Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 - Menyesal
Nathan terdiam beberapa detik setelah pengakuannya sendiri meluncur. Tatapan Nabila berubah, bukan marah, melainkan campuran kaget, lelah, dan sesuatu yang lama terpendam.
“Kau… melihatnya?” suara Nabila nyaris bergetar.
Nathan mengangguk pelan. “Aku tidak bermaksud mengintip hidupmu. Tapi aku ada di sana. Dan aku menyesal tidak menghentikannya lebih cepat.”
Nabila memejamkan mata. Ada jeda panjang sebelum ia menghembuskan napas. “Jadi aku tidak gila,” gumamnya lirih. “Aku kira semua ini hanya perasaanku saja.”
Nathan menggenggam tangannya lebih erat, seolah memastikan perempuan itu tidak jatuh lagi ke dalam kesunyian yang sama. “Kau tidak sendirian. Dan aku akan membantumu, tapi kita lakukan dengan cara yang aman.”
Mereka akhirnya sepakat untuk berpisah sejenak. Tidak ada pelukan panjang, hanya tatapan yang saling menguatkan. Nathan kembali ke kamarnya sendiri. Nabila melangkah menuju kamar hotelnya dengan langkah pelan, seakan setiap langkah menata ulang keberaniannya.
Begitu pintu kamar terbuka, pemandangan di dalam membuat Nabila terhenti. Indy duduk di tepi ranjang, memeluk lutut, wajahnya sembab. Matanya merah, air mata menetes tanpa suara.
“Indy?” Nabila menutup pintu dan segera mendekat. “Kau kenapa?”
Indy mendongak. Begitu melihat Nabila, pertahanannya runtuh. Ia bangkit dan langsung memeluk Nabila erat-erat. Tangisnya pecah.
“Aku bodoh, Mbak…” isaknya. “Aku benar-benar bodoh.”
Nabila mengelus punggung Indy perlahan. “Hei… pelan-pelan. Cerita sama aku.”
Indy melepaskan pelukan, mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. “Aku dan Zidan… tadi malam kami bikin kesalahan besar. Aku mabuk. Kami sama-sama mabuk. Dan sekarang…” suaranya patah. “Aku menyesal.”
Nabila menatapnya dengan lembut, menarik Indy duduk di sampingnya. “Apa yang paling membuatmu takut sekarang?”
Indy menunduk. “Ini pertama kalinya, Mbak. Aku nggak siap. Aku merasa kotor. Aku merasa gagal sama diriku sendiri.
Nabila menarik napas dalam, lalu memegang wajah Indy dengan kedua tangannya, memaksa gadis itu menatapnya. “Dengar aku baik-baik. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh satu malam. Kau tidak rusak. Kau tidak gagal.”
“Tapi aku—”
“Tidak,” potong Nabila tegas namun hangat.
“Yang penting sekarang adalah kau aman. Kau baik-baik saja. Dan perasaanmu valid.”
Indy kembali menangis, kali ini lebih pelan. “Aku bingung harus gimana.”
“Kau tidak harus memutuskan apa pun hari ini,” kata Nabila. “Tarik napas. Minum air. Istirahat. Soal Zidan, itu bisa dibicarakan nanti, dengan kepala dingin.”
Indy mengangguk kecil.
Nabila meraih segelas air dari meja, menyodorkannya. “Kau percaya padaku?”
Indy mengangguk lagi.
“Kalau begitu, percayalah juga bahwa semuanya masih bisa diperbaiki,” lanjut Nabila. “Dan apa pun yang terjadi, kau tidak sendirian.”
Indy memeluk gelas itu dengan kedua tangan, menyesap sedikit demi sedikit. Tangisnya mereda, berganti helaan napas yang lebih teratur.
Di sisi lain, tepatnya di belahan bumi yang berbeda, Lukman baru terbangun dari tidurnya. Ia menatap dua wanita yang sedang tertidur di ranjang yang sama dengannya.
Kamar itu tampak berantakan sekali. Ada pakaian yang berserakan di lantai serta barang dan alkohol yang jatuh. Terlihat dari keadaan kamar tersebut, jelas apa yang terjadi tadi malam begitu brutal.
Lukman segera beranjak dari ranjang. Ia masih bugil dan mengenakan celana pendek. Lalu Lukman masuk ke kamar mandi. Meninggalkan dua wanita yang telah menemaninya tadi malam. Tubuh kedua wanita itu tampak dipenuhi tanda merah bahkan lebam. Salah satu dari mereka perlahan terbangun. Ia merasa sekujur badannya sakit semua.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti