Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
papat (4)
Wanita yang berdiri di depan Elena atau sekarang ia harus membiasakan diri dengan nama Han Jia adalah seorang wanita paruh baya dengan pakaian kain kasar berwarna abu-abu yang tampak terlalu sesak untuk tubuh gempalnya. Namanya, menurut fragmen memori yang mulai tersinkronisasi di otak Elena, adalah Bibi Liu. Wanita ini adalah istri dari paman tubuh ini, orang yang telah mengambil alih sisa harta orang tua Han Jia dan membuang gadis itu ke petak tanah yang dianggap terkutuk ini.
Bibi Liu berhenti tepat tiga langkah di depan Elena. Ia tampak sedikit ragu karena melihat tatapan keponakannya yang biasanya redup dan penuh ketakutan, kini berubah menjadi sedingin es dan setajam silet.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Hantu Kecil?" teriak Bibi Liu, mencoba menutupi kegugupannya dengan suara yang lebih keras. "Kau seharusnya sudah mati kemarin! Pamanmu sudah memesan peti mati murah untukmu, dan sekarang kau malah berdiri di sini membuang-buang waktu di tanah sialan ini!"
Elena tetap diam. Ia sedang melakukan observasi biologis. 'Tekanan darah subjek meningkat, pelebaran pupil terdeteksi, sekresi keringat berlebih di area dahi... subjek sedang mengalami stres akut yang dimanifestasikan melalui agresi verbal,' pikirnya tenang.
"Bicara!" Bibi Liu mengangkat tangannya, hendak melayangkan tamparan yang biasanya akan membuat Han Jia tersungkur.
Namun, sebelum tangan kasar itu menyentuh wajahnya, Elena bergerak. Ia tidak membalas dengan kekuatan fisik, melainkan dengan presisi. Ia menangkap pergelangan tangan Bibi Liu, bukan dengan genggaman kuat, melainkan dengan menekan titik saraf tertentu di pergelangan tangan sebuah pengetahuan tentang anatomi manusia yang ia kuasai di laboratorium.
"Ah! Sakit! Apa yang kau lakukan, sialan!" Bibi Liu memekik. Tangannya mendadak mati rasa dan lemas seketika.
"Volume suaramu merusak ambien lingkungan," ucap Elena dengan nada datar yang mengerikan. "Secara medis, teriakanmu hanya membuang energi oksigen yang seharusnya bisa kau gunakan untuk melakukan hal yang lebih berguna daripada menggangguku."
Elena melepaskan tangan Bibi Liu dengan dorongan pelan yang membuat wanita itu terhuyung ke belakang.
"Kau... kau sudah gila!" Bibi Liu memegangi tangannya yang kesemutan. "Aku akan memberitahu pamanmu! Kau pasti sudah dirasuki iblis dari tanah ini!"
Wanita itu lari terbirit-birit kembali ke arah desa, sesekali menoleh dengan tatapan ngeri. Elena hanya menatap punggung itu dengan bosan. Baginya, interaksi sosial dengan IQ rendah seperti itu adalah polusi bagi otaknya.
[Ding! Peringatan Sistem: Kebencian penduduk desa terdeteksi. Reputasi Anda: Dibenci (Level 1). Jika reputasi mencapai 'Musuh Publik', tanaman Anda berisiko dirusak.]
Elena mendengus. "Reputasi? Aku tidak butuh validasi dari kumpulan primata yang bahkan tidak mengerti cara kerja rotasi tanaman. Fokus kembali ke tugas, Sistem. Aku ingin menanam Benih Sawi Roh ini."
Ia kembali ke petak tanah yang telah ia balikkan tadi. Sinar matahari mulai condong ke barat, memberikan warna jingga yang dramatis pada lahan hitam tersebut. Elena mengeluarkan lima butir benih emas dari sakunya.
"Analisis benih," perintahnya.
[Benih Sawi Roh: Membutuhkan air dengan kandungan mineral tinggi. Waktu tumbuh: 6 jam (Tingkat Dasar). Efek hasil panen: Meningkatkan daya tahan tubuh secara permanen.]
"Enam jam? Itu pertumbuhan yang tidak masuk akal secara biologis," Elena bergumam. "Bahkan bambu yang paling cepat tumbuh sekalipun tidak bisa mencapai fase maturitas dalam enam jam. Sistem, apakah ini melibatkan manipulasi waktu atau akselerasi pembelahan sel?"
[Menjawab: Sistem menggunakan energi alam (Qi) sebagai katalisator pertumbuhan seluler primer.]
"Qi... energi alam yang belum terdefinisi secara kimia. Menarik. Jika aku bisa mengisolasi energi ini, aku bisa menciptakan revolusi industri botani."
Elena mulai menanam. Ia melubangi tanah dengan jari-jarinya yang sekarang terasa lebih kuat setelah meminum air embun tadi lalu memasukkan benih itu satu per satu dengan jarak yang diperhitungkan secara presisi (sekitar 30 cm antar benih) untuk memastikan tidak ada persaingan nutrisi di bawah tanah.
Setelah menanam, ia menyadari satu masalah: ia butuh air.
Tanah ini sangat kering. Ia berjalan ke arah tempayan retak di dalam gubuk, namun tempayan itu kosong. Di kejauhan, ia melihat sebuah sungai kecil yang airnya tampak keruh dan berwarna kecokelatan.
"Air itu..." Elena berjalan mendekati sungai tersebut. Ia mengambil sedikit air dengan telapak tangannya. Air itu berbau belerang. "Kontaminasi sulfur yang tinggi. Jika aku menyiramkan ini pada tanaman biasa, mereka akan mengalami keracunan asam."
Ia kembali menatap botol porselen pemberian sistem yang sudah kosong. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu dari catatan di buku hitamnya di masa modern tentang netralisasi asam menggunakan mineral basa.
Elena mulai mencari di sekitar lahan itu. Matanya menyisir bebatuan yang ada. Ia menemukan beberapa bongkahan batu berwarna putih kusam di dekat tebing kecil. Ia mengambil satu dan menggesekkannya pada batu lain.
"Kalsium Karbonat. Kapur alam," Elena tersenyum tipis. "Sederhana, tapi efektif."
Ia menghancurkan batu kapur itu menjadi bubuk halus menggunakan batu besar, lalu mencampurkannya ke dalam air sungai yang ia ambil menggunakan wadah kayu tua. Ia menunggu beberapa saat hingga terjadi reaksi netralisasi. Setelah airnya tampak sedikit lebih jernih, ia menyiramkannya pada lubang-lubang tempat ia menanam benih tadi.
Begitu air itu menyentuh tanah, sebuah fenomena luar biasa terjadi.
Tanah hitam di sekitar benih mulai bergetar pelan. Dari dalam tanah, muncul tunas kecil berwarna hijau zamrud yang bersinar lembut di bawah cahaya sore. Tunas itu tumbuh dengan kecepatan yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Dalam hitungan detik, ia sudah setinggi lima sentimeter.
"Sintesis protein yang terlihat secara visual..." Elena berlutut, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari tunas tersebut. "Tidak ada panas yang dikeluarkan? Bagaimana sel-sel ini menangani energi kinetik dari pertumbuhan secepat ini?"
Ia benar-benar terpesona. Baginya, ini adalah pertunjukan kimia paling indah yang pernah ia lihat. Lupakan laboratorium Sektor 7, lupakan semua rumus di bukunya. Di depannya, sebuah hukum alam baru sedang ditulis.
Namun, di tengah kekagumannya, indra pendengaran Elena yang sekarang lebih tajam menangkap suara langkah kaki banyak orang dari arah desa. Suara teriakan laki-laki dan dentuman benda logam.
"Gadis itu ada di sana! Tangkap dia sebelum dia membawa kutukan ke desa kita!"
Elena berdiri pelan. Ia menatap ke arah desa. Sekelompok pria dewasa, dipimpin oleh seorang pria tua dengan janggut putih yang ia kenali sebagai Kepala Desa dan tentu saja Bibi Liu, sedang berlari ke arahnya membawa obor dan tongkat kayu.
Elena menatap tanaman sawi yang baru tumbuh itu, lalu menatap kerumunan orang-orang yang marah.
"Subjek pengganggu kembali datang dengan jumlah yang lebih banyak," gumam Elena. Ia memegang gagang cangkulnya kembali. "Sistem, apakah ada fitur 'Pertahanan Lahan'?"
[Ding! Status: Lahan terancam. Membuka fitur sementara: 'Kabut Halusinasi Botani'. Biaya: 10 Poin Energi (Anda memiliki 20 Poin dari misi sebelumnya).]
"Aktifkan," perintah Elena dingin. "Aku ingin melakukan eksperimen sosial pada mereka."