Setelah bertahun-tahun bercerai, dan memiliki jalan hidup masing-masing, api cinta yang pernah membara diantara mereka masih saja terasa.
Dan meskipun telah tertutup oleh debu waktu, akankah takdir dapat membawa mereka kembali bersatu?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak ada hati yang tidak ikhlas
Beberapa hari sejak bu Susi mengetahui hubungan Adit dan Winda yang semakin akrab lantaran anak-anak mereka, bu Susi memutuskan untuk mengundang makan malam bersama di rumahnya.
Kini semua duduk di meja makan, menikmati hidangan lezat sambil berbincang hangat. Suasana malam itu begitu akrab dan menyenangkan, hanya ada tawa dan obrolan santai di antara mereka.
"Allhamdulillah, malam ini ibu merasa sangat bahagia, dan penuh rasa syukur, bisa berkumpul sama kalian semua dalam acara makan malam ini." Ucap bu Susi dengan wajah yang berbinar-binar, "Rama, Tya, dan Rania juga bahagia, kan?"
"Sangat bahagia, mbah ibu....!" Seru mereka yang membuat para orang tua jadi ikut bahagia.
"Jadi, Rania sudah tidak takut sama polisi lagi, kan?" tanya Arumni.
"Masih sedikit takut, tante." Jawabnya singkat.
"Tante? Siapa itu tante?" tanya Arumni sambil tertawa kecil. "Rania, panggil tante ibu saja ya, sayang?" pinta Arumni dengan lembut.
"Iya, Rania. Kita semua sudah jadi keluarga, kan?" timpal Adit yang dijawab anggukan oleh Rania. "Kalau begitu panggil kami sama seperti Rama dan Tya memanggil kami juga, ya?"
"Tapi, pak Adit—" tampik Winda yang langsung dipotong oleh bu Susi.
"Nggak apa, nak Winda. Awalnya kita memang bukan siapa-siapa, tapi sekarang kita sudah jadi keluarga, kan?"
Winda mengangguk, "iya, bu." Katanya.
"Nah, kalau begitu biar kita semua semakin akrab, tidak perlu lah kita panggil pak Adit, bu Arumni, pak Galih, atau bu Winda, selama kalian sedang tidak mengunakan seragam, panggil nama saja biar terkesan santai." Ujar bu Susi, "gimana menurut mu, Dit?"
"Aku sih setuju-setuju saja, bu." Kata Adit yang langsung memita pendapat dari Galih, "menurut mu gimana, Galih?"
Galih hanya tersenyum tipis, "aku ngikut aja, Dit." Katanya.
Galih tahu, setelah ini ibunya pasti akan terus mendesak agar dirinya mendekati Winda. Sementara hatinya masih saja sibuk memikirkan Arumni, hingga sering kali dia lupa, bahwa Arumni telah memiliki kehidupannya sendiri.
"Nah, kalau begitu kan kita jadi seperti keluaga beneran. Keluarga tidak harus sedarah, kan? tapi cinta dan kasih sayang juga yang paling bisa menyatukan kita. Terimakasih ya Arumni, Adit, dan sekarang Winda yang sudah hadir menjadi bagian dari hidup ibu," ucap bu Susi yang dibalas senyum bahagia dari semuanya, kemudian bu Susi menatap Galih yang selalu saja terkesan datar saat sedang berkumpul bersama mereka. "Gimana menurut kamu, Galih?"
"Apanya, bu?" balas tanya dari Galih.
"Apanya, bu?" Tanya bu Susi merasa aneh, "jadi dari tadi ibu bicara panjang lebar, kamu tidak mendengarkan?" Sambung bu Susi lagi, yang langsung membuat semua jadi terbahak.
Galih hanya tersenyum sambil mengaruk punggung lehernya.
Bu Susi menggelengkan kepalanya, "Galih...Galih, kebanyakan melamun kamu."
"Nggak melamun, ibu. Aku cuma nggak dengar saja, kok." Sangkal Galih yang kembali memicu gelak tawa.
"Ya sudah, kalau begitu buka telinga mu lebar-lebar." Perintah bu Susi pada Galih, lalu mengedarkan netranya pada semua yang berada di meja makan itu. "Mumpung kalian semua ada di sini, ibu nggak mau basa-basi."
Semua menatap serius ke arah bu Susi, kecuali Galih yang merasa tegang, seolah tahu maksud ibunya.
Bu Susi menghela napas sebelum memulai bicara. "Adit, Arumni. Ibu nggak tahu lagi cara memberi tahu Galih. Kalian tahu kan, ibu sudah semakin tua, jadi mumpung kalian lagi di sini, tolong bantu ibu bujuk Galih supaya mau berkeluarga lagi."
Deg!
Mendadak ada hati yang tidak ikhlas.
"Bu, aku nyaman sama hidup aku yang sekarang." Kata Galih.
"Iya, Galih." Saut Adit, "sudah cukup lama kamu menyendiri, selain memikirkan dirimu sendiri, kamu juga harus memikirkan ibu dan Rama." Pendapat Adit, lalu menyikut Arumni yang duduk di sampingnya, "iya kan, sayang?" Lirihnya di dekat telinga Arumni.
Arumni berdehem pelan sambil melirik suaminya, sebelum memberi jawaban. "Iya, mas. Benar apa kata mas Adit, kamu harus memikirkan Rama dan ibu." Katanya.
"Iya, pak Galih." Saut Winda, "bu Arumni sudah bahagia bersama pak Adit, menurut ku apa salahnya kalau pak Galih juga bahagia bersama yang lain." Ucapnya yang langsung mendapat dukungan penuh dari Rama.
"Tuh kan, ayah. Bu Winda sependapat sama aku, lagi pula ibu juga sudah mendukung kan, bu?" kata Rama.
"Iya, Rama, ibu sangat setuju." Jawab Arumni sembari mengamati wajah Galih, lalu beralih ke bu Susi. "Memangnya ibu sudah ada calon buat mas Galih?" Arumni ingin memastikan.
Pertanyaan Arumni membuat Galih menghindar, dia langsung berdiri dari duduknya. "Ehm, maaf ya semua, aku lupa tadi mau menelpon seseorang," ucapnya lalu pergi begitu saja.
"Tuh kan, tiap kali ibu menyingung tentang ini, pasti melarikan diri dia." Kata bu Susi yang disambut tawa oleh semuanya.
Usai makan malam, Winda dan Arumni membereskan meja makan, dan mencuci piring bersama-sama sambil saling melempar tanya. Sementara yang lain melanjutkan obrolan di ruang tengah.
"Bu Arumni, jujur aku agak kaget waktu tahu kalau bu Arumni ternyata ibunya Rama." Cletuk Winda yang membuat Arumni menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Memangnya, kenapa?" jawab Arumni.
Ragu-ragu Winda ingin berkata, namun juga penasaran. "Mohon maaf banget ya, bu Arumni. Kalau aku mengamati, Rama dan bu Arumni seperti tidak ada kemiripan." Katanya.
Arumni mengulas senyum, "oh, kalau itu sebenarnya semua orang juga bilang begitu. Rama miripnya sama mas Galih." Jawabnya santai.
Winda mengangguk, namun masih penasaran. "Bu Arumni ngidam apa waktu hamil Rama? Maksud aku, kenapa kulitnya bisa seputih itu?"
"Aku lupa, soalnya itu sudah lama banget, kan?" umpat Arumni.
"Iya, sih. Bukanya gimana-gimana, tapi kulit Rama memang seperti bukan dari bangsa kita. Kalau sama pak Galih memang mirip, tapi kalau sama bu Arumni, aku masih mikir di mana miripnya?"
"Kalau bu Winda biasa memberi PR buat murid-muridnya, sekarang giliran bu Winda yang punya PR." Gurau Arumni yang membuat Winda tertawa.
"Bu Arumni bisa aja." Katanya, lalu melanjutkan aktivitasnya kembali, "tapi, jujur saja aku masih penasaran, kenapa kulit Rama bisa seputih itu." Sambungnya lagi.
"Kalau kata mas Galih, dulu aku suka minum pemutih." Jawab Arumni sambil tertawa.
"Ah, pak Galih ngarang itu." Kekeh Winda.
"Tapi dia bilangnya gitu, kalau aku sendiri malah nggak ingat." Kata Arumni yang membuat Winda jadi menahan tawa.
Dan rasa penasaran Winda tak terjawab, karena Arumni terus membalas dengan candaan.
...****************...