Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan tujuh pedang naga part 10
Rombongan Lin Feng dikawal ketat melewati gerbang besar Pura Waktra, pintu masuk menuju pusat jantung pemerintahan Trowulan. Di dalam sebuah bangsal yang sunyi namun megah, Mahapatih Gajah Mada telah menunggu. Sosoknya yang tegap dengan aura wibawa yang menekan tampak sedang menatap peta besar Nusantara yang terbentang di meja kayu jati.
Gajah Mada berbalik, matanya yang tajam langsung tertuju pada Pedang Naga Bumi yang digendong Lin Feng. "Selamat datang di Trowulan, para penjaga naga," sapa Gajah Mada dengan suara berat dan tenang.
Joko, yang sejak tadi terheran-heran dengan sambutan protokol militer yang begitu rapi, tidak bisa menahan lidahnya. Ia maju satu langkah, meski Rangga Satya Anugara mencoba menarik kain bajunya untuk memperingatkannya.
"Gusti Patih yang sakti... saya cuma rakyat kecil yang bingung," ujar Joko sambil menggaruk kepalanya. "Bagaimana mungkin Gusti Patih bisa tahu kalau ada tujuh pendekar Jepang yang sedang mengejar Mas Lin? Padahal mereka itu ninja, bergerak seperti hantu. Bagaimana Gusti bisa tahu mereka mengincar pedang naga?"
Gajah Mada tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung ribuan rahasia.
"Joko, kau pikir Majapahit adalah imperium besar hanya karena jumlah pasukannya?" Gajah Mada berjalan mendekati jendela. "Mata dan telinga Bhayangkara ada di setiap ombak samudera. Sejak kapal tanpa bendera itu terlihat di perairan Tuban, telik sandi kami sudah melaporkan aura asing yang tidak sehat. Ditambah lagi, jaringan intelijen kita di negeri seberang telah mengirimkan kabar tentang bangkitnya sebuah organisasi rahasia yang mengumpulkan pusaka naga. Aku sudah menunggu saat di mana kalian terdesak ke arah sini."
Lin Feng kemudian melangkah maju, meletakkan Pedang Naga Bumi di atas meja sebagai bentuk penghormatan. Ia menceritakan kejadian di alam sukma saat jiwa mereka ditarik oleh Antaboga.
"Gusti Patih, situasinya jauh lebih gawat dari sekadar serangan ninja," jelas Lin Feng. "Sang Hyang Antaboga sendiri yang memperingatkan kami. Pedang ketiga, Excalibur, sang Naga Cahaya dari daratan Barat, telah jatuh ke tangan mereka. Pemiliknya tewas, dan mandat kekuasaan di sana telah dicuri."
Ki Ageng Bang Wetan menambahkan dengan nada yang sangat serius, "Antaboga juga menjelaskan bahwa organisasi yang mengincar Lin Feng adalah persekutuan iblis yang ingin menguasai dunia dengan mengumpulkan tujuh pedang naga."
Mendengar penjelasan tentang "jalan pintas kekuasaan", rahang Gajah Mada mengeras. Sebagai orang yang mendedikasikan hidupnya untuk menyatukan Nusantara dengan keringat dan strategi, ia sangat membenci kekuatan yang ingin menghancurkan kedaulatan bangsa melalui sihir dan benda keramat.
"Jadi, mereka ingin menjadi dewa di atas manusia dengan mengoleksi pedang para naga..." gumam Gajah Mada. "Jika mereka memiliki tujuh pedang itu, maka tidak akan ada lagi kedaulatan bagi Majapahit, maupun bagi kerajaan mana pun di bumi ini."
Gajah Mada menatap Lin Feng dengan tajam. "Lin Feng, kau bukan lagi sekadar buronan ninja. Kau adalah benteng terakhir yang mencegah kiamat kekuasaan ini pecah. Majapahit akan memberikan seluruh dukungannya, namun kau harus tahu satu hal: organisasi itu pasti sudah mengirimkan utusan yang lebih kuat dari sekadar ninja untuk menjemputmu di sini."
Sementara itu Setelah kegagalan di Hutan Tarik dan kemunculan pasukan Bhayangkara, sisa-sisa kelompok tujuh pendekar Jepang itu mundur jauh ke pedalaman hutan yang belum terjamah manusia. Di sebuah gua tersembunyi yang tertutup oleh air terjun raksasa, mereka kembali ke tempat persembunyian sementara mereka.
Suasana di dalam gua itu sangat mencekam. Hanya ada suara tetesan air dan desis napas yang berat.
Minamoto no Ryuichi duduk di atas sebongkah batu besar. Aura ungu dari pedang Yamata no Orochi tampak bergejolak, seolah ikut merasakan kemarahan tuannya. Di sampingnya, Fujiwara no Shinobu sedang membalut luka di lengannya; wajahnya pucat karena kelelahan setelah beradu taktik dengan kelompok Lin Feng.
"Kita meremehkan mereka," desis Shinobu sambil mengencangkan perbannya. "Pendekar Cina itu... dia menggunakan teknik Zhua Tai. Anak buah kita hancur. Mereka tidak tewas, tapi mereka tidak akan pernah bisa memegang pedang lagi seumur hidup."
Ryuichi terdiam, matanya menatap tajam ke kegelapan gua. "Lin Feng bukan sekadar pelarian. Dia adalah ancaman nyata. Dan sekarang dia berlindung di bawah ketiak Gajah Mada. Trowulan bukan tempat yang mudah untuk diserbu."
Tiba-tiba, suhu di dalam gua turun drastis. Sebuah bayangan muncul di dinding gua, memanjang dan bergerak meski tidak ada cahaya yang mengenainya. Sesosok pria tinggi dengan jubah hitam yang memiliki bordiran naga emas di pundaknya melangkah masuk.
Ia adalah Tachibana no Katsu, namun ada sesuatu yang berbeda. Di belakangnya, berdiri seorang utusan langsung dari markas pusat The Sovereigns of the Dragon.
"Pemimpin Agung sudah tahu tentang pergerakan kalian," ucap sang utusan dengan suara yang dingin. "Beliau sudah menguasai Excalibur. Beliau sekarang sedang berada di Tiongkok untuk menjemput Naga Langit. Sementara kalian? Kalian membiarkan Naga Bumi lari ke pelukan Mahapatih Majapahit."
Ryuichi berdiri, tangannya mencengkeram hulu Orochi hingga buku jarinya memutih. "Kami hanya butuh waktu. Pasukan Bhayangkara mempersulit keadaan."
Sang utusan mengeluarkan sebuah gulungan hitam. "Waktu adalah kemewahan yang tidak kalian miliki. Pemimpin Agung memerintahkan kalian untuk berhenti menyerang secara terang-terangan. Jika Trowulan terlalu kuat dari luar, maka hancurkan dari dalam."
"Maksudmu?" tanya Shinobu.
"Gajah Mada memiliki banyak musuh di dalam istana. Gunakan racunmu, Shinobu. Gunakan tipu muslihatmu, Ryuichi. Hasut para bangsawan yang tidak puas dengan kepemimpinan Gajah Mada. Biarkan Majapahit sibuk dengan perang saudara, dan saat Lin Feng kehilangan perlindungannya... ambil kepalanya dan bawa Pedang Naga Bumi ke hadapan kami."
Ryuichi tersenyum menyeringai, sebuah senyuman yang penuh dengan kelicikan. "Memancing harimau keluar dari sarangnya dengan membakar sarang itu sendiri... Ide yang bagus."
Sementara itu, di sebuah sudut pasar Trowulan yang ramai, seorang peramal tua melihat ke langit dan menggumamkan sebuah nama yang akan menjadi kunci di masa depan. Nama yang lahir dari gabungan kekuatan lama dan harapan baru.
"Akan lahir seorang pelindung..." bisik sang peramal. "Lin jaya Tirta... nama yang akan membawa keadilan bagi naga dan kedamaian bagi bumi."