Untuk mengungkap penyebab adiknya bunuh diri, Vera menyamar menjadi siswi SMA. Dia mendekati pacar adiknya yang seorang bad boy tapi ternyata ada bad boy lain yang juga mengincar adiknya. Siapakah pelakunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Vera duduk di kursi tunggu dengan tubuh yang terasa remuk. Setiap inci tubuhnya nyeri akibat perlakuan kasar Novan tadi.
Di seberang ruangan, Sagara dan papanya masih sibuk mengurus administrasi penahanan Novan. Kedua orang tua Novan juga telah datang, wajah mereka penuh emosi yang campur aduk. Ibunya menangis, sementara ayahnya berdiri tegang, menatap putranya yang kini dalam keadaan babak belur.
Vera menghela napas pelan. Dia berharap Novan mendapatkan hukuman yang setimpal atas semua perbuatannya.
Beberapa saat kemudian, terdengar langkah seseorang mendekat, lalu sebuah cup minuman hangat disodorkan ke arahnya.
“Lo minum, lo pucat banget,” kata Dwiki.
Vera mengangkat kepalanya dan melihat Dwiki berdiri di sampingnya dengan ekspresi penuh perhatian. Dia mengambil minuman itu dengan tangan gemetar, lalu menyedotnya sedikit melalui sedotan. Kehangatan minuman itu sedikit mengurangi rasa dingin di tubuhnya, tapi tidak dengan hatinya.
Dwiki duduk di sampingnya, diam sejenak sebelum akhirnya bertanya dengan ragu. “Jadi, Pak Novan pacar kamu dan memaksa Rhea ....”
Belum selesai Dwiki berbicara, tangan Vera yang memegang minuman bergetar, lalu minuman itu terjatuh dari genggamannya dan mengguling ke lantai.
Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh. Dadanya sesak, napasnya tersendat-sendat, dan tangisnya pecah sejadi-jadinya. “Sakit sekali….” suaranya terdengar lirih di antara isakannya.
Dwiki terkejut, tidak menyangka Vera akan menangis seperti ini. Dia tidak tahu harus berkata apa.
Dwiki menatap Vera yang terus terisak, bahunya bergetar hebat seiring dengan tangisnya yang pecah tanpa bisa dia tahan lagi.
Tanpa berpikir panjang, Dwiki meraih tubuh Vera dan memeluknya erat. "Maaf, gue buat lo makin sedih. Lo nangis sepuasnya. Gue tahu, rasanya pasti sakit."
Vera tak berkata apa-apa. Dia hanya menangis dalam dekapan Dwiki.
Di sudut ruangan, Sagara baru saja selesai berbicara dengan polisi. Dia berniat menghampiri Vera untuk memberitahu bahwa semua sudah beres, tapi langkahnya terhenti saat melihat Dwiki sedang memeluk Vera. Entah mengapa dia merasa kesal.
Tubuh Vera terlihat semakin lemas. Bahunya yang tadi bergetar kini mulai merosot, dan Dwiki tampak panik saat merasakan tubuh gadis itu kehilangan keseimbangan dalam dekapannya.
Tanpa pikir panjang, Sagara langsung berlari mendekat. Dia mendorong Dwiki perlahan dan melepaskan Vera dari pelukannya. "Gue akan bawa dia ke rumah sakit," katanya tegas.
Dwiki terkejut, tapi dia tahu ini bukan saatnya untuk berdebat.
Sagara segera membungkuk, lalu menggendong Vera dalam pelukannya. Gadis itu sama sekali tak bereaksi, hanya terdengar helaan napas lemah dari bibirnya yang sedikit bergetar.
“Lo di sini saja. Urus sama Papa." Sagara segera berlari keluar dari kantor polisi. Dia membawa tubuh Vera masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil itu sudah ada sopir. Tanpa menunggu waktu lagi, mobil itu melaju menuju rumah sakit.
...***...
Sagara duduk di kursi tunggu rumah sakit dengan serius. Kedua sikunya bertumpu pada lututnya, sementara jemarinya saling bertaut seolah menahan kegelisahan. Tatapan matanya tajam mengarah ke pintu ruang periksa, tempat Vera sedang diperiksa oleh dokter.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Sagara segera berdiri, mendekati dokter dengan langkah tergesa.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanyanya dengan nada cemas.
Dokter yang mengenakan jas putih itu menatapnya sejenak sebelum menjawab, "Kondisinya stabil, tapi dia mengalami anemia dan kelelahan berat. Selain itu, ada luka memar di punggung dan lututnya akibat benturan. Untuk sementara, perlu rawat inap di rumah sakit agar kondisinya benar-benar pulih sebelum dipulangkan."
Sagara mengepalkan tangannya. Dia tahu sebagian besar luka itu bukan hanya fisik, tapi juga hatinya.
"Bisa saya masuk menemuinya?"
Dokter mengangguk. "Silakan. Dia belum sadar sepenuhnya, tapi kondisinya sudah lebih baik."
Tanpa menunggu lebih lama, Sagara segera melangkah masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruangan itu, Vera terbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah pucat. Selang infus menempel di tangannya, dan selimut putih menutupi tubuhnya hingga sebatas dada. Napasnya terdengar pelan dan teratur, tapi kelopak matanya masih tertutup.
Sagara menghela napas pelan lalu menarik kursi dan duduk di sisi brankarnya. Kedua matanya menatap wajah Vera yang tampak begitu rapuh malam itu.
Perlahan, dia mengulurkan tangan dan merapikan beberapa helai rambut Vera yang jatuh di wajahnya. "Cepat sadar, Vera," gumamnya lirih. Dia terus duduk di tempat itu menunggu sampai Vera membuka kedua matanya.
Perlahan, mata Vera terbuka, dan dia menatap langit-langit sebelum akhirnya menoleh ke samping dan menemukan Sagara duduk di sana.
"Saga...?" suara Vera terdengar serak dan lemah.
"Iya, ada apa?"
Vera mengerjap pelan menatap Sagara "Kenapa gue ada di sini?"
"Lo tadi pingsan jadi harus dirawat di sini," jawab Sagara.
"Lo pulang saja. Gue bisa sendiri di sini," kata Vera.
Sagara menyandarkan punggungnya ke kursi dan menyilangkan tangan di dada. "Lo pikir gue tega ninggalin lo sendiri di sini?"
Vera tersenyum kecil meskipun bibirnya masih pucat.
Sagara menatapnya lama sebelum akhirnya menghela napas. "Lo istirahat saja. Gue temani di sini. Buang semua beban pikiran lo agar lo tenang."
Vera tidak menjawab. Dia hanya menutup matanya lagi, membiarkan rasa lelah menariknya kembali ke dalam tidur.
Dan Sagara? Dia tetap di sana, duduk di samping brankar Vera untuk menjaganya.
Gue tahu, lo tidak punya siapa-siapa lagi. Pasti berat buat lo.
Ayooo semangat Dwiki cari dalangnya😥