"Jika aku bisa memiliki keduanya kenapa aku harus memilih salah satu saja." Alkama Basri Widjaya.
"Cinta bukanlah yang kamu butuhkan, pilih saja ambisimu yang kamu perjuangkan mati-matian." Nirmala Janeeta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyawrite99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Dalam sebuah perjamuan. Ayah Kama tuan Baskara Reno Widjaya bertemu dengan Mr. Zahid ayah Juwita. Keduanya membuat kesepakatan untuk menjodohkan Kama dan Juwita.
Keduanya saling tertawa senang setelah mencapai mufakat tersebut. Terlihat tuan Baskara begitu senang dengan perjodohan tersebut karena akan semakin memperkuat perusahaan.
Begitu juga Mr. Zahid yang ikut gembira karena telah mewujudkan keinginan sang putri.
"Putriku akan sangat senang mendengar tentang perjodohan ini," ujar Mr. Zahid. Tawa bahagia terdengar oleh ayah Kama.
"Tentu. Begitu juga putraku. Mereka berdua memang sudah ditakdirkan bersama. Semua sudah jalan tuhan."
"Ya. Berita baik ini secepatnya harus mereka ketahui."
"Tentu. Besok malam kita harus membicarakan ini lagi bersama anak anak kita."
"Tentu. Berita baik harus segera tersampaikan."
Kembali keduanya tertawa.
***
"Bos. Nanti malam ayah anda meminta anda untuk ikut acara makan malam bersama keluarga Mr. Zahid."
Kama langsung menatap asistennya tersebut.
"Dalam rangka apa mereka mengadakan makan malam."
"Saya kurang tahu juga bos. Tapi sepertinya ini bukan hanya masalah bisnis saja. Pasalnya nona Juwita juga ikut serta dalam perjamuan itu."
Kama terdiam.
"Dimana ayahku saat ini."
"Beliau sedang ada pertemuan dengan kolega dari Jepang tuan."
"Kosongkan jadwal saya siang ini. Saya harus bertemu dengan ayahku sebelum acara makan malam itu. Saya harus tahu apa yang mereka rencanakan."
"Baik bos." Dirga undur diri.
Kama duduk diam di tempatnya. Apa yang sedang ayahnya rencanakan. Ada satu hal terlintas di benaknya.
Perjodohan.
"Shit."
Kama bisa menduga itu. Ia yakin ayahnya itu seperti mendapat kesempatan. Setelah beberapa wanita yang telah disodorkan ayahnya dari berbagai kalangan konglomerat Kama tolak, namun kini ayahnya kembali berulah. Tentu semua itu adalah pernikahan bisnis.
Kama enggan menjalani pernikahan bisnis. Ia telah memiliki pilihannya sendiri. Tidak akan ia bersedia untuk menikah jika bukan bersama Nirmala.
Dirga benar benar mengosongkan jadwalnya dari siang hingga pulang. Segera Kama menuju tempat ayahnya berada saat ini. Tidak akan Kama biarkan rencana busuk ayahnya terlaksana.
***
Setelah tiba di kantor milik ayahnya. Kama langsung menuju ruangan ayahnya.
Saat tiba di lantai tujuan, Kama masuk ke dalam ruangan ayahnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Sepertinya undangan makan malam menjadi penyebab kau mau repot repot menemui ku," tepat ketika Kama berdiri di depan meja kebesaran tuan Baskara, pria itu berujar menerka kedatangan Kama.
"Apa rencana anda. Jika bukan untuk urusan pekerjaan, saya tidak bisa hadir. Saya memiliki rencana lain malam ini."
"Hm. Jika dibilang urusan pekerjaan sebenarnya juga tidak salah. Semua tujuan pasti demi perusahaan."
"Langsung saja. Saya tidak suka jika anda mencampuri urusan saya jika itu ranah pribadi."
"Perkataan mu terdengar lancang putraku. Aku berhak untuk mengatur mu. Kau putra sekaligus bawahanku. Harusnya kau tahu diri untuk tidak memberontak anakku."
"Ck. Aku tidak akan menuruti mu jika itu masalah perjodohan."
"Aku tidak peduli kau setuju atau tidak. Yang jelas semua sudah kami sepakati."
"Sepakat tanpa persetujuan dariku itu tidak akan adil. Aku tidak mau menerima jika perjodohan adalah niat kalian melakukan makan malam nanti."
"Oh putraku. Sepertinya kau lupa jika aku masih memegang kendali atas diri mu. Statusmu masih ada campur tanganku. Jika aku mau. Jabatan bisa aku pindah pada orang yang aku kehendaki. Ada satu nama lagi yang pantas meneruskan kepemilikan absah kekuasaan perusahan jika memang kau tidak bisa."
"Apa ini sebuah gertakan."
"Ya benar. Aku harap kau bisa menurut. Jika tidak. Ada satu nama yang akan bersedia menuruti setiap kemauanku dengan sepenuh hati."
"Ck. Anak haram mu itu tidak akan pantas menduduki posisi tertinggi perusahaan."
"Kenapa tidak. Aku hanya memilih orang yang aku kehendaki. Menurut lah kali ini. Sejauh ini aku sudah membiarkan mu untuk bebas menolak wanita yang aku sodorkan. Namun kali ini aku tidak mentolerir lagi. Jika kau bersedia aku akan langsung menjadikanmu penerus berikutnya tanpa ada persyaratan lainnya. Namun jika menolak. Bersiaplah menjadi bawahan saudaramu, anakku. Kau akan berada cukup jauh darinya nanti."
Kama terdiam. Ia tidak akan rela membiarkan orang lain mengambil posisinya, apalagi orang itu adalah orang luar seperti Bara. Kama tidak mau dirinya dikalahkan oleh anak dari gundik ayahnya itu.
Kama berpikir, mungkin ini bisa jadi langkah terakhir untuk memperoleh kekuasaan mutlak yang ia dambakan. Kekuasaan penuh atas perusahaan.
Kama mengepalkan tangannya. Ia tidak bisa berkata lebih lanjut. Panas di kepalanya membuat ia segera pergi meninggalkan ruangan milik ayahnya.
Sepeninggalan Kama, tuan Baskara tersenyum melihat reaksi Kama.
"Kekuasaan akan selalu menjadi pilihan yang tepat anakku. Kau bisa memiliki wanita manapun jika uang ada digenggaman tanganmu," ujar tuan Baskara pada Kama yang sudah berlalu pergi.
***
Pikiran Kama berkecamuk. Kepalanya penuh dengan rencana. Ia perlu mengambil resiko untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Kama mengambil handphone miliknya. Segera ia kirim pesan pada sang kekasih.
Kama harus mendapatkan semua keinginannya. Tahta, kekuasaan dan wanitanya harus ada dalam genggamannya. Semua itu tidak akan ia lepaskan begitu saja. Semua cara akan Kama lakukan untuk mencapai keinginan tersebut.
***
Nirmala baru selesai meeting bersama kliennya. Kliennya saat ini cukup memiliki banyak permintaan. Tak apa. Mala maklum. Setiap orang punya dream wedding nya masing masing. Semaksimal mungkin Mala akan mewujudkannya. Walau ia dan teamnya harus memutar otak sedemikian rupa untuk mencari solusi terbaik pasangan pengantin.
Setelah selesai meeting tadi ia kembali mengecek ponsel miliknya. Ada banyak pesan masuk. Salah satunya dari sang kekasih.
Hm. Kama pasti marah jika ia tidak segera membalas pesan dari laki laki itu. Segera Mala membalas pesan tersebut.
Tok tok
Pintu ruangan Nirmala diketuk. Itu pasti asistennya. Dan benar saja, Malika masuk ruangannya setelah mendengar Mala mempersilahkannya masuk.
"Mbak. Sudah mau pulang kah?" tanya Malika sesaat ia sudah berdiri di dekat meja kerja Nirmala.
"Iya."
"Langsung pulang ya mbak?"
"Hm. Rencananya begitu. Ada apa Malika?"
"Tadinya mau ngajak jalan, sama anak anak yang lain juga. Paling cuman makan makan saja. Tapi kalau mbak Mala ada rencana lain gak papa mbak."
Nirmala diam sejenak. Mungkin lebih baik ia ikut ajakan asistennya ini. Toh malam ini Kama tidak jadi menginap ke apartemennya. Tadi kekasihnya itu sudah memberi kabar bahwa malam ini Kama tidak akan menginap di apartemen nya.
"Boleh. Mau pergi jam berapa."
"Wih seru nih ada Bu bos, bisa ditraktir nih. Jam 5 an saja mbak. Anak anak yang lain lagi beres beres."
"Oke. Atur saja. Saya juga mau siap siap."
"Siap mbak." Jawab Malika kegirangan.