Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.
Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Beracun
Gerimis tipis yang membasahi Jakarta malam itu seolah membawa firasat buruk yang tidak mampu dibaca oleh Agil. Di dalam apartemen tipe studio yang sempit namun tertata rapi, Agil berdiri di dekat jendela, menatap lampu-lampu kota yang berpendar buram. Di belakangnya, Laila, istri yang baru dinikahinya selama enam bulan, sedang berlutut di lantai, mencoba menutup ritsleting koper besar yang sudah penuh sesak.
"Apa kita benar-benar tidak punya pilihan lain, Mas?" suara Laila memecah keheningan. Ada getaran kecemasan dalam nada bicaranya yang biasanya lembut.
Agil berbalik, menatap wajah istrinya. Laila adalah definisi kecantikan yang bersahaja—mata bulat yang jernih, kulit kuning langsat, dan rambut hitam yang selalu terikat rapi. Agil merasa menjadi pria paling beruntung di dunia saat bisa meminangnya, meski saat itu ayahnya, Baskoro, menentang habis-habisan karena Laila hanya anak seorang mantan kepala desa dari pelosok Jawa.
"Hanya sementara, Sayang," Agil menghampiri Laila, lalu berlutut di sampingnya untuk membantu menekan koper agar ritsletingnya bisa dikunci. "Bisnis logistikku benar-benar di titik nadir. Investor menarik diri, dan utang bank mulai menumpuk. Jika aku tidak menerima tawaran Papa untuk masuk ke perusahaannya dan tinggal di rumahnya, kita mungkin akan tidur di jalanan bulan depan."
Laila menunduk. Ia tahu kondisi keuangan mereka. Ia tahu Agil telah bekerja keras, tidur hanya tiga jam sehari demi menyelamatkan perusahaan rintisannya. Namun, bayangan tentang Baskoro—pria yang selalu menatapnya dengan cara yang tidak bisa dijelaskan—membuat bulu kuduknya meremang.
"Papa sudah berubah, Laila," lanjut Agil, mencoba meyakinkan dirinya sendiri sekaligus istrinya. "Dia bahkan meneleponku berkali-kali, meminta maaf atas sikap kerasnya di hari pernikahan kita. Dia bilang, rumah besar itu terasa seperti kuburan sejak dia dan Mama sering berselisih. Dia ingin kita meramaikan suasana."
Laila terpaksa tersenyum, meski hatinya terasa berat seperti tertimpa batu besar. "Kalau itu memang yang terbaik untukmu, aku akan ikut, Mas."
Keesokan harinya, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti di depan apartemen mereka. Seorang sopir berseragam rapi turun dan langsung mengambil alih barang-barang mereka. Agil menggandeng tangan Laila, merasakan telapak tangan istrinya yang dingin dan sedikit berkeringat.
Perjalanan menuju kawasan elit Menteng terasa begitu singkat bagi Laila, namun terasa seperti kemenangan bagi Agil. Bagi Agil, kembali ke rumah ayahnya dengan membawa istri yang ia cintai adalah pembuktian bahwa pilihannya tidak salah.
Gerbang besi raksasa setinggi tiga meter terbuka secara otomatis, menyingkap sebuah mansion bergaya kolonial modern yang megah. Pilar-pilar putih besar menjulang tinggi, dan taman luas dengan air mancur di tengahnya memberikan kesan kekuasaan yang absolut.
Di teras depan, berdiri seorang pria dengan jubah sutra berwarna biru tua. Baskoro. Meski usianya sudah melewati kepala lima, tubuhnya masih tegak dan atletis. Rambutnya yang mulai memutih justru menambah kesan karismatik dan dominan. Di sampingnya berdiri Rina, ibu Agil, yang tampak elegan namun memiliki tatapan mata yang kosong, seolah jiwanya telah lama terkikis oleh tembok rumah itu.
"Selamat datang di rumah yang sebenarnya, Agil," suara Baskoro bergaung pelan namun berwibawa.
Agil segera menghampiri ayahnya dan mencium tangannya dengan takzim. "Terima kasih, Pa. Terima kasih sudah memberi kesempatan kedua untuk Agil."
Baskoro menepuk bahu Agil dengan keras, namun matanya tidak tertuju pada sang anak. Tatapan tajam dan predatoris itu terkunci pada Laila yang berdiri dua langkah di belakang Agil.
"Dan kau, Laila... kau tampak lebih segar daripada saat terakhir kita bertemu di pesta pernikahan yang... sederhana itu," ujar Baskoro. Ia mengulurkan tangannya.
Laila ragu sejenak sebelum menyambut tangan mertuanya. Ia merasakan jemari Baskoro yang kasar namun hangat meremas jemarinya sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Baskoro tidak segera melepaskan genggamannya, malah mengelus punggung tangan Laila dengan ibu jarinya. Laila segera menarik tangannya dengan sopan begitu ada kesempatan.
"Masuklah. Pelayan sudah menyiapkan kamar terbaik di lantai dua. Tepat di sayap kanan, berseberangan dengan ruang kerjaku," ucap Baskoro sambil tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak mencapai mata.
Malam pertama di mansion itu terasa begitu sunyi bagi Laila. Agil sudah tertidur lelap di sampingnya, kelelahan setelah seharian mengurus kepindahan dan berdiskusi panjang dengan ayahnya tentang posisi barunya di perusahaan. Namun, Laila tidak bisa memejamkan mata. Kamar mereka begitu luas, dengan ranjang king size yang empuk dan seprai sutra, namun Laila merasa seperti berada di dalam sangkar emas.
Tenggorokannya terasa kering. Ia tidak ingin membangunkan Agil, jadi ia memutuskan untuk turun ke bawah mencari air minum. Dengan mengenakan daster satin tipis yang dibalut cardigan panjang, ia melangkah keluar kamar dengan sangat pelan.
Lantai marmer yang dingin menyentuh kakinya. Rumah itu sangat gelap, hanya diterangi oleh lampu-lampu dinding yang redup. Saat melewati lantai dua menuju tangga, Laila melihat cahaya merembes dari bawah pintu ruang kerja Baskoro.
Ia mencoba mempercepat langkahnya, namun tiba-tiba pintu itu terbuka.
"Belum tidur, Menantuku?"
Laila tersentak hingga hampir menjatuhkan gelas kosong yang ia bawa. Baskoro berdiri di ambang pintu. Ia tidak lagi memakai jubah sutranya, melainkan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan dadanya yang masih bidang. Di tangannya terdapat sebuah gelas kristal berisi cairan berwarna amber—wiski mahal.
"S-saya mau mengambil air, Pa," jawab Laila gugup, menundukkan kepala.
Baskoro melangkah keluar, mendekati Laila. Jarak mereka kini hanya terpaut satu meter. Aroma alkohol dan tembakau mahal menguar dari tubuh pria itu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan bagi Laila.
"Jangan terlalu formal. Di rumah ini, jika Agil sedang tidur, kau bisa menganggapku sebagai teman bicara," Baskoro terkekeh pelan. Suaranya rendah dan serak.
"Saya harus segera kembali ke kamar, Mas Agil mungkin akan mencari saya," Laila mencoba menghindar dan berjalan melewati Baskoro.
Namun, tangan Baskoro bergerak cepat. Ia mencengkeram lengan atas Laila dengan kuat, menghentikan langkah wanita itu. Laila menatap tangan yang mencengkeramnya, lalu menatap wajah mertuanya dengan ketakutan.
"Kau tahu, Laila... Agil itu anak yang baik. Terlalu baik. Dan pria yang terlalu baik biasanya tidak tahu bagaimana cara menjaga harta yang sangat berharga," Baskoro mendekatkan wajahnya ke telinga Laila. "Dia tidak punya taring. Dia tidak punya kekuasaan. Dia hanya bisa membawamu ke apartemen sempit dan memberimu utang."
"Lepaskan saya, Pa," bisik Laila dengan suara bergetar.
Baskoro tidak melepaskan, malah mempererat cengkeramannya. "Aku tahu tentang ayahmu di desa. Aku tahu dia menggunakan uang kas desa untuk pengobatan ibumu yang gagal itu. Dan aku tahu, jika minggu depan uang itu tidak dikembalikan, ayahmu akan membusuk di penjara."
Dunia Laila seolah runtuh. Bagaimana pria ini bisa tahu rahasia yang bahkan Agil pun tidak tahu?
"Bagaimana... bagaimana Papa tahu?"
"Aku tahu segalanya tentang siapa pun yang masuk ke dalam keluargaku. Dan aku bisa melenyapkan masalah itu dalam sekejap mata. Satu jentikan jari, dan ayahmu akan bebas dari tuntutan hukum," Baskoro melepaskan cengkeramannya, lalu mengusap pipi Laila dengan punggung tangannya yang kasar. "Tapi, tentu saja... tidak ada yang gratis di dunia ini, Laila."
Laila gemetar hebat. Ia merasa seperti kancil yang sedang dipojokkan oleh harimau tua yang haus darah.
"Apa yang Papa inginkan?" tanya Laila dengan suara yang hampir hilang.
Baskoro tersenyum puas. Ia meneguk wiskunya hingga habis, lalu menatap Laila dengan tatapan yang penuh nafsu dan dominasi. "Hanya sedikit bakti dari seorang menantu kepada mertuanya. Aku ingin kau sering-sering datang ke ruanganku saat Agil sedang sibuk di kantor. Kita punya banyak hal untuk didiskusikan... secara pribadi."
Baskoro lalu berbalik dan masuk kembali ke ruang kerjanya, menutup pintu dengan bunyi klik yang pelan namun terdengar seperti vonis mati di telinga Laila.
Laila berdiri terpaku di koridor yang gelap itu. Air matanya mulai luruh. Di atas sana, di kamar mewah mereka, suaminya sedang bermimpi tentang kesuksesan yang dijanjikan ayahnya. Agil tidak tahu bahwa harga dari kesuksesan itu adalah istrinya sendiri.
Laila membatalkan niatnya mengambil air. Ia berlari kembali ke kamar, masuk ke bawah selimut, dan memeluk Agil dengan sangat erat. Ia ingin berteriak, ingin mengajak Agil pergi dari rumah itu malam ini juga. Namun, bayangan ayahnya yang sudah tua mengenakan baju tahanan membuat suaranya tercekat di tenggorokan.