Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.
Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2_TAK SETARA
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan gerbang rumah Nayla.
Nayla yang sejak tadi berdiri di ambang pintu refleks mundur selangkah. Tangannya dingin, jantungnya berdetak terlalu cepat. Mobil itu terlalu mewah untuk berada di lingkungan rumahnya yang sederhana. Catnya mengilap, kacanya gelap, dan logo di depannya jelas bukan mobil biasa.
“Nay,” panggil ibunya pelan dari belakang. “Ayo.”
Nayla menelan ludah. Ia mengenakan dress sederhana berwarna krem, baju terbaik yang ia punya. Tidak terlalu mencolok, tapi rapi. Rambutnya diikat setengah, wajahnya tanpa riasan berlebihan. Ia ingin terlihat sopan, meski rasa minder sudah lebih dulu menggerogoti dadanya.
Pintu mobil terbuka. Seorang sopir turun dan membukakan pintu belakang.
“Silakan, Nona,” ucapnya sopan.
Nayla melirik ayahnya. Pak Rahman mengangguk kecil, seolah berkata kamu bisa. Dengan langkah ragu, Nayla masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, dunia luar terasa menjauh.
Sepanjang perjalanan, Nayla hanya diam. Ia memperhatikan interior mobil yang terasa asing, kulit jok yang halus, aroma bersih, dan keheningan yang membuatnya semakin gugup.
"Ini dunia yang berbeda". Batinnya.
Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman rumah besar berpagar tinggi. Bangunan megah berdiri anggun, seperti istana. Nayla meneguk ludah saat mobil berhenti.
Rumah keluarga Mahendra.
Begitu turun, Nayla merasa dirinya mengecil. Sepatunya terasa salah. Bajunya terasa terlalu sederhana. Bahkan caranya berdiri pun terasa canggung.
Seorang pelayan membimbingnya masuk.
Ruang tamu keluarga Mahendra luas dan dingin. Warna-warna netral mendominasi. Nayla duduk di ujung sofa, punggungnya tegak tapi tangannya saling menggenggam erat.
Tak lama, seseorang masuk.
Azka Mahendra.
Nayla langsung tahu itu dia. Posturnya tinggi, bahunya bidang, wajahnya tampan dengan garis tegas yang membuatnya terlihat dewasa di atas usianya. Seragam sekolahnya masih rapi, jasnya disampirkan di lengan. Tatapannya tajam, dingin, dan tidak ramah.
Azka berhenti melangkah saat melihat Nayla.
"Itu dia? Gadis itu?"
Azka menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki tanpa menyembunyikan penilaiannya. Sederhana. Terlalu sederhana. Tidak ada aura yang pantas berdiri di rumah ini.
Nayla menunduk refleks.
"Dia pasti membenciku". pikir Nayla.
“Pa,” sapa Azka singkat, lalu melirik Nayla lagi. “Ini?”
Mamanya menepuk lengan Azka. “Azka, jaga sikapmu.”
Azka tidak menjawab. Ia duduk di seberang Nayla, menyandarkan tubuh dengan santai, tapi sorot matanya menusuk.
“Nayla,” panggil Ibunya lembut. “Ini Azka.”
Nayla berdiri gugup. “S-saya Nayla, Tante… Om.”
Suaranya kecil. Terlalu kecil.
Azka mendengus pelan. “Kamu bahkan tidak bisa menatap mata orang lain?”
Wajah Nayla memanas. Ia mengangkat wajahnya perlahan, memberanikan diri menatap Azka.
Tatapan mereka bertemu. Dan Nayla langsung tahu, pria di depannya sama sekali tidak menginginkannya.
“Azka,” tegur Papanya.
Azka berdiri. “Aku ingin bicara dengannya. Berdua.”
Mamanya ragu, tapi Papanya mengangguk. “Lima menit.”
Azka menoleh ke Nayla. “Ikut.”
Nada suaranya bukan ajakan. Perintah. Nayla menurut.
Mereka berjalan ke taman belakang. Begitu pintu tertutup, Azka langsung berbalik, tanpa basa-basi.
“Aku akan bicara jujur,” katanya dingin. “Aku tidak mau menikah denganmu.”
Nayla terdiam. Dadanya berdenyut.
“Aku tahu,” jawab Nayla pelan.
Azka mengernyit. “Oh? Jadi kamu memang datang ke sini dengan harapan apa?”
“Tidak ada,” Nayla menggeleng cepat. “Aku hanya… diminta orang tuaku.”
Azka tertawa kecil, sinis. “Tentu saja.”
Nayla mengepalkan tangan. “Kalau kamu menolak, aku tidak keberatan.”
Azka berhenti tertawa. Ia menatap Nayla tajam. “Jangan berpura-pura baik.”
“Aku tidak berpura-pura,” balas Nayla, suaranya mulai bergetar. “Aku juga tidak meminta ini.”
Azka melangkah mendekat. Tingginya membuat Nayla harus mendongak.
“Kamu tahu kenapa aku menolak?” tanya Azka.
Nayla menelan ludah. “Karena… aku tidak setara.”
Azka tersenyum tipis. “Bagus. Kamu sadar diri.” Kalimat itu seperti tamparan.
Nayla menarik napas panjang, berusaha menahan air matanya. “Aku memang bukan dari keluarga kaya. Tapi itu tidak membuatku lebih rendah.”
Azka tertawa kecil lagi. “Di duniaku, itu membuatmu tidak pantas.”
Nayla merasa dadanya nyeri. Tapi ia memaksa suaranya tetap stabil. “Kalau begitu, kenapa kamu masih mau bertemu?”
Azka mendekat satu langkah lagi. “Karena aku ingin kamu tahu satu hal.”
“Apa?”
“Kalau pernikahan ini tetap terjadi, jangan berharap apa pun dariku.”
Nayla menatapnya. “Aku tidak mengharapkan cinta.”
“Bagus,” Azka menyela cepat. “Karena kamu tidak akan mendapatkannya.” Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang Nayla kira.
“Aku tidak akan bersikap manis. Aku tidak akan mengakui kamu. Dan di sekolah, kita orang asing,” lanjut Azka. “Kalau kamu terluka, itu bukan urusanku.”
Nayla menunduk, napasnya bergetar.
“Dan satu lagi,” tambah Azka, suaranya rendah dan dingin. “Jangan pernah merasa kamu pantas menjadi bagian dari hidupku.”
Sunyi.
Nayla mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan tangisan. Melainkan perlawanan.
“Aku tidak pernah meminta untuk pantas,” ucapnya pelan tapi tegas. “Aku hanya mencoba bertahan.”
Azka terdiam sesaat. Entah kenapa, jawaban itu tidak sesuai bayangannya. Namun wajahnya kembali dingin. “Bagus. Bertahanlah sendiri.”
Ia berbalik pergi, meninggalkan Nayla berdiri sendirian di taman luas itu.
***
Di dalam rumah, orang tua mereka berbincang dengan nada serius.
“Bagaimana?” tanya Mama Azka saat mereka kembali.
Azka menjawab datar. “Aku tetap menolak.”
Nayla menunduk.
Papa Azka menatap Nayla. “Dan kamu?”
Nayla mengepalkan tangan di pangkuannya. “Kalau… ini memang keputusan orang tua, Nayla akan menjalani.”
Azka menoleh tajam. “Kenapa?”
Nayla menatapnya balik, kali ini tanpa menghindar. “Karena tidak semua orang punya pilihan.”
Jawaban itu membuat ruangan hening.
Papa Azka mengangguk puas. “Pernikahan akan dilaksanakan minggu depan.”
Azka mengepalkan rahang. Nayla merasa lututnya lemas.
Minggu depan.
Begitu cepat.
***
Saat Nayla pulang malam itu, ia duduk di kamarnya dalam diam. Tangannya gemetar saat menyentuh dadanya sendiri.
Sakit.
Bukan karena Azka menolak. Tapi karena caranya menolak.
Sementara itu, di kamar luasnya, Azka berdiri menatap cermin. Wajahnya datar, tapi pikirannya kacau. Entah kenapa, bayangan mata Nayla yang menahan tangis terus terlintas.
“Aku tidak peduli,” gumamnya dingin.