beralih ke Yun Ma.
Xuan menoleh padanya. “Kau mau bicara?”
Yun Ma melangkah maju.
Ia tidak naik ke panggung.
Ia berdiri di bawah, sejajar dengan rakyat.
“Aku tidak akan tinggal di satu tempat,” katanya. “Aku akan bergerak.”
“Ke mana?” tanya seseorang.
“Ke kota-kota yang masih takut,” jawab Yun Ma. “Ke tempat yang belum berani bersuara.”
Ia mengangkat kepala. “Dunia aman bukan karena satu pemimpin. Tapi karena banyak orang berhenti diam.”
Sunyi sejenak.
Lalu tepuk tangan muncul.
Tidak serempak.
Tidak meledak.
Tapi terus bertambah.
—
Hari-hari berikutnya, perubahan terasa nyata.
Pasar Agung kembali hidup, tapi berbeda.
Tidak ada lagi pengawal bayangan di sudut gelap.
Tidak ada pungutan diam-diam.
Orang-orang mulai bicara terbuka.
Tabib mencatat luka dan saksi.
Pedagang mencatat pergerakan orang asing.
Mantan penjaga yang dulu mundur kembali, bukan sebagai tentara, tapi pelindung lingkungan.
Lin Que memimpin pengamanan dengan aturan baru.
“Tidak ada penangkapan tanpa saksi,” katanya tegas pada anak buahnya.
“Dan kalau perintah datang dari atas?” tanya salah satu.
“Perintah dari atas sekarang lewat rakyat,” jawab Lin Que.
—
Di Qinghe, Ayin berdiri di depan rumah obat kecil.
Orang-orang keluar masuk tanpa takut.
Seorang pedagang mendekat. “Kami dengar Pasar Agung aman.”
“Untuk sekarang,” jawab Ayin jujur.
“Dan Yun Ma?”
“Masih hidup,” jawab Ayin sambil tersenyum kecil. “Itu sudah kabar baik.”
Seorang mantan penjaga bertanya, “Apa kita perlu bersiap perang lagi?”
Ayin menggeleng. “Bukan perang.”
“Lalu?”
“Menjaga,” jawab Ayin. “Itu lebih sulit.”
—
Sebulan kemudian, pertemuan pertama Dewan Terbuka digelar.
Bukan di istana.
Di aula pasar.
Xuan duduk di kursi biasa.
Tidak di tengah.
Tidak di depan.
Yun Ma tidak hadir.
Ia sudah pergi dua hari sebelumnya.
“Dia tidak datang?” tanya seorang pedagang.
“Dia sudah melakukan bagiannya,” jawab Xuan.
Lin Que berdiri, membuka pertemuan. “Hari ini kita bahas tiga hal. Keamanan. Distribusi pangan. Jalur informasi.”
“Tanpa simbol,” tambah lainya. “Tanpa sumpah kosong.”
Diskusi berlangsung panas.
Ada yang berteriak.
Ada yang tidak setuju.
Tapi tidak ada yang ditangkap.
Tidak ada yang dibungkam.
Xuan hanya bicara jika diminta.
Dan saat diminta, jawabannya singkat.
—
Di sebuah kota kecil, Yun Ma berdiri di tengah alun-alun.
Tidak membawa pasukan.
Hanya Ayin dan ye, Hui serta Shen Yu.
“Namaku Yun Ma,” katanya. “Aku tidak datang membawa janji.”
Seorang pria mencibir. “Lalu kenapa kami harus dengar?”
Yun Ma menatapnya. “Karena aku tidak akan memaksa.”
Sunyi.
Seorang wanita maju. “Dewan Bayangan sudah pergi?”
“Yang tersisa hanya orang-orang yang belum berani keluar,” jawab Yun Ma.
“Apa kau akan melindungi kami?” tanya yang lain.
Yun Ma menggeleng. “Tidak.”
Kerumunan ribut.
“Aku akan mengajar kalian melindungi diri sendiri,” lanjutnya.
Hening jatuh.
“Itu lebih lama,” katanya. “Tapi lebih tahan.”
—
Malam hari, Yun Ma duduk di depan api kecil.
Ayin menyerahkan air.
“nona tidak capek?” tanya Ayin.
“Capek,” jawab Yun Ma jujur.
“Lalu kenapa terus?”
Yun Ma menatap api. “Karena kalau aku berhenti, mereka akan menunggu orang lain menyelamatkan mereka.”
Ayin tersenyum. “Kau masih sama.”
“Dan Xuan?” tanya Yun Ma balik.
“Dia belajar melepaskan,” jawab Ayin. “Itu tidak mudah untuk orang sepertinya.”
Yun Ma mengangguk pelan.
—
Enam bulan berlalu.
Nama Dewan Bayangan hanya muncul dalam cerita lama.
Sebagian anggotanya menyerah.
Sebagian bersembunyi.
Sebagian mencoba membangun ulang, tapi tanpa ketakutan, mereka tidak punya daya.
Dunia tidak sempurna.
Masih ada konflik.
Masih ada kejahatan.
Tapi tidak lagi terpusat.
Dan itu membuatnya bisa dilawan.
—
Di Pasar Agung, Xuan berdiri di balkon penginapan lama.
Shen Yu tiba tiba datang tanpa Yun Madan berdiri di sampingnya.
“Kalau kau mau,” kata Shen Yu, “kau bisa jadi raja sejati sekarang.”
Xuan menggeleng. “Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena dunia ini tidak butuh satu suara,” jawab Xuan. “Tapi banyak.”
Shen Yu tersenyum. “Aku memilih dengan benar.”
Xuan menoleh. “Memilih apa?”
“Kau,” jawab Shen Yu. “Dan dia.”
—
Saat Yun Ma kembali ke Pasar Agung, tidak ada sorak.
Tidak ada perayaan.
Hanya orang-orang yang mengangguk saat melihatnya.
Ia berjalan ke tengah pasar.
Xuan menunggunya.
“Sudah berkeliling,” kata Xuan.
“Belum selesai,” jawab Yun Ma.
Xuan tersenyum kecil. “Tidak akan pernah.”
Mereka berdiri berdampingan.
Bukan di atas.
Bukan di depan.
Di tengah.
Dan untuk pertama kalinya, dunia tidak dipimpin oleh ketakutan, atau simbol kosong.
Tapi oleh orang-orang yang memilih berdiri.
—
Bersambung.
tapi happy sesuai pribadi masing-masing🥰🥰🥰
makasih banyak, Thor 🥰
udah nyuguhin cerita yang seunik ini 🥰
lanjut ke cerita selanjutnya, semoga lebih menarik lagi 💪🏻💪🏻💪🏻
sehat selalu 💜💜💜
tapi menikmati 🥰🥰🥰