Baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahirannya, Sienna sudah harus menerima perlakuan tidak mengenakkan dari orang yang dicintainya.
Malam itu jadi malam yang panjang dan tak terlupakan baginya, juga bagi Akshan yang merupakan kakak dari sahabat baiknya.
Gadis itu pun menghilang bagai ditelan bumi. Hingga suatu malam pula, Akshan menemukannya dalam keadaan sangat berbeda. Dan oh, siapa lelaki dan 2 anak itu?
Mohon dukungannya, ini karya pertamaku. Kritik dan saran yang membangun terbuka lebar di kolom komentar. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adalynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan
Bunyi itu terus terdengar memekakkan telingaku. Kenapa bunyinya hanya datar dan melengking? Ada apa dengan kakek? Apa pernafasannya kembali terganggu? Apa detak jantungnya sudah berhenti berdetak? Ah, kenapa benda sialan itu mengeluarkan bunyi yang semakin membuatku panik!?
Aku menangis sejadi-jadinya, ku bangunkan kakek, ku goyangkan tubuhnya, tapi ia tetap menutup matanya. Masa bodoh dengan orang-orang yang berusaha mencegahku. Aku mendengar mereka juga ikut menangis bersamaku.
"Si.. tenanglah.."
"Sienna!"
"Sayang.. tenang yah"
Semua orang di dalam kamar perawatan itu kalut. Aku yang tak mampu menahan perasaan sedihku, takut kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidupku, terus menerus mengganggu dokter dan para perawat yang ternyata sudah masuk ke dalam ruangan.
Mereka mencoba menghentikanku dan membawaku ke luar dari ruangan itu. Tapi aku terus meronta dan memohon kepada para petugas medis yang memeriksa keadaan kakekku. Hingga seseorang memelukku dari belakang, tapi aku terus meronta.
"Si.. ayo kita keluar.. biarkan mereka melakukan tugasnya dan menyelamatkan kakek" ucap suara bariton yang terdengar persis dia ucapkan tepat di lubang telingaku, sembari membopongku keluar dari ruangan.
Suara itu, aku sangat mengenalnya. Entah kenapa aku langsung diam dan menurut. Tangannya yang mengalung di perutku melonggar dan langsung ia balikkan tubuhku hingga menghadap dada bidangnya.
Pria itu mengenakan kaos casual warna putih yang dipadukan dengan jas warna navy. Aku tak tahu sihir apa yang ia gunakan, atau wewangian apa yang ia semprotkan pada tubuhnya hingga membuatku merasa nyaman berada dalam pelukannya.
"Aku kangen kamu Si.. aku udah nyari kamu kemana-mana tapi gak pernah ketemu.. kamu kemana aja?"
Pelukannya semakin dipererat dan sesekali menciumi puncak kepalaku. Posisi kami berada cukup jauh dari orang-orang, mungkin mereka hanya melihat bahwa Akshan sedang mencoba menenangkanku saja. Tanpa tahu apa yang sebenarnya kami bicarakan.
"Gimana keadaan kamu? Aku kangen kamu, Si.. sungguh.."
Mungkin banyak pertanyaan yang sudah ia siapkan untukku, tapi aku sendiri tak tahu akan sanggup menjawabnya atau tidak. Hendak ku balas pelukannya, sampai pertanyaannya yang membuatku berhasil bangun dan mengembalikan kesadaranku.
"Gimana keadaan anak kita? Ap-"
Aku langsung melepaskan pelukannya. Dari mana dia tahu aku mengandung anaknya? Setahuku tidak ada yang tahu aku hamil selain kakek dan nenek, bahkan kedua orangtuaku pun tahu bahwa aku hamil anak Pierre.
Aku mundur dan menjauhkan tubuhku dari Akshan. Dia terlihat terkejut melihat tingkahku. Aku mengerutkan dahiku tak percaya. Kakek dan nenek bukan orang yang dengan mudah mengatakan hal yang seharusnya mereka jaga.
"Sii.."
Suara suamiku membangunkanku dari lamunan, Pierre berdiri di belakang Akshan. Aku memandangi mereka berdua secara bergantian, masih dengan dahiku yang berkerut-kerut. Kedua pria tampan itu terlihat kompak melihatku dengan keanehan melihat tingkahku saat ini.
Aku menggeleng-gelengkan kepala, mengambil nafas dalam dan membuangnya dengan kasar. Aku berjalan ke arah mereka.
"Maaf.." kataku saat aku melewati Akshan.
Aku segera meraih tangan Pierre dan membawanya jauh dari mereka yang sedari tadi menunggui kakekku. Tatapan mereka seolah bertanya, mungkin bingung siapa yang bersamaku ini.
Sedangkan Akshan, ia hanya diam dan tergugu melihatku menggandeng tangan Pierre, sesekali aku meliriknya yang sekarang sudah duduk di kursi tunggu di sebelah tante Billa.
"Aku lelah, biarkan aku istirahat di pelukan suamiku" ucapku lirih.
Ku genggam tangan Pierre dan bersandar di pundaknya. Pierre menjatuhkan kepalanya di atas kepalaku, kedua tangannya menggenggam tangan kananku, sesekali ia mencium punggung tanganku dengan kecupan yang cukup lama.