NovelToon NovelToon
Bocil Milik Mafia Hyper

Bocil Milik Mafia Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cintapertama / Nikahmuda / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:21.7k
Nilai: 5
Nama Author: Pandaimut

Aca Latasya Anesia dikenal sebagai badgirl yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Mulutnya tajam, sikapnya liar, dan hidupnya selalu penuh masalah. Tidak ada yang berani mengusiknya sampai sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Motor kesayangannya menabrak mobil mewah milik Aron Darios Fernandes. Bukan sekadar CEO muda yang dingin dan berkuasa, Aron adalah sosok di balik organisasi mafia paling berbahaya di kota pria yang namanya saja sudah cukup membuat orang gemetar. Mobilnya rusak. Situasi penuh ketegangan. Namun alih-alih takut, Aca justru menatapnya tajam dan melawan tanpa ragu. Di detik itulah sesuatu yang gelap dan berbahaya tumbuh dalam diri Aron sebuah obsesi. Bukan amarah bukan dendam melainkan keinginan untuk memiliki. Sejak saat itu, hidup Aca tak lagi sama. Ia menjadi target perhatian seorang pria yang tak pernah gagal mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Dan yang lebih mengerikan Aron tidak mengenal kata menyerah “Aku tidak tertarik jadi milik siapa pun,” Aca mendesis dingin. Aron hanya tersenyum tipis, matanya penuh dominasi. “Sayangnya kamu tak lagi punya pilihan. Baby girl.” Dalam dunia yang penuh kekuasaan, bahaya, dan permainan gelap, satu hal menjadi pasti. Sekali Aron terobsesi, tidak ada jalan keluar lagi bagi Aca untuk bebas pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandaimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembalasan Lebih Kejam

Tamparan itu bukan yang terakhir.Setelah suara tamparanpertama menggema di ruang kerja mewah itu, suasana langsung berubah menjadi neraka yang nyata bagi Sandra.

Hendro berdiri di hadapannya dengan napas memburu, wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menegang jelas. Tangannya masih terangkat di udara, gemetar bukan karena ragu tapi karena amarah yang sudah melewati batas.

Sandra bahkan belum sempat mencerna pertanyaan ayahnya ketika.

PLAK!

Tamparan kedua mendarat lebih keras. Tubuh Sandra oleng ke samping, tumit heels mahalnya kehilangan keseimbangan hingga ia hampir jatuh. Tangannya refleks menahan meja, napasnya tercekat.

“PAPA….!”

“DIAM!” bentak Hendro, suaranya menggelegar seperti petir di dalam ruangan tertutup itu.

Tanpa memberi ruang, Hendro mencengkeram rambut Sandra kasar, memaksanya menegakkan wajah.

“Aku tanya sekali lagi. APA YANG KAMU LAKUKAN?!”

Air mata mulai menggenang di sudut mata Sandra. Bukan hanya karena sakit tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat ayahnya benar-benar kehilangan kendali.

“Sa…Sandra nggak tahu apa-apa, Pah mungkin ini cuma kesalahan sistem aja. Sandra gak…”

BUGH!

Sebuah tendangan kuat menghantam perut Sandra.Udara langsung keluar dari paru-parunya. Tubuhnya tertekuk, jatuh di lantai marmer yang dingin.

“JANGAN BODOHI SAYA!” teriak Hendro, kini benar-benar seperti binatang buas yang mengamuk.

Ia berjalan mondar-mandir, mengacak rambutnya sendiri frustasi sebelum kembali menendang kursi hingga terlempar ke dinding.

“Data transaksi kita hilang dalam satu malam! Jalur distribusi kita di pelabuhan disabotase! Dan saham perusahaan anjlok ENAM PULUH PERSEN!” suaranya pecah oleh kemarahan.

Ia kembali menghampiri Sandra yang masih terengah di lantai. “Kamu pikir ini kebetulan?! HAH?!”

Sandra menggeleng lemah, tubuhnya gemetar hebat. “Aku… aku cuma—”

PLAK!

Tamparan ketiga. Kali ini membuat bibirnya robek tipis. Darah terasa asin di lidahnya.

“Kamu pergi ke markas Aron, bukan?” suara Hendro tiba-tiba turun lebih pelan tapi justru jauh lebih mengerikan.

Sandra membeku. Itu saja sudah cukup menjadi jawaban. Hendro tertawa. Tapi tawa itu kosong. Tidak ada sedikit pun kehangatan.

“Jadi kamu benar-benar melakukannya…” gumamnya.

Ia mundur beberapa langkah, menatap Sandra seperti melihat orang asing. “Atas dasar apa kamu menyerang dia tanpa perintahku?”

Sandra menelan ludah. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, tapi egonya masih belum sepenuhnya runtuh.

“Aku hanya ingin menunjukkan kalau kita tidak takut sama dia…” Hening sunyi yang terasa mengerikan. Namun tiba tiba.

BRAKK!

Meja kerja dihantam keras oleh Hendro hingga lampu di atasnya berguncang.

“BODOH!” bentaknya.

Ia menunjuk Sandra dengan jari gemetar. “Kamu pikir ini permainan anak-anak?! Kamu pikir Aron itu lawan yang bisa kamu ganggu sesuka hati?!”

Sandra menggigit bibirnya, air mata kini benar-benar jatuh.

“Dia bahkan belum sepenuhnya pulih tapi kamu sudah memancing dia…” suara Hendro menurun, penuh tekanan.

Ia menunduk sebentar, lalu berbisik dengan nada penuh penyesalan. “Kamu baru saja membangunkan monster.”

DEG!

Sandra menatap ayahnya, jantungnya berdegup kencang. “Apa maksud Papa…?”

Hendro menghela napas panjang, lalu menatap layar besar di dinding yang masih menampilkan grafik saham perusahaan mereka yang anjlok tajam.

“Itu semua bukan kebetulan. Ini bukan serangan biasa.” Ia menunjuk grafik itu.

“Ini respon.” Sandra membeku.

“Dia tidak membalas dengan emosi,” lanjut Hendro dingin. “Dia membalas dengan strategi.”

Seketika, ingatan Sandra kembali ke tatapan Aron malam itu.

Kosong, gelap dan penuh kemarahan. Tangannya mulai gemetar.

“Semua aset ilegal kita yang paling vital dia pukul dalam satu waktu,” kata Hendro. “Data kita dihapus. Jalur logistik kita lumpuh. Investor panik.”

Ia tertawa pahit.

“Dan kamu tahu bagian paling menakjubkannya?”

Sandra tidak berani menjawab. Hendro menatapnya tajam. “Dia melakukannya dalam beberapa jam saja.”

Hening. Dunia Sandra terasa runtuh perlahan.

Ia meremehkan lawannya. Dan sekarang ia membayar mahal.

Namun, belum selesai. Hendro kembali mendekat. Kali ini tidak ada teriakan. Hanya suara dingin yang menusuk.

“Kamu hampir menghancurkan semuanya.”

Lalu

BUGH!

Tendangan keras menghantam bahu Sandra hingga tubuhnya terjatuh sepenuhnya ke lantai.

“Kalau bukan karena kamu anakku…” suara Hendro rendah, berbahaya, “kamu sudah saya bunuh di tempat.”

Sandra terisak. Untuk pertama kalinya rasa takut yang nyata merayapi dirinya.

Sementara itu di sisi lain kota, di dalam ruang kerja Aron yang dipenuhi cahaya monitor suasana justru bertolak belakang.

Aca tertawa. Bukan tawa biasa. Tapi tawa keras, lepas, tanpa beban.

“HAHAHAHAHA! Sumpah gue bisa bayangin sekarang si Sandra lagi diapain sama papanya!” katanya sambil memegangi perutnya.

Bara yang berdiri di dekat mereka hanya bisa menghela napas panjang.

“Lo ini kenapa malah seneng banget sih…”

Aca menyeringai lebar. “Ya iyalah! Dia yang mulai duluan. Sekarang kena batunya sendiri, ya gue nikmatin dong.”

Aron yang duduk di kursinya hanya menatap layar dengan tenang, tapi sudut bibirnya terangkat tipis.

“Prediksi lo akurat banget, Ar.” lanjut Aca, matanya berbinar. “Dia pasti lagi dihajar habis-habisan sekarang.”

Aron akhirnya bersandar santai. “Bukan prediksi,” ucapnya pelan.

“Itu kepastian.”

Aca menoleh, alisnya terangkat. “Seyakin itu?”

Aron menatapnya sekilas.

“Orang seperti Hendro nggak peduli siapa yang salah. Yang dia lihat cuma hasil.” suaranya datar.

“Dan hasil dari tindakan Sandra adalah kerugian besar.”

Aca kembali tertawa kecil. “Kasian sih tapi ya salah sendiri.”

Bara menggeleng. “Gue heran sama lo. Bisa-bisanya ketawa di situasi kayak gini.”

Aca menyandarkan tubuhnya ke kursi, masih dengan senyum puas. “Gue udah cukup nangis dan kesel tadi. Sekarang giliran gue nikmatin hasilnya.”

Ia melirik ke arah Aron. “Dan jujur aja gue suka cara lo main.”

Aron tidak langsung menjawab. Tangannya mengetuk pelan meja, ritmis. Matanya kembali fokus ke layar. “Ini baru awal sayang.” katanya akhirnya.

Aca menyipitkan mata, tertarik. “Maksud lo?”

Aron memutar kursinya sedikit, kini benar-benar menghadap Aca.

“Kita belum menyentuh inti kekuatan mereka.”

DEG!

Aca langsung tegak. “Lo masih punya rencana lain?”

Aron tersenyum tipis. Senyum yang sama seperti sebelumnya tenang, tapi mematikan.

“Aku mau dia kehilangan semuanya.”

Sunyi sejenak. Bara menghela napas berat. “Lo serius mau ngejatuhin mereka sampai habis?”

Aron menatapnya. “Dia yang mulai.”

Kalimat itu sederhana. Tapi mutlak. Tidak ada ruang untuk negosiasi. Aca menyeringai lebar.

“Wah ini baru seru.”

Ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekati layar besar. “Target berikutnya apa?”

Aron menekan beberapa tombol. Beberapa data baru muncul. Gudang, rekening dan nama-nama orang penting.

“Ini,” katanya singkat. Aca membaca cepat. Lalu matanya melebar.

“Lo mau hancurin supplay mereka?”

Aron mengangguk. “Kalau mereka nggak punya barang untuk dijual perusahaan mereka akan mati pelan-pelan.”

Bara menyela, nadanya serius. “Itu bakal bikin mereka panik total.”

“Bagus,” jawab Aron tanpa ragu.

Aca menoleh ke arah Aron, matanya berbinar penuh tantangan.

Dan setelah itu?” Aron berdiri. Perlahan. Aura di sekitarnya berubah lagi. Lebih berat lebih gelap.

“Kita habisi orangnya.”

DEG!

Aca merinding bukan karena takut. Tapi karena antusias ia tersenyum. “Fix. Gue nggak nyesel ikut di pihak lo.”

Aron meliriknya sekilas. Tangannya kembali meraih tangan Aca. Menggenggamnya erat.

Seolah memastikan bahwa di tengah semua kekacauan ini Aca tetap ada di sisinya. Dan siapa pun yang mencoba mengambilnya. Akan hancur tanpa sisa.

Di tempat lain Sandra masih tergeletak di lantai. Tubuhnya sakit napasnya berat. Namun matanya perlahan berubah.

Tangisan itu mereda. Digantikan oleh sesuatu yang lain. Kemarahan dan dendam ia mengepalkan tangannya. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya saking emosinya dia.

“Aron…” bisiknya pelan.

Wajahnya yang berantakan kini terangkat. Ada api di sana. Api yang sama seperti sebelumnya tapi sekarang lebih besar lebih liar.

“Ini belum selesai…”

Di belakangnya, Hendro masih berdiri, menatap layar dengan wajah gelap. Perang ini baru saja dimulai dan tidak ada yang akan keluar tanpa luka atau tanpa kehilangan segalanya.

“Sandra kau harus tanggungjawab atas semua kekacauan yang kau buat ini. Dasar anak gak tau di untung. Kau ini memang bodoh Sandra!”

maki Hendro sambil menatap Sandra penuh kemarahan.

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
iya bocilnya kamu
Riza Afrianti
cari gara2 lu
Riza Afrianti
typo thor
Riza Afrianti
hahah
Riza Afrianti
haha lucunya
Riza Afrianti
gila lu
Wahyu Ningtyas
thor
Wahyu Ningtyas
awas tu ca Sandra mau ambil aron
Pandaimut: Makin gila pastinya🤣🤣
total 3 replies
aku
woww aca 🤣🤣 kejutan 😁😁
Pandaimut: Kan aku bilang juga apa🤣🤣
total 1 replies
Nindy bantar
lanjut thor 💪💪💪💪
Pandaimut: Nanti tak kasih double up tapi bentar ya😁😉
total 1 replies
Wahyu Ningtyas
awas bara nanti kau yang dibunuh aron karna selalu gangguin mereka🤣🤣
Pandaimut: Nanti Aron bisa di cincang Aca kalau itu terjadi kak🤣
total 1 replies
Nindy bantar
🤣mampir thor
Pandaimut: Semoga makin betah kak🥰😅
total 1 replies
Wahyu Ningtyas
eh Sandra dewi udah sama Harvey mois aja dah biar aron sama aca
Pandaimut: Ngakak aku🤣🙏
total 1 replies
Wahyu Ningtyas
bisa bisanya ya ron🤣🤣
Pandaimut: Kasih paham kak🤣🤣
total 1 replies
Elis yulianti
cerita nya menarik ka,, aku suka
Pandaimut: Trimakasih kak semoga makin suka ya🥰🙏
total 1 replies
Elis yulianti
lanjut ya ka
Pandaimut: Siap kakak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!