Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Siang itu, Dian baru saja selesai memasak makan siang sederhana untuk dirinya dan Naya. Dapur masih hangat oleh uap masakan, aroma sayur tumis dan nasi baru matang memenuhi ruangan. Naya duduk di kursi kecilnya, memainkan sendok sambil sesekali menoleh ke arah ibunya.
Tadi pagi, ponsel Dian sempat berdering. Nama ibu mertuanya muncul di layar. Dian mengangkatnya dengan perasaan datar. Telepon itu hanya berisi pertanyaan tentang keadaan rumah—tentang bersih atau tidak, tentang ada apa saja di dapur—tanpa satu pun menyinggung kabar dirinya, apalagi menanyakan Naya.
Dian hanya menjawab seperlunya. Singkat. Sopan. Tanpa hati.
Kini, setelah telepon itu berlalu, Dian tak lagi memikirkannya. Ia menata piring di meja, lalu duduk di depan Naya.
“Ayo makan, Nak,” ucapnya lembut sambil menyuapi anaknya.
Bagi Dian, yang terpenting saat ini bukan lagi penilaian siapa pun. Bukan perhatian yang setengah-setengah. Yang ia jaga hanyalah ketenangan kecil di meja makan itu—dirinya dan Naya, cukup.
Dian kembali menatap dapur kecil itu. Tangannya menyentuh meja, seolah sedang menimbang keputusan besar dalam hidupnya. Ia menarik napas panjang, lalu berkata lirih pada dirinya sendiri.
“Kali ini aku harus berdiri di kakiku sendiri.”
Dian memutuskan membuka jualan lagi, tapi dengan cara yang lebih serius. Bukan hanya pesanan rumahan seperti dulu, melainkan produk frozen—cilok, cireng, epok-epok, dan beberapa menu andalannya yang bisa disimpan lama. Ia tahu, cara ini akan memudahkannya membagi waktu antara bekerja dan mengurus Naya.
“Nanti aku cari ruko yang murah harga sewanya,” gumam Dian sambil membuka catatan di ponselnya.
Bukan ruko besar yang ia incar, cukup tempat kecil tapi layak, yang bisa jadi awal baru. Ia tak ingin lagi bergantung pada siapa pun, apalagi pada suami yang bahkan tak menanyakan kabar anaknya sendiri.
Dari sudut ruang tamu, Naya berlari kecil menghampirinya, memeluk kaki Dian.
“Ibu kerja?” tanya Naya polos.
Dian tersenyum, menggendong anaknya erat. “Iya, Nak. Biar ibu bisa beli susu, jajan, sama mainan Naya.”
Naya tertawa kecil, lalu menyandarkan kepala di bahu ibunya.
Di detik itu, tekad Dian menguat.
Tak apa lelah. Tak apa mulai dari nol.
Selama Naya ada di sisinya, Dian yakin—ia tidak benar-benar sendirian.
Dian mengangguk pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
“Kulkas sudah ada… nanti tinggal nambah yang perlu,” ucapnya lirih.
Ia membuka pintu kulkas, menatap isinya dengan perasaan campur aduk. Bukan soal peralatan lagi, tapi soal niat. Usaha ini harus benar-benar ia jalani diam-diam. Bukan karena takut, tapi karena ia lelah diremehkan.
“Usahaku ini jangan sampai ibu mertua dan suamiku tahu,” batinnya.
“Biar saja mereka pikir aku susah, biar mereka kira aku masih bergantung pada mereka.”
Dian tersenyum tipis, senyum yang pahit tapi tegar. Selama ini ia terlalu sering dipandang lemah—menantu tak berguna, istri yang dianggap tak becus. Padahal mereka tak pernah tahu, betapa kuatnya ia bertahan demi Naya.
Ia menutup kulkas, lalu melirik ke arah kamar, memastikan Naya masih tertidur pulas.
“Pelan-pelan ya, Dian,” katanya pada dirinya sendiri.
“Biar hasilnya nanti yang bicara.”
Bukan untuk pamer.
Bukan untuk balas dendam.
Tapi untuk harga diri—dan masa depan anaknya.
Ponsel Dian bergetar tepat saat ia hendak merebahkan badan di samping Naya. Tangannya sempat ragu meraih ponsel itu, matanya melirik wajah putrinya yang sudah terlelap, napasnya teratur, damai—sesuatu yang akhir-akhir ini jarang ia rasakan.
Ia meraih ponsel perlahan agar tak membangunkan Naya.
Nama Sinta muncul di layar.
> Ian… kamu sudah siap dengar semuanya?
Jantung Dian berdegup lebih kencang. Ada firasat tak enak yang sejak tadi mengendap di dadanya. Ia menarik napas dalam, lalu bangkit sedikit, menjauh dari ranjang.
> Aku siap, Sin.
Tak lama, pesan masuk lagi.
> Andi makin berani. Orangku kirim update barusan. Aku kirim fotonya ya.
Tangan Dian gemetar saat layar ponselnya menampilkan foto-foto itu—Andi dan Tasya, begitu dekat, begitu nyata. Bukan lagi dugaan, bukan lagi rasa. Semua terpampang jelas di hadapannya.
Dian menutup mulutnya, menahan isak yang hampir lolos. Matanya memanas, dadanya terasa sesak. Namun anehnya, di balik perih itu, ada sesuatu yang lain… keteguhan.
Ia menoleh ke arah Naya yang masih tertidur.
“Tenang ya, Nak,” bisiknya pelan.
“Ibu sudah tahu harus bagaimana.”
Dian mengusap air matanya cepat-cepat. Kali ini ia tidak menangis lama. Tidak histeris. Tidak runtuh. Ia hanya duduk diam, memeluk ponselnya erat—seolah sedang mengumpulkan keberanian.
Dalam hati, ia berkata pada dirinya sendiri:
Ini bukan akhir. Ini awal.
“Gila kamu, Andi…” suara Dian bergetar, nyaris tak keluar.
“Tiga tahun kita bersama. Susah, senang, aku temani. Aku lahirkan anakmu, aku bertahan di hina ibumu, aku telan semua luka…”
Air matanya jatuh satu per satu, bukan lagi deras seperti dulu—lebih ke perih yang mengendap terlalu lama.
“Dan balasanmu selingkuh?” lirihnya sambil menatap layar ponsel.
Foto-foto itu seperti menampar wajahnya berulang kali.
Dian tertawa kecil, pahit.
“Pantas saja kamu dingin. Pantas saja nafkah kamu pelit. Pantas saja kamu gak pernah lagi sentuh aku… ternyata hangatmu kamu kasih ke perempuan lain.”
Ia menutup mata, mengingat semua malam ia menunggu Andi pulang.
Mengingat bagaimana ia selalu berdalih demi Naya setiap kali hatinya hancur.
“Aku bukan perempuan bodoh, Andi. Aku cuma terlalu sabar.”
Dian berdiri, menatap bayangannya di cermin. Wajahnya memang lelah, tapi matanya kini berbeda—lebih tajam, lebih hidup.
“Aku diam bukan karena aku gak tahu,” katanya tegas pada bayangannya sendiri.
“Aku diam karena aku sedang menyiapkan diriku.”
Ia kembali ke sisi ranjang, memeluk Naya yang bergerak kecil dalam tidurnya.
Tangisnya pecah, tapi cepat ia redam.
“Maafin ibu ya, Nak…
Ibu akan berhenti jadi perempuan yang diinjak-injak.
Bukan untuk balas dendam—
tapi supaya kamu punya ibu yang kuat.”
Dian mengusap pipinya, menghapus sisa air mata.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya tidak hanya sakit—
ia siap.
Ponsel Andi bergetar.
Satu pesan masuk—bukan dari Tasya.
Dadanya mendadak sesak saat melihat nama Dian di layar.
Ia membuka pesan itu…
foto-foto hotel, parkiran, nomor kamar, dan dirinya bersama Tasya.
Tangan Andi gemetar.
“Bisa jelaskan ini, Bang?”
—pesan Dian singkat, tenang, tanpa emosi.
Justru ketenangan itu yang membuat Andi panik.
Andi menelan ludah. Otaknya bekerja cepat—terlalu cepat.
Bukan rasa bersalah yang pertama datang, tapi takut.
Takut ketahuan.
Takut kehilangan citra.
Takut Dian mengambil Naya.
Takut ibunya marah… atau justru menyuruh cerai.
Ia membalas dengan tergesa.
“Dian… ini gak seperti yang kamu pikir.
Abang cuma nemenin klien.
Foto itu diambil dari sudut yang salah.”
Pesan terkirim.
Beberapa detik berlalu—tak ada balasan.
Andi menatap layar, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
Ia mengetik lagi, nadanya mulai berubah.
“Kenapa kamu bisa dapat foto ini?
Kamu nyuruh orang ngikutin abang?”
Di seberang sana, Dian membaca semua pesan itu dengan wajah datar.
Tak ada tangis. Tak ada teriakan.
Ia tersenyum tipis—bukan bahagia, tapi paham.
Bukan penjelasan yang ia dapat.
Bukan permintaan maaf.
Bukan pengakuan.
Yang ada hanya pembelaan diri dan ketakutan ketahuan.
Dian membalas perlahan.
“Aku cuma tanya, Bang.
Tapi dari jawabanmu…
aku sudah dapat jawabannya.”
Ia meletakkan ponsel di samping bantal, memeluk Naya yang masih tidur.
Dalam hati Dian berkata pelan:
Bukan kamu yang akan menentukan kapan aku hancur.
Mulai sekarang… aku yang menentukan.
Pesan itu masuk.
Dian membacanya perlahan, satu kata demi satu kata.
“Wajar aku selingkuh.
Kamu itu tidak becus jadi istri.
Benar kata ibu, kamu nggak bisa ngurus penampilan.”
Tidak ada air mata yang jatuh.
Justru dadanya terasa kosong—sepi yang dingin.
Dian tersenyum kecil, getir.
Jadi ini…
Ini alasanmu mengkhianatiku?
Ini caramu membenarkan dosa sendiri?
Ia menatap Naya yang tidur pulas di sampingnya.
Nafas kecil itu teratur, damai, sama sekali tak tahu dunia orang dewasa begitu kejam.
Dian mengetik balasan. Tangannya tidak gemetar.
“Bang,
aku tidak pernah tidak becus jadi istri.
Aku yang bangun malam saat Naya demam.
Aku yang masak, mencuci, menjaga anak kita saat kamu sibuk dengan wanita lain.
Aku yang menurunkan ego demi rumah tangga ini.
Kalau itu menurutmu ‘tidak becus’,
maka memang aku tidak cocok dengan laki-laki seperti kamu.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
“Soal penampilan…
aku berubah bukan karena malas,
tapi karena aku lelah berjuang sendirian.
Dan soal ibumu—
aku tidak pernah berharap dicintai,
tapi setidaknya dihargai sebagai ibu dari cucunya.”
Pesan terakhir ia kirim dengan napas panjang.
“Mulai hari ini, Bang,
jangan lagi jadikan aku alasan pembenaran untuk perselingkuhanmu.
Kesalahanmu tetap milikmu.
Aku diam selama ini bukan karena bodoh,
tapi karena aku sedang menyiapkan diriku dan anakku.”
Ponsel diletakkan.
Dian memeluk Naya lebih erat, mencium keningnya.
“Maaf ya, Nak…
Ibu dulu terlalu sabar pada orang yang salah.”
Di kejauhan, Andi membaca pesan itu—
dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa menang,
melainkan takut.
Karena wanita yang selama ini diam…
ternyata sudah bangun sepenuhnya.
Andi menggenggam ponselnya semakin kuat.
“Tapi bu… Dian kelihatan beda. Dia tenang banget. Biasanya kalau aku marah dia nangis, ini malah diam,” suara Andi terdengar ragu.
Bu Minah mendengus tajam.
“Ah kamu ini Ndi, perempuan kalau sudah kepepet paling cuma ngomel. Dian itu cuma kuat mulut. Emang dia bisa apa tanpa kamu? Nafkahnya dari kamu, rumah tangga juga numpang. Ibu sudah hafal.”
Andi menelan ludah.
“Tapi dia kirim foto hotel, bu… sama rekaman juga ada.”
Bu Minah terdiam sesaat, lalu tertawa kecil—dingin.
“Kalaupun benar, ya sudah. Laki-laki wajar. Lagian ibu juga tidak pernah sreg sama dia dari awal. Perempuan kampung sok kuat.”
Nada Andi meninggi, panik.
“Bu, kalau dia benar-benar gugat cerai gimana? Nama aku, kerjaanku—”
“Sudah!” potong Bu Minah kesal.
“Kalau dia berani, ibu yang hadapi. Kamu itu laki-laki, jangan takut sama istri sendiri. Ingat, ibu di belakangmu. Dian itu cuma mengandalkan sabar—kalau sabarnya habis, ya sudah, dia jatuh sendiri.”
Telepon ditutup.
Andi terdiam lama di kursinya.
Entah kenapa kata-kata ibunya yang biasanya menenangkan, kini justru membuat dadanya sesak.
Di sisi lain, Dian duduk di ruang tengah rumahnya.
Ia baru selesai menidurkan Naya. Tangannya menggenggam ponsel—pesan Andi belum dibaca lagi.
Sinta mengirim satu pesan pendek:
> “Ian, bukti sudah aman.
Kamu tinggal bilang kapan mau maju.”
Dian menarik napas dalam.
Ia menatap ke arah jendela, ke langit yang mulai mendung.
“Bukan aku yang nekat, Bang,” lirihnya.
“Ini kamu yang memaksaku bangun.”
Ia mengusap rambut Naya pelan.
“Tenang ya, Nak.
Ibu tidak akan menjatuhkan siapa pun…
ibu hanya akan melindungi kita.”
Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu dimulai,Dian merasa—
ia tidak sendirian, dan tidak lagi takut.