Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 Kota Awan Suci
Erlang Xuan mendarat tak jauh dari gerbang kota. Dari kejauhan, ia melihat beberapa prajurit yang sedang berjaga. Bukan hanya itu, beberapa orang tampak kesulitan bergerak.
"Kota yang sangat unik!" Erlang Xuan bergabung dengan rombongan yang ingin ke kota. Beberapa dari mereka memilih untuk melanjutkan perjalanan dan menghindari kota awan suci. Hal itu dikarenakan tekanan gravitasi di kota itu terlalu kuat.
"Kelihatannya, kekuatan fisikmu sangat lemah. Sebaiknya lanjutkan perjalananmu. Kota Awan Suci tidak menerima orang lemah!"
Penjaga yang hanya memakai celaa memandang remeh Erlang Xuan. Ia ingin memamerkan otot-ototnya, dan menakuti pemuda dari kota lain. Memang benar, cara itu membuat nyali pemuda lain ciut.
"Pergilah, sampah!" usir prajurit yang satunya lagi, tapi Erlang Xuan tidak peduli sama sekali.
"Karena kalian meremehkanku, aku akan memberi kalian hadiah kecil!" Ia menengok ke atas. Dengan gerakan tangan yang cepat, tekanan gravitasi kota awan suci berkurang drastis. Dari 10 kali lipat menjadi tekanan normal.
"Untungnya ibu memberikan semua teknik miliknya kepadaku," katanya dalam hati.
Wuuuussss
Baangggg
Tekanan yang sangat kuat menekan kedua prajurit itu. Tekanan kuat dan tiba-tiba membuat mereka memuntahkan darah. Bahkan, jari mereka pun tidak bisa digerakkan.
"Ap—" Prajurit yang tak pakai baju tak bisa mengatakan apa pun.
"Karena kalian kuat, taklukan tekanan itu!" Erlang Xuan menggerakkan kedua jarinya, dan tekana bertambah menjadi 30 kali lipat. Tekanan itu menyebabkan kedua prajurit itu sulit bernapas.
"Aku atau kalian yang sampah?" Ia berjongkok dan menatap prajurit itu dengan senyum meledek.
Erlang Xuan memasuki kota dan meninggalkan kedua prajurit yang sudah sekarat. Ia mengembalikan gravitasi kota ke tekanan 20 kali lipat. Meski tekanan diperkuat hingga 20 kali lipat, orang-orang kota awan suci masih bisa bergerak dengan bebas.
"Aku akan menguji sampai sejauh mana mereka bisa bertahan!" Tekana naik hingga 30 kali lipat. Tekanan itu membuat para penduduk kota sulit bergerak. Itu adalah batas mereka. Jika ditambah lagi, orang-orang tidak akan bisa bergerak.
"Mereka memang kuat!" gumamnya. Ia menoleh ke arah kedua prajurit yang mungkin sudah mati. "Ternyata dua prajurit itu sangat lemah. Tekanan 30 saja membuat mereka tak berkutik," katanya.
"Sial, mengapa tekanan di kota ini semakin kuat!" Seseorang mengeluh. Tentu saja keluhannya membuat Erlang Xuan tersenyum jahat. Orang yang mengeluh adalah adik perempuannya, Jia Mei.
"Kurasa tidak ada salahnya mempermainkanmu!" Ia memperkuat tekanan disekitar adiknya. Tentu saja hal itu membuat gadis itu tersungkur.
"Bagaimana rasanya menjadi orang yang tak bisa apa-apa?" ia berjongkok di depan adiknya yang tak bisa bergerak. Saat adiknya bergerak sedikit saja, tekanan gravitasi akan bertambah 5 kali lipat.
"Jadi, i–ini—"
"Ya, ini ulahku. Karena kebetulan kamu di sini, sekalian saja aku mengerjaimu!" Ia kembali menambah tekanan gravitasi. Tidak tanggung-tanggung, tekanan itu mencapai 50, dan hal itu menyebabkan Jia Mei muntah darah dan tak sadarkan.
"Ini baru permulaan!" Erlang Xuan menghilangkan tekanan itu lalu pergi. Ia tak peduli dengan kondisi adiknya. Hal yang sama seperti yang dulu dilakukan adiknya.
"Sampai jumpa di turnamen!" gumamnya tanpa menoleh sama sekali.
Di sekte awan suci, seorang gadis cantik duduk di tepi kolam. Pandangannya terfokus pada pantulan wajahnya di kolam. Sesekali, pantulan wajah orang lain muncul di kolam.
"Haruskah aku menemuimu sekarang, Kak?" tanyanya. Sekte Awan Suci dan kota Awan Suci sangat dekat. Jarak kedua tempat itu tak sampai 2 kilometer. Meski begitu, sebuah janji menjadi dinding yang membatasi langkahnya.
"Saat turnamen dimulai, perjanjian itu juga akan selesai. Perjanjian 5 tahun akan berakhir," katanya dalam hati.
"Kira-kira, kakak sekuat apa sekarang?" Jianxue menatap langit sekte. Pelatihannya selama hampir 5 tahun tidak sia-sia. Di usianya yang belum genap 17 tahun, kultivasinya sudah menerobos ranah suci tahap 1. Dengan kultivasinya, ia adalah jenius muda nomor 2 di seluruh wilayah kekaisaran Zhang.
"Nak, jika kamu merindukan seseorang, maka temuilah!" Pria paruh baya muncul di sampingnya. Pria itu adalah guru sekaligus Leluhur sekte awan suci.
"Perjanjiannya 5 tahun, Guru. Selama perjanjiannya belum selesai, aku tidak akan menemui siapa-siapa," jawabnya.
"Lagi pula waktunya tinggal 2 bulan lagi," lanjutnya.
"Guru, saya pergi dulu!"
Jianxue memberi hormat kepada pria paruh baya itu lalu pergi. Ia kembali ke kediaman pribadinya. Di sana, semua barang berharga diambilnya, sementara yang tersisa hanyalah barang-barang yang tidak terlalu berharga.
"Nona, apakah kamu akan meninggalkan sekte?" tanya seorang gadis yang tinggal di kediaman itu.
"Aku dan sekte ini punya perjanjian. Setelah perjanjiannya berakhir, aku akan memilih jalanku sendiri."
"Paviliun ini kuserahkan padamu!"
Jianxue memakai topeng perak lalu melesat ke kota Awan Suci. Karena kakaknya ada di kota itu, ia harus memakai topeng dan menghindar dari siapapun yang dikenalnya.
"Hai, Nona, bisakah kamu melepas topengmu?" tanya seorang pemuda.
"Demi Tuan Muda ini, lakukanlah, cantik!" pintanya dengan tatapan tajam.
"Hei, Nona! Apakah kamu merendahkanku? Aku ini Tuan Muda Bing—" Pemuda itu terpental sebelum menyelesaikan kalimatnya. Jianxue tak mengatakan apa-apa, tapi mengeluarkan pedangnya dan mengirim pemuda itu ke alam kematian.
"Dasar pengganggu!" Jianxue meninggalkan tempat itu. Tentunya setelah menghapus bukti dan jejaknya.
...****************...
"Klan Erlang!" Erlang Xuan mengerutkan keningnya. Tepat di depannya, ada kediaman besar dengan tulisan 'Erlang' di gerbang masuk. Karena penasaran, memasuki kediaman itu tanpa sepengatahuan penjaga atau anggota klan.
"Jika di kota ini ada cabang klan, terus klan pusat ada di mana?" tanyanya. Ia berhenti di bangunan paling besar. Karena mata jiwnaya selalu aktif, ia bisa melihat rak dan ribuan buku yang tersusun rapi.
"Perpustakaan, menarik!" Erlang Xuan mendarat di depan bangunan. Seorang penjaga langsung mencegatnya. Penjaga itu menatapnya dengan penuh selidik sebelum membiarkannya masuk.
"Masuklah!" katanya.
"Terima kasih, Paman!" Erlang Xuan memasuki bangunan. Buku-buku tua langsung menyambutnya. Meski begitu, tidak satu pun dari buku itu yang menarik perhatiannya.
"Perpustakaan di sini lebih besar!" Erlang Xuan berjalan menyusuri barisan rak. Langkahnya kemudian terhenti di rak yang berdebu dan tak terawat sama sekali. Di rak itu, terdapat buku kuno dengan pola rantai di sampulnya.
"Akupuntur Bintang Suci!" Judul buku itu membuatnya. Ia mengambil dan membuka halaman pertama. Tiba-tiba saja, mata jiwanya non-aktif dan seseorang menariknya ke tempat lain.
"Di mana ini? Kenapa aku tidak bisa melihat?" tanyanya.
"Kamulah pewaris yang tepat!" Suara seseorang menggema di telinganya. Tak beberapa lama, kepalanya seperti ditusuk ribuan jarum. Ia berteriak kesakitan, tapi sakit itu semakin parah.
"Matamu tidak bisa disembuhkan!" Suara itu kembali terdengar. Setelah itu, semuanya kembali normal. Mata jiwanya juga aktif kembali, sehingga ia bisa melihat sekitarnya dengan jelas.