NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Malam Ketika Qinghe Tidak Lagi Diam

Peluit itu terdengar lagi.

Lebih dekat.

Lebih jelas.

Bukan satu.

Tiga.

Nada panjang, terputus, lalu disusul dua pendek.

Hui langsung menggeram pelan. “Kode pemburu.”

Ayin menoleh cepat. “Berapa?”

“Minimal empat,” jawab Hui. “Mungkin enam.”

Xuan menghela napas pelan.

“Terorganisir,” gumamnya.

Yun Ma menatap pria pingsan itu sekali lagi. “Segelnya rusak paksa. Mereka memeras informasi dari dalam tubuhnya.”

Gu Changfeng mengepalkan tangan. “Mereka memburu sesuatu.”

“Bukan sesuatu,” kata Yun Ma tenang. “Seseorang.”

Tatapan Xuan mengeras.

“Yun Ma.”

“Aku tahu,” jawabnya. “Dan itulah kenapa mereka tidak boleh masuk Qinghe.”

Hujan mulai turun lebih deras.

Lampu-lampu rumah mulai padam satu per satu.

Qinghe sedang ditidurkan.

Dan itu berbahaya.

“Ye,” panggil Yun Ma pelan.

Srigala hitam itu melangkah maju. Matanya berkilat tajam.

“Jaga perimeter dalam,” katanya. “Jangan kejar terlalu jauh.”

Ye mengangguk gerakan kecil, tapi jelas.

“Ayin,” lanjut Yun Ma. “Evakuasi anak-anak dan orang tua ke rumah balai. Kunci pintu dari dalam.”

Ayin mengangguk tanpa banyak bicara.

“Hui.” panggil Yun Ma

Rubah berekor dua itu menyeringai. “Akhirnya aku tidak cuma jadi komentator.”

“Buat pengalih,” kata Yun Ma. “Jangan sampai mereka tahu siapa target sebenarnya.”

Hui tertawa kecil. “Aku ahli membuat orang salah fokus.”

Xuan memperhatikan semuanya dengan wajah serius.

Tenang.

Terlalu tenang.

“Dan aku?” tanya Gu Changfeng tiba-tiba.

Yun Ma menatapnya.

“Kalau kau benar-benar ingin menebus kesalahan,” katanya datar, “kau berdiri di sisi luar gerbang. Tahan mereka selama mungkin.”

Gu Changfeng tidak ragu.“Aku akan mati duluan kalau perlu.”

Xuan menoleh tajam. “Jangan mati. Itu tidak membantu.”

Gu Changfeng tersenyum pahit. “Aku akan berusaha.”

Mereka bergerak.

Tanpa teriakan.

Tanpa panik.

Seperti orang-orang yang sudah terlalu sering hidup di antara bahaya.

Pemburu Datang

Bayangan pertama muncul di balik pepohonan.

Bergerak cepat.

Ringan.

Terlatih.

Ye menyerang lebih dulu.

Tubuh hitamnya melesat seperti bayangan, menjatuhkan satu sosok sebelum teriakan sempat keluar.

Darah jatuh ke tanah basah.

Dua bayangan lain muncul.

Hui melompat ke atap rumah, suaranya melengking tinggi.

“HEI! KE SINI! AKU YANG KALIAN CARI!” seru Hui

Api kecil menyala di udara bukan panas, tapi menyilaukan.

Ilusi.

Tiga pemburu berbelok arah.

“Rubah berekor dua!” teriak salah satu.

“Jangan biarkan kabur!” seru lainya

Xuan berdiri di tengah jalan sempit Qinghe.

Tidak bergerak.

Satu pemburu melompat turun tepat di depannya.

Pedang terhunus.

“Menjauh,” kata Xuan singkat.

Jawaban yang ia terima adalah serangan langsung.

Xuan menghindar satu langkah ke samping, tangannya mencengkeram pergelangan lawan, memutar, dan menjatuhkan tubuh itu ke tanah dengan suara keras.

Tidak ada teknik berlebihan.

Efisien.

Bersih.

Namun lebih banyak bayangan datang.

Dari sisi barat, Gu Changfeng sudah bertarung.

Pedangnya beradu dengan milik pemburu lain.

Gerakannya cepat, penuh tenaga, tapi jelas ia tidak menahan diri.

“Kalian tidak seharusnya datang ke sini!” bentaknya.

Salah satu pemburu tertawa. “Kau pengkhianat jalur selatan.”

“Tidak,” jawab Gu Changfeng sambil menangkis serangan. “Aku hanya berhenti membenarkan kebusukan.”

Dua lawan tumbang.

Namun satu peluit lain terdengar.

Nada berbeda.

Yun Ma menegang.

“Itu tanda pemanggil.”

Xuan langsung berbalik. “Ke balai obat!”

Mereka berlari.

Target Sesungguhnya

Di depan balai obat, simbol di pergelangan pria pingsan itu menyala samar.

Cahaya hitam-merah.

Retakannya melebar.

“Segel itu akan pecah,” kata Yun Ma cepat. “Kalau pecah, ia akan meledak.”

“Apa maksudmu meledak?” tanya Ayin tegang.

“Bukan api,” jawab Yun Ma. “Tapi energi. Akan menghancurkan setengah Qinghe.”

Xuan tidak berpikir lama.

“Bisa dipindahkan?”

Yun Ma menggeleng. “Terlambat.”

Hening satu detik.

Lalu Yun Ma mengangkat tangan.

Api kecil muncul di telapak tangannya.

Bukan merah.

Bukan biru.

Api sunyi.

Shen Yu.

“Apa kau yakin?” tanya Xuan pelan.

“Aku tidak memanggilnya keluar,” jawab Yun Ma. “Aku hanya membuka jalur.”

Api itu berputar, lalu menghilang ke dalam dada Yun Ma.

Ruang di sekitarnya bergetar ringan.

Simbol di pergelangan pria itu berhenti menyala.

Retakannya membeku.

Hui menghela napas lega. “Oke. Itu nyaris bikin jantungku copot.”

Namun belum selesai.

Sosok terakhir muncul dari balik kabut.

Berbeda.

Lebih tinggi.

Lebih tenang.

Aura berat.

“Tabib Yun,” katanya. “Atau seharusnya aku memanggilmu… Yu Mailan?”

Xuan melangkah ke depan.

Namun Yun Ma menahannya dengan satu gerakan kecil.

“Kau terlambat,” katanya datar pada pria itu. “Aku tidak lagi berada dalam jangkauan kalian.”

Pria itu tersenyum tipis. “Tidak ada yang benar-benar keluar dari jangkauan kami.”

Gu Changfeng tiba di samping mereka, napasnya berat, bahunya terluka.

“Dia pemanggil utama,” katanya. “Hati-hati.”

Yun Ma menatap pria itu tanpa gentar.

“Kau membawa orang-orangmu ke desa kecil demi apa?”

Pria itu menoleh sebentar, lalu kembali menatap Yun Ma.

“Karena kau hidup.”

Itu jawabannya.

Xuan mengepalkan tangan.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “kau tidak akan keluar dari sini.”

Pertarungan terakhir malam itu tidak lama.

Namun cukup untuk meninggalkan bekas.

Ketika fajar mulai menyingsing, pemburu-pemburu itu sudah tidak ada.

Sebagian ditangkap.

Sebagian kabur.

Sebagian… tidak bangun lagi.

Qinghe selamat.

Setelah Hujan

Pagi datang dengan bau tanah basah.

Rumah-rumah terbuka kembali.

Anak-anak keluar dengan rasa ingin tahu.

Balai obat ramai.

Gu Changfeng duduk di tangga, lukanya sedang dibalut Ayin.

“Jangan bergerak,” kata Ayin ketus.

“Aku tidak bergerak,” jawabnya lemah.

Yun Ma berdiri tidak jauh, menatap desa.

Xuan mendekat.

“Kau baik-baik saja?”

Yun Ma mengangguk. “Capek.”

Xuan ragu sejenak, lalu berkata pelan, “Aku tidak suka dunia yang terus mengejarmu.”

Yun Ma menoleh.

“Dunia akan selalu mengejar sesuatu,” katanya. “Yang penting, aku tahu ke mana harus pulang.”

Xuan tersenyum kecil.

Gu Changfeng melihat mereka dari kejauhan.

Dan akhirnya, ia menunduk.

Ia kalah.

Bukan hari ini.

Bukan karena pedang.

Tapi karena tempat di sisi Yun Ma… sudah terisi sepenuhnya.

Dan kali ini, ia menerimanya.

Bersambung.

1
Narimah Ahmad
makasih thor ,👍akhirnya selasai juga
Shai'er
end 🥺🥺🥺
tapi happy sesuai pribadi masing-masing🥰🥰🥰
makasih banyak, Thor 🥰
udah nyuguhin cerita yang seunik ini 🥰
lanjut ke cerita selanjutnya, semoga lebih menarik lagi 💪🏻💪🏻💪🏻
sehat selalu 💜💜💜
Shai'er
karena memang........bahagia itu tak perlu dijelaskan🥰🥰🥰
Shai'er
🤣🤣🤣🥰🥰🥰
Shai'er
suami + ayah siaga🥰🥰🥰
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
ikutan lega 😌🥰🥰🥰🥰
Shai'er
lahir😱😱😱🥰🥰🥰🥰
Shai'er
🥰💪🏻💪🏻💪🏻
Shai'er
jadi rileks sedikit, untung ada Hui 🥰🥰🥰
Shai'er
ikutan dagdigdurser😣😣😣
Shai'er
😱😱😱😱😱
Shai'er
🥺🥺🥺🥺🥺
Shai'er
🥰🥰🥰🥰🥰
Shai'er
capek😣😣😣
tapi menikmati 🥰🥰🥰
Diah Susanti
disini 3 hari sama dengan 1 tarikan napas/beberapa detik. terus diatas penjaga ruang dimensi bilang '1hari disana = 10 hari diluar' yang benar yang mana
Biyan Narendra
Terimakasih thor
yeti kurniati1003
menarik
Narimah Ahmad
masa lalu biarlah berlalu , yang penting masa depan hadapi seadanya
Shai'er
sudahlah 😮‍💨😮‍💨😮‍💨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!