Kemungkinan ada narasi adegan nyerempet 21th+
Pembaca mohon lebih bijak dalam memilih bacaan yang sesuai usia! Cerita cuma fiksi jgn terlalu baper
Setelah mengetahui perselingkuhan tunangannya dengan saudara tirinya, Beatrice justru dipertemukan dengan Alexander, seorang CEO ganteng, kaya, dingin yang sangat menyayangi dan memanjakannya. Awalnya Alex hanya penasaran terhadap Beatrice, pasalnya penyakit alerginya terhadap wanita sama sekali tidak kambuh saat bersentuhan dengan Beatrice. Sahabat sekaligus dokter pribadinya, Harris menyuruhnya terus bersentuhan dengan Beatrice sebagai upaya terapi untuk kesembuhan alergi yang diderita Alex. Namun lama-lama sikap posesif dan cemburuan Alex terhadap Beatrice semakin menjadi, membuatnya sadar bahwa dia telah jatuh hati pada Beatrice. Alex ingin pernikahan kontrak mereka menjadi pernikahan sungguhan. Akankah hati Beatrice terbuka untuk Alex?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Baikan
Di dalam kamar, Beatrice langsung menuju kamar mandi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia pun mandi di bawah shower untuk membasuh sisa debu dan ketakutan dari tubuhnya, namun rasa sesak di dadanya belum juga hilang. Begitu keluar, ia langsung merebahkan diri di atas ranjang king size mereka, menarik selimut, dan membelakangi sisi tempat tidur Alex.
Alex yang sedari tadi duduk di sofa, bangkit dan segera berbaring di sampingnya. Merasa kehadirannya diabaikan, Alex perlahan bangkit dan duduk. Tanpa peringatan, ia menyusupkan lengannya ke bawah tubuh Beatrice, mengangkat wanita itu dengan mudah dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
"Baby, tatap aku. Tolong bicara padaku," mohon Alex, suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan. "Jangan diamkan aku seperti ini. Aku akan melakukan apa pun, apa saja, asal kau memaafkanku."
Beatrice menatap wajah pria di depannya. Mata Alex yang biasanya penuh otoritas kini tampak redup karena rasa bersalah. Melihat kesungguhan itu, benteng pertahanan Beatrice akhirnya runtuh. Dengan bibir yang masih mengerucut sebal, ia bersuara lirih.
"Janji... jangan membentakku lagi. Apalagi di depan orang lain," ucap Beatrice lirih.
"Aku janji. Aku tidak akan mengulanginya," jawab Alex cepat, seolah takut Beatrice akan berubah pikiran.
Beatrice menggeliat kecil, mencoba melepaskan diri dari pelukan posesif Alex. "Lepaskan, aku lelah, aku ingin tidur."
Alex akhirnya mengalah dan membiarkan Beatrice kembali berbaring. Namun, tiba-tiba Alex bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar tanpa sepatah kata pun. Beatrice tertegun. Hatinya kembali mencelos. "Apa dia marah lagi? Apa dia ingin tidur di kamar lain?" pikirnya. Air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupuk matanya.
Namun, ketakutan itu hanya bertahan beberapa menit. Pintu kamar terbuka kembali, menampilkan Alex yang membawa kotak P3K. Ia duduk di tepi ranjang, menarik tangan Beatrice dengan sangat lembut, lalu mulai mengoleskan salep pada luka lecet dan memar di telapak tangannya.
Selesai mengobati tangannya, Alex menatap wajah Beatrice dan terkejut melihat matanya yang berkaca-kaca. Kepanikan kembali melanda pria itu.
"Baby?! Ada apa? Apa ada bagian lain yang terluka? Di mana yang sakit?!" tanya Alex dengan nada mendesak. Tanpa menunggu jawaban, ia mulai menarik pakaian Beatrice. "Lepas bajumu, aku harus mengecek seluruh tubuhmu. Mungkin preman-preman itu sempat memukulmu di bagian lain!"
"Alex! Apa yang kau lakukan? Berhenti!" Beatrice mencoba menghalau tangan Alex, namun gerakan Alex yang terburu-buru dan jemarinya yang menyentuh bagian sensitif justru membuat Beatrice kegelian. "Hahaha! Alex, geli! Berhenti!"
Alex mematung, menatap Beatrice yang tertawa di bawahnya dengan bingung. "Kenapa kau tertawa? Aku sedang khawatir, Beatrice."
"Aku tidak terluka di tempat lain," ucap Beatrice sambil berusaha mengatur napasnya setelah tertawa. "Tadi aku hanya mengira kau pergi karena... Ingin pisah ranjang."
"Aku tidak percaya. Aku harus memastikannya sendiri," tegas Alex dengan nada protektif yang tak terbantahkan. Ia tetap melanjutkan "pemeriksaan" menyeluruhnya hingga yakin tidak ada satu pun goresan kecil di tubuh mulus istrinya.
Setelah benar-benar yakin Beatrice baik-baik saja, Alex menghela napas lega yang panjang. "Hah... syukurlah."
Beatrice hendak meraih kembali pakaiannya, namun dalam sekejap, Alex sudah menindih tubuhnya kembali. Napas hangat pria itu terasa di ceruk leher Beatrice.
"Alex! Apa yang kau lakukan?! Aku mau pakai baju!"
"Tidak perlu dipakai lagi," bisik Alex dengan suara rendah yang menggoda. "Ini lebih mudah."
"Mudah? Mudah apanya?! Ah! Alex!"
Protes Beatrice tenggelam saat Alex mulai menghujani wajah dan lehernya dengan ciuman-ciuman intens. Pertengkaran pertama mereka akhirnya menguap begitu saja, berganti dengan percikan gairah yang membakar malam mereka di dalam mansion yang sunyi.
jgn lupa subscribe, like, komen, kasih rating dan gift, gift yg free jg gpp nonton iklan aja bentar 🤣