Kisah ini lanjutan dari KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS seasons 1
Banyak adegan kasar dan umpatan di dalam novel ini.
Cerita akan di mulai dengan Cassia, si Antagonis yang mendapatkan kesempatan terlahir kembali, di sini semua rahasia akan di ungkap, intrik, ancaman, musuh dalam selimut dan konflik besar, kisah lebih seru dan menegangkan.
Jangan lupa baca novel KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS season 1 agar makin nyambung ceritanya. Happy reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
"Tenang saja!" Morgan menyahut tegas, dan tanpa banyak kata, mereka semua mengangguk setuju.
Suasana sunyi menguasai halaman luas kediaman Yazeed, tanda hari yang melelahkan ini sudah cukup untuk hari itu.
Satu per satu mobil mewah mereka melaju meninggalkan halaman luas mansion Yazeed.
Tiba-tiba, suara Dax memecah hening. "Cas, bisa ikut aku sebentar." Permintaannya datang tanpa ampun, membuat Cassia terkejut.
"Mau ke mana?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Ikut saja, bisa?" Dax menatapnya tanpa menyisakan ruang untuk penolakan.
Cassia menoleh, dia menatap sang Kakak yang tampak setuju, hari ini Vladimir akan kembali lebih dulu, sedangkan Cassia akan di antara pulang oleh Dax nanti.
Vladimir akan pulang lebih dulu malam ini, sedangkan Cassia akan ikut bersama Dax. "Jaga adikku," ujar Vladimir, nadanya penuh peringatan yang menusuk jiwa.
Dax hanya tersenyum tipis, wajahnya tetap datar namun kata-katanya lugas, "Tenang saja, Cassia tidak akan terluka selama ada aku.
Vladimir percaya, dia akhirnya mengusap pelan kepala sang adik untuk pamit dari sana meninggalkan Cassia bersama Dax di rumah keluarga Yazeed.
...****************...
Mereka kini duduk berhadapan di dalam rumah kaca tersembunyi di belakang mansion megah milik Yazeed.
Tempat itu didesain khusus untuk menyulam ketenangan saat sore mulai merangkak atau malam yang dingin menyapa, bahkan di pagi hari yang sunyi sekalipun.
Di sekeliling mereka, bermekaran bunga-bunga indah dari yang paling langka hingga yang sederhana, namun memikat hati dengan warna dan harumnya yang menenangkan jiwa.
Cahaya lampu lembut menari di antara dedaunan, menyulap rumah kaca itu menjadi oase magis yang memikat mata dan hati.
Minuman hangat dan cemilan ringan terhampar di meja kecil, ditemani buku-buku yang siap membuka jendela imajinasi sebuah dunia kecil yang sempurna untuk berbagi cerita, harapan, dan mungkin juga rahasia terdalam.
Cassia terpana menatap keindahan rumah kaca yang berkilauan di bawah sinar cahaya lampu. Matanya berbinar, seolah-olah dunia sejenak berhenti berputar, melupakan sosok Dax yang duduk di depannya.
Namun, pandangan Dax tak pernah berpaling, ia menghela nafas tak berdaya, lalu menatap Cassia dengan tatapan yang tenggelam dalam lautan cinta.
“Cantik...” gumam Dax lirih, suaranya nyaris tertelan oleh bisikan angin. Tapi entah kenapa, kata itu terdengar begitu kuat, menusuk ke dalam hati Cassia.
Dengan malu-malu, Cassia membalas, “Iya, bunga-bunga ini indah sekali, ya?”
Dax tersenyum pahit, matanya semakin lembut.“Bukan bunganya, Cassia... Kamu yang paling cantik di sini.”
Kata-kata itu menyulut bara dalam dada Cassia, menghangatkan hatinya yang selama ini rapuh, menghapus segala keraguan yang pernah bersarang.
Di tengah kemegahan rumah kaca itu, cinta mereka seperti mekar paling sempurna.
...****************...
"Cassia?" Dax memanggil dengan suara lembut yang penuh harap.
"Ada apa?" balas Cassia, matanya menatap tajam, terpaku pada sosok pria yang entah sejak kapan telah merasuk ke dalam hatinya tanpa permisi.
Dax menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna merah yang dibalut pita hijau putih hadiah Natal spesial darinya.
Cassia menaikkan satu alis, ragu, namun tangan mungilnya tak kuasa menolak. "Kamu kan sudah kasih aku hadiah kemarin?" suaranya bergetar kecil, penuh tanda tanya.
Dax melemparkan senyum tipis, seolah menyimpan rahasia, "Ini berbeda, Cassia. Bukan hadiah biasa."
"Mmm... boleh aku buka sekarang?" tanyanya, matanya berbinar penuh rasa penasaran.
"Buka saja," sahut Dax singkat, menahan degup jantung yang mendadak cepat.
Saat kotak itu terbuka, mata Cassia membulat, hati seolah berhenti sejenak melihat isi di dalamnya sebuah keindahan yang tak terduga.
Matanya beralih penuh haru pada Dax, "Ini... indah sekali. Terima kasih."
Diam-diam, sebuah harapan mulai berbisik di relung hatinya mungkinkah Natal tahun ini membawa lebih dari sekadar hadiah?
Isi kotak hadiah spesial itu membuat napasnya tertahan sejenak sebuah kalung berliontin berbentuk hati yang memukau, dihiasi batu safir biru tua yang berkilau bagai lautan malam yang tenang.
Warna biru gelap itu bukan sekadar keindahan, melainkan simbol kebijaksanaan dan kesetiaan yang abadi. Dalam kesederhanaan yang elegan, kalung itu bercerita tentang janji dan perasaan yang tulus, seakan mengikat hati yang memberikannya dengan keabadian tak tergoyahkan.
"Cassia..." Suaranya serak, nyaris tak terdengar oleh gemuruh perasaannya sendiri. "Aku mencintaimu dengan sepenuh jiwa, sejak dulu... dan rasa itu tak pernah surut, bahkan sedetik pun."
Matanya menatap dalam, berkilat oleh penyesalan yang dalam dan membakar. "Maaf... Aku bodoh, terlalu lama menyimpan semuanya dalam diam, hingga kamu harus menanggung luka yang seharusnya tak pernah kamu rasakan." Hening menyelimuti, seolah dunia pun menunggu jawaban dari hati yang terluka itu.
Matanya Cassia berkilat oleh butiran air yang nyaris jatuh, menggenggam harapan sekaligus kepedihan yang membakar dada.
Dia tahu Dax mencintainya dengan segenap jiwa, bukan hanya di kehidupan ini, tapi juga dikehidupannya yang lalu.
"Dax?" suaranya terpecah, gemetar tak sanggup menyembunyikan keraguan dan harap.
Dax menatap dalam, seolah ingin menancapkan keyakinan ke hati yang hampir runtuh itu. "Cassia, setelah kita lulus kuliah, maukah kamu bertunangan denganku?" tanyanya, penuh harap sekaligus ketegasan yang menusuk kalbu.
Di sana, waktu seolah terhenti, antara janji dan mimpi yang hampir menjadi nyata.
selalu d berikan kesehatan 😃