Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: RITUAL DI BAWAH BULAN PURNAMA
Langit Kyoto yang biasanya tenang kini terkoyak oleh suara keras mesin helikopter Stealth milik Ouroboros—Faksi Naga.
Cahaya bulan purnama yang seharusnya membawa kedamaian tertutup oleh kilatan lampu sorot taktis yang membelah kabut pegunungan.
Di bawah sana, di dalam aula kayu Kuil Teratai Hitam yang berderak, Alana berdiri di depan altar, menatap mikrokapsul emas yang berkilau seolah memiliki denyut jantungnya sendiri. Benar, ia dapat bernapas sendiri.
"Alana, kita tidak punya banyak waktu!" Arlan berteriak di tengah suara tembakan yang mulai menghujani dinding luar kuil.
Ia berlindung di balik pilar kayu raksasa, membalas tembakan ke arah pasukan taktis yang mulai turun dari tali rappel.
"Lukas sudah mengaktifkan sistem pertahanan kuil, tapi mereka menggunakan rudal termobaric! Tempat ini akan runtuh dalam hitungan menit!"
Kenji, sang pendeta tua, tetap duduk bersimpuh dengan ketenangan yang menakutkan.
"Ritual ini tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru, Cucu Sang Penabur. Formula Emas adalah kesadaran murni.
Jika hatimu dipenuhi oleh amarah atau ketakutan saat ia masuk ke pembuluh darahmu, ia tidak akan menyatukan sel-selmu; ia akan membakarnya hingga menjadi debu."
Alana menoleh ke belakang, melihat Lukas yang sedang mendekap Luna di sudut ruangan yang paling aman.
Lukas menatapnya dengan mata yang penuh harapan sekaligus kecemasan yang luar biasa. Alana tahu, ia tidak melakukan ini untuk kekuatan.
Ia melakukan ini agar tidak ada lagi monster seperti Alfred atau Bianca yang lahir dari ambisi tanpa jiwa.
"Aku siap," bisik Alana.
Dengan tangan yang stabil, Alana membuka mikrokapsul tersebut. Cairan emas murni di dalamnya tampak melawan gravitasi, membentuk bola kecil yang melayang di telapak tangannya. Inilah "Kunci Kesadaran".
"Minumlah," perintah Kenji. "Lalu biarkan bulan purnama membimbing frekuensi seluler-mu."
Alana menelan cairan itu. Rasanya tidak dingin seperti formula perak, melainkan hangat seperti madu yang terbakar.
Seketika, rasa panas yang luar biasa menjalar dari kerongkongannya menuju jantung, lalu meledak ke seluruh ujung sarafnya.
GUMARRRR!
Sebuah rudal menghantam bagian atap kuil, mengirimkan serpihan kayu yang terbakar ke seluruh ruangan.
Arlan menerjang maju, menggunakan tubuhnya untuk melindungi Alana dari reruntuhan, namun langkahnya terhenti.
Alana tidak lagi berdiri di atas lantai kayu. Tubuhnya melayang beberapa inci dari tanah. Pendaran perak di matanya kini bercampur dengan kilatan emas yang menyilaukan.
Vena-vena di lengannya bersinar terang, seolah-olah emas cair sedang mengalir di bawah kulitnya.
"Suhu tubuhnya mencapai lima puluh derajat Celcius!" Lukas berteriak sambil memantau tabletnya dari jarak jauh.
"Mummy, jantungmu berdetak di frekuensi yang tidak mungkin! Kau harus menstabilkannya!"
Di dalam pikiran Alana, ia tidak lagi berada di Kyoto. Ia berada di sebuah dimensi yang luas, di mana setiap helai DNA-nya tampak seperti untaian cahaya yang tak berujung.
Ia melihat semua penderitaan yang telah ia lalui—pengkhianatan Adrian, kematian rekan-rekannya di kapal, dan kehancuran yang ia saksikan di Amazon.
Formula Emas itu menuntut sebuah jawaban: Untuk apa kekuatan ini digunakan?
"Untuk melindungi..." bisik batin Alana. "Bukan untuk berkuasa, bukan untuk membalas dendam. Tapi untuk menjadi perisai bagi mereka yang tidak bisa membela diri."
Seketika, gejolak di dalam tubuhnya mereda. Rasa panas yang membakar berubah menjadi kehangatan yang menenangkan. Sinkronisasi telah mencapai 100%.
Di luar kuil, Komandan Faksi Naga, seorang pria dengan zirah mekanis lengkap bernama Kaito, memberikan perintah terakhir.
"Hancurkan seluruh kuil ini! Kita tidak butuh spesimen hidup jika kita bisa mengambil sisa-sisa DNA-nya dari abu!"
Dua helikopter tempur bersiap melepaskan sisa rudal mereka. Namun, sebelum tombol ditekan, seluruh hutan bambu di sekitar kuil tiba-tiba berhenti bergerak. Angin seolah membeku.
Dari reruntuhan atap kuil yang hancur, sebuah pilar cahaya emas melesat ke langit, menembus kabut dan awan, langsung menuju pusat bulan purnama.
Alana muncul di tengah pilar cahaya tersebut. Ia tidak lagi membutuhkan senjata.
Ia merentangkan tangannya, dan sebuah gelombang kejut elektromagnetik (EMP) yang murni berasal dari energi biologisnya terpancar ke segala arah.
BZZZZZZT!
Seketika, seluruh instrumen elektronik di helikopter Ouroboros mati total. Mesin-mesin berhenti menderu, dan lampu-lampu sorot padam.
Helikopter-helikopter itu jatuh seperti burung yang sayapnya dipatahkan, menghantam lereng gunung di kejauhan.
Alana mendarat dengan lembut di tanah, di depan sisa-sisa pasukan taktis yang masih bertahan.
Kaito keluar dari reruntuhan helikopternya, mencoba mengarahkan pistol manualnya, namun tangannya bergetar hebat.
"Kau... kau bukan lagi manusia..." desis Kaito dengan ketakutan yang nyata.
"Aku adalah apa yang kalian takuti," suara Alana terdengar berlipat ganda, seolah-olah bumi sendiri yang berbicara melaluinya. "Aku adalah keseimbangan."
Alana hanya melambaikan tangannya, dan partikel emas yang melayang di udara di sekelilingnya bergerak mengikuti perintahnya.
Partikel itu menyentuh senjata-senjata pasukan Ouroboros, seketika mengubah logam-logam tersebut menjadi karat yang rapuh dalam hitungan detik.
Tanpa melepaskan satu nyawa pun, Alana telah melumpuhkan seluruh batalion musuh.
Arlan keluar dari kuil, terengah-engah, matanya tak percaya menatap sosok Alana yang kini tampak begitu suci sekaligus perkasa.
Lukas dan Luna berlari di belakangnya, menatap ibu mereka dengan rasa takjub yang tak terlukiskan.
"Alana?" Arlan memanggil dengan ragu.
Alana berbalik. Cahaya emas di matanya perlahan memudar, kembali menjadi warna abu-abu yang hangat dan penuh cinta.
Ia tersenyum, dan pendaran di kulitnya meredup hingga ia tampak seperti manusia biasa lagi—meskipun aura di sekelilingnya telah berubah selamanya.
"Sudah berakhir, Arlan," kata Alana. Ia berjalan menuju Arlan dan menyandarkan kepalanya di bahu Arlan.
Kekuatan luar biasa itu telah menguras tenaganya, namun jiwanya terasa lebih ringan daripada sebelumnya.
Kenji berjalan keluar dari reruntuhan kuil yang kini hanya menyisakan kerangka kayu. Ia membungkuk dalam kepada Alana.
"Kunci Terakhir telah menemukan pemiliknya. Sang Penabur akan bangga padamu, Alana. Kau telah menyempurnakan Teratai bukan dengan sains, tapi dengan sisi kemanusiaan."
"Lalu, apa yang akan kita lakukan dengan kekuatan ini?" tanya Lukas, menatap ibunya dengan rasa ingin tahu seorang ilmuwan muda itu.
Alana menatap tangannya, di mana sisa-sisa energi emas masih sesekali berkilat.
"Kita akan menggunakannya untuk menyembuhkan apa yang telah dirusak oleh Ouroboros. Kita akan berkeliling dunia, bukan sebagai pemburu, tapi sebagai penyembuh. Tapi pertama-tama..."
Alana menatap ke arah Tokyo, di mana markas pusat Dewan Naga berada. "Kita harus memastikan bahwa sisa-sisa naga itu tidak akan pernah berani mengangkat kepala mereka lagi."
Malam itu, di bawah sisa-sisa cahaya bulan purnama di Kyoto, tidak lagi hanya sekadar melarikan diri atau membalas dendam.
Mereka telah berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Alana Mahendra bukan lagi sekadar seorang dokter atau pelarian; ia adalah pemegang kunci evolusi manusia, dan perjalanannya untuk membawa cahaya ini ke seluruh penjuru dunia baru saja dimulai.