Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Pilihan Aldo Dan Keputusan Om Heri
Pertemuan Hana dan Meta membuat Meta bersimpati pada sosok Hana. Suaminya, Peter ikut terheran-heran dan bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat istrinya langsung akrab dengan sosok seorang Hana? Hanya Meta yang bisa menjawab semuanya, Peter berpikir tidak mudah bagi seorang wanita bisa akrab dengan wanita lain yang merupakan teman atau kenalan suaminya sendiri, namun Peter ikut bahagia karena baginya Meta dan Hana adalah wanita yang modern dan terbuka.
Waktu terus berlalu, komunikasi dan hubungan antara Hana dan Aldo masih tertutup. Tibalah hari penentuan om Heri yaitu, 7 hari. Waktu yang telah diberikan oleh om Heri kepada Aldo untuk menentukan pilihan hatinya antara Hana atau Sari. Siang itu, om Heri sedang berada di rumahnya dan menunggu kedatangan Aldo. Tante Laras ikut gelisah menunggu kedatangan Aldo di rumahnya.
Tante Laras: "Bagaimana jika Aldo tidak datang, mas?" tanyanya dengan rasa cemas. "Aku penasaran dengan pilihan Aldo, mas." ucapnya dengan wajah tegang.
Om Heri: "Aldo akan datang, ma. Aku sudah menelponnya tadi pagi." ucapnya dengan penuh keyakinan. "Kita tunggu saja, ya." ucapnya dengan penuh kesabaran.
Tante Laras: "Sampai saat ini Aldo dan Hana masih pisah rumah, mas." ucapnya pelan dengan ekspresi wajah yang sedih. "Kasihan Kenzo. Anak seusia itu akan mengalami beban mental." ucapnya lagi. Waktu terus berlalu hingga malam pun tiba. Om Heri dan tante Laras tetap menunggu kedatangan Aldo di rumah mereka. Hingga sekitar pukul 8.00 malam, Aldo datang namun ia tidak sendirian melainkan bersama dengan Sari. Tante Laras dan om Heri terkejut, om Heri maupun tante Laras tidak menyangka jika Aldo seberani itu membawa Sari ke rumah mereka.
Aldo: "Malam, ma, pa." sapanya dengan pelan dan sopan. "Maaf, aku terlambat datangnya." ucapnya dengan rasa bersalah. Om Heri dan tante Laras menatap wajah Sari dalam-dalam, tante Laras mencoba mengingat wajah Sari saat bersama dengan Hana.
Tante Laras: "Kamu adalah sahabat Hana, kan?" ucapnya dengan rasa penasaran. "Aku lupa dengan namamu, tapi aku masih ingat dengan wajahmu." ucapnya lagi.
Sari: "Iya, tante. Aku adalah sahabat Hana, namaku Sari." ucapnya sambil tersenyum tipis.
Tante Laras: "Mengapa kamu dan Aldo datang berdua? Apa hubungan kalian?" tanyanya dengan heran dan rasa ingin tahu. Sari dan Aldo tertegun, mereka saling pandang dalam keraguan. "Jawablah." pintanya dengan suara agak keras. Sari menatap wajah tante Laras dengan tatapan tajam.
Sari: "Aku dan Aldo adalah sepasang suami istri. Kami telah menikah secara siri saat di Bandung." ucapnya dengan tegas. Jantung tante Laras berdenyut kencang saat mendengar pernyataan Sari yang sangat jelas di kedua telinganya.
Tante Laras: "Apa katamu? Menikah?" tanyanya dengan rasa tidak percaya.
Sari: "Iya, seperti yang tante dengar barusan." ucapnya tegas. Wajah tante Laras pucat, ia tak sanggup untuk berkata-kata lagi. Tante Laras teringat pada Hana dan Kenzo, bagaimana jika Hana mengetahui hal ini? Bagaimana jika Hana tahu jika sahabatnya adalah seorang penghianat? Sari menoleh pada om Heri, ia melanjutkan perkataannya: "Sebelum Hana mengenal Aldo, aku lebih dulu mengenalnya." ucapnya dengan rasa bangga. "Aldo adalah cinta pertamaku. Hana telah mengambilnya dariku." ucapnya lagi. Aldo menundukkan kepalanya, ia tak sanggup menatap wajah kedua mertuanya.
Tante Laras: "Jangan bicara sembarangan, Sari. Hana tidak pernah mengambil milik orang lain." bentaknya. "Putri kami adalah wanita terhormat. Kamu adalah wanita perampas." ucapnya dengan suara yang lantang. Sari tersenyum sinis, ia menoleh pada Aldo yang masih menundukkan kepalanya.
Sari: "Katakan sesuatu, mas. Jangan diam saja." ucapnya dengan suara keras. "Katakan pada mereka bahwa kamu telah memilihku." teriaknya. Aldo tertegun, raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam yang sulit untuk ia ungkapkan. Om Heri tetap diam dan bersikap tenang, ia menunggu jawaban dari Aldo.
Aldo: "Pa, ma. Aku... Aku." ucapnya dengan gugup. Tante Laras, om Heri dan Sari tetap diam dan tenang untuk mendengar jawaban dari Aldo.
Om Heri: "Katakan saja jawabanmu, Aldo." ucapnya dengan wajah tenang.
Sari: "Jangan ragu dan jangan takut, sayang. Kedua orang tua Hana dan juga Hana harus menerima kenyataan." ucapnya dengan rasa percaya diri. Aldo menatap om Heri dalam-dalam, lalu memalingkan wajahnya ke arah tante Laras.
Aldo: "Maafkan aku, pa, ma. Aku memilih Sari." ucapnya pelan. Sari tersenyum puas saat mendengar pernyataan Aldo, ia tidak akan ragu atau takut lagi terhadap Hana ataupun kedua orang tua Hana. Om Heri menghela nafas berat, ia menatap wajah Aldo yang sedikit pucat.
Om Heri: "Apakah kamu yakin, Aldo?" tanyanya.
Aldo: "Iya, pa. Aku yakin dengan pilihanku." sahutnya dengan penuh keyakinan.
Om Heri: "Apakah kamu tidak akan menyesal dengan pilihanmu?" tanyanya lagi dengan ragu-ragu.
Aldo: "Iya, pa. Aku tidak akan menyesalinya." sahutnya dengan penuh keyakinan.
Tante Laras: "Kamu sangat kejam, Aldo. Kamu tidak memikirkan tentang Kenzo." ucapnya dengan wajah kesal.
Aldo: "Maafkan aku, ma." ucapnya pelan.
Tante Laras: "Dasar munafik." makinya. "Begitu mudahnya kamu meminta maaf. Kami tidak sudi memaafkanmu." ucapnya dengan suara yang keras. "Kalian berdua akan mendapat balasan." makinya dengan penuh amarah. Aldo beranjak dari duduknya, ia bersujud di kaki tante Laras dengan mata yang berkaca-kaca.
Aldo: "Maafkan aku, ma. Aku juga menyesali tindakanku, tapi aku tidak bisa melepaskan Sari." ucapnya pelan. "Sari sedang hamil, ma. Kandungannya sudah 4 minggu." ucapnya lagi sambil menghapus air matanya yang jatuh di kedua pipinya. Om Heri maupun tante Laras tertegun, mereka tidak menyangka jika hubungan Aldo dan Sari sudah sejauh itu.
Tante Laras: "Hana akan hancur jika mengetahui semuanya." ucapnya dengan penuh kekecewaan. "Aku tidak akan sudi memaafkanmu, Aldo." teriaknya. Tante Laras berdiri, ia berjalan cepat masuk ke dalam kamarnya dengan penuh amarah. Aldo terisak dengan posisi masih duduk di lantai. Sari menghampiri Aldo, ia memegang tangan Aldo dan menyuruhnya duduk di atas kursi.
Sari: "Sudahlah, mas. Jangan menangis lagi, tidak ada gunanya." ucapnya dengan pelan.
Om Heri: "Aku akan mengurus perceraianmu dengan Hana. Kamu tidak akan pernah melihat Kenzo lagi." ucapnya dengan tegas.
Aldo: "Kenzo adalah anakku, pa. Papa tidak bisa melarangku untuk bertemu dengannya." ucapnya pelan.
Om Heri: "Aku bisa, Aldo. Kenzo akan kecewa jika mengetahui bahwa papanya seorang penghianat dan pembohong." ucapnya dengan tenang namun penuh kekesalan. "Aku akan bicara pada Hana." ucapnya lagi dengan penuh keyakinan. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Pergilah dari rumahku." ucapnya dengan tegas. Aldo dan Sari tak bisa berkata apapun lagi.
***********************************