NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 : Gangguan kesehatan anak

Suasana ruangan terasa begitu hening hingga suara jarum jam yang berdetak terdengar seperti gema. Lampu putih di langit-langit menyala tanpa belas kasihan, menciptakan bayangan tegas di wajah ketiganya—seorang dokter berjas putih, seorang wanita paruh baya yang penuh kecemasan, dan seorang anak perempuan dengan mata kosong tanpa arah.

Sang dokter menatap lembar laporan di hadapannya dengan alis berkerut, sementara wanita di depannya terus berbicara dengan nada tinggi dan tergesa.

“Dok, tolong bantu saya… anak saya tidak seperti dulu. Beberapa minggu ini, dia diam saja. Tidak bicara, tidak mau belajar… padahal sebelumnya dia anak yang pintar, rajin, dan cepat tanggap!”

Tangannya menggenggam ujung rok dengan kuat, bergetar menahan gugup. Dokter itu mengangkat pandangannya, menatap sang ibu dengan sorot mata lembut namun berat.

“Mungkin ada yang salah pada keseimbangan tubuhnya. Tekanan terlalu tinggi dapat memengaruhi sistem saraf, apalagi untuk anak seusianya,” ucapnya dengan nada pelan namun tegas.

Namun wanita itu menggeleng keras, matanya melebar, penuh ambisi yang menutupi rasa sayangnya.

“Tidak mungkin, Dok! Saya perhatikan semuanya! Makanannya sehat, jam tidurnya cukup. Dia hanya saya suruh belajar dua puluh jam sehari, itu pun demi masa depannya! Dia harus jadi menteri negara, Dok! Presiden sendiri membuka peluang besar untuk anak-anak jenius. Kalau sekarang dia menyerah, semua usahaku sia-sia!”

Kata-katanya meluncur cepat, memantul di dinding ruangan seperti ledakan kecil. Sementara itu, anak perempuannya hanya duduk diam, menatap kosong ke arah meja, matanya tampak sayu seolah dunia di sekitarnya perlahan menjauh.

Dokter menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, nasihat medis tak akan mampu menembus tembok ambisi seorang ibu yang telah kehilangan arah. Ia meraih pena dan menulis resep di atas selembar kertas putih.

“Bu, anak Anda butuh istirahat total. Jika terus dipaksa, kondisi mentalnya bisa memburuk. Kami akan merawatnya di sini untuk sementara waktu. Dia hanya perlu pengawasan, bukan paksaan.”

Wanita itu menatap kertas resep itu dengan tangan gemetar. “Kalau begitu… baiklah. Saya akan pulang sebentar untuk mengambil buku-bukunya. Dia tidak boleh tertinggal pelajaran apa pun.”

Saat wanita itu hendak berdiri, tangan kecil si anak mendadak menarik pergelangan tangannya.

“Ibu… jangan pergi…” bisiknya pelan, matanya memohon, suaranya bergetar. “Kepalaku sakit, Bu… tolong jangan tinggalin aku…”

Tubuh sang ibu membeku sejenak. Namun sebelum ia sempat menjawab, dokter itu sudah lebih dulu berdiri, tangannya menyentuh bahu si anak dengan lembut namun tegas.

“Tenanglah, Nak. Kau aman di sini,” katanya sambil menatap sang ibu dengan senyum meyakinkan. “Biarkan kami yang menjaganya. Pulanglah sebentar, Bu. Dia akan baik-baik saja di bawah pengawasanku.”

Wanita itu menatap keduanya bergantian antara keraguan dan kelegaan yang dipaksakan. Akhirnya, ia hanya mengangguk pelan dan melangkah pergi.

Pintu tertutup di belakangnya dengan suara klik yang menggema.

Sisa keheningan kembali merayap di ruangan itu. Dokter itu menatap anak kecil di depannya. Tatapan kosong itu kini hanya berisi ketakutan samar, namun di balik mata si dokter, ada sesuatu yang lain tenang, tapi juga dingin.

Ia berjongkok sejajar dengan si anak, menyentuh dagunya, membuat gadis kecil itu perlahan menatap balik.

“Anak baik,” bisiknya, suaranya nyaris seperti desisan. “Kau tak perlu takut… semuanya akan segera tenang.”

"Tapi aku gak mau di suntik lagi seperti terakhir kali.." lirih suara gadis kecil itu memohon pada sang dokter di hadapannya.

Lampu putih di atas mereka berkelap pelan, dan ruangan itu kembali sunyi.

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!