Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.
Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Di dalam ambulans yang melaju kencang, Arga terbaring lemah dengan selang oksigen yang menempel di hidungnya. Anya menggenggam erat tangannya, merasakan betapa dingin dan lemasnya tubuh Arga.
Kekhawatiran terpancar jelas di wajah Anya. "Arga, kumohon, bertahanlah... Semoga kamu baik-baik saja. Cepatlah sadar," ucap Anya dengan suara bergetar, diliputi ketakutan yang mendalam.
Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Arga. Meskipun ia sangat kesal dan marah padanya, jauh di lubuk hatinya ia sangat menginginkan Arga selamat dan kembali sehat.
Setibanya di rumah sakit, Arga langsung dibawa menuju ruang IGD untuk mendapatkan penanganan medis yang lebih intensif.
Anya menunggu di ruang tunggu IGD dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia tak bisa duduk tenang dan terus mondar-mandir gelisah di depan pintu ruang IGD. Setiap kali ada dokter atau perawat yang keluar dari ruangan, Anya segera menghampiri mereka dengan harapan mendapatkan kabar baik tentang kondisi Arga. Namun, mereka semua hanya memberikan jawaban yang sama, bahwa mereka masih terus berusaha dan memintanya untuk bersabar.
Setelah berjam-jam menunggu dalam ketidakpastian, seorang dokter akhirnya keluar dari ruang IGD dan menghampiri Anya. "Anda istri dari pasien?" tanya dokter itu dengan nada serius.
Anya mengangguk cepat dengan wajah cemas. "Bagaimana keadaan suami saya, Dok? Apa dia baik-baik saja?" tanya Anya dengan nada khawatir.
"Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa suami anda mengalami dehidrasi dan hipoglikemia," jelas dokter itu dengan nada datar.
"Tapi... tapi suami saya tidak apa-apa kan, Dok? Tidak ada komplikasi atau masalah serius lainnya?" tanya Anya dengan suara bergetar karena khawatir.
"Untuk saat ini, kami sudah memberikan penanganan untuk mengatasi dehidrasi dan hipoglikemia," jelas dokter itu. "Namun, kami masih perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya. Apakah suami Anda memiliki riwayat penyakit tertentu?"
"Suami saya ada masalah pada mentalnya dok, dia berperilaku seperti anak kecil." jelas Anya.
Wajah dokter itu menunjukkan sedikit keterkejutan mendengar pengakuan Anya. "Maaf, Nyonya, apa yang Anda maksud?" tanyanya dengan nada bingung bercampur penasaran. "Apakah suami Anda didiagnosis memiliki gangguan mental?"
Anya mengangguk lemah, matanya berkaca-kaca. "Saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, Dok. Saya tidak tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Saya bukan seorang ahli atau psikolog," jelas Anya dengan suara bergetar.
Hingga saat ini, Anya masih merasa buntu dan tak tahu bagaimana cara membuat Arga sembuh dan berhenti bertingkah seperti anak kecil.
"Saya mengerti, Nyonya," kata dokter itu dengan nada penuh pengertian. "Sebaiknya setelah ini Anda berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog. Mereka lebih ahli dalam menangani masalah seperti ini. Untuk saat ini, kami akan fokus pada pemulihan kondisi fisiknya terlebih dahulu."
Anya mengangguk lemah, mencoba memahami semua yang dijelaskan oleh dokter. Ia merasa sangat awam dengan kondisi Arga yang sebenarnya. Bahkan, Pramudya pun tidak pernah memberitahunya secara detail tentang masalah yang dialami Arga.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Nyonya. Sebentar lagi suami Anda akan dipindahkan ke ruang perawatan," ucap dokter itu sambil tersenyum tipis sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan Anya yang masih terpaku di depan ruang IGD.
Anya terdiam di depan ruang IGD, dilanda perasaan hampa dan kebimbangan. Ia tak tahu langkah apa yang harus diambil selanjutnya, terlebih kondisi Arga saat ini masih belum stabil. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa sangat khawatir dan iba melihat Arga terbaring lemah tak berdaya.
Anya bimbang, antara menghubungi Pramudya atau tidak. Namun, ia merasa bertanggung jawab atas apa yang telah menimpa Arga. Mau tak mau, dengan berat hati Anya mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Pramudya. Ia merasa perlu berbicara dengan ayah dari suaminya itu untuk mengetahui lebih banyak tentang kondisi Arga.
Panggilan telepon tersambung, dan suara Pramudya, ayah Arga, terdengar dari seberang sana. "Ayah, ini Anya. Ada yang ingin Anya bicarakan," ucap Anya dengan suara yang sedikit bergetar.
"Iya, Anya. Ada apa, Nak?" tanya Pramudya dengan nada lembut.
"Ayah..." ucap Anya lagi, kali ini dengan nada yang lebih gugup dan hati-hati.
Jantung Anya berdebar kencang. Ia takut akan menerima kemarahan dan amarah dari mertuanya itu. Ia belum siap menghadapi segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
"Ayah, Arga... Arga masuk rumah sakit," ucap Anya dengan suara tercekat, berusaha sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah. "Tadi dia tiba-tiba pingsan setelah..." Anya berhenti sejenak, menimbang-nimbang kata yang tepat untuk melanjutkan kalimatnya.
Belum sempat Anya menyelesaikan penjelasannya, suara panik Pramudya langsung memotong ucapannya. Bagaimana bisa terjadi?! Dia kenapa? Sekarang dia dirawat di rumah sakit mana?!" tanya Pramudya bertubi-tubi dengan nada khawatir.
Setelah Anya menyebutkan nama rumah sakit tempat Arga dirawat, Pramudya langsung memutuskan sambungan telepon tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Jantung Anya berdegup kencang, tangannya bergetar hebat, rasa panik dan takut bercampur aduk menjadi satu. Ia tak tahu bagaimana ia akan menghadapi Pramudya nantinya, apa yang harus ia katakan atau jelaskan. Ia merasa sangat bersalah karena semua ini terjadi akibat kesalahannya, yang berawal dari pertengkaran kecil hingga membuat Arga menangis dan kabur dari rumah, yang berujung pada kejadian seperti ini.
Saat Anya sedang dilanda kegelisahan yang tak tertahankan, tiba-tiba pintu ruang IGD terbuka, mengagetkannya. Ternyata, Arga akan segera dipindahkan ke ruang perawatan.
Anya dengan cemas melihat Arga masih terbaring tak berdaya di atas ranjang dengan selang oksigen yang menutupi sebagian wajahnya. Tanpa ragu, Anya mengikuti para petugas medis yang mendorong ranjang Arga menuju ruang perawatan.
Setibanya di ruang perawatan, para petugas medis dengan sigap memindahkan Arga ke ranjang pasien. Anya hanya bisa terpaku, memperhatikan setiap gerakan mereka dengan perasaan cemas yang tak terlukiskan. Setelah selesai, para petugas medis itu pamit undur diri, meninggalkan Anya seorang diri bersama Arga di ruangan yang sunyi itu. Anya menarik kursi mendekat ke sisi ranjang Arga dan kembali menggenggam tangannya dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya.
"Arga, jangan lama-lama dong pingsannya, aku khawatir banget," bisik Anya lirih sambil menggenggam tangan Arga semakin erat.
Dengan lembut, Anya mengusap rambut Arga. "Maafin aku ya, Arga. Aku salah," ucap Anya dengan suara tercekat sambil menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata yang mulai menetes.
Anya menggenggam erat tangan Arga yang terasa dingin, lalu mendekatkannya ke pipinya yang basah oleh air mata. "Aku udah jahat ya sama kamu, Arga... Makanya kamu nggak mau bangun dan maafin aku," ucap Anya dengan suara bergetar.
Tiba-tiba, suara pintu yang terbuka memecah kesunyian ruangan itu. Pramudya muncul di ambang pintu dengan raut wajah cemas yang tak bisa disembunyikan. Tanpa ragu, ia langsung menghampiri putranya yang masih belum membuka mata.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Anya?" tanya Pramudya dengan nada dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. "Kenapa Arga bisa sampai terbaring seperti ini? Apa yang sudah kamu lakukan padanya?" Tatapan Pramudya begitu datar dan dingin.
Anya menatap Pramudya dengan mata berkaca-kaca, berusaha menghindari tatapan dingin mertuanya. "Maafkan Anya, Ayah... Ini semua memang salah Anya," ucapnya dengan suara nyaris tak terdengar.
"Jelaskan semuanya padaku sekarang juga, Anya!" seru Pramudya dengan nada membentak, membuat Anya tersentak kaget dan semakin ketakutan.