NovelToon NovelToon
Cakar Naga Pemutus Takdir

Cakar Naga Pemutus Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.

Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.

Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.

Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harta Karun di Tumpukan Sampah

Gudang Rongsokan Kuno terletak di sudut paling terpencil Sekte Dalam, di bawah naungan pohon-pohon beringin tua yang akarnya merambat menutupi dinding batu bangunan tersebut. Tempat ini sunyi, berdebu, dan dijaga oleh seorang tetua penjaga yang lebih sering tidur daripada berjaga.

Li Tian menunjukkan lencana izinnya kepada tetua penjaga yang sedang menguap.

"Masuklah," kata tetua itu dengan suara serak, bahkan tidak repot-repot membuka matanya sepenuhnya. "Kau punya waktu sampai matahari terbenam. Jangan bawa keluar apa pun yang masih utuh. Hanya sampah yang boleh kau ambil."

"Terima kasih, Tetua," jawab Li Tian sopan.

Dia mendorong pintu kayu berat yang berderit nyaring.

Begitu melangkah masuk, bau logam berkarat dan debu kuno menyergap hidungnya. Gudang itu sangat luas, dipenuhi oleh tumpukan senjata patah, baju zirah penyok, kuali retak, dan artefak-artefak aneh yang sudah tidak berbentuk. Bagi murid biasa, ini adalah tempat pembuangan sampah.

Tapi bagi Li Tian dan Zu-Long, ini adalah tambang emas.

"Nyalakan indramu, Guru," bisik Li Tian. "Di mana makanannya?"

"Kiri," suara Zu-Long terdengar antusias di kepalanya. "Tiga puluh langkah ke kiri. Di bawah tumpukan perisai rusak itu. Aku mencium bau... Bintang."

Li Tian bergerak cepat. Dia menyingkirkan tumpukan perisai besi yang berkarat. Di bawahnya, terdapat sebuah patung kura-kura kecil yang terbuat dari batu hitam. Patung itu retak di bagian cangkangnya.

"Ini?" Li Tian mengangkat patung itu. "Hanya batu biasa."

"Bukan batunya, bodoh. Isinya!" seru Zu-Long. "Hancurkan!"

Li Tian meremas patung itu dengan tangan kanannya.

Krak!

Batu itu hancur. Di dalamnya, tersembunyi sebuah bola logam seukuran kelereng yang berwarna perak gelap, namun memancarkan kilau seperti langit malam.

"Inti Besi Meteorit!" seru Zu-Long. "Benda ini jatuh dari langit ribuan tahun lalu. Sangat keras dan mampu menahan tekanan energi yang besar. Ini bahan sempurna untuk memperbaiki struktur sarung tanganmu."

Li Tian menatap kelereng logam itu. "Apa yang harus kulakukan? Menelannya?"

"Tidak perlu se-ekstrem itu. Pegang saja erat-erat dengan Cakar Naga. Aku akan menyerap esensinya."

Li Tian menggenggam bola logam itu. Sarung tangan perunggunya mulai bersinar hijau terang.

Wuuuung...

Li Tian merasakan sensasi getaran halus di telapak tangannya. Bola logam itu perlahan memanas, lalu mulai meleleh bukan menjadi cairan, tapi menjadi partikel cahaya perak yang meresap masuk ke dalam pori-pori perunggu sarung tangan.

Satu menit kemudian, bola itu lenyap tak berbekas.

Sarung tangan perunggu Li Tian bergetar. Bunyi klik dan klang logam yang bergeser terdengar dari dalamnya. Karat hijau di bagian jari-jari rontok sepenuhnya, memperlihatkan warna perunggu tua yang mengkilap dan kokoh. Ukiran naga di permukaannya menjadi sedikit lebih jelas.

"Ah... rasanya jauh lebih baik," desah Zu-Long puas. "Struktur jarimu sekarang sudah diperkuat. Kau bisa menggunakan Cakar Penghancur sepuluh kali sehari tanpa khawatir sarung tangan ini retak. Dan... batas Gandakan-mu meningkat."

"Benarkah? Berapa kali?"

"Sekarang kau bisa menggunakan Gandakan x4 tanpa merusak ototmu secara permanen—hanya akan sakit sedikit. Dan jika kau nekat... kau bisa mencoba Gandakan x8."

Li Tian menelan ludah. Delapan kali lipat? Dengan kekuatan dasarnya yang sekarang sudah setara Tempa Tubuh Tingkat 9? Itu bisa menghancurkan gerbang sekte!

"Tapi ingat," peringat Zu-Long. "Gandakan x8 akan menguras seluruh staminamu dalam satu detik dan mungkin membuatmu pingsan selama seminggu. Gunakan hanya jika nyawamu terancam."

"Mengerti."

Li Tian menghabiskan sisa harinya mengaduk-aduk gudang itu. Dia menemukan beberapa potong Tembaga Merah dan Baja Dingin yang juga diserap oleh Cakar Naga, meskipun efeknya tidak sedrastis Besi Meteorit.

Saat matahari terbenam, Li Tian keluar dari gudang dengan senyum puas. Dia tidak membawa satu barang pun secara fisik, tapi senjata utamanya telah berevolusi.

Keesokan paginya.

Pelataran Gerbang Naga Tersembunyi kembali dipenuhi lautan manusia. Namun kali ini, jumlah peserta telah berkurang drastis. Dari ribuan orang, hanya tersisa 100 orang yang berhasil melewati Tahap 1 kemarin (termasuk mereka yang hanya mencapai langkah ke-500).

Tetua Guntur berdiri di depan sebuah pilar kristal bening setinggi manusia.

"Selamat kepada kalian yang tersisa," kata Tetua Guntur. "Tahap Kedua adalah Ujian Potensi Bakat. Di dunia kultivasi, kerja keras memang penting, tapi bakat menentukan seberapa cepat kalian bisa berlari."

"Pilar ini adalah Pilar Pengukur Roh. Letakkan tangan kalian. Pilar ini akan mengukur Elemen Qi (Api, Air, Angin, Tanah, dll) dan Tingkat Kemurnian Akar Roh kalian (Tingkat 1 sampai 9)."

"Syarat lulus: Minimal Akar Roh Tingkat 3."

Ujian dimulai.

Satu per satu peserta maju.

"Wang Ba. Elemen Tanah. Akar Roh Tingkat 3. Lulus!" "Chen Li. Elemen Air. Akar Roh Tingkat 2. Gagal!"

Banyak yang menangis, banyak yang bersorak. Suasana tegang.

Akhirnya, giliran nama-nama besar.

"Zhao Feng!"

Zhao Feng melangkah maju dengan percaya diri. Dia meletakkan tangannya di pilar.

WUSH!

Pilar itu bersinar terang dengan warna hijau muda, dan angin kencang berhembus di sekitar panggung. Cahaya itu naik tinggi hingga mencapai angka 7.

"Elemen Angin! Akar Roh Tingkat 7!" seru pengawas ujian kaget. "Jenius!"

Zhao Feng tersenyum bangga, melirik meremehkan ke arah Li Tian.

"Berikutnya, Su Yan!"

Su Yan berjalan anggun. Dia menyentuh pilar itu dengan jari lentiknya.

KRAK!

Suhu di pelataran turun drastis. Embun beku muncul di tanah. Pilar itu bersinar dengan warna biru es yang menyilaukan, naik hingga mencapai angka 9!

"Elemen Es Murni! Akar Roh Tingkat 9!"

Tetua Guntur bahkan berdiri dari kursinya. "Tingkat 9... Bakat yang hanya muncul seratus tahun sekali!"

Su Yan menarik tangannya, wajahnya tetap datar seolah itu hal yang wajar.

"Berikutnya... Li Tian!"

Semua mata tertuju pada Li Tian. Sang Kuda Hitam. Penakluk Tangga Seribu Langkah. Apakah bakatnya sehebat fisiknya?

Li Tian berjalan tenang.

"Guru," tanya Li Tian dalam hati. "Apa elemenku?"

"Kau tidak punya elemen," jawab Zu-Long santai. "Kau manusia biasa dengan bakat sampah. Akar Roh-mu mungkin hanya Tingkat 1."

Li Tian tersedak. "Apa?! Lalu bagaimana aku lulus?"

"Tenang. Kau punya aku. Tempelkan tanganmu. Aku akan memanipulasi pilar itu sedikit. Kita tidak ingin terlalu mencolok, tapi juga tidak boleh diremehkan. Bagaimana kalau kita buat... Elemen Petir Tingkat 5?"

"Terdengar bagus."

Li Tian meletakkan tangannya di pilar kristal.

ZZZT!

Percikan listrik ungu muncul di permukaan pilar. Cahaya ungu naik dengan stabil, melewati angka 3, 4, dan berhenti tepat di angka 5. Namun, warnanya... ungu itu sangat pekat, hampir hitam.

"Elemen... Petir?" Pengawas ujian mengerutkan kening. "Akar Roh Tingkat 5. Lulus."

Kerumunan sedikit kecewa. Tingkat 5 itu bagus, di atas rata-rata, tapi tidak "monster" seperti Su Yan atau Zhao Feng. Fisik Li Tian mungkin Tingkat Dewa, tapi bakat spiritualnya ternyata hanya "Menengah".

Zhao Feng tertawa mengejek. "Hanya Tingkat 5? Ternyata kau hanya kerbau yang kuat, Li Tian. Jalan kultivasimu akan terhenti di ranah Inti Emas."

Li Tian menarik tangannya dan tersenyum misterius. Dia tidak peduli dengan angka. Dia tahu, "Petir" itu hanyalah samaran dari energi Kehampaan milik Zu-Long.

"Bakat hanyalah pintu gerbang," gumam Li Tian saat berjalan turun. "Kekuatan untuk menghancurkan pintu itu... ada di tanganku."

Tetua Guntur mengumumkan, "Ujian Tahap 2 selesai! 50 orang yang lulus, bersiaplah. Tahap terakhir adalah Pertarungan Perebutan Bendera di Hutan Sekte Dalam!"

Li Tian mengepalkan tangannya. Pertarungan. Inilah yang dia tunggu.

1
Nanik S
Musuh Lama bermunculan Li Tian
Nanik S
Li Tian... banyak sekali Musuhmu
Nanik S
Kadal Pitih.... Li Tian memang lumayan Konyol
𝘼̶N̶A̶L̶I̶S̶T
novel ke dua yg aku taruh di rak buku setelah " Legenda Pendekar Naga" karena emank layak di baca.
Nanik S
Keren Tor.. 👍👍👍
Nanik S
Dua Naga yang bermusuhan lagi Bersatu melawan musuh...
Nanik S
Musuh dari musuhmu adalah teman 👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Naga hitam Dan Naga putih bertarung
Nanik S
Apakah mereka akan bertemu kembali untuk adu kekuatan atau hancur bersama
Nanik S
God Joob
Nanik S
Li Tian dapat saingan
Nanik S
Jooooooos
Nanik S
Dimana tepatnya rumah Xiao Yu
Nanik S
Xiao Yu... keturunan terakhir penjaga Malam Kaisar
Nanik S
Dapat 3 inti
Nanik S
Li Tian akhirnya ikut mabuk juga
Nanik S
Maaaantaaap Pooool
Nanik S
Mau tarung mikirin paaha Ayam
Nanik S
Li Tian... pedang tak bermata...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!