NovelToon NovelToon
FORBIDDEN PASSION

FORBIDDEN PASSION

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Barat / Cinta Terlarang / Konflik etika
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lyraastra

Juru masak di bistro bernama Ruby River yang diminta bekerja di mansion milik keluarga kaya. Di mansion mewah itu, Ruby bertemu dengan pria dingin, arogan, dan perfeksionis bernama Rhys Maz Throne, serta si tengil dan rebel, Zade Throne. Zade jatuh hati pada Ruby pada pandangan pertama. Rhys, yang selalu menjunjung tinggi kesetaraan dan menganggap hubungan mereka tidak pantas, berupaya keras memisahkan Ruby dari adiknya. Ironisnya, usaha Rhys justru berbuah bumerang; ia sendiri tanpa sadar jatuh cinta pada Ruby, menciptakan konflik batin yang rumit.


Perasaan Rhys semakin rumit karena sifatnya yang keras kepala dan keengganannya mengakui perasaannya sendiri. Sementara itu, Ruby harus menghadapi dua pria dengan kepribadian yang sangat berbeda, masing-masing menawarkan cinta dengan cara mereka sendiri. Di tengah dilema ini, Ruby harus memilih: mengikuti kata hatinya dan menerima cinta salah satu dari mereka, atau menjaga harga dirinya dan memendam cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyraastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTENGKARAN KECIL

Suara langkah kaki Ruby berpadu dengan napasnya yang memburu saat ia melesat melewati pintu dapur mansion. Apron yang terikat asal-asalan perlahan mengendur, bergoyang mengikuti gerak tubuhnya yang tergesa. Kakinya terhenti di tempat saat kegaduhan yang baru saja ia timbulkan—akibat keterlambatannya datang karena shift yang molor di bistro Marie—membuat semua yang ada di dalam dapur menoleh.

Semua aktivitas sejenak terhenti. Tiga detik sunyi.

Ruby menegakkan badan, menelan ludah dan berusaha tersenyum walaupun terlihat kikuk.

"Sepertinya... pekerjaan dapur sudah selesai. Maaf—"

Eden yang dari wastafel mendekat, menepuk bahu Ruby. "Tak apa, kami juga tahu alasan kau terlambat, Ruby."

"Kau tenang saja, makan malam sudah siap, semuanya tertata rapi di meja makan."

Mira pun turut menghampiri, tangannya menutupi mulut saat tubuhnya condong ke arah Ruby. Dengan suara pelan, ia berbisik,

"Signor dan Signora sudah dalam perjalanan… dan mungkin beberapa menit lagi akan tiba di mansion."

Ruby spontan menoleh, matanya membesar sedikit.

"Benarkah? Malam ini?"

Mira dan Eden mengangguk bersamaan.

"Ya Tuhan. Aku benar-benar lupa. D–dan bagaimana dengan Tuan Rhys, apakah dia ada di mansion saat ini?" tanyanya cepat, nada Ruby nyaris panik.

"Ya," Eden mengangguk pelan. "Bahkan mencarimu tadi. Tapi kau tenang saja, suasana hati Signor Rhys saat ini sedang baik. Mungkin nanti... sedikit mengomelimu itu wajar."

"Menerima omelan dari Signor Rhys juga tidak terlalu buruk. Anggap aja itu siraman rohani… agar hati tenang, meskipun telinga terbakar."

Eden mengangguk, setuju dengan pendapat Mira. "Benar! Hidup tanpa omelan itu, seperti... film tanpa tokoh antagonis, terasa hambar."

Ruby memejamkan mata sejenak. Meskipun sedikit tenang tetapi jantungnya terus berdebar keras. Ia membuka mata perlahan, wajahnya memelas, menatap Eden dan Mira bergantian. "Apa benar hanya mengomeliku saja? Bagaimana jika Tuan Rhys langsung memecatku?"

"Memecatmu? Tidak mungkin. Signor pasti mengerti—"

"Wah, akhirnya datang juga."

Suara seorang wanita, diiringi dentingan nampan kosong dari arah belakang, langsung menarik seluruh perhatian. Semua mendadak terdiam. Bahkan para pelayan yang sebelumnya tak tertarik pada perdebatan pun ikut menyimak.

Begitu tatapan matanya bertemu dengan Ruby, senyum sinis pun tersungging di wajahnya.

"Ow, dia koki baru yang menggantikan ku selama ini? Datang di saat yang paling nyaman, setelah semua pekerjaannya selesai. Luar biasa."

Tatapan sinis itu membuat Ruby gugup. Ia tersenyum, walau tampak kaku. "E—eh... maaf..." Kemudian ia mengulurkan tangannya kedepan. "Aku Ruby, koki baru disini. Dan... kau?"

"Kau lupa? Dia Brenda, koki lama yang aku dan Eden ceritakan beberapa hari lalu. Karena dia cuti, kau bisa berada di mansion ini, Ruby," sambar Eden berbisik.

"Benarkah? Aku sungguh tidak ingat." Ruby ikut berbisik. Uluran tangannya yang tidak diterima baik oleh Brenda, terpaksa di jatuhkan kembali. Ia semakin tak enak hati dengan Brenda.

"Apa lagi yang harus ku katakan padanya? Tiba-tiba aku merasa takut." Suara Ruby semakin pelan, dan tentu saja, ucapnya tak sampai ke telinga Brenda.

"Apa di matamu dia adalah madam mim yang akan mengubahmu menjadi kodok kalau kau salah bicara?"

Mira yang turut menangkap obrolan keduanya dengan jelas, menahan bibirnya yang berkedut. Ia melirik sekilas ke arah Brenda, yang kembali menunjukkan ekspresi wajah yang tidak enak dilihat, tampak masam tapi sedikit penasaran. Ia melipat tangan di dada, lalu berdeham sebelum bersuara.

"Ruby tidak hanya bekerja di sini, tetapi juga di bistro milik sahabatnya. Yang pasti kita tahu, membagi waktu antara dua pekerjaan itu sulit, tapi sejauh ini dia sudah berusaha datang secepat yang dia mampu. Kalau pada akhirnya dia tetap sering mengulanginya, aku rasa tak ada salahnya jika kau menegurnya, Brenda—tentu dengan cara yang baik."

Brenda mendengus kecil, matanya menyipit menatap Mira. "Tentu saja aku akan menegurnya, tapi dengan caraku sendiri."

Lalu, matanya bergeser menilai Ruby dari ujung kaki hingga kepala. Sangat menusuk, seperti sedang menilai keburukan yang ditemukannya dalam sekali pandang. "Berhadapan dengan orang seperti dirinya ini... harus sedikit jahat. Karena apa? Jika di tegur dengan baik, esoknya dia akan datang lebih telat sambil membawa senyum minta dimaklumi. Tapi jika ditegur dengan sengatan, mungkin baru otaknya bekerja."

Sikap Brenda memang sudah biasa bagi pelayan yang lain. Tapi bagi Ruby yang pertama kali berjumpa, tentu meninggalkan kesan yang berbeda. Ruby bisa merasakan wajahnya menghangat, bukan karena marah, tapi campuran antara syok dan bingung. Ia sempat melirik sekelilingnya— semua orang diam menyimak. Eden dan Mira, tak lagi menjawab, tapi ekpresi muak jelas tergambar di wajah kedua wanita itu.

"Aku... aku benar-benar minta maaf. Bukan hanya padamu, tapi juga pada para pelayan yang aku rugikan malam ini."

Ruby menarik napas dalam-dalam, kedua tangannya saling menggenggam erat. "Aku mungkin tidak bisa berjanji," lanjutnya, suaranya mulai mantap, "tapi aku akan berusaha untuk tidak terlambat lagi."

"Kau bisa mulai membuktikan maafmu besok pagi. Dengan menyiapkan sarapan dan makan malam tanpa bantuan pelayan di sini. Dan ingat, jangan coba-coba mengadu pada Signor dan Signora."

"Brenda, kau serius? Mengapa terdengar seperti hukuman untuknya."

Eden yang sedari tadi tak terpancing, akhirnya tidak tahan lagi. "Cukup, ya! Aku lelah mendengar kau terus memperpanjang masalah ini. Ruby sudah minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, bukan?"

Melihat Eden melangkah dengan geram ke arah Brenda, Ruby reflek meraih lengannya.

"Eden, sudahlah...dengan kau bersikap seperti ini, akan semakin rumit," ucap Ruby lirih.

Namun Eden segera menepis tangan Ruby tanpa menoleh.

"Setelah cuti berhari-hari, sekarang kau datang dan berlagak seperti nyonya di sini?" katanya sinis. "Bahkan Signor Rhys saja tidak banyak bicara sepertimu."

"Signor Rhys tidak menegurnya karena kau dan pelayan di sini bekerjasama membelanya! Apa kau pikir itu benar? Huh!

“Kami membelanya bukan berarti Ruby benar, tapi bukan berarti juga salah. Kami di sini hanya bersikap netral, itu saja. Tidak membela, tapi juga tidak menghakimi dirinya.” Eden tampak marah, lalu tangannya terangkat. Dan ketika tangannya sampai pada Brenda, jari telunjuknya nyaris menyentuh dada wanita itu, ia melanjutkan ucapannya.

“Karena kami bukan dirimu, yang suka sekali memperpanjang masalah!”

"Sialan! Berani-beraninya kau!" bentak Brenda, urat lehernya menegang. Ia bukan tipe yang mudah mengalah, apalagi ketika seseorang berani membantahnya.

"Apa? Kau kira aku takut padamu, hah?!

Ruby buru-buru berdiri di antara Eden dan Brenda, berusaha menjadi penengah. Jika tidak di cegah, dapur ini akan segera berubah menjadi medan perang. " Sudah! Kumohon, sudah!" Pandangan silih berganti, antara Eden dan Brenda. "Justru semakin rumit jika Tuan Rhys mendengar kalian bertengkar."

Mereka semua bungkam. Tidak ada yang membuka suara. Ruby memejam sebentar, kemudian membuka matanya yang langsung tertuju pada Eden. "Jangan bertengkar hanya karena membela ku, Eden. Bukan berarti aku tidak menghargaimu, melainkan karena aku takut kau malah mendapat masalah besar hanya karena aku."

Kemudian berganti menoleh pada Brenda. "Dan... Brenda, aku akan kerjaan apa yang kau suruh tadi padaku—"

Mira menyambar," bukannya besok Rustic Nights di bistro tempatmu bekerja?"

Uh, Ruby baru ingat.

"Ya... ya, tapi akan aku usahakan."

Senyum kemenangan terukir di bibir merah merona Brenda. "Bagus. Anggap saja ini hukuman yang menyenangkan untukmu. Sekedar membalas budi pada pelayan-pelayan di sini dan tentunya aku, yang sudah bekerja keras di dapur untuk makan malam di hari yang tidak biasa ini."

.............

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!