Cinta bisa datang dimana saja, termasuk di tempat bencana sekalipun. Itulah yang terjadi dengan Keyza, seorang mahasiswi sekaligus aktivis sosial yang bertemu dengan Sang Letnan ketika dia menjadi relawan di daerah bencana.
Cinta hadir di keduanya, tetapi tugas negara membuat mereka terpisah jarak, ruang dan waktu...
kepercayaan yang mulai terkikis, merasa terabaikan juga terkhianati merasuki keduanya, tapi mereka tak bisa melupakan cinta yang telah mengakar, sampai akhirnya masalah besar pun munghadang mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
“Jangan melihatku terus, nanti gantengnya berkurang.”
Aku hanya bisa tertawa mendengar sang Letnan berkata seperti itu dengan mata serius menatap ke depan membelah Jl. Pasir Kaliki yang masih ramai pada jam 9 malam.
“Biarin, biar gak ada yang ngaku-ngaku jadi pacarnya lagi.”
Sang Letnan tertawa mendengar ucapanku, saat ini kami tengah berhenti di perempatan IP.
“Kecuali kamu,” ucapnya sambil menatapku lembut dengan senyum diwajahnya.
“Aku apa?”
“Cuma kamu yang boleh ngaku jadi pacar aku.”
Aku hanya bisa tersenyum malu mendengarnya.
“Aku boleh gak?”
“Boleh apa?” tanyaku bingung.
“Boleh ngaku-ngaku jadi pacar kamu.”
“Hahaha… beresin dulu masalah sama Leona, nanti kalau dah beres jangan cuma ngaku-ngaku tapi beneran aja.”
“Siap! Laksanakan!”
“Hahaha… belok kanan ya.” Lampu telah berubah kembali hijau membuat sang Letnan kembali menginjak gas.
“Memang dimana rumahmu, Za.”
“Jl. Bima.”
“Ya… tahu gitu tadi kita lewat stasiun.”
“Muter dong.”
“Biarin, biar lama di jalannya.”
“Hahaha… sudah malam, orang rumah pasti sudah pada nungguin. Tapi kok bisa ada di Bandung, Mas?”
“Iya, kemarin aku ngurus ijin cuti, tahunya tadi siang sudah di acc ya udah langsung pulang, untungnya tiket pesawat masih banyak yang kosong jadi bisa jemput deh hehe… kaget gak?”
“Kanget banget! Kang Pajar bilang kalau nanti aku dianterin sampai rumah makanya langsung telpon ke rumah sama Arga biar gak usah jemput. Eh tahu-tahunya Kang Pajar berhenti di depan BTC, aku kira kenapa tahunya Mas Yudha sudah nunggu di sana.”
“Hehehe… aku tadi nelp dia biar bilang kaya gitu, terus janjian di depan BTC.”
“Oh pantesan hehehe… bentar! jadi mereka tahu tentang… kita?”
“Tahu.”
“Tahu dari mana?” tanyaku dengan kaget.
“Semua orang yang ada di Kubu juga tahu, Za, cuma kamu saja yang gak tahu.”
“Hah! Masa sih?”
“Iya, terus pas kita sudah ngobrol malam-malam itu, aku balik ke tenda semua orang belum tidur, mereka penasaran sama hubungan kita, ya sudah aku ceritain semua.”
“Termasuk soal Bang Eddy sama Leona yang… depan belok kiri.”
“Enggalah, aku cuma bilang kalau aku sama Leona gak ada hubungan apa-apa terus bilang kalau cowok yang kamu maksud di api unggun itu aku.”
“Terus mereka gimana?”
“Ya engga gimana-gimana mereka bilang pantesan aja aku sama Leona kaya yang gak pacaran malah kaya yang baru kenal.”
“Jadi pas di bus sama di Palembang mereka udah tahu?”
“Udah,” jawab sang Letnan sambil tersenyum.
“Oh pantesan mereka biasa aja pas lihat kita foto-foto berdua trus malah nyuruh aku ikut Mas Yudha waktu pulang ke rumah Fadhil.”
Sang Letnan kembali tersenyum sambil mengangguk, membuatku ikut tersenyum mengingat semua teman-teman di OASIS kini sudah tahu mengenai aku dan sang Letnan jadi tinggal nunggu waktu saja buat teman-teman yang lainnya tahu juga.
“Mas Yudha cuti sampai kapan?”
“Cuma dapat ijin 3 hari, jadi lusa harus sudah balik ke Palembang, kenapa?”
“Engga.” Aku tersenyum mengingat masih ada waktu dua hari untuk bersama sang Letnan.
“Besok aku ke Jakarta, ada yang harus ku urus dulu.”
“Soal kerjaan atau urusan pribadi?”
“Kerjaan yang bersifat pribadi.” Mas Yudha menatapku sambil tersenyum.
“Oooh.” Aku membuang napas berat sedikit kecewa karena berarti besok tak akan bertemu dengannya sedangkan lusa sang Letnan harus kembali bertugas.
“Kenapa cemberut?”
“Engga, siapa yang cemberut.”
“Hehehe… engga tapi kok bibirnya manyun gitu.”
“Siapa yang manyun? Engga Kok!”
“Tenang saja aku ke Jakarta bukan mau ketemu Leona, tapi ke Cijantung ada data-data yang harus aku serahin.”
Diam-diam aku tersenyum mendengarnya.
“Nah gitu dong senyum lagi.”
“Iiiih… siapa yang senyum?”
“Itu.”
“Hahaha… engga!”
“Iya deh gak senyum tapi ketawa.”
“Hahahaha… pagar hitam yang itu ya Mas.”
Mas Yudha berhenti tepat di depan rumahku, tapi kami masih belum keluar dari mobil rasanya masih kurang kebersamaan kami saat itu.
“Besok mudah-mudahan sore aku sudah balik lagi ke Bandung, jadi kita bisa ketemu.”
Aku mengangguk setuju.
“Lusa balik ke Palembang naik pesawat?”
“Iya, aku ambil penerbangan sore jadi siang kita bisa ketemu dulu.”
Aku kembali mengangguk sambil tersenyum sebelum akhirnya keluar dari mobil. Mas Yudha sedang mengeluarkan barang-barang bawaanku ketika sebuah motor mendekat dan berhenti di belakangku, ternyata itu Dirga yang baru pulang entah darimana.
“Baru sampai, Kak?” Dirga turun dari motor untuk memelukku, dia memang adikkku tapi tingginya sudah jauh melebihiku. Adik kecilku yang waktu kecilnya cengeng dan penakut, kini telah tumbuh menjadi salah satu sosok pelindungku.
“Iya.” Jawabku sambil tersenyum.
“Oh! Dikirain yang jemput Aa.” Dirga manggil Arga dengan sebutan Aa yang artinya kakak laki-laki.
“Engga tadikan udah bilang mau dianterin… kenalin Mas, ini adik bungsuku.”
“Dirga.”
Dirga menjulurkan tangannya yang langsung disambut sang Letnan.
“Yudha.”
Dirga mengangguk sambil menatap sang Letnan dengan penuh selidik, “Pacarnya Kak Kekey ya?” tanyanya tanpa basa basi dengan wajah sok galak.
“Bukan!” aku berkata dengan wajah memerah.
“Katanya belum sah, jadi masih calon,” jawab sang Letnan sambil tersenyum.
“Oh masih calon… awas dia mah galak terus cengeng, kalau udah ngambek, kutub utara aja kalah dingin sama dia.”
“Iiih engga, jangan dengerin dia, Mas!"
“Hahahaha… tapi bener kok, aku lebih suka disuruh latihan tempur di hutan Amazon daripada harus lihat kamu ngambek kaya kemarin,” ucap sang Letnan sambil tertawa, membuatku tersenyum malu.
“Latihan tempur? Jangan-jangan… sang Letnan!” seru Dirga dengan mata membulat menatap sang Letnan yang menatapnya bingung.
“Dirga! Bantuin bawa barang-barang Kakak ke dalam.”
Dengan cepat aku memberikan dus pempek untuk dibawa Dirga sebelum sang Letnan mengetahui kalau selama ini keluargaku secara tidak langsung sudah mengenalnya.
“Benar ya sang Letnan?” tanya Dirga sambil menatapku penasaran.
“Cepetan masuk!” bisikku sambil membuka pagar membuat Dirga tersenyum menggoda.
“Sang Letnan?” tanya sang Letnan dengan senyum miring menatapku.
“Hmm.. iya, dulu aku menyimpan no Mas Yudha dengan nama sang Letnan, terus Dirga pernah lihat pas Mas Yudha nelpon aku dulu.”
Sang Letnan mengangguk dengan senyum di wajahnya. Dia kini membantuku membawa tas pakaian dan juga plastik besar berisi oleh-oleh. Kami baru masuk halaman ketika Ayah dan Ibu keluar rumah, aku bisa melihat Dirga berdiri di belakang mereka dengan senyum lebar yang artinya dia telah memberitahu orangtuaku tentang sang Letnan.
Seperti biasa ibu dan Ayah menyambutku ke dalam pelukan walaupun mata mereka masih menatap sang Letnan dengan penasaran.
“Kenalin, ini… teman Kekey.”
“Ehm! Teman.”
Aku menatap tajam Dirga yang tersenyum menggoda.
“Yudha.” Dengan sopan sang Letnan menyalami dan mengenalkan dirinya kepada orangtuaku, ibu tersenyum dengan mata berbinar menatapku seolah aku telah melakukan hal yang luar biasa, sedangkan Ayah masih terlihat menatapnya dengan penuh selidik.
“Masuk dulu yuk!”
“Terimakasih, Tante, tapi sudah malam lain kali saja.”
“Lain kali kapan? Besok ke Jakarta, lusa sudah balik ke Palembang.” Seperti biasa kadang aku tanpa sengaja mengeluarkan apa yang ada dipikiranku membuatnya tersenyum menatapku.
“Tugas di Palembang?”
“Iya, Om.”
Ayah mengangguk mengerti.
“Orangtuanya tinggal di Jakarta?”
“Oh bukan, Tante, orangtua tinggal di Sukajadi, tapi besok ada sedikit urusan kerjaan ke Cijantung.”
“Cijantung? Kopassus?”
“Insyaallah, Om, lagi nunggu jadwal pelatihannya.”
Kini aku bisa melihat Ayah mengangguk-anggukan kepalanya dengan sedikit senyum bangga di wajahnya.
“Kalau begitu saya permisi pulang dulu, Om, Tante.”
“Hati-hati sudah malam, kalau ada waktu sebelum kembali ke Palembang mampir sini lagi, nanti Ibu masakin yang enak.”
“Siap!” Sang Letnan memberi hormat kepada ibu layaknya seorang anggota militer yang memberi hormat kepada komandannya membuat ibu tertawa.
“Pulang dulu ya, nanti aku kabarin.”
Aku mengangguk sambil tersenyum, “Makasih sudah nganter pulang, hati-hati.”
Sang Letnan mengangguk kemudian benar-benar pamit pulang, “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Kami berempat masih berdiri di depan pagar memerhatikan sang Letnan masuk ke dalam mobil Land Rover hitamnya, kemudian melambaikan tangan sebelum akhirnya melaju meninggalkan kami yang masih menatap kepergiannya. Sampai akhirnya mobil sang Letnan benar-benar tak terlihat lagi dan kini semua orang menatapku dengan senyum di wajah mereka, kecuali Ayah tentu saja. Ayah hanya menyuruhku masuk dan beristirahat karena aku pasti sangat lelah.
“Besok kamu harus ceritakan semuanya,” bisik Ibu dengan senyum lebar membuatku mengangguk sebelum masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang terasa lengket dan tebal oleh debu. Setelah mandi air hangat, berganti pakaian dengan kaos longgar dan celana pendek, tubuhku merasa sangat segar.
“Aaah!! Kasur miss you so much!” aku langsung lompat ke atas kasurku yang sangat nyaman dengan senyum lebar, beberapa saat aku gelinding-gelinding di atas kasur menikmati rasa empuk dan lembut dari seprai yang sepertinya baru diganti Ibu karena aku masih bisa mencium wangi pewangi yang masih segar. Mungkin aku norak, tapi percayalah lima hari tidur di dalam sleeping bag akan membuatmu lebih menghargai arti sebuah kasur busa tipis sekalipun.
“Key!”
“Iya, Yah.”
Aku bangun lalu keluar ketika mendengar ayah memanggilku.
“Makan dulu, Dirga sudah beliin pecel ayam si Dul tuh.”
“Asiiik.. dah kangen banget ma pecel ayam Mas Dul.”
Aku langsung duduk di bawah depan TV, punggungku ku sandarkan ke sofa dimana Ayah dan Dirga duduk diatasnya sedangkan ibu sedang memersiapkan makanan. Tak seperti keluarga yang lain, keluarga kami tak memiliki jam makan, kami bisa makan kapan-pun kami mau. Sering sekali aku dan Dirga pergi beli nasi goreng atau mie goreng malam-malam karena lapar ketika jam sudah menunjukan angka 11, dan kami lebih memilih untuk makan di depan TV daripada duduk di meja makan yang ada di ruang makan dekat dapur.
“Jadi, dia temanmu yang masuk pasukan Garuda itu?” Ayah bertanya ketika kami sudah mulai makan, membuatku tersenyum ketika menjawabnya.
“Iya.”
“Kayanya anaknya baik, sopan lagi.”
Aku kembali tersenyum mendengar ucapan ibu.
“Tapi kayanya ibu pernah ngelihat dia deh, dimana ya?”
Kali ini aku pura-pura tersenyum mendengar pertanyaan ibu. Aaah… ibu dan acara gosip favoritnya, cepat atau lambat sepertinya ibu akan tahu tentang hubungan sang Letnan dan Leona. Tapi aku memutuskan untuk memberitahu ibu nanti saja kalau masalah itu sudah selesai.
Selesai makan aku kembali ke kamar dan langsung tersenyum ketika ku lihat ada pesan yang masuk dari ‘Jendral of my heart’.
****
Teh Alana...bikin kelanjutan nya atuh...
cerita Sang Letnan dan Keyza stelah berumah tangga
Tidak kebayang jadi Keyza.. terlanjur cinta tapi dihianati🙄🙄
tertatih menata hati.. 😢😢
otw balikan apa gimana ini?ishhh aku masih sakit hati sama yudha...
bayangkan camer dan tunangannya terlihat lebih perhatian ke cewek lain...run widy run
masih mending gagal nikah drpd dah nikah harus cerai karena suami dan keluarganya gagal move on