NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Dua garis merah yang menakutkan

Bayangan dua garis merah yang menakutkan mulai menari-nari di dalam pikirannya dan membuat jiwanya merasa sangat terancam. Anindira berdiri mematung di dalam bilik kamar mandi klinik yang sempit dengan tangan yang gemetar hebat saat memegang alat uji kesehatan tersebut.

Ia memejamkan mata rapat-rapat sambil merapalkan doa dalam hati agar kenyataan pahit ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan segera berakhir.

Detik demi detik terasa berjalan sangat lambat seperti tetesan air yang jatuh menghantam ubin porselen yang dingin dan sunyi. Perlahan ia memberanikan diri untuk membuka kelopak matanya yang sudah basah oleh embun air mata yang tidak terbendung lagi.

Di atas permukaan alat kecil itu, dua garis merah muncul dengan sangat tegas dan jelas seolah sedang menertawakan kehancuran hidupnya.

"Tidak, ini tidak mungkin terjadi padaku," rintih Anindira dengan suara yang nyaris hilang tertelan isak tangis yang menyesakkan dada.

Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan agar suara tangisnya tidak terdengar oleh perawat yang sedang menunggu di luar ruangan. Seluruh tenaganya seolah menguap begitu saja hingga ia terpaksa bersandar pada dinding keramik untuk menjaga agar tubuhnya tidak jatuh tersungkur.

Pikirannya melayang pada kemarahan ayahnya yang pasti akan meledak jauh lebih hebat daripada sebelumnya jika mengetahui kabar ini.

"Nona Anindira, apakah Anda baik-baik saja di dalam sana?" tanya sang perawat sambil mengetuk pintu kayu dengan pelan.

Anindira tersentak dan segera menghapus air mata di pipinya dengan kasar menggunakan punggung tangan yang mendingin. Ia menyembunyikan alat uji itu di dalam saku pakaiannya dengan gerakan yang sangat terburu-buru dan penuh rasa was-was.

Dengan napas yang masih belum teratur, ia membuka pintu dan mencoba memasang wajah yang sedatar mungkin di hadapan petugas medis tersebut.

"Saya baik-baik saja, hanya sedikit merasa pusing karena belum sempat sarapan pagi ini," jawab Anindira sambil menundukkan kepala untuk menghindari kontak mata.

"Mari ikut saya ke ruang dokter untuk mendengarkan penjelasan mengenai hasil pemeriksaan laboratorium Anda secara langsung," ujar perawat itu dengan nada yang sangat profesional.

Langkah kaki Anindira terasa sangat berat saat ia menyusuri koridor klinik yang beraroma cairan pembersih yang sangat tajam dan menyengat. Ia melihat ayahnya duduk di ruang tunggu dengan wajah yang nampak sangat tegang dan jari-jari yang terus mengetuk lengan kursi kayu.

Sarah yang duduk di samping ayahnya langsung berdiri dengan sorot mata yang penuh dengan rasa ingin tahu yang sangat besar.

"Bagaimana hasilnya? Apakah dokter sudah memberikan diagnosa yang pasti tentang penyakitmu?" tanya Sarah dengan nada bicara yang dibuat-buat sangat cemas.

Anindira tidak menjawab dan hanya terus berjalan mengikuti perawat masuk ke dalam ruang konsultasi yang berpintu putih bersih. Ayahnya segera bangkit dan ikut masuk ke dalam ruangan itu untuk memastikan bahwa ia mendengar setiap kata yang akan diucapkan oleh sang dokter.

Suasana di dalam ruangan kecil tersebut terasa sangat mencekam hingga Anindira kesulitan untuk sekadar menelan ludahnya sendiri.

"Silakan duduk, Bapak dan Nona Anindira, saya sudah memegang hasil pemeriksaan secara menyeluruh," kata sang dokter pria yang sudah nampak lanjut usia tersebut.

Dokter itu membetulkan posisi kacamata yang bertengger di hidungnya sambil meneliti selembar kertas yang berisi angka-angka dan istilah medis. Ayah Anindira mencengkeram pinggiran meja praktik dengan sangat kuat seolah sedang bersiap untuk menerima hantaman badai yang sangat besar.

Anindira hanya bisa menunduk sambil meremas jemarinya sendiri di bawah meja hingga kulitnya berubah menjadi sangat pucat.

"Berdasarkan hasil uji laboratorium, putri Anda tidak sedang mengalami gangguan pada lambung atau penyakit dalam lainnya," jelas dokter itu dengan suara yang tenang namun berwibawa.

"Lalu apa penyebab dia terus mengalami mual dan pusing yang sangat hebat sejak beberapa hari yang lalu?" tanya ayahnya dengan suara yang terdengar sangat tidak sabar.

Dokter itu menghela napas panjang lalu menatap wajah Anindira dengan tatapan mata yang penuh dengan rasa simpati sekaligus keprihatinan. Ia meletakkan kertas hasil pemeriksaan itu di atas meja tepat di hadapan ayah Anindira yang sudah nampak sangat haus akan kebenaran.

Anindira merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat dan jiwanya seolah ditarik paksa keluar dari raga yang sudah sangat rapuh itu.

"Selamat, putri Anda sedang mengandung dan usia kehamilannya diperkirakan sudah memasuki minggu kelima," ucap dokter itu dengan sangat lugas tanpa basa-basi.

Keheningan yang sangat dingin seketika menyelimuti ruangan itu setelah pengumuman yang terasa seperti vonis mati bagi masa depan Anindira tersebut. Ayahnya terpaku dengan mata yang membelalak lebar seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut sang ahli medis.

Tangannya yang tadi mencengkeram meja kini mulai gemetar hebat karena amarah yang mulai berkumpul di pusat dadanya.

"Apa dokter bilang tadi? Mengandung?" tanya ayahnya dengan suara yang sangat rendah namun sarat dengan getaran amarah yang mematikan.

Anindira tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali karena ia tahu bahwa badai yang paling dahsyat dalam hidupnya akan segera menghancurkan segalanya. Ia merasakan hawa dingin yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke puncak kepala saat ayahnya mulai berdiri dari kursi.

Ruangan konsultasi yang sempit itu seolah menjadi penjara bawah tanah yang sangat gelap dan tidak memiliki jalan keluar bagi dirinya.

"Ulangi sekali lagi apa yang dokter katakan tentang kondisi putri saya yang tidak tahu malu ini!" teriak ayahnya sambil menunjuk ke arah Anindira dengan telunjuk yang gemetar.

Sarah yang menguping dari balik pintu sedikit terbuka menutup mulutnya dengan telapak tangan namun matanya memancarkan kegembiraan yang sangat luar biasa. Rencana besarnya untuk menyingkirkan Anindira dari posisi ahli waris keluarga kini telah mendapatkan tiket keberhasilan yang sangat mutlak dan tidak terbantahkan.

Ia segera menyiapkan ponsel miliknya untuk merekam momen kehancuran saudara tirinya tersebut agar bisa ditunjukkan kepada seluruh anggota keluarga besar.

"Tenanglah, Bapak, ini adalah kabar yang seharusnya disikapi dengan kepala dingin demi kesehatan janin dan ibunya," dokter itu mencoba menenangkan suasana yang sudah sangat kacau.

Namun saran dokter itu tidak diindahkan sama sekali oleh pria yang sudah dibutakan oleh rasa malu dan kehormatan keluarga yang merasa telah diinjak-injak. Ayahnya menarik lengan Anindira secara paksa hingga wanita itu berdiri dan terhuyung-huyung mengikuti langkah kakinya yang sangat lebar.

Mereka keluar dari ruang dokter dengan pemandangan yang sangat memalukan di depan pasien-pasien lain yang sedang mengantre di koridor klinik.

"Pulang sekarang juga dan siapkan penjelasan yang sangat masuk akal sebelum ayah benar-benar menghapus namamu dari muka bumi ini!" ancam ayahnya dengan suara yang menggelegar di seluruh gedung klinik.

Anindira hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan karena rasa malu yang sudah tidak bisa lagi ia tanggung sendiri. Ia merasa seperti seorang terpidana yang sedang diseret menuju tiang gantungan di depan khalayak ramai yang menatapnya dengan penuh hinaan.

Rahasia di balik lemari yang ia simpan rapat-rapat selama ini kini telah menjelma menjadi monster nyata yang siap menelan seluruh hidupnya tanpa sisa.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!