Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok pengintai misterius
Sinar matahari pagi menyelinap di antara celah-celah bambu gubuk, namun Zhou Yu sudah tidak ada di sana. Tubuhnya masih terasa ringan, sisa-sisa energi Qi dari latihan semalam masih berdenyut pelan di bawah kulitnya. Ia kembali ke bawah air terjun, tempat yang kini ia anggap sebagai altar sucinya.
Di sana, Han Shui sudah menunggu dalam wujud bayangan birunya yang samar. Sang roh pedang melayang di atas air, tangannya bersedekap, wajahnya tampak lebih ketus dari biasanya.
"Kau terlambat tiga tarikan napas," tegur Han Shui dingin. "Dalam pertarungan hidup mati, tiga tarikan napas adalah jarak antara lehermu dan mata pedang lawan."
Zhou Yu tidak membantah. Ia segera menghunus pedang tuanya. "Ajari aku, Han Shui. Apa teknik pertama yang harus kupelajari?"
Han Shui mendengus. "Teknik Arus Pemecah Karang. Kau pikir kau bisa mengayunkan pedang hanya dengan kekuatan otot? Salah besar! Pedang adalah perpanjangan dari aliran darahmu. Jika kau kaku, kau akan patah. Jika kau mengalir, kau tak terhentikan."
Sang roh pedang mulai bergerak. Ia memerintahkan Zhou Yu untuk berdiri di tengah aliran sungai yang deras, tepat di tempat pijakan batu yang licin. "Tahan posisimu. Ayunkan pedangmu ke arah jatuhnya air terjun. Kau harus membelah tirai air itu tanpa menimbulkan riak besar di bawahnya."
Zhou Yu mencoba. Ia mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga, namun air terjun itu justru menghantam pedangnya hingga ia terpental jatuh ke dalam kolam. Ia mencoba lagi dan lagi, namun hasilnya tetap sama. Badannya memar, dan napasnya mulai terengah.
"Bodoh! Berhenti melawan airnya!" teriak Han Shui, kemarahannya mulai memuncak. "Ikuti alirannya! Rasakan ke mana air itu ingin pergi, lalu sisipkan pedangmu di sela-selanya. Kau bukan sedang menghancurkan air, kau sedang menari bersamanya!"
Zhou Yu memejamkan mata. Ia mengingat pesan bijak Han Shui semalam. Ia mulai mengatur napas, menyelaraskan detak jantungnya dengan irama gemuruh air terjun. Saat ia mengayunkan pedang untuk kesekian kalinya, ia tidak lagi menggunakan otot bahunya. Ia menggunakan energi yang mengalir dari kakinya, berputar di pinggangnya, dan meledak di ujung bilah pedang.
Sring!
Tirai air terjun itu terbelah sesaat, menciptakan celah tipis yang sempurna sebelum menyatu kembali. Tidak ada cipratan kasar. Hanya keheningan yang singkat di tengah gemuruh.
"Lumayan untuk seekor keledai sepertimu," gumam Han Shui, yang sebenarnya adalah pujian tertinggi yang bisa ia berikan.
Siang harinya, Zhou Yu kembali ke desa untuk menjalankan tugasnya sebagai pemimpin. Ia melihat Da Ge sedang memimpin warga membangun lumbung padi yang besar. Ling'er terlihat sibuk di taman obat, mengajari anak-anak kecil cara membedakan daun yang bisa menyembuhkan luka dan mana yang beracun.
Melihat Zhou Yu datang dengan baju yang basah kuyup, Ling'er segera menghampirinya sambil membawa kain kering. "air terjun lagi?" tanyanya lembut, ada sedikit kekhawatiran yang tersirat di matanya.
"Aku harus siap, Ling'er. Kedamaian ini terlalu berharga untuk dibiarkan rapuh," jawab Zhou Yu sambil mengusap kepala salah satu anak yatim yang berlari di dekatnya.
"Jangan lupakan dirimu sendiri, Kak Yu. Warga membutuhkan pemimpin yang hidup, bukan hanya pahlawan yang kuat," bisik Ling'er sambil menyeka sisa air di kening Zhou Yu. Kedekatan mereka memicu senyum menggoda dari Da Ge di kejauhan, namun Zhou Yu hanya membalasnya dengan tawa kecil.
Sore itu, suasana desa sangat hangat. Mereka makan bersama di lapangan tengah. Nyonya Liu bercerita tentang masa lalunya yang indah sebelum perang menghancurkan segalanya. Zhou Yu duduk di samping Ling'er, tangan mereka sesekali bersentuhan di bawah meja kayu panjang itu. Di saat-saat seperti ini, Zhou Yu merasa bebannya seolah terangkat. Harapan besar warga yang ada di pundaknya terasa lebih ringan karena ada cinta yang menopangnya.
Namun, di tengah tawa dan aroma masakan yang menggugah selera, insting Zhou Yu sebagai pemimpin mulai terusik. Ia merasa seolah ada sepasang mata yang mengawasinya dari kegelapan hutan yang mengelilingi lembah.
Ia berdiri, menajamkan pendengarannya. "Ada apa, Zhou Yu?" tanya Da Ge, menyadari perubahan sikap sahabatnya.
Zhou Yu menggeleng perlahan. "Mungkin hanya perasaanku saja. Angin malam ini terasa sedikit berbeda."
Ia mencoba memanggil Han Shui dalam batinnya, namun sang roh pedang sedang bermeditasi di dalam bilahnya dan tidak memberikan jawaban. Zhou Yu memutuskan untuk tidak merusak suasana bahagia warga. Ia kembali duduk dan mencoba menikmati supnya, meski hatinya tetap waspada.
Malam pun jatuh menyelimuti Desa Harapan. Lampu-lampu minyak di gubuk mulai dipadamkan satu per satu. Zhou Yu mengantar Ling'er sampai ke depan gubuknya.
"Tidurlah yang nyenyak, Kak Yu. Besok adalah hari pertama kita mulai menanam padi," ucap Ling'er dengan senyum yang menenangkan jiwa.
"Selamat malam, Ling'er," balas Zhou Yu. Ia menunggu sampai Ling'er masuk ke dalam gubuk sebelum ia sendiri berjalan menuju gubuk nya dan Da Ge di dekat batas hutan.
Zhou Yu tidak menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan fatal seorang kultivator pemula ia terlalu fokus pada kedamaian di depannya sehingga ia mengabaikan hembusan angin yang membawa aroma yang asing aroma minyak mesin dan bau karat yang sangat ia kenal dari tambang.
Jauh di atas tebing yang menghadap langsung ke arah desa, di balik bayang-bayang pohon pinus yang lebat, sesosok pria berdiri mematung. Ia mengenakan jubah hitam legam yang menyatu dengan kegelapan malam. Wajahnya tertutup topeng perak yang dingin, hanya menyisakan celah sempit untuk matanya yang berwarna merah redup.
Pria itu memegang sebuah gulungan kertas kuno dan sebuah alat pengintai mekanis yang berdecit pelan. Matanya terkunci pada sosok Zhou Yu yang baru saja masuk ke dalam gubuknya.
"Jadi, di sini kalian bersembunyi..." suara pria itu terdengar seperti gesekan logam, dingin dan tanpa emosi. "Dan tikus kecil itu... ia membawa benda iblis terlarang itu"
Ia mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan besi, menangkap seekor serangga malam yang malang dan meremasnya hingga hancur. Dari balik topengnya, terdengar tawa kecil yang mengerikan.
"Nikmatilah malam terakhirmu yang tenang, pemimpin kecil. Tuan tidak pernah melepaskan apa yang menjadi miliknya. Dan kau... kau memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar nyawa para budak ini."
Pria misterius itu melangkah mundur, perlahan-lahan menghilang ditelan kabut malam tanpa menimbulkan suara sedikit pun, bahkan dedaunan kering di bawah kakinya tidak berkerisik. Di bawah sana, Zhou Yu telah terlelap, sama sekali tidak menyadari bahwa badai yang lebih besar dari sekadar hujan pegunungan tengah bergerak menuju ke arah mereka, membawa maut yang terbungkus dalam bayang-bayang.
...Bersambung.... ...