Nayara Kirana seorang wanita muda berusia 28 tahun. Bekerja sebagai asisten pribadi dari seorang pria matang, dan masih bujang, berusia 35 tahun, bernama Elvano Natha Prawira.
Selama 3 tahun Nayara menjadi asisten pria itu, ia pun sudah dikenal baik oleh keluarga sang atasan.
Suatu malam di sebuah pesta, Nayara tanpa sengaja menghilangkan cincin berlian senilai 500 juta rupiah, milik dari Madam Giselle -- Ibu Elvano yang dititipkan pada gadis itu.
Madam Gi meminta Nayara untuk bertanggung jawab, mengembalikan dalam bentuk uang tunai senilai 500 Juta rupiah.
Namun Nayara tidak memiliki uang sebanyak itu. Sehingga Madam Gi memberikan sebuah penawaran.
"Buat Elvano jatuh cinta sama kamu. Atau saya laporkan kamu ke polisi, dengan tuduhan pencurian?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Hello, Brother John. ( 21 ++++++ )
Kamar mewah penthouse itu kini berubah panas, meski pendingin ruangan menyala dalam suhu rendah.
Elvano berada di atas sang asisten pribadi, mengeksplor setiap inci tubuh gadis itu dengan bibirnya, dan tangan kiri yang masih betah berada di dalam sarang asmara.
Tempat tidur yang tadinya sangat rapi, kini telah berantakan akibat perbuatan dua orang berbeda jenis itu. Selimut teronggok di kaki ranjang, sementara seprai mulai terlepas di setiap sudutnya. Pakaian mereka pun berserakan di atas lantai.
“Kamu sangat pandai merawat diri, Nara. Bahkan disini tidak ada rambutnya.” Puji pria itu dengan tangannya yang tetap nakal.
“S—saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk pasangan saya, Pakhh.”
Ucapan Nayara kembali menyulut Elvano. Tangannya pun bergerak cepat di bawah sana.
“Owh, tidak, pakhh.”
“Katakan sekali lagi kalimat seperti itu, maka saya akan menghabisi kamu, Nara.” Ancam Elvano dan tubuh Nayara seketika mengejang hebat.
Gadis itu menggelepar seperti ikan kehabisan air.
Elvano kemudian menarik turun kain beranda itu, dan melepaskan dari kaki Nayara.
“Sangat basah. Kamu pasti tidak akan nyaman.” Pria itu melemparnya ke atas lantai.
Nayara masih tersengal. Ia pun merapatkan kedua kakinya.
Elvano menunduk kemudian mengecup bibir gadis itu dengan lembut.
“Katakan jika kamu menginginkan saya untuk masuk ke dalam kamu, Ra.” Bisik pria itu sembari mencium telinganya.
Bohong jika Nayara menjawab tidak, setelah apa yang Elvano lakukan padanya.
Rasa gatal dan panas di bawah masih terasa. Dan Nayara menginginkan lebih. Bukan hanya karena menebus berlian lima ratus juta, tetapi juga karena ada has—rat yang ingin terpenuhi.
Gadis itu kemudian bangkit, dan membalik posisi, kini dirinya yang berada di atas tubuh Elvano.
“Rupanya kamu kuat juga, Ra.” Ucap Elvano sembari memegang pinggang ramping Nayara.
Gadis itu tak berbicara, ia mengeluarkan ponsel dan kunci mobil dari saku celana pria itu, kemudian meletakkannya di atas nakas.
Elvano pun hanya bisa pasrah saat sang asisten pribadi menarik turun celana bahan yang ia gunakan. Justru dengan senang hati pria itu mengangkat bokongnya agar Nayara lebih mudah meloloskan kain itu dari kakinya.
Kini tampilan mereka sama, hanya menggunakan underwear saja.
“Nakal sekali. Baru lihat wanita pakai tank top saja, sudah bangun.” Ucap Nayara sembari mengusap sesuatu di balik underwear sang atasan.
Elvano menggeram kasar. Tangannya terkepal di atas ranjang.
“Jangan mempermainkan saya, Ra.” Ucapnya dengan nada suara serak.
Nayara mengedikan bahu. Ia kemudian duduk di atas pinggang pria itu.
“Saya tau ini salah. Tetapi, kita sama - sama sudah dewasa bukan.” Ucap gadis itu kemudian membungkuk dan mencium bibir Elvano dengan lembut.
Pria itu pun membalasnya. Yang namanya kucing, pasti tidak akan menolak saat di sodorkan ikan segar.
Tangan Nayara pun tidak tinggal diam. Ia melakukan sama seperti yang Elvano perbuat pada tubuhnya.
“Nara.” Geram Elvanod di sela decapan yang tercipta.
Nayara melepaskan tautan bibir mereka. Ia perlahan turun sehingga inti tubuh mereka bertemu, meski di batasi oleh underwear.
Elvano kembali mengeram ketika Nayara dengan sengaja meng—goda di bawah sana.
“Kamu sangat cepat menangkap apa yang saya ajarkan, Ra.” Geram Elvano.
“Bukannya saya memang bisa diandalkan?” Tanya gadis itu.
Elvano mengangguk pelan. Tangan pria itu terulur untuk meraih kepala Nayara.
“Ah, andai masih panjang. Pasti dengan mudah saya menjam—baknya.” Ia melepas jepitan rambut gadis itu, lalu melemparnya sembarangan.
“Tetapi bapak lebih suka saya berambut pendek, ‘kan?” Tanya Nayara.
“Hmm. Kamu lebih cantik dengan rambut pendek..”
Nayara menyeringai. Ia pun mengecupi tubuh Elvano semakin turun. Posisi bokongnya kini berada di atas kaki Elvano.
“Saya ijin menurunkan underwear bapak.” Ucap gadis itu.
“Tadi saja kamu tidak ijin, Ra.” Decak Elvano.
Nayara terkekeh pelan. Meski tangannya sedikit bergetar, namun ia tetap melakukannya.
Malam ini, ia harus mengakhiri ancaman Madam Giselle. Meski dengan kehilangan kehormatannya. Nayara yakin Elvano pasti akan bertanggung jawab padanya.
“Ra.”
Panggilan itu menyadarkan Nayara. Ia kembali menurunkan underwear Elvano.
Hingga, glek!! Gadis itu menelan ludahnya dengan kasar. Underwear pun tersangkut di pa—ha Elvano.
Kening pria itu berkerut halus, ia pun melihat ke arah Nayara.
“Ada apa, Ra? Jangan katakan jika kamu berubah pikiran?”
Yang benar saja. Adik John sudah berdiri tegak seperti itu. Nayara harus bertanggung jawab.
“P - pak. Kenapa besar sekali?” Tangan Nayara bergetar hebat. Namun ia memaksa untuk menyentuhnya.
“Sshh.. Ra. Kamu belajar darimana? Ya.. begitu, Ra. Saya juga tidak tau. Kenapa adik John saya —
“Adik John?” Nayara tergelak. Hingga membuat tangannya tanpa sengaja meremat adik John itu.
“Pelan - pelan, Ra. Dia milik kamu. Jangan disiksa.” Ringis Elvano.
Nayara kemudian membungkuk. “Hello, brother John.” Sapanya kemudian mengecup pelan. Lalu dengan berani melahapnya.
“Si—al. Nara, darimana kamu belajar nakal seperti ini?” Elvano seketika bangkit dengan posisi duduk. Memegang rambut Nayara agar tidak menganggu aktivitas gadis itu.
“Saya bukan remaja belasan tahun, pak. Saya juga pernah menonton film dewasa.” Ucap gadis itu, kemudian kembali memanjakan adik John.
“Hmmm.. kamu memang yang terbaik, Nara. Katakan apa yang kamu mau? Uang, mobil, rumah?” Pria itu merancau sembari memejamkan matanya.
Nayara menghentikan kegiatannya, kemudian menatap Elvano. Pria itu seketika membuka matanya.
“Saya mau bapak berada di dalam saya.” Ucapnya dengan berani.
“Dengan senang hati, sayang.” Elvano kembali mengambil kendali. Ia menggulingkan tubuh Nayara.
Lalu melepaskan underwear yang tersangkut di kakinya. Pria itu juga melepaskan kain berenda milik Nayara. Kaki gadis itu di tekuk, hingga lututnya menempel disamping buah melon.
Nayara menggigit bibir, ketika Elvano melakukan apa yang ia lakukan sebelumnya.
“Pakhh.”
“Hmm.”
Tangan Nayara meremat kepala Elvano saat ia merasakan sebuah gelombang dalam dirinya.
“Banjir, sayang.” Ucap Elvano terkekeh.
Nafas Nayara tersengal. Elvano pun bangkit mensejajarkan posisi mereka.
“Saya harap, setelah ini kamu tidak akan menyesal, Ra. Karena sekali kamu mengijinkan saya masuk, saya akan sering mengajak John bertamu.” Ucap pria itu di atas wajah Nayara.
Tangan Nayara mengusap keringat di kening Elvano, ia kemudian mengecup bibir pria itu.
“Cepat lakukan, pak. Dan saya, dengan senang hati akan menjamu bapak dan John saat datang bertamu.”
“Ini yang pertama untuk saya. Maaf sebelumnya, jika saat bertamu nanti, John menyakiti kamu.” Pria itu mendekatkan adik John kedepan pintu masuk.
“Ini juga yang pertama untuk saya, pak. Maaf sebelumnya, jika saat bertamu nanti, pelayanan saya kurang memuaskan.”
Elvano mengangguk. Ia kembali mengecup bibir Nayara. Sembari berusaha menerobos masuk.
“Sakit, pak.” Pekik gadis itu.
Elvano melirik turun dan John telah masuk sempurna.
“Si—al. Kamu sempit sekali, Ra.”
😝😝😝